ORANG NIAS DALAM PRESPEKTIF BUDAYA PRIMITIF

Saya sangat tersinggung sekali, ketika suatu waktu dalam acara seminar yang membahas “Hilangnya niat dan cinta Generasi muda terhadap budaya suku-suku di Indoensia”, seorang teman mengklaim kalau “Orang Nias itu congkak dan sangat sombong sekali”.

“Terlihat dari cara makan dan berbicara, itu hal-hal yang sangat sederhana. Kalau ada pesta Nias, harus ada hidangan adat yang khas, daging berlemak, jika hidangan dan menu tradisional itu tidak ada maka acara itu sangat menyedihkan. Ini adalah pembuktian pendahuluan dari saya” Ujarnya.

Saya berusaha menahan diri dan segera menyembunyikan sikap saya yang sempat berang dengan kata-kata itu. Setahun kemudian saya baca kembali buku harian saya itu dan akhirnya saya analisa alasan-alasan teman saya itu, saya pikir mungkin ada benarnya. Hana?

  1. Orang Nias itu hebat, karena sekalipun tak punya apa-apa, tetap mampu melakukan pesta besar. Mengapa? Karena tradisi bahwa di Nias itu, sudah terbiasa melakukan pinjam meminjam. Luar biasa dan sangat hebat karena transaksi tersebut tanpa jaminan. Pinjam meminjam dalam bahasa Nias (Molu’i So’ono, Mondra’u Bawi, Fosusu Zulo-zulo, dan seterusnya). Dimana-mana terjadi transaksi pinjam meminjam, sehingga budaya kerjanya sangat memprihatinkan seperti “Manguri bawi. Artinya beternak babi (sebagai penghasilan utama di Nias) dengan cara memelihara induk babi (sigelo) milik pemilik modal dan memeliharanya sampai beranak. Dan sebagai imbalannya adalah harus membesarkan anak-anak babi tersebut untuk menyicil pinjaman tersebut. 
  2. Orang Nias itu hebat, karena sekalipun dalam kondisi seperti itu,namun masih bisa menjamu tamu-tamunya termasuk ipar (La’o), dan semua keluarga mertua. Itulah kata-kata (pesan adat) saat seorang pria mempersunting seorang wanita, pihak kelaurga pria berpesan begini “Heno ngahono mbowo No awai, bahiza la’o, oroisa nda satua sangi’ila huku, lamane Hono mbowo sa no tochai”. Wah, ini sangat licik sekali, artinya Sekalipun utang jujuran sudah lunas saat ini, namun utang itu sesungguhnya masih belum tuntas, sampai mati dan ke anak cucu, masih tetap saja berutang, yaitu utang yang tidak ada batasan nilainya termasuk utang budi kepada pihak keluarga inti dan keluarga besar si perempuan sampai keturunannya kelak.
  3. Orang Nias itu sombong, selalu ingin memamerkan dirinya, keberhailannya dan kekayaannya sehingga membuat orang lain menjadi cemburu dan iri hati. Buktinya apa? Roh Tradisi Pesta Owasa di Nias sudah mengakar, karena pesta Owasa itu adalah pesta membeli Nama Besar yaitu Gelar Balugu (yang diagungkan) dengan syarat harus bisa memberi makan ribuan orang dengan gratis, dan saat itu si Balugu Mamozi Ana’a atau Malu Ana’a artinya Melebur Emas simpanannya di depan orang-orang banyak / Masyarakat. Dan menyatakan dirinya bahwa mulai hari ini saya dipanggil Balugu, “semua orang harus memberi hormat saat si Balugu pergi kemana-mana dalam keadaan di tanduk diatas osang-osang”. Budaya Pesta Owasa, mungkin saja belum dilakukan di Jakarta dan kota besar lainnya di Indoensia, namun sifat dan roh tradisi itu telah tertanam dalam diri generasi kita. Orang Nias gemar melakukan pesta dirumahnya, jika ada sesuatu yang ingin diperlihatkan kepada masyarakat. Sageu nono mbawi mate ero alua acara (Acara Sikola Wangandro atau Arisan dll). Jadi, jika pesta atau acara dalam setahun 6 kali saja, maka anda tinggal hitung berapa anggaran ke sana. Akibatnya, orang-orang yang tidak sanggup melakukan hal yang sama, menjadi iri hati karena mereka tak pernah sanggup membalas acara tersebut dilakukan di rumahnya.

Saya tidak mengerti, bagaimana caranya untuk memberi pemahaman baru, bahwa budaya dan tradisi kumpul-kumpul ala Nias itu sebaiknya dikurangi. Tidak mesti setiap bertemu ada jamuan adat simbi mbawi. Bukan berarti tradisi itu ditinggalkan, namun sudah tidak efektif lagi jika dilakukan pada saat ini.

Semoga orang Nias dimana pun lepas dari budaya primitif itu dan menjadi bagian dari manusia seutuhnya selayaknya hidup yang hemat dan bisa menabung demi masa depan anak-anak dan hari tua kita.

Jangan heran kalau ada di Nias yang berhutang sejak menikah sampai hari tuanya belum lunas, hanya karena salah hitung seperti ini. Oips, bukan salah hitung, tetapi benar-benar tidak berhitung.

 

Salam Nias Yaahowu !

Mustika ranto Gulo

About these ads

62 pemikiran pada “ORANG NIAS DALAM PRESPEKTIF BUDAYA PRIMITIF

  1. semua komentar ini adalah benar,,,tetapi hal yang paling benarnya adalah mengambil sisi positifnya dari semua pola pikir yang telah di ungkapkan di atas,untuk kita pergunakan sebagai jurus andalan demi membangun pulau tercinta kita dan meningkatkan kesejahteraan dalam kehidupan masyarakat Nias.

  2. Ping-balik: PENGARUH BUDAYA LOKAL TERHADAP GENERASI MUDA DI PULAU NIAS | ammarhamzah9

  3. Trimasih banyak buat penulis,,,,
    ini menjadi sumber referensi tugas makalah saya
    salam…
    niasku tercinta …………..
    dan budayaku tercinta …………
    dan bahasa niasku tercinta.

  4. JIKA ANDA BUTUH ANGKA RITUAL 2D 3D 4D DI JAMIN 100% JEBOL BILAH BERMINAT HUB KI ANGEN JALLO DI NMR (_0_8_5_2_8_3_7_9_0_4_4_4_) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB THA,SK ROO,MX SOBAT…

    : JIKA ANDA BUTUH ANGKA RITUAL 2D 3D 4D DI JAMIN 100% JEBOL BILAH BERMINAT HUB KI ANGEN JALLO DI NMR (_0_8_5_2_8_3_7_9_0_4_4_4_) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB THA,SK ROO,MX SOBAT…

    : JIKA ANDA BUTUH ANGKA RITUAL 2D 3D 4D DI JAMIN 100% JEBOL BILAH BERMINAT HUB KI ANGEN JALLO DI NMR (_0_8_5_2_8_3_7_9_0_4_4_4_) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB THA,SK ROO,MX SOBAT…

  5. Noni F. Gulo’ from pasid

    “Sangat hebat sekali org nias itu! Krn dmn2 org nias itU pasti ada dan di balik itu jga adat nias itu trkenal klw jujuran’ny mahal, dlm pesta pernikahan’ bhkan di perguruan tinggi sklipun para dosen sering brkata klw org nias itu pesta adat’nya besar! Jgn kta heran jg klw org nias bnyak menikah dgn yg brbeda agama atau dari kristen kian jdi islam,dst… Itu jga brpengaruh dgn adat yg bsar tdi, cobakan saja klw sudah PNS (Perempuan), hrus pnya uang 150 jta bru kta bsa menikah, klw wiraswasta/karyawan swasta hrus pnya uang jg 80 jt, klw org biasa hrus pnya uang 30 s/d 60 jta… alaahh maak mati aQ klw disini atuh dah dpt PNS Uang 30 s/d 40 jta…. Yah gpp sih buat pesta adat yg besar/megah, tpi hrus pnya bobot dan bibit dlu,..(no utang).

    Begitulah kwan2 marilah kta saling brbgi pndapat brsma dan jgn sling mnyalahkan…ok!

  6. lebih baik kita memandang ke depan, terlalu membahas hal keseluruhan dari budaya nias, gak mungkinkan 1 orang bisa merubah nias….
    Di mulai dari diri sendiri : dngan jelas budaya nias terpapar d dpan mata, bukannya hal ini yg seharusnya dapat membuat kita lebih mampu, bukannya menyerah dngan mngutarakan pendapat” yg berharap mampu merubah nias dngan drastis…
    Mau nikah? Ya kerja! Cari duit! Bukannya mengkritik!
    Bowo mahal, wajar donk… Berarti wanita nias juga masih mendapat harga.. Atau tidak berada d bwah tingkatan pria… Setuju!!!
    Sudah jelas adat mahal! Masih malas”an…. Jauh”lah pikiran kayak gitu!
    Semoga membantu! Yahowu!!!

  7. salam sejahtra untuk kita semua… terutama pada suku nias. yg sangat saya cintai,,,,,ya’ahowu ma’afefu..nah. menurut tpik2. yg tlah saya baca dan saya pelajari…saya sangat bangga kpad.. semua suku nias yg tlah,memberikan kbijakan ataupun ide2… cemerlang untuk menjunjung tinggi, popularitas, adat dan istiadat di nias….nias adalah satu2 nya dari berbagai suku yg ada di indonesia.justru dari itu, mari lah kt bersama2.menjaga …dan melestarikan.budaya dan leluhur kita…

  8. ijinkan saya berkomentar.

    saya bangga akan budaya suku NIAS & bangga menjadi orang NIAS….
    setiap suku memiliki adat & budaya masing-masing.Baik itu dianggap bagus atau tidak,primitif atau modern,positive atau negatif.
    Kita sebagai orang nias harus tetap melestarikannya hingga anak cucu kita.
    Karena suku bangsa yang maju sekalipun tetap mempertahankan tradisi kebudayaan mereka.kenapa kita tidak ????

