PELUANG PERPECAHAN DI NIAS SANGAT BESAR, PATUT DIWASPADAI

PULAU NIAS

BUDAYA NIAS

Jakarta, 15 Januari 2009

Perpecahan yang dipicu oleh pemilihan Kepala Daerah, tidak hanya terjadi di Nias, banyak tempat telah menjadi bencana bagi masyarakat. Di lihat dari sisi kultur sosial budaya Nias, hal ini sangat merugikan karena kekerabatan di Nias sangatlah dekat dan masih kental.

Namun karena kepentingan para politisi yang membangun dikotomi dan persaingan tidak sehat, sehingga masyarakat di akar rumput menjadi korban.

Mustika Ranto Gulo

Pemerhati Ono Niha

Saya menuliskan artikel saya mengenai perumpamaan tentang AMUBA dan hukum alam yang mndorongnya bersatu dan berpisah.

Philosofi kehidupan AMUBA sejenis makhluk hidup yang sangat kecil, ada baiknya kita pelajari. Amuba hidup ditempat yang bertemperatur rendah, dan berkembang biak dengan cepat. Cara berkembang biaknya adalah membelah diri dan membentuk komunitas kecil yang akan menjadi besar dan kemudian membelah diri lagi secara terus menerus. “Jangan pernah berharap AMUBA akan bersatu lagi dalam komunitas para AMUBA lainnya, tidak akan pernah”.  Kalau manusia bagaimana?

Manusia sangat berbeda, karena memiliki siklus kehidupan bermasyarakat yang unik. Siklus itu saya bagi tiga yaitu:

  • Siklus pertama adalah manusia selalu berkobar-kobar untuk bersatu, gemar berorganisasi baik berdasarkan agama atau sektarian kesukuan atau marga, atau sesuai dengan simbol-simbol daerah masing-masing.  Terlihat sepintas manusia telah berpihak kepada KEMANUSIAAN itu sendiri.
  • Siklus kedua adalah setelah manusia bersatu, maka manusia cenderung membuat kesepakatan untuk berkomitmen dan melakukan kegiatan yang besar. Manusia berkorban untuk mendanai komunitas dan organisasi yang mereka bangun, bagaikan sedang membangun kerajaan baru.
  • Siklus ketiga adalah mereka ingin berpisah kembali dan membentuk komunitas baru. Biasanya disertai oleh konflik karena kepentingan manusia sangat berbeda-beda. “Idiologi” bisa disatukan namun, kepentingan diri sendiri sangat secreat tidak bisa disatukan. Manusia ternyata gemar membelah diri dan mengacaukan organisasi demi kepentingan juga.
  • Selanjutnya kembali kepada siklus berkobar-kobar kembali di nomor satu di atas. Setelah lelah manusia ingin bersatu kembali dan seterusnya.

Para tokoh agama selalu menyarankan agar umat manusia bersatu, namun hal itu tidak pernah menjadi realita karena dari tahun ke tahun terjadi perang, perkelahian, konflik, persatuan sangat sulit terwujud. Kalaupun manusia bersatu tidaklah berumur panjang, karena apa yang terjadi setelah bersatu? Selalu ada naluri untuk memisahkan diri kembali dan menjadi sendiri-sendiri, biasanya dipicu oleh konflik ‘kepentingan’. Membelah diri dan memisahkan diri menjadi kelompok sektarian atau kelompok yang unik dan fondamental. Dipicu oleh karena ‘kepentingan’ yang sangat idealis dan gemar berperang untuk mempertahankan keegoisan diri.

Patut diwaspadai adanya bibit-bibit perpecahan di Nias menjelang Pemilu 2009 dan juga menjelang PILKADA di daerah itu. Tentu suasananya sudah jauh berbeda saat Pulau Nias dipimpin oleh satu orang Kepal Daerah yang disebut BUPATI. Sekarang dipimpin oleh 4 orang kepala Daerah Kabupaten (BUPATI) dan satu orang WALIKOTA karena sudah menjadi 5 Kabupaten/kota:

  1. Nias
  2. Nias Selatan
  3. Kotamadya Gunungsitoli
  4. Nias Barat
  5. Nias Utara

Mengapa ada peluang perpecahan itu?

