Profesionalisme Berada di Atas Kepentingan Hubungan Kekeluargaan

Produktifitas managemen pemerintahan di daerah kadang sulit dikontrol, sehingga posisi-posisi yang basah diduduki oleh lingkaran penguasa (raja kecil) di tingkat kabupaten dan propinsi. Kalau di ibu kota Jakarta, kelihatannya sudah mulai membaik namun tetap ada saja yang sembunyi-sembunyi.

Selain itu tidak sedikit juga perusahaan baik BUMN maupun Swasta masih melakukan praktek ini sekalipun secara diam-diam mendudukan orang-orang khsusus di jabatan tertentu.

Sering saya sampaikan dalam berbagai kesempatan bahwa :

“Profesionalisme menjadi mandul karena ada kepentingan lain yang disebabkan oleh hubungan pribadi misalnya mengutamakan keluarga dan kerabat serta teman dekat, baik dalam kegiatan bisnis maupun kegiatan organisasi sosial”.

Nepotisme berarti lebih memilih saudara atau teman akrab berdasarkan hubungannya bukan berdasarkan kemampuannya. Kata ini biasanya digunakan dalam konteks derogatori (wikipedia)

Sebagai contoh, kalau seorang manajer mengangkat atau menaikan jabatan seorang saudara, karena alasan orang ini adalah saudara, dan mengorbankan orang yang lebih berkualifikasi yang bukan saudara, manajer tersebut akan dinayakan tidak profesional  nepotisme. Pakar-pakar BIOLOGI telah mengisyaratkan bahwa tendensi terhadap nepotisme adalah berdasarkan hubungan perasaan, naluri, dan emosi.

Ketika tiba saatnya dimintai pertanggng jawaban, baik di kantor maupun dalam hubungan sosial, jawabannya adalah “Saya tidak bisa berbuat apa-apa, karena dia adalah … paman saya, adik saya, kakak saya, sesama kristen, satu agama, karena senasib dari suku dan daerah yang sama. Wah, saya tidak enak memutuskan hal ini…. karena dia ipar saya dan seterusnya”.

Seharusnya profesionalisme berada di atas segala kepentingan hubungan keluarga; seharusnya tetap menjujung tinggi produktifitas dan skill. Jika seseorang tidak produktif dan tidak memiliki keahlian dibidangnya, untuk apa dipaksakan menjadi seorang penjaga gawang, sebab akan menjadi beban. Seharusnya dalam hukum  bisnis selalu bermuara kepada profesionalisme yang dapat diartikan sebagai berikut:

  1. High Effort, Big Result, artinya besar usaha, besar hasil. Setiap upaya yang dilakukan dengan motivasi yang benar tentu menghasilkan hal-hal yang baik dan menguntungkan. Profsionalisme dituntut agar setiap orang dalam lini organisasi memiliki kecepatan tinggi untuk menghasilkan output yang besar pula. Justru karena saudara sering mengaaikan ‘kecepatan’ atau speed ini.
  2. Effesiency can reducing Cost, artinya tidak mumpuni mentang-mentang saudara lalu apapun biaya menjadi ditangung oleh organisasi, atau perusahaan. Harus mampu dan komit untuk menekan biaya dalam setiap aktivitas. Sikap seperti ini merupakan bagian dari profesonalisme yang hakiki. Anda akan membuat usaha atau organisasi manapun mnjadi bangkrut, anda bukan seorang prfesional.
  3. To be Smart, jangan menjadikan alasan bahwa orang-orang diligkungan kita memiliki keterbatasan (no body perfect) tidak ada yang sempurna. Sikap ini melemahkan profesionalisme kerja dan daya nalar kita untuk mencapai hasil yang sesungguhnya. Harus SMART, seumpama seorang pria idaman sedang melewati barisan para wanita cantik. Kritik dan Pujian mengalir bagaikan air deras yang menghancurkan benteng-benteng pemisah disepanjang jalur profesionalisme. Dia Ganteng, Oh Dia Pintar, Oh Celananya ketat, Oh…rambutnya kurang tebal, Dia pendek, kurang tinggi tetapi dia benar-benar menawan …, dia bisa mencuri hatiku, aku tidak akan memandangnya, dia beribawa, elegan, tetapi tidak setia, apakah dia pria idaman? dan macam-macam pujian dan makian menuju diri seorangprofesional, tetapi dia adalah exsist, dia adalah the number one karena dia mengerti apa itu “To Be SMART”, bagian dari profesionalisme dalam memenangkan hati orang.
  4. Achive Target for the hole mission “How to get Rewards”.  Anda kelihatan capek dan lelah karena bekerja siang dan malam, tetapi anda kalah, tidak mendapatkan rewards. Piala dibawa pulang oleh pemain yang lain dan anda terkulai karena kelelahan. Anda hanya pengembira saja, hanya suporter, payah dan tidak bisa mencapai target. Bagaimana dengan anda sendiri, pernah berjuang mencapai rewards, seperti orang lain ingin menggapainya? Seorang profesional yang tangguh, akan konsentrasi pada tujuan utama, how to get rewards.
  5. Good Idea to making BIG MONEY, hehehe, banyak pakar mencuri ide orang lain, dan mengklaim dirinya sebagai pencetus ide. Buat ide yang brilian untuk menciptakan uang banyak, bukan dengan cara mencuri dan mengompas atau korupsi. Jual ide anda dengan nilai yang bisa dipertanggung jawabkan, rubahah dunia, rubahlah warna langit, rubahlah diri anda, sehingga seluruh dunia mencari ana bahkan mengikuti kemana arah anda melangkah. Cara ini lebih tampak beribawa dan anda adalah seorang profesinal yang hebat. Berpikir bagaimaa menciptakan ide yang memproduksi banyak kesempatan dan mendatangkan berkat bagi banyak orang lain.