  9. Bapak2/ibu/sdra/i yang terkasih……
    memang saya akui bahwa semua komentar2 yang ada di atas tujuannya semua untuk membangun pulau kelahiran kita NIAS tercinta.namun menurut saya adat2 yang ada di nias sama kita ini gk perlu di permasalahkan,karna itu sudah hakekat dan sudah tradisi dari leluhur kita sampai sekarang dan itu juga yang bisa melambangkan atau membedakan adat kita dengan adat di suku2 lainya,dan kalau masalah2 seperti folau owasa yg sudah tercantum di atas karna biayanya yang sangat besar,itu kan wajar2 saja dan tidak di haruskan setiap orang untuk me lakukannya melainkan tergantung orang itu sendiri apakah ia mampu atau tidak,dan kita baru komprei seandainya hal-hal seperti di atas di haruskan/di wajipkan kepada setiap orang nias dan kalau tidak melakukannya maka akan di berikan ganjaran atau hukuman,tapi toh nyatanya tidak….
    jadi semua itu tergantung kepada setiap orang yang akan me lakukannya….

  10. SAudara,
    singkat saya jawab. Jelas bukan lagi zamannya orang tua menjual anak putrinya hingga puluhan juta rupiah yang dia katakan bowo. Anak kita laki-laki adalah dari darah orang tuanya dan demikian juga anak perempuan. Mengapa kita beda-bedakan anak. Jangan kita menjadi yudas pengkhianat si manga mboli.
    Bagi saya, keluarga maju adalah keluarga yang tidak menjual putrinya. Kalau kita cinta kepada anak kita sampai hati mengambil jujuran besar? Kalau pesta, lebih agung dibiayai bersama baik pihak laki-laki dan juga pihak perempuan. Memang sulit meninggalkan kebiasaan mencekik itu, hingga berutang sampai anak cucu gara-gara jujuran.

  11. salam kepda pejuang dan pencinta Nias,….
    Merdeka…………………
    banyak gagasan yang dikemukakan tapi sayng kali tidak perbuah dan terwujud, karna pejuang itu sendiri sifatnya monopoli……..hanya tau berkoak koak tanpa tindakan pasti…………
    bayang kan saja kasus korupsi yang di pertanayan ormas2 Dinias,, apakah sudah terealisasi…………..? tidak…………!karena semua nya memihak dan fakhegusa

  12. BENAR Org nias tu hebat bgt!!!!!! aplg dlm adat istiadatnya yang sdh sgt berakar.mis. dlm pesta nias,jujuran yang tinggi,harta benda jg di p’taruhkan..yah kdg byk tanggapan cowk2 nias lbh suka nikah ke seberang pulau nias katanya jujuran di sana tidak sebesar jujuran di nias,,mmg bnr tp hax p’timbangan itu kita lari dr Nias???? sggh kasihan klo itu smkn meningkat siapa lg yang melestari’ Nias??????
    benar, gowasa di nias m’bwt tinggi hati ato rasa sombong.mudah-mudahan rasa tinggi hati ini hilang dr hidup Ono Niha…………………..
    Ono niha maju terus…Ya’ahowu!!!!!!!!!

  13. Assalamualaikum and yaahowu ono niha …..
    Saya sebagai putra nias bangga atas seluruh tanggapan di atas yang menunjukkan kita sebagai orang Nias saat sudah maju dari sisi tanggap-menanggapi….. hanya saja masih suka ribut itu yang menunjukkan dia sebagai jagoan neon …. he … he …. he …
    Kalau ingin maju …. sudah saatnya kita menerima kritikan orang lain …. jangan malu dan kalau kita sudah merenung …. Apa sih yang dibanggain orang nias ? Maka kita harus bangkit mencapai kemajuan. Janganlah berfalsafah tarian perang nias …. itu tidak baik, tapi sebagai seni tari kita patut berbangga hati.
    Mau maju ! tinggalkan ego pribadi dan perselisihan ….. Oke ?

  14. Saya kaget baca2 topik ini, sungguh mati aku juga sebnrnya tersinggung banget atas ungkapan ‘primitif’ … saya baca berulang2 pak Ranto!

    dari tulisan ini ada misi yg besar yaitu membuat kita sadar supaya malu dan tahu diri (aku ngga se7 dgn Bp. Eduar Baene Ms.i, ). sbb kalo di cerna lagi tulisan itu, kata2 ini bukan dari pak Penulis (mustika ranto Gulo). coba dicerna lagi ya kan? Pak Eduar (mhn Maaf ya) terlalu buru2 pak memberi penilaian …katanya “orang lain yg memberi penilaian seperti ini kepada Ono Niha”. Bukan saya bela bapak (penulis) neh, tapi marilah kita sederhanakan saja, pertanyaan saya ” Mengapa orang lain menilai kita masih primitif ? terima tau tidak terima …ini penilaian yg nyata !

    bgm jawaban bapa/ibu,
    yaahowu
    KRIS

  15. lucu jg ya org2 kami ini…smua berkata begini dan begitu,,,saya bnar dan dia slah…apsih yg istimewa dlm tulisn mustika ranto…klo sy baca tdk ad sssuatu yg sngt istimewa dlam hal ini,..apasih sbnrnya Budaya itu..dan ap tu Primitif…dan klo di prsatukan ap arti dr kdua klimat di atas biar saudra sndiri yg dpt mngartiknnya…..mlaksnakn suatu buday Nias d manapun qt hrus bebngga…artnya…bhwa org2 nias yg kluar dr pulau nias tdk lupa pd budayanya.,dan mnunjukan kpd dunia ato msyarakt lain bahwa nias mempunyai kekayaan budaya sendiri yang tdk kalah dgn budaya lain..dan masalah potong babi biarkan dia mlakuknya slagi dia mampu untk mbelinya dan tdk mrugikan org lain,krn daerh lain pun jg mlakukn hal yg sama cm pelaksnaany berbda2,,dan melakukn hal itu mreka bangga,,bukn seperti org kita ini,,,smuanya tukng bicara tp tdk bs mlakukn…”Primitif”..,setiap daerh sebelumnya hidup dlm dunia primitif cma proses perkmbanganya berbeda2,klo nias dkatakn primitif tidak..krn skarng nias jauh berbeda dgn yg dulu,qt tdk perlu merndh hati klo dktakan Primitif krn smua org dhulu hdup dlm dunia primitif…ttp tnjukan kpd dunia dmn pun mu brada bhwa Nias hidup dlm dunia Modern,…ungkpan2 yg kotor adalh slah satu ciri org yg sngat primitif..prkataan yg brsifat mmbangun ciri org modern…dan kmu tggl memilih dr kedua kalimat ini…smoga anda pham kalimat ini…stiap ungkpn ato fenomena yg ad, hrus d pahami dan dmengerti akn ksetiap realitas yg ad..Tuhan memberkati…

  16. Saya tertarik dengan Tulisan Inisial “BUDAYA”, tulisan anda terlihat sangat indah dan memang berbudaya. Analisa yang singkat dan saya juga tergugah pola pikir anda tentang kami, SUKU NIAS.

    Orang Nias sangat adaptis, saya setuju sekali….buktinya, beberapa org Nias sangat cepat membaur dengan suku lain dimanapun mereka berada di muka bumi ini. Sangat cepat sekali terjadi pengalihan dan perubahan pola dan perilaku, bahkan bahasapun sangat mempengaruhi.

    Di Jambi, beberapa keturunan Nias (kira2 Keturunan ke 3 atau ke 4 sdh lahir di jambi Sumatera) mereka tdk bisa bhs Nias lagi, selain itu tradisi Orang Tua (nias) sdh mereka lupakan. Ini bentuk adaptis yang saya anggap luar biasa dan disisi lain hal ini adalah kelemahan terhadap tradisi yang patut di jaga dan dilestarikan.

    Tidak semua aktivitas budaya itu jelek, ada hal2 yang membangun dan patutlah di jaga untuk dilestarikan.

    Sangat kaget saja, membaca judul tulisan Pak Penulis disini, mengenai prespektif …primitif… dari sisi sosiolog, kata primitif itu bukan hal negatif, tetapi diartikan sebagai ketertingalan informasi sehingga masih bertahan dalam corak hidup yg tidak modern. Hal ini, buukan kesalahan SUKU-SUKU di Indonesia, tetapi Kesalahan Pemerintahan yang hanya memusatkan perhatian di PULAU JAWA saja dimasa lalu.
    Sekarang tidak demikian, orang Nias sudah mengenal demokrasi…PILKADA dan seterusnya.

    Trima kasih untuk semua…mari tingkatkan budaya meulis tengtang Nias dimana-mana agar dikenal dan wisata kita menjadi bagus.

    Amin
    Firman Laia, SH
    Jambi

  17. saya usul kpd generasi muda Nias u membuat video klip tentang, prosesi pernikahan FANGOWALU versi nias.setuju????

  18. Budaya Nias sangat unik, tidak kalah dengan budaya manapun di dunia, peradaban manusia sudah ada disana sejak 2500 tahun lalu. Bukti2 megalit sdh dapat dijadikan ref untuk kita.

    menurut saya, budaya nias itu masih bisa diselamatkan dengan adanya pemahaman ‘pelestarian budaya’ dari semua aspek kehidupan sosial.

    trims

  19. Nias dalam pemahaman saya sdh maju dan memiliki khas budaya yg unik. Sekalipun perlu direformsi seperti kata Penulis …(Catatan : tidak mungkin berubah dgn cepat). Tetapi saya yakin org Nias suka terhadap kemajuan….dalam segala bidang.

    Selain itu, manusia sebagai makhluk Tuhan yg memiliki sikap adaptos (mudah menyesuaikan diri) bukan hanya penyesuaian budaya dan perilaku. Namun penyesuaian dalam segala hal. Ketika Sebuah suku membaur dengan suku lain, maka org tersebut tanpa di sengaja ..(dgn sendirinya) akan membaur …adaptos terhadap budaya dilingkungannya.

