Pintar, tetapi Tertutup

 Pintar, tetapi Tertutup

Rhenald Kasali Dalam buku Genom, yang ditulis Matt Ridley, ada nama Joe-Hin Tjio. Disebutkan, Joe, orang Indonesia, telah berperan penting dalam upaya manusia mengurai sandi-sandi yang tersimpan dalam DNA.

Upaya yang dilakukan tahun 1955 itu telah menjembatani karya spektakuler Francis Crick dan James Watson (penemu teori DNA dalam genetika biologi) dengan turunannya, yaitu genetika perilaku. Bersama Albert Levan, Joe-Hin Tjio berhasil mengurai bahwa genetika manusia terdiri atas 23 pasang sel kromosom, bukan 24, seperti dimiliki spesies kera.

Proses evolusi menggabungkan dua pasang kromosom kera pada kromosom dua sehingga terwujud sosok manusia. Demikian dijelaskan pakar teori evolusi yang menyaksikan perbedaan pada kromosom dua itu, yang tampak pada pola pita-pita hitam. Berkat temuan itu, kini para ahli berhasil membaca karakter-karakter apa yang disimpan pada setiap pasang dari 23 sel kromosom manusia, mulai dari kecerdasan, konflik, stres, kepribadian, seks, sampai kemampuan merakit diri.

Bibit-bibit pintar Joe-Hin Tjio adalah fakta pintarnya orang-orang asal Indonesia. Fakta-fakta lain, diurai Prof Yohanes Surya, yang berhasil mengibarkan bendera Indonesia di antara pelajar asing yang bertarung dalam Olimpiade fisika. Yohanes Surya telah membawa putra- putri asal Irian Jaya, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, sampai Pulau Jawa, yang ternyata tidak kalah pintar dengan pelajar asing. Padahal, kalau kita jujur, berapa besar investasi yang ditanamkan di bidang pendidikan dibandingkan dengan investasi serupa di negara-negara blok Timur.

Dalam bidang bisnis, putra-putri Indonesia juga tidak kalah pintar. Pada akhir abad ke-20, dua kakak-beradik, Sehat dan Pantas Sutarya, terpilih sebagai orang terkaya di bawah usia 40 tahun di Amerika Serikat. Dua alumnus SMA Kanisius, Jakarta, itu diketahui merantau ke AS sekitar tahun 1980-an dan bersekolah di kampus bergengsi di sana, lalu melakukan penemuan spektakuler di bidang teknologi informasi dan berhasil mengapitalisasinya melalui pasar modal. Di mana-mana di Indonesia, orang menginginkan anak-anaknya menjadi juara kelas.

Perbincangan di kalangan orangtua yang menjemput anak-anaknya di berbagai sekolah (khususnya sekolah dasar) juga tidak lebih dari soal prestasi belajar. Melalui pertanyaan, apa yang membuat para ibu/bapak bangga terhadap anak- anaknya, selalu dijawab: juara kelas. Keinginan itu dijawab sejumlah pedagang. Mereka menawarkan kursus-kursus berhitung, buku, bahkan aneka seminar yang menjanjikan anak-anak bisa diubah seketika menjadi super-rajin dan superpintar. Bahkan, ada yang menjanjikan dua hal sekaligus: pintar dan cepat kaya.

Terbuka dan kreatif Kepintaran seseorang dalam dunia akademis bukan penentu tunggal dalam kesuksesan hidup. Bahkan, bukan itu pula tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan adalah untuk memperbaiki cara berpikir seseorang, sekaligus membebaskan manusia dari berbagai belenggu mitos yang mengikatnya. Prosesnya pun panjang, antara 12-18 tahun. Dalam rentang waktu panjang itu sulit ditemui orang yang begitu persisten, pandai secara akademis.

Sejarah menemukan ada orang-orang yang memiliki pola bekerja dan belajar seperti mesin diesel, yang panasnya memerlukan waktu. Lebih mengagetkan lagi, mereka yang pintar secara akademis belum tentu pintar di dunia bekerja. Dalam hukum genetika perilaku, unsur-unsur pembentuk kepribadian manusia tersimpan dalam bentuk sandi-sandi. Salah satu unsur penting dalam sandi itu adalah huruf O yang mengandung makna keterbukaan (Open mind atau Openness to experience). Dengan demikian, kita mengenal dua jenis manusia pintar.

Pertama, orang-orang pintar yang dikenal sebagai wirausaha sukses yang berhasil membangun berbagai perusahaan besar dan penerima hadiah nobel diketahui memiliki unsur O amat tinggi. Mereka memiliki banyak minat, terbuka terhadap hal-hal baru, kritis, imajinatif, cenderung fleksibel, dan menyukai originalitas.

Kedua, kepintaran mereka berbeda dengan orang-orang yang suka menghabiskan waktu sia-sia sejak di SD yang hanya mengejar nilai tinggi di sekolah. Mereka ini memang pintar, tetapi unsur O mereka bisa jadi amat rendah. Banyak ditemui orang-orang, yang meski berpendidikan tinggi, cenderung reaktif, defensif, bahkan dogmatik. Meski tidak semua orang pintar bersikap demikian, orang-orang yang tertutup punya kecenderungan seperti ini. Akibatnya, mereka amat resisten dengan hal-hal berbau pembaruan. Bahkan, mereka ingin cepat menyerang, bukan memikirkan atau memeriksa segala hal yang bertentangan dengan pendapatnya atau ilmu yang dianutnya.