Pimpinan Pemerintah Setingkat Kabupaten / kota, adalah idola untuk diperebutkan oleh putra-putra daerah nantinya sesuai undang-undang yang berlaku di negeri ini. Berbagai isu diangkat untuk menonjolkan diri (memenangkan opini) dan juga bagaimana menjatuhkan lawan. Isu yang sangat mudah terbakar untuk memicu perpecahan adalah:

  1. Isu Marga
  2. Isu Wilayah (Niha Raya, Niha You, Iraono Gaekhula, dll)
  3. Isu Ori (Pemerintahan Model adat – istiadat)

Mengapa harus diwaspadai?

  1. Patut diwaspadai karena pendidikan berpolitik yang demokratis, baru kita mulai sejak orde baru jatuh. Masih belum diategorikan sudah pintar dalam mengelola emosi ketika menghadapi ‘kekalahan’ dan juga menghadapi ‘kemenangan’.
  2. Patut diwaspadai karena ‘kepentingan’ tidak didasarkan kepada ‘VISI & MISI’ yang teruji dengan baik. “Pokoknya kami…pokoknya saya dan seterusnya”. Sikap ini akan memaksakan kehendaknya untuk menang dalam kondisi apapun. Jika kepentingan didasarkan oleh ‘Visi dan Misi’ yang jelas, maka silahkan saja bertarung secara fear. Kita harus bisa menerima orang lain yang lebih unggul dan lebih hebat visi & misinya dari apa yang kita jual kepada masyarakat sebagai owner.
  3. Patut kita waspadai ‘isu marga terbanyak’ karena akan merusak tatanan persaudaraan kita. Di daerah kita masih menjunjung tinggi hubungan tali persaudaraan sebagai pengikat yang mempererat dan mempersatukan. Namun, tali persaudaraan itu akan rusak ketika sikap sektarian itu muncul demi mewujudkan cita-cita untuk mendapatkan suara terbanyak dan duduk disinggasana.

Semoga hal ini tidak terjadi, kami menghimbau para tokoh agama untuk selalu berdoa agar Nias tetap memelihara budaya “Si Sambua Ama ba Si sambua Ina, yaita Ono Niha, he siso ba mbanua bahe siso bawekoli”. Nias tetap terlihat hanya satu “NIAS” jika dipandang  oleh  orang lain dari belahan dunia manapun.

Sekalipun dalam pengamatan kami dari berbagai sudut pandang  yang berkembang di masyarakat, bahwa isu yang paling efektif untuk diusung mendapat dukungan dalam Pemilu dan Pilkada di daerah Nias adalah isu marga, isu wilayah, dan isu Ori.

Anjuran:

Kepada saudara-saudara kami yang ingin memimpin Nias dihari kemudian, berjuanglah untuk mempersatukan, sekalipun tidak bisa disatukan karena adanya kepentingan yang berbeda. Namun, berjuanglah untuk tujuan kemanusiaan semata, bukan hanya untuk memuaskan diri sendiri untuk menang dan duduk sebagai orang nomor satu nantinya.

Saya pernah tulis : JADIKANLAH PERBEDAAN ITU SEBAGAI “KEKAYAAN BUDAYA KITA DI NIAS, SEKALIPUN BERBEDA NAMUN TETAP SATU”

Saudara, lihatlah amuba, tidak peduli apakah itu sakit atau tidak, amuba memiliki naluri memisahkan diri dengan cara membelah diri dan berpisah dengan kelompok utamanya, namun manusia tidak demikian, manusia memiliki naluri untuk bersatu menjalin persaudaraan. Itulah alasannya mengapa saya antisipasi hal ini jauh-jauh hari sebelum pesta demokrasi nanti di Nias.