    Nias ….pada prisnsipnya sangat adaptis pada lingkungannya, bukti awal adalah ketika penelitian bahasa suku. Ternyata suku Nias sangat mudah melupakan bahasanya yg murni, bahkan sangat sulit dicari org Nias yang bisa bahasa Nias seutuhnya, tetap memakai bahasa Melayu (indoensia) dalam percakapan sehari-hari.

    Pemahaman sederhana ini, saya simpulkan Nias sangat Adaptis, seperti suku lainnya di dunia manapun. Apalagi Injil sdh dikbrkan disanan sekitar 140 tahun (sori kalau salah).
    Tahap2 awal reformasi pendidikan di Nias sekitar tahun 1970 s/d 1980 memang terasa sekali betapa menonjolnya suku Nias jika berada dalam komunitas dengan suku lain di perantauan.

    Selain, termotivasi untuk maju, mereka ingin diterima oleh org lain dimanapun mereka berada.

    Itu saja sumbangsihku
    Sukses selalu kepada Penulis.

  20. Ya,ahowu

    Maaf ua he na awena ma be,e zisambua fehede ba blog da,a khoda awena goi mabokai ia. Sosambua zitobali bua wangera-ngera khoda meno terbentuk khoda Nias Barat hadia hewisa goi ita ya,ita siso ba Rantau apa ha tarongo mano, ma hatabe,e mbua gera-era atau hadia wo,i mena,o naso zitobali duma-duma niha khoda sitola tafalua khora hewa,ae ba rantau so,ita sitbali nitoro-toro todora khoda ya,ita siso ba Rantau misa.

  21. Ping-balik: Siapa Mustika Ranto Gulo, Dapat dikenal dalam beberapa tulisan-tulisannya « Nias Barat Siapa Yang Punya ?

  22. Salam Ono Niha
    Kami berterima kasih atas semua tulisan-tulisan bapak di internet ini. Salam Nias yaahowu untuk semua saudara kami di Gunung sitoli. Ibu saya mendrofa dari afilaza, kami pindah ke Padang sejak Gempa 2005. Kami rindu kalau ada berita-berita Nias secara rinci, termasuk bagaimana pasar di Afilaza sekarang.

    saya sedikit menanggapi tulisan atau judul ini, bahwa budaya Nias sekalipun terlihat ada ketertinggalan dibandingkan suku-suku di Sumatera Utara, atau di Padang Sumatera Barat, tetap saja ada khas tersendiri. Justru khas itu yang menjadikan NIAS ITU UNIK!

    Jadi cara makan dan pola pikir, atau etika berbicara yang selalu di jawab-jawab misalnya setiap kita mengungkapkan sesuatu lalu dijawab “ya’ia ho, duhu da’o dan seterusnya adalah khas budaya Nias. Memang ada baiknya untuk meringankan biaya-biaya setiap ada acara di gunungsitoli. Kalau ada kesempatan makan dalam pesta, usahakan jangan makan sampai kenyang apalagi kalau daging. Kan, bisa sakit entar! Jadi repot. Makan seadanya dan tidak mesti harus ada daging adat .. biasa saja. Hematlah, itu maksud penulisan ini menurut saya.

    Tanggapan bapak2 di atas sudah terlalu jauh, apalagi tanggapan pak Hasrat Putra Daeli atau Latterian Hia atau yg lain-lain, hanya memicu pertengkaran saja.

    Saya analisa pikiran Bapak Ranto penulis artikel ini, bahwa beliau menghendaki agar suku lain jangan menilai Budaya Nias seenak jidadnya saja. Kita harus menjaga itu, saya suku padang darah Nias dan lahir di Afilaza, saya akan pertahankan itu, saya tetap orang Nias.

    itu saja bapak-bapak, salam Nias !
    Nasir Gayo

  23. jepang dengan nias beda. jepang adalah negara dan nias sebatas kabupaten yang masih harus tunduk kepada kebijakan birokrasi propinsi dan pusat. teruntuk sdr DR.oichoda Nazara, Mpd bahwa tidak mudah melakukan aoha nifahea zato di zaman sekarang ini. kemajuan zaman menuntut individualisme dan kegotongroyongan yang makin tipis. mungkin masih ada sebagian yang mau jadi ‘balugu’ namun sepanjang ada keuntungan dan kepentingan kale. balugu era modern jadi bupati lah, dpr/dprd. ini riil pak terjadi pada era modern.

  24. Saya baca tulisan anda dengan seksama, dan saya mudah-mudahan tidak salah menanggapinya.
    Komentar saya adalah: bahwa sudut budaya tidak saja dilihat dari sisi fenomena yang terjadi, sebab itu menghasilkan subjektifitas. Pengguna budaya (manusia) mengetahui sendiri apa yang baik dan apa yang buruk melalui proses pelembagaan, jadi setiap budaya memiliki ukuran baik dan buruk menurut manusia pemiliknya, bukan oleh penilaian orang lain, sehingga kata primitif yang berkonotasi rendah atau modern yang berkonotasi tinggi adalah bentuk subjektifitas (klaim anda sendiri).
    Perhatikan: Seseorang Balugu adalah pemimpin dalam komunitasnya, mungkin kalau disejajarkan selevel dengan Camat sekarang. Ia tidak punya gaji, tetapi secara sukarela menjalankan aktifitas kepemimpinannya, nah dalam dunia modern adakah suatu pekerjaan yang gratis?
    Yang kedua, misalnya budaya menjamu tamu yang berbiaya besar, analisanya: lingkungan kerabat/keluarga adalah simbol dari budaya komunal, para ahli mengemukakan jenis ini sangat kuat daya ikatnya karena memiliki rasa persatuan dan solidaritas serta kontrol yang tinggi, tidakkah anda tahu bahwa di Nias perceraian itu sangat jarang? dan menggap hal ini sebagai potensi sosial budaya dalam pembangunan semisal mengembangkan perkoperasian? Masih banyak yang perlu kita gali….
    Yang ketiga, Negara Jepang maju karena pembangunan berbasis nilai, yaitu budaya direvitalisasi, apa sumbangan kita (materi dan non materi) untuk membangun Nias, menurut saya itu jauh lebih penting.

  25. ia betul, memang saya begitu. doro hia begitu dan udah begitu kok, jadi ga perlu kaget lagi yo…, biar ga jantungan. Dan kese kese ini emang kebanyakan ga berbobot, doro hia,ang,mhd,ranto,dll memang suka begitu, namanya aja kese-kese. dan yang lebih lucu lagi hamba tuhan ranto ikut2an wamadobi tola, doro kok yang buat begini. biar seru, maroroga balagu da’a. supaya orang bisa menjadi simpatik terhadap saya, dan teori ini saya udah dibuktikan oleh ranto, dihujat dan disayang dan setelah itu ditendang, doro memang begitu misterius.

  26. Terima kasih atas tuliasan mengnai ORANG NIAS DALAM PRESPEKTIF BUDAYA PRIMITIF” hanya saja menrut sya orang nias tetap berkewjiaban mnhargai budaya nya sendiri.meurut hemat saya pesta owasa tidak pasti menjadi penyebab ketertinggalan dan atau kemiskinan masyrakat nias.Ketertinggalan dan kemiskinan yg masih kita rasakan di Pulau nias lebih disebabkan kurangnya anak2 nias yg berada di pemerintahan pusat dan provinsi.selain itu kita kurang mampu mewjudkan Aoha nifahea zato artinya berastu untuk saling mengangkat/membangun sedangkan Pesta memberi makan orang diberbagai keeseempatan atau yg disebut owasa itu lebih saya artikan seebagai sifat kemurahan hati masyarakat Nias sejak nnek moyang kita untuk memberi sesuuuatu kpd yg lain Nah sebagai generasi Nias kita bisa kembangkan hal itu suka meemberi itu dalam bentuk yg lain misalnya dengan pikiran,tenaga,uang dan bisa sj makanan kepada sdr2 kita yg kekurangan di pulau nias.jadi buat sy owasa itu dan sikap menghormati siteenga bo’o itu cermin sikap mulia nenek moyang kita untuk suka memberi,suka menghormATI dan mau berkorban untuk orang lain.bukan kah itu anjuran Tuhan Kita Yeses Kristus?.kala bukan kita siapa lagi yg harus bangga tentang Nias ! Ya’ahowu.

  27. Pribadi yang ingin berkembang adalah pribadi yang berani mengambil risiko.Dan, risiko hanya terjadi jika kita berani melakukan sesuatu. Semoga blog ini menjadi ajang untuk menampilkan diri, melakukan yang lebih berharga walau penuh risiko.

  28. Ya’ahowu banuada, salam sejahtera.

    Dalam “The Merry Adventures of Robin Hood”, Robin Hood berpesan pada para pembaca:

    “ceritakanlah masalahmu dan bicaralah dengan terbuka, mengalirkan kata-kata senantiasa meringankan hati yang luka; seperti mengeluarkan debu yang menyumbat penggilingan”.

    Pesan Robin Hood di atas perlu kita terapkan dalam proses dialog yang selama ini cenderung terjadi benturan dan kesalahpahaman. Sudah waktunya kita berekonsiliasi melalui dialog dari hati ke hati.

    Postinus Gulö (moderator http://www.mandrehe.wordpress.com)

  29. Aluivera | alui@yahoo.com | jakarta | IP: 118.137.192.6729 / Jan, 10:19

    Pilar Nias Barat yang menjadikanmu dikenal orang Nias Barat, maka bersyukurlah pada orang sirombu, kalau bukan orang sirombu (asli Ndaono Gaekhula) yang mencetuskan pilar nias barat maka tidak akan ada pilar. itulah kami, biarpun wilayahnya kecil pengaruhnya besar, bagaikan orang israel ditengah2 bangsa arab, tidak bisa ditembus kalau bukan dari dalam diri kami sendiri.

    Saya hapu komentar anda, karana tidak pada tempatnya. Orang lain sdh berhenti ‘cakap kotor’, malah anda memulai lagi.

    Saya terkesan dengan sebutan SIROMBU pada akhir kalimat anda. saya kurtip seperti di atas, hehehe…. ini kesombongan sejati Ndraono Zirombu, saya ini orang sirombu, apa artinya kita sok di jalanan, seperti preman (ada org tua yg sok preman, sekarang tersisih).

    sebelum di baca pak Ketum komentar anda mendingan saya hapu…. hehehehe.