Mereka tidak welcome terhadap fakta-fakta baru, bahkan cenderung menyangkalnya. Orang-orang seperti ini, meski track-record sekolahnya terbilang pandai dan kemampuan berteorinya tinggi, adalah orang-orang yang tertutup sehingga kurang adaptif.

Jika sebuah institusi dipimpin atau banyak dipimpin oleh orang-orang pintar tipe kedua, dapat dibayangkan apa yang bakal terjadi dengan masa depan institusinya. Kinerjanya akan terus merosot, penerimaan publik dan respek terhadapnya berkurang, tetapi oknum-oknum pintar itu selalu menyangkalnya.

Kenyataan ini berbeda dengan berbagai organisasi yang dipimpin orang-orang yang memiliki cara pandang yang terbuka (pintar tipe pertama). Orang-orang dengan sandi O yang tinggi ini terlihat demikian bergairah mengeksplorasi hal-hal baru dan cenderung kreatif.

Mereka juga bukan pemarah yang mudah larut dimakan gosip, tetapi pemberani yang mewujudkan impian baru di masa depan. Kita perlu memikirkan kembali makna pembelajaran, yaitu apakah untuk membebaskan diri dari berbagai belenggu dengan cara lebih terbuka, atau hanya untuk memintarkan secara akademis. Tentu jauh lebih baik membebaskan mereka dari ketertutupan daripada membesarkan orang- orang pintar, tetapi otaknya tertutup.

Seperti kata Albert Einstein, “Ukuran kecerdasan manusia sebenarnya terletak pada kemampuannya untuk berubah.” Itulah makna kecerdasan, yang terkait erat dengan keterbukaan dalam berpikir.

Rhenald Kasali Ketua Program Magister Manajemen Universitas Indonesia

Iklan

16 pemikiran pada “Pintar, tetapi Tertutup

  1. Pendidikan hanyalah sebuah ladang untuk dapat membuka diri dengan berbagai fenomena yang ada didalamnya. Kepintaran seseorang selama dalam pendidikan tentu tidak akan menjamin seseorang itu juga sukses dalam dunia kerja. Dengan pendidikan tentunya akan membuka diri dan wawasan dalam pola berpikir yang baik dan sehat. Itulah yang membedakan pola berpikir orang yang berpendidikan dengan yang tidak. Pendidikan terbagi dua formal dan non formal yang tentu keduanya saling berbeda dan jika dipadukan akan menciptakan seoarng manusia yang handal.

    Kalau seorang yang sudah mengecap dunia pendidikan yang baik tentunya tidak memandang sebelah mata orang yang ada di sekitarnya dan bahkan menganggap orang tersebut adalah musuh bebuyutannya padahal Musuh utama dalam diri manusia adalah mengalahkan diri sendiri.

    Mengkritik orang lain jauh lebih mudah daripada merubah sifat sendiri dan bahkan kalau dikritik orang lainpun tidak mau terima. Orang yang ingin maju adalah orang yang siap untuk dikritik. Berhentilah mengkritik orang lain dan lakukan yang terbaik, minimal untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat pada umumnya. Dengan menghilangkan sifat ego yang ada dalam diri kita masing-masing marilah segenap akal, pikiran dan kemampuan kita padukan demi untuk membangun dan mewujudkan Nias Barat yang kita idam-idamkan.

    Selamat berjuang….!!!

  2. pAK fIRMAN, PENDAPAT RESP 13 sangat baik untuk bapak hayati…..

    jadi mulai sekarang jangan puaskan semua orang, seperti saat anda duduk di senayan…..anda cuek……itu bagus……..

  3. saya sangat sependapat dengan coment no.8 diatas

    ilustrasi tambahan….

    Penjual Ikan Dan Papan Pengumuman……..

    Seseorang mulai berjualan ikan segar dipasar. Ia memasang papan pengumuman bertuliskan “Disini Jual Ikan Segar”

    Tidak lama kemudian datanglah seorang pengunjung yang menanyakan tentang tulisannya. “Mengapa kau tuliskan kata DISINI ? Bukankah semua orang sudah tau kalau kau berjualan DISINI , bukan DISANA?”

    “Benar juga!” pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata “DISINI” dan tinggallah tulisan “JUAL IKAN SEGAR”.

    Tidak lama kemudian datang pengunjung kedua yang juga menanyakan tulisannya.

    “Mengapa kau pakai kata SEGAR ? bukankah semua orang sudah tau kalau yang kau jual adalah ikan segar, bukan ikan busuk?”

    “Benar juga” pikir si penjual ikan, lalu dihapusnya kata “SEGAR” dan tinggallah tulisan “JUAL IKAN”

    Sesaat kemudian datanglah pengunjung ke tiga yang juga menanyakan tulisannya : “Mengapa kau tulis kata JUAL? Bukankah semua orang sudah tau kalau ikan ini untuk dijual, bukan dipamerkan?”