MENGAPA ? Karena, pasti! sangat sakit dan perih jika persaudaraan kita diciderai oleh kepentingan politik memperebutkan posisi puncak di Nias nantinya. Kepentingan itu membuat kita saling curiga dengan saudara kita sendiri, akhirnya musuh semakin bertambah dalam daftar kehidupan kita masing-masing.

Sekalipun Politikus berkata begini:

“TIDAK ADA MUSUH YANG ABADI, YANG ADA ADALAH KEPENTINGAN YANG ABADI”.

Tetapi saya berkata lain, begini:
“Seorang saudara akan menaruh kasih setiap saat, musuh akan menjadi kawan, dan kawan akan tetap menjadi kawan karena kepentingan adalah kegelapan. Semua orang akan menanggalkan segala kepentingan politiknya karena mereka merindukan terang. Terang dan damai ada dalam persaudaraan!  tetapi barisan musuh,  menggentarkan tulang”.

Salam dari saya

Mustika Ranto Gulo

Baca Amsal 17:17

Iklan

23 pemikiran pada “PELUANG PERPECAHAN DI NIAS SANGAT BESAR, PATUT DIWASPADAI

  1. Ping balik: PARTAI DEMOKRAT DAN KEBERHASILANNYA DI DAERAH NIAS BARAT « Nias Barat Siapa Yang Punya ?

  2. Sekarang sudah terbukti semua tulisan abang mengenai Perpecahan di Nias. Suasana di Nias barat sudah tidak enak bang. Mereka selalu manis di muka dan pahit di dalam. No lahaogo-haogo khoda mbawa………..

    He soaya tolo mbanuama, jgn sampai ada kekerasan yg membuat suasana menjadi hancur. Kelompok kelompok sudah mulai pasang aba-aba. Yang menonjol adalah kelompok penguasa lama masih banyak juga yang loyal. Menganggap bhw penguasa baru akan dilawan sampai harus ada pergantian lagi. Supaya ada Plt baru…gila kali ya?

    Tuhan tolong kampung saya!
    Demikian Bang Gulo

  3. TULISAN INI BAGUS, SAYA MUAT JUGA DI TEMPAT SAYA BANG. BAGUS DAN MENDIDIK, ITU PASTI. CUMA ADA SAJA ORG TIDAK SUKA PADA ABANG, MUNGKIN MEREKA TIDAK PUAS MENDAPATKAN SESUATU DARI ABANG…ITU SAJA.

    MENULIS TERUS BANG!

  4. sory bang..ngga puas nih.masih ada tanggapan :
    proses kobar-kobar tahap satu sudah dilewati dengan perjuangan Masyarakat Nias dan juga tahap kedua ..komitmen mendukung PLt sampai sekarang .

    tahap ketiga adalah konflik “bawamadoni nagole ba Nias barat, labunu dalifusora, hadia wa’i da’o? Apakah kita tidak bisa lebih arif dan membedakan cara hidup kita dgn orang-orang kafir dalam berebut jabatan?

    semoga, ada pencerahan oleh Bapak ketum Pilar, tulisan dan pikiran bapak sangat mengenai kehidupan kita. terus maju pak.!

    Yaahowu

  5. I Yohanes 2 : 9 ” Barang siapa berkata bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada dalam kegelapan sampai sekarang.

    10. Barang siapa mengasihi saudaranya , ia tetap berada dalam terang dan di dalam dia tidak ada penyesatan”.

    Ini pesan kepada saudaraku di ias yg sedang berebut posisi dan jabatan.