    Redaksi

  30. Sdr. Latteriyan Alo’oa Hia, saya sedang online juga sekarang. Apa kabar, sayang kita tidak bertemu kemarin. Sorry, bukan masksudnya menceritakan siapa orangnya, tetapi menceritakan karakter kita pada umumnya. Kalau kita bertemu biasanya bersikap akrab seperti adik Kita Jillian Manuputti kemarin (ibunya Org Nias. Langsung akrab.)

    Kebiasaan kita yg perlu dikoreksi dari sisi rohani, yaitu kalau ditanya “apa Kabar?” kalau orang inggris jawabnya “Fine, Thank You, and how are too?”. Orang Nias Jawabnya bukan “baik, terima kasih..”. tetapi “Marase wo le’e, hulo mo’u-mo’u detegara, lo’auri balo mate”.
    Secara Rohani sebenarnya jawaban itu tidak membawa berkat, seharusnya begini “Puji Tuhan, baik-baik, kami dalam keadaan sehat, karena KASIH TUHAN, apa kabar juga?”. Orang arab menjawabnya begini ” Alhamdulilah… baik2 “.

    Nah, yang saya soroti adalah gaya karakter kita yg tidak sesuai dgn perbuatan seorang beriman kepada Tuhan. Kita tidak bersyukur dari apa yang sudah Tuhan lakukan kepada kita. Orang2 kharismatik, lebih antusias lagi, mereka selalu teriak “Haleluyah, Tuhan Baik setiap hari, Oh Haleluyah”. Jadi, sikap pesimistis Nias itu menunjukkan siapa kita dan karakter yang masih belum di upgrade selama berada di kota besar, dimana kita sdh membaur dengan ribuan macam-macam latar belakang manusia.. ratusan jenis suku2 bangsa.

    Jadi, sorry, pemikiran saya hanya itu semoga bisa di tebak lebih kearah Rohani saja. tidak bertendensi membalas orang yang dimaksud.

    Salam hangat untuk mitra Nias Barat Siapa Yang Punya bapak Latteriyan Alo’oa Hia, semoga dapat melanjutkan tulisan2 yg bagus agar dapat menjadi dokumentasi yg bisa dibaca oleh Next generation Nias kelak. Ya’ahowu

    GBU
    Ama Maya Gulo

  31. Baiklah saya sedikit britahu, saya ada di forum Nias sebenarnya karena ibu saya dari Nias, kelahiran padang. Namun saya tetap wajah ambon… hehehe ikut ayah. Sebagai seorang guru SMP di Banten, saya sedikit sekali bergaul dengan kawan2 Nias, saya hampir tidak percaya diri. Dengan kulit hitam begini ..mana mau ada yang percaya darah saya mengalir darah leluhur Nias … hehehehe. Semoga saja …makanya di Natal Ono Niha saya bawa keluarga ..dan kami bahagia ..senang, apalagi bang edo yang hibur kita, sama-sama hitam, jadi saya semakin percaya bahwa saya hitam tapi tetap ada darah Nias.

    Saya ingin lebih banyak gaul dengan sdr.2 saya dari Nias, namun, sulit rasanya.
    Tabiat dan pola Nias yang sebenarnya bagaiman sih? sebagai pendatang baru di Jakarta (Tangerang Banten) saya ingin bertemu.

    Saya bangga karena bisa bertemu Pak Ranto tadi malam, yah, kesimpulan saya ….. saya anak kemarin donk bang, maaf saya bukan rendah diri, tapi umur kita berbeda jauh sekali.

    Sdr2ku Ono Niha, ternyata kalau kita sdh bertemu, kita menjadi akrab, dan ada rasa sungkan seperti org timur pada umumnya. Seandainya kita saling bertemu pada suatu waktu sangat bagus.

    Ini Hanya Saran, baiklah kita tidak usah lagi saling menjelek2kan di situs ini. Saya bangga kog, sekalipun masih ada juga yg suka protes. Baik2 saja, tak masalah asalkan jangan norak. Sepertinya ada masalah diluar yg tak ada hub nya dgn web ini, tetapi terbawa-bawa dalam setiap tulisan/artikel pak Ranto.

    Selain itu masukan kepada Pak Ranto, agar selalu menjawab komentar kawan2 dgn elegan dan jangan dibiarkan … didiamkan saja. GBU

    Trima kasih
    J1ll

  32. menanggapi komentar sdr. Hasrat daeli, ada benarnya juga. Dan mungkin itu yang dia rasakan selama ini, secara pribadi saya memaknainya positif, jadi sdr. Potinus Gulo tidak usah terganggu komentar seperti itu, karena dia tidak melukai perasaan individu, komentar itu hanya sebatas keheranannya melihat/membaca komentar2 teman-teman lainnya. Apalagi kalau saat ini sepertinya ada pembeda-bedakan diantara kita, dan itu adalah yang sangat membahayakan kita, mudah2an generasi muda Nias Barat tidak kena virusnya.

    Untuk sdr. Ranto, aku juga kemarin datang ke acara Natal FKNO sangat meriah dan penuh suka cita, tapi sayang sekali kita belum ketemu. Saya juga heran kepada anda, sekalipun ada orang yang selama ini menjelekan abang ranto, sebaiknya tidak usah menceritakan kepada kami, apalagi melalui forum ini karena akan berdampak negatif terhadap orang tersebut, tetapi marilah kita memaafkan seseorang itu dengan ikhlas dan bukan secara keterpaksaan. Jangan kita sama dari orang lain tetapi kita harus beda dari orang lain, (maaf saya bukan bermaksud menggurui saudara) tetapi kita tunjukan kedewasaan kita dalam berbagai hal, dan itu pekerjaan yang tidak sia-sia.

    Latteriyan Alo’oa Hia
    0815 33 92 711 or 990 19 777

  33. Puji Tuhan, saya hari ini baru pulang dari Natal FKNO! Keanehan, adalah:
    saya bertemu dgn orang yang sering memprotes tulisan2 saya, namun dia salam saya dan mengatakan “Anda Hebat”. Saya kaget dan kerning saya menaik, melotot terheran2, seperti org tak berdosa, …dalam hati, saya pikir orang ini bermuka dua dan sangat memalukan. Namun, saya tetap berusaha bersikap biasa saja dan tersenyum dan memberkatinya dengan mengatakan “Syalom, Tuhan mengasihimu, apa kabar?”, katanya “Marase…”. Saya tertawa, hahaha ………… ternyata orang ini niha simarase sia’ai…hehehe ! Just Kidding

    OK Saudara saya
    DoroHia
    J1ll
    Latteriyan Alo’oa Hia,
    Savar Smendrova
    Effendi Zebua
    Postinus Gulo

    Salam Bahagia, dan Tetap jaya ONONIHA dimanapun berada, mari kita mengabdi kepada generasi muda … sang penerus kita, hal2 yang baik, tanpa melupakan siapa “nenek moyangnya – leluhurnya”.

    Ada yang patut kita banggakan dan yang juga tidak perlu dibanggakan apa yang sudah terjadi di masa lalu di Nias. Kita wariskan cerita sesungguhnya … supaya mereka sadar betapa indahnya Nias, namun disana juga ada jutaan kesulitan hidup, fenomena hidup.

    Tuhan menmberkati para penulis komentar, semoga pikiran mereka menjadi ujian bagi kita … kita harus bisa bedakan mana sampah dan mana emas. .. Ingat bahwa sampah masih bisa di daur ulang.

    Syalom

  34. saya ini hanya sebagai kuli di Jakarta, tapi sebagai org Nias yang terhormat saya masih mengerti bagaimana berlaku sopan dan memiliki budi pekerti, saya sedih membaca komentar anda yang membuat semakin rusaknya nama baik kita di mata dunia.

    Komentar anda saya hapus tanpa izin pak moderator, cukuplah, mari kita perbaiki diri. Tidak usah baca blok ini kalau anda nggak suka, buat tulisan yang mencounternya secara ilmiah dan metodologis seperti tulisan Pak Ama Wirda Zebua dan lain-lainnya, kita menghormati kritik mereka dan masukan mereka. Bagaimana? apakah anda mampu membuka diri, mari kita bersatu hati menolong generasi kita kedepan…ini adalah misi blog ini dari Moderator.

    Redaksi

    Komentar baru pada tulisan Anda #311 “ORANG NIAS DALAM PRESPEKTIF
    BUDAYA PRIMITIF”
    Penulis : Bualanaso Zebua (IP: 124.81.153.10 , 124.81.153.10)
    E-mail : bualanaso@zebua.web.id
    URL :
    Siapa : http://ws.arin.net/cgi-bin/whois.pl?queryinput=124.81.153.10
    Komentar:
    Memang benar kalau blog niasbarat.wordpress.com tidak punya bobot dan
    tidak mendidik dikarenakan pemiliknya juga tidak berbobot. Kenapa
    demikian …. jawabnya karena pemiliknya masih kampungan.

  35. Saya hanya sebagai kuli di Jakarta, tapi sebagai org Nias yang terhormat saya masih mengerti bagaimana berlaku sopan dan memiliki budi pekerti, saya sedih membaca komentar anda yang membuat semakin rusaknya nama baik kita di mata dunia.

    Komentar anda saya hapus tanpa izin pak moderator, cukuplah, mari kita perbaiki diri. Tidak usah baca blok ini kalau anda nggak suka, buat tulisan yang mencounternya secara ilmiah dan metodologis seperti tulisan Pak Ama Wirda Zebua dan lain-lainnya, kita menghormati kritik mereka dan masukan mereka. Bagaimana? apakah anda mampu membuka diri, mari kita bersatu hati menolong generasi kita kedepan…ini adalah misi blog ini dari Moderator.

