Perempuan Nias adalah Owoliwa Atau Boli Gana’a

Jakarta, 13 Maret 2009

Lama sekali saya berdiam diri, memikirkan topik ini, bahkan saya tahan goresan saya selama 5 hari untuk tidak melanjutkan pemikiran saya tentang kaum ibu yang kucintai, yaitu perempuan yang dulunya ada di Nias.

Tanggapan saya dalam Film Perempuan Nias Meretas Jalan Kesetaraan (PNMJK) itu telah mengingatkanku kembali terhadap seorang wanita yang dipanggil “Perempuan” yang melahirkanku di Nias. Ibunda tercinta, mungkin saja saya tidak tahu bagaimana penderitaanmu yang sesungguhnya. Sekalipun saya tidak mengerti visi dan misi film ini, namun telah membuatku bangkit terperanjat dari tempat dudukku saat melihat cuplikannya di www.youtubue.com.

Ada apa dengan “PEREMPUAN NIAS” 

Film ini seharusnya, kalau saya yang buat (berandai-andai) saya tidak sebut dengan kata “Perempuan Nias”, ini namanya sudah jatuh ketimpa tangga lagi. Seharusnya harkat dan martabatnya dinaikkan menjadi WANITA NIAS. Konotasi perempuan sangat rendah karena dalam kamus bahasa Indonesia bahwa derajat sebutan wanita lebih mulia dibandingkan sebutan perempuan.

Saya menghargai niat bang “Misran  Lubis”  selaku  Producer  Film  ini yang memaparkan,  bahwa  film  PNMJK diproduksi atas niatan menjadikan media  pembelajaran  kepada  masyarakat agar memahami dan menghargai hak anak dan perempuan. Terima kasih bang, kalau itu misinya, namun mari kita lihat seutuhnya, saya ingin memiliki VCD nya semoga saya bisa dapatkan.

Niasku tercinta!  yah, budaya dan adat istiadat tidak bisa disalahkan, karena telah menjadi tradisi secara turun temurun. Wanita memang harus dibeli dan dibayar dengan jujuran (Mas Kawin) yang bernilai tinggi. Sehingga wanita Nias digelari sebagai “Boli Gana’a” atau “Owoliwa”.

Boli Gana’a artinya (bahwa) wanita yang kita nikahi (istri kita) itu dibeli / dibayar dengan emas, konotasinya disamakan dengan nilai benda atau barang yang bernilai tinggi. Istri kita adalah “OWOLIWA” (Budak Belian) dibayar dari harta benda orang tua kita. Sehingga ketika dia memasuki pelataran rumah kita namanya harus diganti misalnya menjadi “lalai barasi” artinya puncak kejayaan Emas dan harta dari rumah yang dimasukinya.

Mengapa Bermasalah? Ketika pesta pernikahan selesai, lalu keluarga berhitung berapa total pengeluaran dan kepada siapa saja berhutang. Nah, masalah baru timbul, bahwa pernikahan itu ternyata memakan biaya yang besar dan harus dibayar sampai berpuluh-puluh tahun lamanya. Makanya ketika seseorang memiliki anak perempuan, hal itu suatu kebanggaan untuk membalaskan apa yang dialaminya  dulu ketika menikah.

Fenomena dalam Film Perempuan Nias Meretas Jalan Kesetaraan … itu, saya menilai mengambil cuplikan kehidupan yang berlatar belakang dendam masalalu. Dendam itu turun temurun, sebab pikirnya “….saya dulu mengalaminya, nah sekarang adalah kesempatan untuk  menerima gantinya melalui anak perempuan saya, / seperti balas dendam”.

Sehingga anak gadis yang masih ingusan pun sudah buru-buru ditunangain atau bahkan seorang ayah tega kepada anak gadisnya yang masih berumur 12 tahun, sudah dipaksa menikah demi “pengembalian harta” yang dulu habis karena menikahi ibunya. Luar biasa, ini merupakan mata rantai yang mengerikan.

Itulah alasannya mengapa perempuan nilainya menjadi rendah, tidak perlu disekolahkan lagi, sebab perempuan bisa jadi modal kembali untuk memulihkan keadaan ekonomi keluarga. Kalau ada yang menghalangi maka akan menanggung akibatnya, akhirnya terjadi kekerasan dalam keluarga. Adegan pemukulan istri itu telah mengingatkanku juga terhadap kebiasaan di Nias bahwa suami-suami tidak menghormati istrinya lagi, karena mereka budak belian.