    Yaahowu

  6. Saya senang argumen sdr/i saya diatas, berkualitas dan mengarah kepada hal2 yang baik juga. Menurut q hal itu wajar, sebab kekuatiran nara sumber pada topik di atas, sangat besar kemungkinan terjadi, bisa terjadi. Q yakin bisa terjadi, sebentar bagi-bagiu jabatan kan? Baru ketahuan warna bulu Q ketahuan dipermukaan hahahaha

    Banuada biasanya manis dimuka dan pahit dibelakang ‘ami siai na’ifasao huhuo, ba na’ifaosato goi-goi zinodra nia, ba fefu lua-lua nia …tobali simbo hula zau mbanua ….hewisa? “ingat kata “lau lahomi, ???? hahaha

    Itehe bawa nia balo sa lua-lua ..itulah sumber ketidak setiaan. Saya sangat setuju pendapat ab Pikiran Daeli, sangat tegas dalam menguraikan masalah kita.

    makanya:
    Peluang perpecahan sangat besar…itu benar pak!
    Percaya atau tidak? semoga tdk berdarah-darah!!!
    hahaha

  7. 1. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh
    2. Lakhomi sebua wahasara dodo
    3. Aoha Mba’u na aboto ba abua na owulo

    Makna pepatah diatas tidak lain adalah Jika kita bersatu, maka kita kuat dan kokoh.. tidak disepelekan orang lain.
    dan jika kita pecah, maka kita sepele dimata orang lain.
    mana yang mau kita pilih????
    Tentunya kita tetap memilih persatuan, sehati, seia, sekata dan sepenanggungan.
    Semoga Nias yang kita banggakan ini akan semakin maju……..

  8. ha..ha….
    Ini mungkin salah tanggap neh…tidak ada yang berseteru….he..he…di topik ini, tetapi teman2 lagi menggambarkan situasi, kwatiran, saran agar tidak terus ber-keping-keping dan optimisme…..bahwa NIAS sesungguhnya bisa…..

    Salam,
    pd

  9. Terima kasih tanggapan Abang Ama Alfin. Inilah kebanggan kami sebagai “tana nama” jika “tana nonoma” simane ya’ami andre berjiwa sebagai pemersatu. Oya gamaedola ndra tuada mege yang sesungguhnya bisa menjadi “panduan”, “mene-mene” dan “peringatan” bagi generasi penerus, ono niha. “Aoha noro nilului fahea, aoha noro nilului waoso, tafafofo-fofo na’anau ba tafehea-hea na esolo…” itu artinya jika ada “kesatuan” maka tidak ada yang tidak mungkin…

    Bahkan Allah sendiri di dalam menggambarkan bagaimana DASYATNYA kesatuan itu dalam upaya mendirikan menara babel (sayang motivasi pendiriannya tidak berkenan kepada Allah) sebagaimana tertulis di dalam Kejadian 11:6 “dan Ia berfirman: “Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana”

    Mudah-mudahan dengan makin banyak berwawasan luas, berpendidikan tinggi serta berpengalaman, bisa mengangkat menjadi motor penggerak dan lokomotiv pemersatu Nias untuk membangun, mengangkat Nias dari keterpurukan.

    Ilmu “NI’O” (ingat teori ni’o) yang dulu pernah diulas oleh amada A.Za’i (Alm-Onowaembi Lahomi, setelah berpuluh tahun berlalu makin terasa bahwa itu NYATA… dulu kita anggap omong kosong dan cumu guyon… padahal apa yang dikemukakan beliau sesungguhnya bermakna untuk diwaspadi… ni’o sonekhe, ni’o satulo, dan ni’o-2 yang lain yang sering menjadi “virus” perusak yang memecahkan…. yg dibarengi, lo lai nakhomo dan molai nahkhogu…(ketentuan berlaku kalau di orang lain…kalau di diri sendiri ya gak… cari enaknya saja…).

    Bagimanapun, ono niha harus OPTIMIS….

    Ya’ahowu.