    Redaksi

    Komentar baru pada tulisan Anda #311 “ORANG NIAS DALAM PRESPEKTIF
    BUDAYA PRIMITIF”
    Penulis : Bualanaso Zebua (IP: 124.81.153.10 , 124.81.153.10)
    E-mail : bualanaso@zebua.web.id
    URL :
    Siapa : http://ws.arin.net/cgi-bin/whois.pl?queryinput=124.81.153.10
    Komentar:
    Memang benar kalau blog niasbarat.wordpress.com tidak punya bobot dan
    tidak mendidik dikarenakan pemiliknya juga tidak berbobot. Kenapa
    demikian …. jawabnya karena pemiliknya masih kampungan.

  36. Syalom Saudara-saudara, Hari ini kita kehilangan saudari Ani Zebua (tangerang) tadi pagi dipanggil Tuhan kembali kesisinya, Kita berdoa bagi suami dan kel yang ditinggalkan semoga diberikan penghiburan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

    Selain itu, sedikit saya agak risih dan bertanya ada apa dengan situs kita ini dan mengapa banyak orang yg sangat mendukungnya dan dibalik itu ada yang rutin mencaci saya dengan topik atau judul tulisan apapun. Kalau ada salah saya yang tidak terlihat dan tidak saya sadari, saya minta maaf. Saya hanya membagi pengalaman dan pengetahuan yg sedehana tidak sehebat para pakar atau Doktor atau profisor.

    Saya himbau kepada saudaraku, mari kita saling mengasihi satu dgn yang lain, apalagi pertemuan kita ini di udara, dan tidak pernah bertemu muka. Saya rasa ada sesuatu yg kurang pas kalau kita mengklaim org yg tak berdosa dan tidak ada hubungannya dgn situs ini.

    Sedih rasanya, saya coba alihkan topik2 itu dgn bahan dan ide yang berhubungan dgn training Motivation Program dan saya sisihkan tulisan tentang budaya , tetap saja ada yg tidak berkenan.

    Kasihan sdrku Postinus Gulo, yg sangat terganggu dgn argumen / komentar adik kita hasrat Putra Daeli. Saya harap, kita saling mengertilah, bahwa dunia ini sangat luas …namun sangat sempit bagi org yang bergaul dgn baik. Jangan mengklaim org sebab itu akan membahayakan perjalanan kita ketika melewati krikil tajam. Org tidak simpatik lagi, karena kita tidak menghormati kelebihan orang lain, ini nasihat untuk bapak Hasrat Putra Daeli.

    Tidak selamanya kita berjalan di atas angin, suatu waktu kita akan tertegun memandang orang yang kita caci maki, mengulurkan tangan kepada kita disaat kita sedang terpelset dalam mengarungi hidup ini.

    semoga sampai disini saja, cara kita berpikir Nias Minded.
    Salam

  37. Yth. Bapak Hasrat Putra Daeli. Terima kasih komentar Anda, yang keluar dari kecoplosan dan mungkin kejujuran, serta ketulusan hati sebagai wujud cinta Anda untuk kemajuan kaum intelektual Nias. Namun, dari komentar Anda saya merasa risi, sekaligus bertanya-tanya. Oleh karena itu, ada beberapa poin pemikiran saya mengomentari komentar Anda:

    1. Saya kurang tahu mengapa Bapak Hasrat Putra Daeli membandingkan saya (Postinus Gulö) dengan para doktor yang Anda sebutkan itu. Terus terang-ini keluar dari hati yang jujur bukan rendah diri-saya bukanlah siapa-siapa, masih anak ingusan, belum tahu banyak, oleh karena itu, saya lebih memposisikan diri sebagai pelajar, karena saya memang sedang belajar. Saya mungkin masih iraono soyo laluhakahe dibanding para intelektual Nias yang Anda sebut satu persatu itu.

    2. Saya juga bertanya-tanya, mengapa Bapak Hasrat Putra Daeli, justru sinis (atau benci) terhadap orang-orang yang suka menulis di Niasbarat.wordpress.com ini. Saya merasa ada apa yang terjadi dalam diri Bapak Hasrat Daeli, motif apa Bapak mengeluarkan komentar semacam itu? Motifnya: membangun? Sekedar menekan, sekedar menjelekkan, sekedar iseng? dst…dst…dst…

    3. Saya juga kurang mengerti mengapa Bapak hasrat Putra Daeli menyinggung saya (Postinus Gulö), padahal, dalam tulisan di atas, sama sekali tidak disinggung nama saya. Apakah Anda membenci saya? Kalau ya, apa dasarnya, faktanya apa. Bapak Hasrat Putra Daeli mengatakan bahwa saya (dan beberapa yang lain), sering mencaci maki: khusus saya: bunyi caci maki saya seperti apa, dan di mana? Tunjukkan?

    4. Anda membenci orang-orang yang mencaci maki tetapi dalam komentar Anda ini, Anda juga justru mencaci maki, meremehkan orang lain. Ada apa dengan Anda? Pasti ada sesuatu yang salah dalam sistem pemikiran Anda?

    5. Banyak kaum intelektual yang egois, mereka hanya menikmati ilmu yang ia dapat, mereka tidak membagikannya kepada yang lain. Nah, dalam istilah filsafat orang-orang semacam ini adalah orang yang mengidap penyakit: masturbasi intelektual. Saya khususnya, berusaha untuk membagikan apa yang saya dapat kepada yang lain, dengan demikian saya terbiasa dikritik, dibangun dan disemangati. Melakukan itu jauh lebih baik ketimbang hanya memikirkan saja/berteori saja. Bertindak itu jauh lebih penting ketimbang hanya ngomong.

    6. Saya mempunyai prinsip: melakukan apa yang tidak dilakukan orang lain, akan mendapat apa yang tidak diperoleh orang lain. Dan, selama saya nimbrung di situs-situs Nias banyak hal yang saya dapat (positif-negatif). Itu semua pengalaman berharga buat saya. Karena dari sana saya semakin merenungkan: untuk apa saya bertindak, mengapa saya bertindak dan apa dampak tindakan saya.

    7. Saya jadi teringat pepatah Latin: Tibi Seris Tibi Mentis: menabur hal yang baik, akan menuai hal yang baik. Jika Bapak Hasrat Putra Daeli mau menuai yang baik, taburlah benih yang baik, jangan benih permusuhan, benih kebencian, benih kekanak-kanakan. Semoga!

    Semoga komentar saya ini mengetuk pikiran dan hati nurani Bapak Hasrat Putra Daeli. Dan, saya mengundang Bapak Hasrat Putra Daeli untuk bertukar pendapat dengan saya (mengapa Bapak menilai saya seperti yang tertera dalam komentar Bapak) via email: nei_khaden@yahoo.com
    Terima kasih, Ya’ahowu

    Postinus Gulö (moderator http://www.mandrehe.wordpress.com dan http://www.postinus.wordpress.com)

  38. yaia mano khoda khou doro hia. sebentar lagi nias akan dimekarkan dan yaugo akan menjadi wakil bupati…kau pintar sekali ngambil hati orang

  39. Ya’ahowu fefu,

    Saya berusaha menangkap kesan positif dari tulisan ini, paling tidak tujuan penulis adalah berusaha menyadarkan kita bahwa warisan budaya kita tidak selamanya benar dan sesuai apabila diterapkan hingga sampai saat ini karena perubahan zaman.

    Contohnya : Owasa, fangowalu dgn bowo sebua, famosumange tome dengan simbi, dll.

    menurut hemat saya, di zaman leluhur kita, kebiasaan mereka atau gaya hidup mereka tsb syah-syah saja (tidak salah) karena :

    1.Zaman leluhur kita mereka punya ladang, sawah, kebun yang luas dan sangat subur, pelihara babi juga pertumbuhannya cepat karena pakannya yang melimpah dan jarang kena wabah penyakit. Kita masih ingat zaman dulu itu lumbung padi di setiap rumah banyak dan babi dari Nias sempat di eksport ke Singapore.

    2.Mereka hanya dibebani biaya hidup yang sangat tradisional. Tidak perlu memikirkan biaya sekolah anaknya karena waktu itu mungkin belum ada sekolah, tidak perlu memikirkan beli kendaraan karena waktu itu mungkin di Nias belum ada kendaraan bermotor, waktu itu beum ada alat-alat elektronik, belum ada restoran, belum ada tempat hiburan, bahkan beli pakaian juga tidak karena mungkin waktu itu belum ada yang jual pakaian di Nias.

    Dampak positif dari ke 2 point tsb di atas akhirnya terjadi “PENUMPUKAN HARTA” krn pemasukan banyak sementara pengeluaran sedikit. Buktinya mereka bisa punya topi emas (kofia), aya ana’a (rigi atau rofia ana’a ni fatali, berbagai macam jenis emas mereka punya, figa cap naga dsbnya). saya mau katakan leluhur kita itu dulu adalah orang-orang kaya.

    sehingga syah-syah saja mereka melakukan hal-hal yang dikritisi penulis (owasa, falowa sebua bowo, famosumange sitenga bo’o, famosumange tome, dll) itu menjadi suatu hal yang terbiasa dilakukan hingga menjadi budaya, alasannya mereka kaya raya dan bingung harta mereka buat apa? Kecuali yang mereka lakukan hal-hal tersebut di atas.

    Di zaman modern justru kebalikannya mereka punya tanah tinggal setapak karena tingginya pertumbuhan penduduk, tanah, sawah, kebonnya kurang subur sementara pos-pos pengeluaran begitu banyak akhirnya ya… miskin. ironisnya sudah miskin … ya melakukan pesta besar-besaran lagi. Ya, zaman sudah berubah.

    Tetapi saat ini, kalau memang benar-benar juga seseorang punya harta melakukan owasa, pesta besar, famosumange sitenga bo’o atau tome, ya bukan menjadi soal/masalah.Justru kita berterima kasih ada yang melestarikan dan memperkenalkannya kepada anak cucu kita owasa itu seperti apa? Kita tau di Jakarta ini juga biaya pesta nikah aja bisa sampai milyaran atau bahkan lebih, ya syah-syah saja karena mereka punya uang.

    Penulis Yth,
    Point-point tersebut di atas harus dibatasi, tidak selamanya jelek / buruk, wajar-wajar saja selama mereka sanggup.