    Benar juga pikir si penjual ikan,, lalu dihapusnya kata JUAL dan tinggalah tulisan “IKAN”

    Selang beberapa waktu kemudian, datang pengunjung ke 4, yang juga menanyakan tulisannya : “Mengapa kau tulis kata IKAN?, bukankah semua orang sudah tau kalau ini Ikan bukan Daging?”

    “Benar juga” pikir si penjual ikan, lalu diturunkannya papan pengumuman itu.

    kesimpulan:
    bila kita ingin memuaskan semua orang, kita takkan mendapatkan apa-apa !!! ???……..

    (saya kutip dari sebuah sumber)

  4. Respon yang baik
    Saya senang artikel ini dijadikan sebuah topic oleh redaksi.
    setelah kemaren saya menginformasikan linknya. Sangat membuka wawasan kita semua.!!! Mari kita koreksi diri kita masing-masing.
    Trims..GBU

  5. Iya deh……emang ama moses tidak pintar-pintar. kenapa dia mau jadi kacungnya si Firman, itu karena wawasannya dibawah rata-rata.

    Semoga anda Ama Moses tidak mengatasnamakan orang-orang Hinako ya. Kalau anda pintar dan benar tidak apa apa mengatasnamakan Hinako, tapi karena kegiatan anda membohongi PD syalom sama cari uang panitia melulu, sekali kali jangan anda atas namakan orang Hinako, memalukan.

  6. He Ama Moses, hadia zui da’o khou.
    Lo mano atua tua ndaugo ande.

    Baca sikit apa topik ini, kan ketahuan kamu orang yang tidak mau menerima perubahan….hehehe

  7. Pak Firman, jangan dikomentari disini. Mudah mudahan ini bukan pak Firman karena kalau benar pak firman kenapa berbeda dengan apa yang pernah kita bicarakan.

  8. Terima kasih atas komentar saudara/iku warga Nias Barat.

    Kepentingan semua orang tidak bisa kita penuhi semuanya.

    Tapi dari semuanya itu, kita harus menempatkan kepentingan orang banyak diatas kepentingan kelompok atau pribadi.

    Marilah kita berjuang utk mewujudkan Nias Barat sesuai talenta kita masing-masing.

    Saya senang dengan gerakan-gerakan yg memberikan warna tersendiri dalam perjuangan kita.

    Bersabar dan berbesar hati akan prestasi yg dicapai orang lain merupakan modal utama kita ke depan.

    Semoga bermanfaat

  9. Mari kita lihat orang Nias Barat seperti apa tipe mereka.

    Menurut saya kebanyakan orang Nias dan Nias Barat pada khususnya lebih banyak tipe yang tak bisa menerima pendapat orang lain, maunya menang sendiri.

    Hanya mereka-mereka yang memiliki jam terbang tertentulah yang bisa mengendalikan emosinya.

    Maaf saya hanya menerapkan topik diatas.

  10. Orang dengan tipe pertama adalah orang yang menerima pendapat orang lain dan terbuka kepada perubahan.

    Sehingga dia tidak begitu kaku bila ada perbedaan pendapat namun pendapat yg beda itu dipelajari, kenapa sampai diyakini oleh yang punya pendapat.

    Sangat bagus utk kita simak topik ini.

  11. ya mengisi kese-kese ini, orang itu-itu juga, cuma ganti nama doang, seakan-akan banyak yang kasih komentar.

  12. Dengan ini,
    kami sangat bangga kepada PILAR NIAS BARAT dan selamat atas acara DEKLARASI di Landmark Tower A Lantai 22 di Jakarta.
    Berjuanglah Nias Barat dan semoga sukses

    Lewi M Halawa.

  13. SURAT DARI KEVIN M Waruwu Depok dan Bogor
    Kami juga dari muda-mudi Nias yang berdomisili di daerah Bogor-Depok dan sekitarnya pengen banget ikutin ke Deklarasi Pilar Nias Barat.

    Jumlah kami gak banyak sih kira-kira 75 orang, kami mau membawa vokal group, mudah-mudahan bisa. Tolong beritahu kami siapa yang bisa kami hubungi.

    Terima kasih
    GBU
    Kevin M Waruwu

  14. Bagi saudara-saudara se tanah air Nias Barat, belajar dan belajar termasuk bagaimana belajar menghadapai setiap perubahan dalam hidup ini. Kalau KITA SANGGUP UNTUK BERUBAH SESUAI KONDISI DILINGKUNGAN HIDUP KITA, BERARTI KITA SUDAH PINTAR CARA O YANG PERTAMA.

    ADAPTATION LIFE CYRCLE, artinya selalu mampu adaptasi dalam lingkaran perjalanan hidup.

    Amin
    Ama Ivan

  15. Ini Luar Biasa, kita tinggal menentukan seseorang itu, apakah dia seorang leader tipe pertama yang memiliki sifat keterbukaan atau tipe kedua yang bagaikan katak dalam tempurung…….semoga yang ada di PILAR NIAS BARAT tipe pertama (open mind)….hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s