  10. Ya’ahowu fefu banuada….
    dari awal saya mencoba mempelajari setiap commentar yang ada di blog ini, tapi yang saya ketemukan adalah perseteruan, perseteruan dan perseteruan antara sesama “ono niha”. “Ono Niha kapan bisa bersatu??????????” saya tidak heran bila hal itu terjadi. kenapa? dari zaman bahola emang sudah demikian telah terjadi. apalagi yang namanya mencari kedudukan/posisi, wach…saudara kandung bisa saja ditendang apalagi saudara sesuku bisa di mutilasi sangking gregetannya…..
    merasa diri lebih bisa, lebih mampu dan lebih pintar dari yang lain adalah salah satu pemicu terjadinya pertikaian ini…sudahlah….”sing waras sing ngalah kata e wong jowo”
    Tuhan Yesus tidak pernah mengajarkan kepada kita untuk serakah,”cukupkan dirimu dengan apa yang ada padamu” jadi berilah kesempatan kepada yang lain untuk berkarya, motifasilah dia, dukunglah dia, beritahukanlah kepada dia apa yang baik untuk dia lakukan, supaya semua bisa puas akan hasilnya……dan kita sama-sama menikmatinya….

    tapi….saya tidak memberikan komentar banyak, sebagai “Ono Niha” saya turut prihatin dengan apa yang sedang terjadi saat ini, Nias malah bukannya semakin maju malah semakin hancur. oleh karena itu, saya himbau kepada bapak-bapak “berhentilah bertikai,hentikan permusuhan ini, berhentilah mengutamakan kepentingan pribadi, lihatlah pulau Nias dengan penuh belas kasihan,(sebagaimana Tuhan Yesus yang dengan penuh belas kasihan melihat anda, dia rela membikan nyawaNya untuk kita yang dikasihiNya) banyak orang disana yang menantikan uluran tangan anda” “Bersatulah, bergandengan tanganlah, demi membangun Nias yang hanya seumprit ini”
    saya hanya bisa berdoa kepada Tuhan, semoga Tuhan memberikan kepada kita semua kecerahan hati, pikiran yang jernih dan jiwa yang tulus memberikan yang terbaik bagi Nias.
    Sebagai hamba Allah saya mengutip doa Tuhan Yesus “Ya bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Ya Bapa…berkatilah mereka supaya mereka menjadi satu sama seperti Bapa dan anak adalah satu” untuk membangun Pulau Nias tercinta ini…..

    terima kasih
    Tuhan Yesus Memberkati kita semua

    Amin

  11. Saya tertarik dengan komentar nakhigu Pikiran Daeli tentang perpecahan dan keengganan ono niha untuk bergabung pada Persatuan ( paguyuban ) ono niha dimana-mana.
    FAOLO NDRA’UGO BA UFAOLO GOI NDRA’O, AFU A’OZU ITA FAO-FAO.
    Pepatah diatas barangkali sangat tepat untuk kita simak semua.
    Masalahnya ono niha sangat sulit menghargai satu dengan yang lain, Sulit menerima pendapat orang lain dan merasa dilecehkan jika Keputusan bukan ditangannya.
    Kita jangan putus asa… kita terus campaign hal-hal yang positif demi perubaha kearah yang lebih baik.
    Ya’ahowu
    Ama Alfin daeli

  12. Ya’ahowu,
    Pada kenyataannya memang “ono niha” sudah ber-keping-keping. Lihat dimana saja “lingkup” yang menjadi object, misalnya Gereja yang notabene dan seyogianya menjadi symbol kesatuan, kesehatian, cinta kasih, dll yang baik-baik…. Tetapi kenyataannya di Nias? Gereja atau suatu sinode hanya dijadikan wadah “pamer pengaruh” dan fangobini toi.

    Dari sisi “fatalifusota”? Sama saja, tidak usah yang satu “rumpun” saat dulu kita masih di sana sekolah di SD-SMA saat itu masih “termasuk” harmonis, masih “fabe’o”, tetapi sekarang? Satu desa bisa beberapa “fangowalu” sama dengan jumlah KK… nyata…!