    Pesta pernikahan juga di Nias saat ini besarnya jujuran mayoritas tergantung pada kemapuan pihak laki-lakinya, tidak seperti dulu lagi.

    Jadi formulasinya harus jelas “KALAU TIDAK SANGGUP JANGAN MEMAKSAKAN DIRI DAN KALAU SANGGUP JANGAN JUGA DIANGGAP KESOMBONGAN”

    Di Jakarta ini kalau ada arisan atau kebaktian labe’e zimbi jangan diartikan semata-mata kesombongan atau pemborosan, ya, bisa diartikan juga perjamuan kasih dan selama mereka sanggup.

    Itu saja komentar dari saya. saohagolo. ya’ahowu

    Efendi Zebua

  40. Untuk Orang Nias, silahkan koreksi diri anda, atasan saya di kantor (Kepala Sekolah) adalah orang Nias, hm… ada benarnya cerita penulis disini tentang org Nias.
    Begini….saja, silahkan bandingkan ketika “Frans Seda mencela Kaumnya di Floress……. Moderator juga pantas dan syah2 saja memberi warning terhadap orang Nias dimana saja”.

    Kasihan ya!!!!

    FRANS SEDA: Orang Flores Sombong dan Primitif
    Dikutip dari : FLORES POS JAKARTA

    Jakarta, NTT Online – Frans Seda, salah satu toko perintis Kemerdekaan Indonesia asal Flores, mengakui Flores hingga sekarang belum maju (ekonomi-red) karena orang Flores masih memiliki sikap sombong dan primitif. Menurutnya, orang Flores tidak menghargai ilmu pengetahuan.

    Toko Partai Katolik ini, lebih lanjut, mengatakan selain sombong dan primitif, orang Flores itu feodal. Ia mencontohkan pada dirinya sendiri. Sebagai seorang anak kapiten di kampung Lekebai, ketika pergi sekolah Frans kecil dipanggul budak milik orangtuanya. Tradisi di masa lalu itu kemudian mempengaruhi sifat orang Flores yang sombong. Sementara itu, sikap primitif terbentuk dari kepercayaan dinamisme yang dianut dulu, yakni kepercayaan pada dewa-dewa (nitu).

    Frans juga sangat prihatin karena kesombongan juga ditampakkan oleh Gereja Katolik dan pemerintah daerah (Pemda), baik di Flores juga di NTT seluruhnya. ”Gereja dan Pemda harus bersatu padu dalam membangun Flores. Jangan berjalan sendiri-sendiri. Gereja mempunyai program memberantas kelaparan sementara Pemda mengurangi pengangguran. Mestinya keduanya bisa bersatu karena sama-sama memiliki niat memberantas kemiskinan,” paparnya.

    Frans menyatakan bangga dengan apa yang telah dilakukan di Maumere belum lama ini. Frans bersama mantan Gubernur NTT Ben Mboi dan Dirjen Bimas Katolik Stef Agus mendorong para uskup dan bupati untuk duduk bersama. “Baru kali ini dalam sejarah Republik, Uskup Maumere bertemu dengan bupati-bupati,” tukas Frans.

    Kepada Gereja Katolik, Frans berharap mau meninggalkan tabiat feudal. “Gereja kita di sana itu feudal sekali. Pastor-pastor tidak pernah mengunjungi orang, tidak menyapa orang,” kata Frans. Akibatnya, banyak orang Katolik di Flores yang pindah agama.

    Sedangkan untuk orang-orang Flores sendiri, dia berharap hendaknya mau meninggalkan tabiat sombong. “Orang Flores itu, biar lapar yang penting sombong. Ia baru sadar akan kesombongannya ketika harus makan. Mestinya Gereja juga harus mengajarkan sikap rendah hati tidak hanya terhadap Tuhan, tetapi juga terhadap manusia,” pinta Frans.

  41. Hallo Pak Savar Smendrova,
    Pikiran Kita Sama, ini harus digaris bawahi, karena apa yng dipresentasikan oleh ranto adalah penilaian orang lain terhadap SUKU NIAS> Penilaian itu membuat dia tersinggung dan hampir meledak, setelah itu dia cari apa dan mengapa, bukan begitu dek Marinus ?

    Orang Nias Hebat, karena bisa ngutang, minjam dan dipercaya kerabatnya.

    Kemudian katanya Orang Nias Hebat, karena mendapat pinjaman tanpa anggunan, demi pesta dan harga diri seperti fala’osa, …hahaha Marinus, apa yang anda tahu? jangan2 anda belum bisa berbahasa Indoensia – Melayu yg benar, sehingga premis-premis penulisannya anda ragukan. Tidak usah sok, pakai istilah kalau tidak mengerti maknanya, penjelasan saya adalah alur cerita Ranto yang sampai detik ini saya belum kenal orangnya.

    Kemudian, alur pemikiran Ranto yang ketiga adalah orang Nias Sombong sebagai penyakit bawaan kali yeeee. bawaan dari kebiasaan membesarkan diri, membeli harga diri, membeli wibawa dan membeli keanggungan dengan cara pesta owasa.

    Terkutuk org yang menganggungkan dirinya sebab hanya Tuhan yg layak diagungkan, …ini sumber celaka… nenek moyang kita tidak mengenal Firman Tuhan, mereka dikutuk… dan terbawa kepada keturunannya…hingga Nias saat ini jatuh miskin berabad-abad lamanya.

    ada keyakinan bahwa misi Zending (Seperti Denninger) baca : “Keselamatan hadiah untuk Nias”. berusaha untuk menghentikan budaya kafir di Nias seperti Owasa. Sihingga sejak itu banyak warga para Pemuka Masyarakat, berhenti mengambil gelar balugu, bahkan acara FAMA DOGO OMO pun dilarang secara pelan-pelan dan halus sekali oleh para penginjil di Nias.

    Jadi, kalau adik kita yg baru lahir kemarin sore, belum baca tentang prespektif budaya Kafir (identik dengan Primitif) yang percaya kepada pelbegu, afokha maka wajar saja pendapat adik kita marinus sedemikian dangkalnya.

    Perlu banyak belajar antropologi, baru berikan komentar dek. Seperti Doktor-doktoran yang disampaikan oleh marga daely di atas, sudahlah dek, doktor saya bisa beli lima untuk anda.

    Betapa bodohnya seorang doktor menganggap dirinya doktor dan pembicara international menganggap pembicara international, jam terbangnya juga baru 2 jam. Sorry, kalau anda belum selevel itu, tetapi kalau anda tahu siapa saya, mungkin anda tak percaya DOROHIA dari Hogo Gara Zirombu … hehehe itu pun tidak mengandung kebanggan.

    Fidelis, Dodo, ere-era, abisaloni, haogomano, fonazaro, ebenezerias war, tuha dano, sozanolo, tuhe gafoa, tea-tea dan kiliwi semua sdh diwisuda tahun lalu menjadi DOKTOR. Apa itu yg anda banggakan? Kasihan mereka, menjadi malu karena anda sebut2 nama mereka di forum ini, seharusnya anda persatukan org Nias, malah memecah dan menuduh sangat tendensius.
    Para doktor itu malu, mereka masih belum bisa menulis apapun, jadi kita sabar menunggu, kapan mereka tampil mungkin setelah botakk kali ye.

    Sekali lagi ngak usah bangga dengan gelar anda sebab, gelar doktor itu sdh bergentayangan sekarang.

    marinus, dek banyak baca buk sedikitlah terutama filsafat dan antropolgies, supaya kita jgn ditertawakan org, apalagi pak ranto… hehehehe. Ira tua da’o he!

  42. saya setuju dengan komentar hasrat putra daeli, makanya kaum intelektual nias barat tidak pernah memberi komentar di situs ini, karena diskusi kita omong doang, tidak berbobot dan cenderang menjelek2an orang

  43. Ada syair lagu Nias yang berbunyi sbb:

    La tahigo ita iraono furi
    La’e’esi ita bekhu nasi
    Hana wanotoroi Dano Niha
    Lo mano simaoso ba wangifi
    Fareso dododa hana!!!!!!!!!

    Kenafa setiap ada tofik pembicaraan selalu ujung-ujungnya ribut? apa memang kita ditakdirkan untuk ribut? Dikese-kese yaita ono niha dimana pun tidak pernah saya lihat ada solusinya yang ada hanya ribut-ribut-ribut-ribut-ribut

  44. aduh………jadi sedih nge-baca tulisan2 di atas..
    ada yang merasa lebih pintar..dan mengoreksi/meng-kritik orang lain habis-habisan.dan mulai memamerkan pengetahuannya.

    saya pribadi ngga terlalu kenal dengan bung ranto.tapi saya tahu orangnya yang mana.saya juga bisa nangkap isi tulisannya.
    saya percaya dia ngga anti pesta atau owasa karena memang itu peninggalan leluhur kita.
    hanya..bagaimana kalau pelaksanaan owasa atau pesta besar itu lebih di sederhanakan.
    zaman sekarang,rasanya kurang etis kalau kita pesta gila-gilaan,sementara di sekeliling kita,makan nasi + ikan asin saja susah.apalagi melakukan pesta gila-gilaan seperti yg sering terjadi di kota2 besar.pestanya sampai milyaran rupiah.mentang-mentang punya..lantas..pamer.sementara tetangganya kembang-kempis..mati ngga,hidup ngga..tidak ada tenggang rasa..merasa bahwa ini hanya sekali seumur hidup,lantas..semuanya harus semewah mungkin pd hari itu…
    negara ini begini,karena pola hidup pesta seperti itu..apa salahnya hidup sederhana,sekalipun mampu untuk pesta dan memberi makan 1 pulau nias.banyak kog cerita yang kita dengar….
    setelah pesta..keluarga tsb ngga bahagia..bisa jadi stress dengan utang karena pesta.
    saya lebih setuju,kita bukan tidak melakukan/atau tidak menghargai budaya nenek moyang..tapi mungkin bisa lebih disederhanakan.supaya itu tidak membawa kemiskinan.
    dan memang zaman sekarang,rasanya juga ngga perlu buat pesta hanya utk supaya dipanggil balugu…cukup Tuhan yang disembah,ditinggikan dan dijunjung tinggi.
    manusia,cenderung mencari pujian bagi dirinya..dan inilah yang disebut berhala.memberhalakan diri sendiri.dan Tuhan bilang..terkutuklah..orang yang mengandalkan dirinya sendiri.
    sekian aja..mari kita lestarikan budaya kita dengan semakin mengarahkannya atau mensejajarkan budaya kita dengan kebenaran Firman Tuhan.
    orang2 eskimo dengan budaya mereka membunuh orang tuanya sebelum meninggal pun adalah budaya yang salah.siapapun kita,dimana pun kita berada.kita tidak berhak menghilangkan nyawa orang.
    jadi tidak semua budaya itu benar.budaya harus berada dibawah kebenaran Firman Tuhan (bagi orag percaya).artinya budaya harus tunduk atas otoritas Firman Allah.jangan kayak suku lain dong..
    adatnya sampai dijunjung tinggi..tapi sungkan utk menjunjung Tuhan lebih tinggi.
    maju terus..berpikirlah lebih jauh…
    takut akan Tuhan permulaan pengetahuan.pengetahuan tanpa Tuhan adalah NOL.GBU all

  45. Salam Kasih

    Koreksi: Saya sudah membaca secara menyeluruh tulisanya Ranto. Dan Saya berkesimpulan bahwa artikel ini tidak valid bahkan tidak benar, karena memang premis-premisnya juga tidak nyambung.