Untuk menjelaskan dua topik berikutya, saya akan sampaikan pada kesempatan lain, kiranya tulisan ini mendapat respon yang baik, seperti respon pada tulisan sebelumnya.

Profesionalisme berdiri di atas semua kepentingan dan perasaan. Langkah akhir adalah “JANGAN LIBATKAN PERASAAN DALAM HUBUNGAN BISNIS”. Jangan mudah jatuh hati atau jatuh cinta kepada siapapun dilingkungan kerja anda, karena perasaan (emosi)akan mengalahan logika anda dalam mengambil keputusan.

Salam Profesional

dari

Mustika Ranto Gulo

Iklan

8 pemikiran pada “Profesionalisme Berada di Atas Kepentingan Hubungan Kekeluargaan

  1. Saya hormat kepada anda, itu pengakuan yang tulus.
    Ini pembelajaran bagi Putra-putri Nias juga bahwa muali hari ini mari kita belajar untuk menghargai karya orang lain.

    Saohagolo,
    Jena S (I Love You Nias)

  2. Ping balik: Tips (3) “MEMULAI DENGAN PROFESIONALISME” | Nias Barat

  3. Tulisan di atas yang dipaparkan oleh talifusoda Bp. Mustika Ranto Gulo sangat baik untuk pembelajaran kita semua. Namun perlu kita ketahui bahwa suatu profesionalisme membutuhkan jenjang waktu karena perkembangan mental dsb pada masing2 individu tidaklah sama.

    Usul saya bahwa perlu dipilah-pilah porsi penempatan antara profesionalisme dan kekeluargaan, walaupun kadang dalam implementasinya antara profesionalme dan kekeluargaan/teman/network terjalin ikatan benang merah yang gampang2 susah untuk dipisahkan.

    Shalom,
    ANG

  4. Ketahuan sekali pikiran yang masih kurang jernih kaya etuna gerebao.he.he.he.he, yang di debatkan adalah asal tulisan ini bukan apa yang positif didalam isi tulisan ini.
    Menurut kakek, tulisan ini mau dikarang sama konglomelarat Bill gate atau Diktator Sadam Husein atau Teroris Osama Bin Laden sekalipun masa bodo ga ada urusan, yang penting isinya baik dapat bermanfaat untuk membangun pribadi saya.

    Kamsia buat nak Ranto yang telah membuat situs ini lebih baik dan banyak tulisan-tulisan yang positif.

  5. Saya bersyukur ada teks karangan itu, tapi kog ada saja yg iri dgn moderator…. hahaha, mudah2an kita dipertemukan dalam suatu debat ilmiah deh.

    thx

  6. 100% tulisan diatas karangan orang, aneh org 2 nias ini bikin pusing, saya searching semua rekomendasi di e-book, ngga ada kog.
    Aneh ya, org2 primitif masih ada di jakarta.

    salam u org Nias ….!

  7. Tulisan saudara Murni Bahasa Buku, titik koma’nya sama persis karena saya juga mempunyai buku tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s