    Di perantauan? Tidak jauh beda. Bahkan dalam mendirikan gerejapun di dalam satu kota, sama saja…tujuanny adalah membawa umat kepadanya…bukan kepadaNYA…. Apalagi dalam hal mendirikan perkumpulan, ke-aku-anlah yang dipertahankan dak bukan Visi (sanggu mengabaikan visi organisasi demi kepentingan diri sendiri). Maka tidak heran jika banyak nono niha yang menjadi tidak semangat bergabung dengan perkumpulan karena afokho hogo meliahat para pengurusnya….

    Sudah kiamat kah?
    Tidak, kita masih punya harapan. Maka seyogianya pada PILKADA yang akan datang, sebagai warga Nias (dan masing2 kita di perantauan) kita menjadi “penasehat” keluarga yang ada di Nias agar kesempatan itu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Masa depan Nias lebih penting dan jangan dijual atau dituka dengan uang sebesar apapun..apalagi jika dengan 1 kg beras…. masa depan terlalu mahal.

    Jangan kita makin kotak-kotakan lagi dengan pemikiran sempit… jangan dengan pertimbangan marga, ori, dll tetapi harapan apa yang (sangat mungkin akan nyata) yang bisa ditawarkan oleh calon pemimpin, apa strategynya….

    Jika kita ingin Nias lepas dari keterpurukan dan keterbelakangan, maka masa depan itulah yang harus kita raih dan janganlah sampah-sampah kecil itu “menghambat” kita untuk meraih masa depan yang lebih baik.

    Nias punya potensi baik SDM (jika mental sempitnya ditinggalkan) maupun sumber daya alam (jika digali dengan benar). Potensi wisata Nias juga tidak kalah dengan daerah manapun di Indonesia. Bali yang dipuja-puja dunia, pada dasarnya “kondisi alam” Nias tidaklah kalah dengan Bali, tetapi kalah dari segi pembangunannya secara menyeluruh. Gunung Kidul (DIY) saja yang sering diberitakan sebagai salah satu daerah miskin panganm, kenyaraannya objek wisatanya diminati banyak wisawatawan Lokal dan manca negara. Dan, kelihatannnya, faktor utamanya adalah saran transportasi dan kesiapan masyarakatnya….

    NIAS PASTI BISA…… AMIN.

    Salam,
    Pikiran Daeli – Jambi

  13. Syalom Pak Huber Daeli,

    Saya bangga tulisan anda, pemahaman yang mantap dan bisa kita jadikan pedoman untuk melangkah kemudian, saya jadikan topik di branda depan.

    saya hanya berharap semoga demikian …kita tetap bersatu dan saling mendorong untuk maju ke depan.

    Untuk tulisan pak DOROHIA yth, saya belum punya ide untuk menanggapinya, sebagian tidak nyambung dengan info yang saya tahu tentang Nias saat ini.

    salam bahagia semua ono Niha dimanapun

    Yaahowu

    MRG

  14. Bursa Calon Plt Bupati Nias Barat

    Saya jamin pak RANTO tidak ada perpecahan di Nias barat, justru nias barat sangat kompak terbukti pada MUNAS DPP SHALOM beberapa bulan yang lalu, luar biasa kekompakan Nias barat,SDM nya oke punya. Bupati Nias sangat mengetahui hal itu, makanya Orang Nias Barat sangat ditakuti oleh Bupati, salah satu alasan Bupati Nias dipemerintahannya Orang Nias barat ditendang satu persatu karena iraono gaekhulu orang yang cerdas dan tidak mau di atur-atur seenaknya.

    Saya juga bangga menjadi Orang Nias barat, marilah kita saling bergandengan tangan untuk memajukan Nias barat, terlebih isu penunjukan PLT Nias Barat, hal ini DPP Shalom telah menyepakati siapa pun yang menjadi PLT Nias Barat tidak dipermasalahkan, yang penting putra Daerah Nias barat itu sendiri.