    Pertanyaan:
    1. Apakah Owasa sesuatu yang buruk? dan kenapa orang Nias masih saja melakukannya?

    2. Apakah budaya Nias yang kita anut kini (owasa, dan pesta lain) bukan budaya leluhur orang Nias? kalau begitu asal muasal budaya tersebut dari mana? apakah turun begitu saja dari langit?

    Saya setuju sekali comment dari Hasrat Putra Daeli. Karena yang kita omongi memang semuanya tidak berbobot dan mendidik. Buktinya, orang-orang yang sering ngasih comment di situs ini pikirannya selalu subjektif dan ngejelek-jelekin yang lainlah…

    Tidak heran bila orang sekelas Bapak saya Dr.Fidelis Waruwu, seorang pembicara internasional tidak pernah nongkrong di situs ini. Karena itu, saran dari saya agar kita semua intropeksi diri. Ada apa dibalik itu semua?

  46. Waduh……ada ada saja adek2 kita ini…!
    dianalisa dulu nak marinus, bahwa kata prespektif itu apa, lihat apa tujuan penulisan dari Ranto, yaitu agar kebiasaan yang buruk dan sering menjadi cacian orang (suku lain) kepada kita harus ditinggalkan, namanya juga perspektif, tidak jauh dari dugaan.

    Kog malah lari ‘tidak mengharagai budaya leluhur?’. contoh nih, pesta nias tidak meriah nalo lafaho mbawi, sejak dulu kala sampai kepada generasi kita sekarang masih melakukannya. Pada hal itu bukan syarat menjadi sukses sebuah pesta orang Nias. Keluarga yg tidak apat memberi makan tamunya dari masakan tradisional itu menjadi tidak begitu berharga. seakan-akan keluarga itu sudah nomor dua.

    itu maksudnya dek, kasihan pemahaman teman2 demua, terutama para calon DOKTOR tidak pernah buka internet dan gagap teknologi …mati saja deh.

    Saya setua ini9 masih bisa analisa tulisan para pakar, namun orang Nias tidak ada kelas pakar, apakah lahagu, fakhili, atau doktor-doktoran, yah, semua cuma cari gelar saja.

    Mari belajar menulis seperti postinus, ranto, ang, dll. Semangant mereka akan dituai nantinya oleh anak2 kita 25 tahun atau 100 tahun kemudian. sebab tulisan mereka menjadi abadi.

    trims
    Tuhan memberkati

  47. Setahu saya setiap ada artikel, tulisan atau diskusi di niasbarat.com kebanyakan ditanggapi negatif dan lain-lain. wajar sajalah kalau banyak kaum intelek nias barat tidak pernah mampir di situs ini, memberikan komentarpun tidak. bahkan tidak sama sekali. atau mungkin yang kita diskusikan selama ini yang sebuah OMONG DOANG sehingga kaum intelektual Nias Barat tidak tertarik/tidak peduli dengan diskusi kita?.. Adakah DR. Fonali Lahagu, Yupiter Gulo, Era-Era Hia (Kandidat Doktor), Sorni Paskah Daeli (Kandidat Doktor sekarang sudah masuk PNS di depdagri), Faebuadodo Hia, Fakhili Gulo,dan mungkin banyak lagi yang belum saya sebutkan namanya. Justru yang sering muncul di diskusi kita selama ini Abang Ranto,Doro hia, MHD, Ang, postius gulo,dan lain-lain, dan kebanyakan yang kita diskusikan yang tidak bermanfaat bagi pembaca,hujatan dan cacian, saling menjelekan, dsb. Perlu kita sadar dan mengoreksi diri.

  48. Ya`ahowu Ira Satuama!

    Saya kira, kata “kebisaan buruk” dan kata “budaya primitif” adalah suatu ungkapan yang kurang tepat, salah bahkan meremehkan budaya Nias, orang Nias, dan tatanan hidup yang dianut oleh masyarakat Nias.
    Setiap masyarakat, suku, dan budaya peradaban punya kebiasaannya sendiri. Kebiasaan tersebut merupakan nilai-nilai luhur yang diturunkan oleh nenek moyang kita sejak dulu. Misalnya, budaya Orang Eskimo. Orang Eskimo di Utara sana, punya kebisaan di mana ketika orang tua berada dalam keadaan sakit, sekarat, dan sejenisnya, anak (Anak Muda/Putri) berkewajiban untuk membunuh orang tuanya yang sakit tersebut. Jika tidak melakukan demikian, ia dianggap durhaka, dan melawan kehendak Dewa/dewi. Tapi bila anak muda/putri bersangkutan melakukan demikian, ia dianggap “Anak yang berbakti kepada orang tua”. Dan budaya geli ini, sampai kini masih berlaku, karena memang luhur dan bernilai sangat tinggi bagi mereka. Di Nias seperti yang juga diungkapkan oleh Bapak saya Mustika Ranto Gulo memiliki hal yang sama. Namun bentuknya berbeda. Di Nias dikenal Istilah “Owasa” dengan segala bentuknya. Budaya dan kebiasaan ini tidaklah buruk atau primitif. Karena ia punya kekhasan dan nilai tersendiri yang tidak di punyai oleh suku-suku lain atau peradaban lain. Nenek moyang orang Nias membuat demikian (konsensus antara tetua adat) karena memang bernilai dan luhur untuk dilakukan. Dan bukan sesuatu yang buruk atau primitif seperti yang diungkapkan oleh Orang-orang Dewasa diatas.

    Saran saya: BELAJARLAH MENGHARGAI BUDAYA SENDIRI, JANGAN KARENA INGIN MENONJOL, INGIN LEBIH DARI YANG LAIN, LALU MEREMEHKAN BUDAYA SENDIRI. PADAHAL BUDAYA YANG KITA ANGGAP BURUK DAN PRIMITIF ITU, TELAH MEMBENTUK PRIBADI DAN POLA PIKIR KITA MAN…DAN SUDAH MENJADI KEWAJIBAN UNTUK MELESTARIKAN NILAI-NILAI LUHUR PARA NENEK MOYANG KITA TERSEBUT.

    Atau Anda ingin mengubah budaya Nias (pola pikir Nias) dengan budaya lain?

    Alamat:www.niasbaru.wordpress.com
    Bandung,Pariz Van Java

    Salam Budaya

  49. Kalau kata primitif memang tidak tepat, tapi kata gantinya “kebiasaan buruk” …kata ini tepat. Bicara soal antropologi Nias sangat berbeda dengan bicara soal filsafat kehidupan Nias.

    saya rembuk saran supaya kita bisa mengunjungi:
    http://www.geocities.com/z_iwan/jejaring_filsafat.html

    Sebagai bahan pertimbangan, kita jgn terlalu buru-buru mengklaim sebuah pikiran orang seperti tulisan ini langsung kita hukum salah.

    Analisa dulu, sebab tidak ada komentar atau statement seperti apa yang Bapak/Ibu Pressmuadi sampaikan.

    Salam Filsafat

  50. Saya bagikan tulisan ini, tak masalah tulisan pak ranto ini, justru baik bagi generasi kita, mengapa kita harus marah?. Baca artikel dibawah ini, kalau bisa jadi topik di di halaman depan.
    _____
    PENGEMBANGAN DAN PENGELOLAAN WARISAN BUDAYA
    Dr. Pudentia MPSS*

    Berbicara mengenai kebudayaan adalah berbicara mengenai sistem nilai yang terkandung dalam sebuah masyarakat. Bila batasan ini dikaitkan dengan keberadaan kebudayaan yang ada di Indonesia yang begitu beragam, maka kita dapat mempertanyakan kembali sejauh mana keragaman ini dapat dipertahankan dalam kerangka membangun “kebudayaan Indonesia”. Di pihak lain, kita pun dapat mempertanyakan sejauh mana “Indonesia” mampu menyatukan keragaman tersebut. Keragaman tersebut tidak saja terdapat secara internal, tetapi juga karena pengaruh-pengaruh yang membentuk suatu kebudayaan. Pengaruh-pengaruh tersebut membentuk lapis-lapis budaya yang sangat menarik yang seakan bercerita tentang sejarah dan segala hal-ihwal sebuah komunitas pemilik kebudayaan tertentu. Dalam kaitan ini kita pun dapat mengamati dinamika sosial masyarakat mewujudkan kebudayaannya, baik secara sadar maupun tidak.