Saya berpikir, bahwa hal ini pun lebih baik jika dibandingkan dengan peradaban di tempat lain, dimana “anak perempuannya di jual menjadi pelacur”. Sedangkan di Nias tidak demikian, dipaksa menikah dan itu mendatang kebaikan dari pada mereka dijual.

Sekarang, wanita Nias tidak serendah itu, karena misi penginjilan di Nias sudah berhasil. Saya katakan demikian, bahwa dengan adanya pengabaran Injil (agama) di Nias, telah menahan laju pernikahan dini dan efek lainnya dalam keluarga karena ada motivasi agar mereka / perempuan wajib disekolahkan sampai ke perguruan tinggi. 

Semoga dalam Film tersebut dapat mengangkat harkat dan martabat perempuan yang saya sebut sebagai Wanita Nias yang terhormat.

Terima kasih kepada seluruh aktris / aktor dan para kru / team creator dan ide yang cemerlang dalam membuat film ini sehingga bisa membawa dampak positif.

Salam dari saya Mustika Ranto Gulo

Iklan

6 pemikiran pada “Perempuan Nias adalah Owoliwa Atau Boli Gana’a

  1. salam Pak Misran Lubis…. Yaahowu.
    boleh saya minta tolong?
    kalo boleh tolong kirim sama saya film itu. tapi jika tidak boleh tidak apa-apa. terima kasih atas bantuannya. Yaahowu.

  2. saya sangat senang dengan tuturan penyataan saudara, tapi kita lebih bangga bahwa adat dan tradisi kita ini hanya ada di nias. setelah saya pelajari bung, perempuan nias kita sangatlah terjamin dan mempunyai nilai yang lebih tinggi sebenarnya. perempuan di luar nias itu tidak ada jaminan mereka dari suami dan sanak famili. tapi adat nias kita menjamin kehidupan yang layak bagi perempuan kita. saya senang mendengar bahwa perempuan nias kita banyak yang melanjut kuliah dan itu merupakan kebanaggan. dan jangan lupa bagi perempuan nias kita yang kuliah untuk tidak melupakan adat nias kita, tapi sebaliknya jika sudah mendapat ilmu maka kita kembangkan adat dan tradisi nias kita itu yang didaerah lain tidak ada.

  3. Salam Bang Misran Lubis….! Yaahowu …Horas!

    Ini alamat koresponden saya:

    Mustika Ranto Gulo
    PT. Micro Tellindo
    Plaza Merpati Nusantara Airlines, 2nd Floor
    Blok B 15 Kav 2-3, Kemayoran Jakarta 1720
    Jln Angkasa Raya Jakarta

  4. Bpk. Mustika Ranto Gulo

    Saya menyampaikan rasa terima kasih atas kritik dan masukannya. saya tidak memperdebatkan soal istilah yang digunakan untuk menyebutkan kaum Ibu, apakah WANITA atau PEREMPUAN, karena banyaknya istilah disebabkan kayanya bangsa kita tentang bahasa. tidak juga buruk sebutan Perempuan karena faktanya nama lembaga negera kita juga “Kementerian Negera Pemberdayaan Perempuan” kata Perempuan juga dipakai dalam beberapa Undang-Undang kita seperti UU KDRT, UU Trafiking, UU Perlindungan Anak, dll.

    Pak Mustika bisa memperoleh film tersebut di kantor PKPA Nias, alamatnya di Gunung Sitoli. jika ada sauadara atau teman yang mau membantu bapak dapat mengambilnya dikantor PKPA secara gratis. tapi kalau bapak minta dikirimkan beritahu saya alamat pengirimanya dan sekaligus ongkos kirim ditanggung oleh bapak. bertahu saya dialamat email: misran.pkpa@gmail.com atau pkpamdn@indosat.net.id

    Terima kasih
    Yaahowu

  5. kami sebagai mahasiswa nias yang ada di luar nias memohon agar masalah korupsi yang sedang meraja lela supaya jangan sampai terulang lagi di nias/

    Kami mhn ada pengusutan yang Jelas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s