    Saat ini Bursa Calon Plt. Bupati Nias Barat semakin ramai, ada 7 (tujuh) orang Putra Nias Barat yang memenuhi kriteria untuk Plt. Bupati Nias barat, Antara lain:

    1. Faduhusi Daely (Kadis Pendidikan Kab. Nias Selatan)
    2. AA. Gulo (Kepala Badan Kesbang Linmas Kab. Nias)
    3. Fasaludin Daely ( Asisten II Setdakab. Nias)
    4. Talizokhi Halawa (Staf Ahli Hukum Kab. Nias)
    5. Sabaeli Gulo (Kepala Badan Pemberdayaan masyarakat Kab. Nias)
    6. Marthin Luther Daely ( Staf Ahli Pembangunan Kab. Nias)
    7. Hermit Hia (Kadis Kelautan dan Perikanan Kab. Nias)

    Catatan : Bapak Marthin Luther Daely (A. Clara) dan Hermit Hia (A. Herti), baru dilantik menjadi eselon II pada tanggal 20 januari 2009. Sehingga pada waktu DPP Shalom beraudiensi dengan GUBSU Syamsul Arifin untuk memberitahukan dan mengusulkan keinginan DPP Shalom kepada GUBSU tentang penunjukkan Plt Nias Barat, kedua nama tersebut belum di usulkan oleh DPP SHalom kepada GUBSU karena pada saat rapat pleno DPP Shalom kedua nama tersebut belum menjadi eselon II. Meskipun penunjukan Pejabat DOB merupakan hak prerogative pemerintah, dalam hal ini SHALOM bukan mempengaruhi keputusan pemerintah tetapi sekedar menyampaikan aspirasi dan harapan sekiranya calon pejabat Bupati Nias Barat dapat dipilih dari usulan yang disampaikan oleh DPP SHALOM.

  15. Sahabat netter,

    Saya punya motto,
    sebelum kita berpikir keluar sebaiknya
    ” Perhatikan dulu Keadaan didalam (diri kita)”
    Beresin dulu masalah di pribadi masing-masing baru ikut campur masalah umum.
    Apakah saya berpotensi menjadi sumber perpecahan??

    Salam,
    Yanto
    Bearland

  16. Yaahowu !!

    Sebenarnya perubahan dan kemajuan yang ada di pulau Nias merupakan kebanggaan kita bersama dan patut kita dukung. Terjadinya perpecahan tidak hanya terjadi di daerah yang sedang dimekarkan seperti pulau kita ini namun juga sering terjadi dibeberapa daerah (Lihat saja kasus Aceh). Yang penting sekarang ini bagaimana kita dapat menyikapi perubahan itu dan apa yang akan kita lakukan. Bukan sebaliknya hanya bisa menilai dan menilai orang lain dengan segala kemampuannya. Mari kita hilangkan rasa persaingan yang akhirnya membawa kita ke alam pikiran negatif sehingga muncul sifat iri dan dengki.

    Yang dibutuhkan sekarang adalah bagaiman mempertahankan dan mengisi pemerintahan yang sudah di raih dan apa yang harus kita lakukan didalamnya. “Fahasara dodo” adalah modal yang besar sebagaimana ada peribahasa Nias “Aoha noro nilului bahea aoha noro dilului baoso” itulah yang penting untuk saat ini.

    Trims dan salam sukses selalu. Tuhan memberkati !

  17. Saturday night, 17 Jan 2009

    Ya’ahowu Ama Maya Gulõ,

    Ibarat suatu pertandingan sepak bola. Para penonton yang memenuhi stadion menginginkan pertandingan berjalan dengan fair tanpa adanya kesalahan. Dan para supporter menginginkan ‘goal’ kemenangan bagi kesebelasan favorit-nya. Namun kenyataan di lapangan hijau pasti berbeda, sehingga wasit tidak segan-segan memberikan kartu kuning bahkan kartu merah kepada para pemain yang kurang sportif selama pertandingan berlangsung.

    Kesebelasan dengan team 11 orang dengan penuh perjuangan menginginkan kemenangan teamnya, walau hanya satu orang pemain nantinya yang bisa menendang bola untuk membuahkan gol ke gawang lawan.

