BERANI MENGAKUI KELEMAHAN

BERANI MENGAKUI KELEMAHAN

Tulisan dibawah ini kiriman saudara Erwin Marunduri, ST, yang menanggapi tulisan kami mengenai BERAPA HARGA SEBUAH HUBUNGAN BAIK, saya sangat berbahagia dan bangga atas tulisan itu. Perlu kita pikirkan bagaimana supaya orang lain bisa menerima kita dan ada rasa persaudaraan yang dalam dilandasi oleh kasih. “SALING MERENDAHKAN DIRI”

Komentar saya :”Tulisan ini mengajak kita, agar jangan memegahkan diri, sehingga orang lain menerima kita dan hubungan baik terjalin begitu indahnya. Tahan diri untuk tidak menyakiti hati siapapun, kita melatih diri untuk menelan semua kepahitan yang disebabkan oleh orang lain, bahkan kita harus meminta maaf padanya.” Mampukah?

Dari Erwin Marunduri, ST

“Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya jemaat.” ( 1 Korintus 15 : 9 ).

Adalah pekerjaan paling mudah untuk melihat kelemahan/ kekurangan orang lain. Bila kita diminta untuk menyebutkan kesalahan orang lain, dengan sangat fasih kita mampu menyebutkannya mulai dari huruf A – Z, bahkan kalau bisa kita tambahi dengan bumbu-bumbu. Sedangkan untuk mengakui kesalahan diri sendiri, tidak semua orang mau melakukannya, lebih-lebih bagi seseorang yang memiliki kedudukan lebih tinggi. Semakin tinggi posisi semakin sulit mengakui kekurangan atau kesalahannya karena merasa gengsi dan takut kalu hal itu akan merusak reputasinya.

Namun, rasul Paulus dalam surat-suratnya tidak pernah merasa malu menyatakan penyesalannya dan bersaksi tentang pertobatannya, dengan jujur ia mengakui bahwa sebelum bertemu Yesus secara pribadi, dia adalah orang yang paling berdosa karena telah menghujat Allah dan menganiaya jemaat, seperti yang dikatakannya, “…aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman.” ( 1 Timotius 1 : 13 ). Bahkan ia pun merasa dirinya “….yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut sebagai rasul….”. ( 1 Korintus 15 : 9 ).

Paulus dengan berani mengakui segala kelemahan dan kesalahannya. Ia tidak malu mengakui dosanya, padahal ia adalah seorang rasul besar, mendirikan banyak gereja dan ia adalah misionaris yang terkenal. Inilah kekuatan Paulus yang selalu menyadari kelemahannya; ini semakin mendorongnya untuk terus bersikap positif. “…sebab justru dalam kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” ( 2 Korintus 12 : 9 ). Mengakui kesalahan dan kekuarangan memang terkadang bisa berakibat fatal, tetapi bila pengakuan itu dilakukan dengan tulus dan disertai kesungguhan untuk berubah dan berusaha untuk lebih baik lagi, hal itu tidak akan membuat seseorang merasa direndahkan, tetapi justru akan membuatnya lebih dihargai dan dijadikan teladan oleh orang lain.

Seorang yang berjiwa besar berani mengakui kelemahan dan kesalahannya !.

Demikian juga dalam menjalin dan membina hubungan yang baik ini jika yang dikedepankan adalah keegoisan dari masing-masing pribadi maka yang didapat bukanlah kedamaian dan hubungan yang baik melainkan kebencian dan bahkan dimusuhi oleh banyak orang.

Tuhan memberkati..!!!!

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s