    Artinya jika 11/2 = +/- 5, maka mungkin ada 4-5 calon pasangan bupati/wabu NisBar nantinya yang ingin mengabdikan diri untuk kemajuan Pemkab Nias Barat. Tapi yang pasti hanya ada satu pasang calon yang dapat membuahkan gol sebagai Bupati/Wabu he…8x. Siapakah figur pasangan yang dapat meng-gol-kan nantinya, maka hanya Tuhan YME yang lebih dulu tahu dari sekarang, karena manusia hanya sebatas rencana & usaha.

    Siapa tahu bung Ama Maya Gulõ atau figur-figur lainnya dapat terpilih nantinya sebagai Bupati or Wabu Nias Barat dari kalangan angkatan muda. Segala kemungkinan bisa terjadi.
    “Impossible become possible alias mission impossible” he…8x.

    =ANG=

  18. Sedikit masukan !
    Sambua Ina Sambua Ama, perlu dijadikan semboyan visi Propinsi ke depan. Saya dukung tulisan mengenai persatuan dan perpecahan, nilainya sama.

    Peringatan untuk kita, bahwa nilai persatuan lebih mahal dari perpecahan. Pemekaran bukan untuk memecahkan kita, tetapi untuk membenahi Nias agar menerima berkat yg lebih besar ke depan.

    Saudara saya yang ambisi memimpin Nias, harus benar-benar minta hikmat dari Tuhan.

    Ibu Melina Gulo, hati-hati dengan perusak organisasi seperti yang sudah kita alami, baik di gereja maupun organisasi masyarakat. Tentu ibu tahu maksud saya kan? apalagi nias barat, toh ditangan kita rusak bu, orang-orang yang “setengah intelek” merasa dirinya hebat. semua kabarnya sudah saya tahu.

    Tuhan menolong semua cita2 kita !

    DH

  19. Yahowu fefe banuada ..

    Artikel ini sangat menyentuh, namun saya meragukan orang Nias belum tentu membacanya.

    Dimuat saja di koran pak. saohagolo

    Sosialis Dachi

  20. Betul sekali kata moderator, banyak kita lihat organisasi-organisasi Nias yang tidak langgen karena mengandalkan keegoisan masing-masing. diawal-awal semangat persatuan luar biasa begitu sudah kepentingan lebih dominan maka segala cara dihalalkan untuk merebut tapuk kepemimpinan tersebut. Siapa yang merasa dirinya merebut kekuasaan atau harta yang bukan miliknya silahkan renungkan ya.

  21. Syallom…..! Ya’ahowu……….! Kiranya kasih karunia menyertai kita warga Nias dimana pun berada. Amin .
    Perpecahan di Nias telah lama terjadi, bukan mungkin akan terjadi.
    Telah banyak contoh disemua daerah di Indonesia bahkan di Pulau Nias Sendiri. Saya pikir itu suatu Dinamika. Dimana kita orang Nias dengan Ego masing2 dan kepentingan masing2 terlalu sok tau, sok kaya, sok pintar,sok hebat, tapi kebanyakan Nol besar….! NATO !
    Kebanyakan dari kita “Hulo dalaho baro zole”………….! dengan berpikir bisa begini bisa begitu…..bisa dianggap hebat….he…he. Nias ini …..Nias itu…..marga ini……Ori ini/itu….padahal Nol.
    Mengapa sih kita yang hanya sedikit, dan ketinggalan serta satu asal usul dsan nenek moyang nggak bisa bersatu……….. ?
    Mari kita berkaca dengan suku bangsa lain di Indonesia…… mereka semua saling suppport, kita iri hatinya yang yang dominan.
    Diantara kita ada yang maju, ada yang berduit,ada yang anggota Dewan yang lainnya berusaha menjatuhkan……..apa ini bukan iri hati… ? Ngakunya pengikut kristus……… apa ia……..?
    he…..he….. kacian deh kita……. kapan majunya……..?
    GBU.
    Thanks & regards.
    Talifuso.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s