    Dengan ungkapan lain, kita dapat menyatakan bahwa masyarakat Indonesia memiliki kekhasan masing-masing dalam memberi tanggapan terhadap lingkungan alam dan kehidupannya yang berbeda-beda tersebut yang tersebar di seluruh wilayah kepulauan Nusantara sekaligus juga memberi tanggapan terhadap setiap perubahan yang datang. Sebaliknya, perubahan itu sendiri dan konteks sosial yang terbentuk dari tanggapan masyarakat terhadap alam dan kehidupannya mempengaruhi pembentukan kebudayaan Indonesia. Menjadi Indonesia bukan sekedar menautkan puncak-puncak kebudayaan daerah, tetapi juga berinteraksi dengan kebudayaan dunia (“cultural heritage is not belongs to one country but it belongs to civilization / whole world”).

    Dalam konteks mikro, sejauh mana peluang keragaman budaya yang dimiliki Indonesia seperti yang telah disebutkan di atas dijadikan aset yang berharga (dan bukan sebagai ancaman) bagi daerah dan tentunya bagi Indonesia. Beberapa pengamatan akhir-akhir ini termasuk yang dilakukan Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) memperlihatkan hancurnya keadaban di Indonesia. Kecenderungan ke sektarianisme menjadi semakin nyata dan kemajemukan diabaikan. Prinsip-prinsip solidaritas dan keadilan cenderung tidak dijadikan dasar berpijak untuk membangun tata kehidupan yang damai dan sejahtera.

    Keragaman budaya rupanya belum sepenuhnya disadari sebagai kekayaan khasanah nasional yang dapat memberi nilai tambah, melainkan lebih sering dianggap sebagai rongrongan yang mengancam otoritas / keutuhan negara atau hegemoni tertentu. Seharusnya manusia Indonesia tidak gentar dengan keanekaragaman, karena jati diri Indonesia adalah kebinekaan yang meliputi bahasa, sastra, adat-istiadat, dan segala sesuatu yang hidup di dalam alam Indonesia, hewani atau nabati.

    Kenyataan tersebut seakan-akan manjadi kontradiktif dengan kenyataan lain yang menyangkut Otonomi Daerah (OTDA). Pluralisme yang dipahami sebatas wacana tersebut di atas dijadikan alasan utama untuk menerapkan OTDA yang menyangkut berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara di satu wilayah tertentu. Pengukuhan OTDA dipahami sebatas permintaan hak ekonomi dan kekuasaan dari “pusat” tanpa dilandasi pemahaman yang benar dan lengkap mengenai identitas budaya yang bersangkutan. Dalam situasi semacam ini muncul pula dalam skala daerah, marginalisasi budaya yang didukung kelompok kecil yang seringkali juga memiliki posisi yang lemah. Beberapa contoh dapat disebutkan di sini, misalnya Gayo di Aceh, Nias di Sumatera Utara, Mentawai di Sumatera Barat, Using di Jawa Timur, Bima di Nusa Tenggara Barat, dan Melayu di Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan Barat. Kasus semacam ini tidak saja terjadi pada marginalisasi etinis tertentu, tetapi juga pada kesenian tertentu di suatu wilayah, misalnya di daerah Ponorogo (Jawa Timur) kesenian yang bukan termasuk reog tidak mendapat perhatian utama dan di Flores, kesenian yang tidak menyertakan nyanyi-nyanyian / musik kurang diminati.

    Salah satu khasanah budaya yang signifikan untuk diketengahkan dalam contoh kasus kali ini adalah tradisi lisan. Dalam Seminar “Tradisi Lisan dalam Konteks Sosial Budaya Masa Kini” yang diselenggarakan ATL pada tanggal 2—5 Oktober 2003 yang lalu di Jakarta disimpulkan bahwa tradisi lisan merupakan khasanah budaya Nusantara yang intangiable yang hingga kini masih memiliki kekuatan dan peran besar di dalam membangun peradaban Indonesia. Tradisi lisan terbukti dapat dijadikan pintu masuk untuk melihat berbagai peristiwa budaya penting yang terjadi dalam sebuah komunitas masyarakat: peristiwa sosial budaya, perekonomian rakyat, strata sosial, sistem religi dan kepercayaan, sistem kognisi masyarakat, intrik-intrik perebutan kekuasaan atau pengukuhan kekuasaan, sistem ekologi, sistem pertahanan kekuasaan / negara, pewarisan tradisi / adat-istiadat, dan sebagainya.

    Di tengah-tengah arus globalisasi dan keramaian teknologi, tradisi lisan meskipun penting memang sering tidak terdengar. Seperti nyanyian burung pagi hari di batang-batang pohon di halaman rumah kita : terdengar tetapi tidak didengarkan, ada tetapi tidak ada karena tertutup oleh suara-suara mobil dan keriuhan teknologi industri.

    Apakah yang dapat dilakukan untuk mengelola warisan budaya tradisi lisan yang memang sangat khas, khususnya di Flores ini dengan memperhatikan potensi pengembangan di 4 wilayah penting: Flores Timur, Sikka, Ende, dan Nga’da ? Mengingat salah satu keutamaan aset budaya Flores adalah tradisi lisan, berdasarkan analisis atas potensi dan hal-hal positif yang dimiliki Flores dan dengan mempertimbangkan segala aspek kekurangan Flores, kita dapat membangun Pusat Interaksi Komunikasi Sosial Kemasyarakatan yang memungkinkan budaya Flores dengan segala aspek dan lapis budayanya memunculkan dirinya. Kegiatan yang dapat dilakukan terdiri atas 3 bagian besar, yaitu

    Kegiatan Pendukung Infrastruktur: legal apparatus, legal institutions, political will, paradigma berpikir / bersikap tentang pendekatan budaya, penyiapan lahan, gedung, fasilitas terkait, dan komunitas pelaku / pendukung.
    Kegiatan Pendampingan yang terdiri atas a). Preservasi, yaitu perlindungan warisan budaya tertentu tanpa mengganggu keadaan aslinya seperti apa adanya, Kegiatan ini biasanya dilakukan untuk cadangan warisan yang bersangkutan. Contoh kegiatan semacam ini adalah pemetaan atau survei atas tradisi budaya yang dimaksudkan. b). Konservasi (pemeliharaan) dilakukan untuk mencegah kepunahan. Contoh kegiatan semacam ini adalah melakukan berbagai penelitian, seminar /diskusi, dokumentasi, penulisan buku / tulisan, penerbitan rekaman-rekaman, dan publikasi tradisi tertentu dalam arti luas. c). Revitalisasi merupakan kegiatan pemulihan, pengungatan, dan pemberdayaan tradisi terutama di komunitasnya sendiri dan kemudian di luar komunitasnya. Contoh kegiatan yang dapat dilakukan adalah rekonstruksi, regenerasi pemain / pendukung tradisi, pembentukan komunitas pendukung, sosialisasi tradisi melalui jalur pendidikan (misal muatan lokal dan penyempurnaan kurikulum), dan pementasan / festival.
    Kegiatan Lintasbidang terkait dengan tradisi lisan, seperti kehumasan, film, media massa, permuseuman, penyelamatan dan penggalian arkeologi, pengembangan wisata budaya untuk kepentingan pariwisata, dan program belajar mengajar di sekolah yang dapat dilakukan bersama oleh berbagai lembaga, baik pemerintah maupun bukan pemerintah dari dalam maupun luar negeri dengan koordinasi yang baik, jelas, dan terarah dalam satu visi dan misi yang sama mengenai pusat kegiatan.
    Untuk menjalankan ketiga kelompok kegiatan besar tersebut di atas diperlukan sebuah sekretariat bersama yang diselenggarakan oleh pihak / tim kuat yang mampu mengkoordinasi tidak saja kegiatan-kegiatan yang akan berjalan tetapi juga manusia-manusia yang menjalankannya. Sekretariat bersama ini, selain harus memenuhi standar pelayanan juga harus terbuka dan mudah diakses oleh pihak mana pun yang berkepentingan. Sekretariat ini akan memudahkan pihak-pihak yang berkenaan melaksanakan programnya dan mencapai tujuannya. Ada paling tidak dua tujuan utama yang dapat dikemukakan di sini, yaitu pertama, menumbuhkan dan menguatkan identitas (budaya) nasional dan kedua, menumbuhkan potensi sosial ekonomi yang umumnya berkaitan dengan dunia bisnis dan pariwisata.
    .
    Kendala yang akan dihadapi Pusat budaya ini bukanlah mudah diatasi. Dalam contoh yang sederhana, misalnya menyiapkan sebuah pementasan / festival, perlu upaya pemahaman memperluas jangkauan resepsi penonton / khalayak luas di luar komunitas tradisi yang bersangkutan. Penting untuk menjembatani komunitas-komunitas yang berbeda-beda kepentingan dan latar belakang pengetahuannya untuk bersama “menikmati” sebuah pementasan yang sedang berlangsung .

    Dalam skala yang lebih luas, tidaklah cukup bila suatu lembaga (pihak pemerintah sekalipun) mencanangkan program preservasi cagar budaya Benteng Solor, misalnya, program tersebut secara serta merta terwujud dan diterima baik oleh masyarakatnya. Lembaga yang bersangkutan perlu memahami permasalahan-permasalahan internal agar tidak justru menciptakan potensi konflik karena penanganan yang kurang tepat. Kesadaran masyarakat untuk menghargai warisan budaya belum muncul, sehingga alih-alih mendukung program, masyarakat justru berpraduga negatif. Dalam hal lain, peran keluarga sebagai penerus tradisi, lembaga kemasyarakatan dan lembaga adat sebagai lembaga formal penjaga tradisi pun belum secara maksimal diberdayakan atau memberdayakan dirinya. Hal demikian ini dapat saja terjadi karena sistem dan model pengelolaan budaya belum ada dan belum ditangani secara berkesinambungan dan dilakukan oleh tenaga-tenaga profesional. Hal terakhir yang selalu secara klise dikemukakan tetapi benar adanya adalah terbatasnya dukungan dana melaksanakan program semacam ini.

    Mengingat kedua tujuan di atas, kendala macam apa pun sepantasnya dapat dihadapi bersama oleh pihak-pihak yang berkenaan. Dalam masa seperti sekarang, kedua tujuan dalam membangun masyarakat melalui program budaya tidak dapat dibebankan terutama kepada pihak pemerintah saja, tetapi juga pada sektor lembaga non-pemerintah dan lembaga di luar Indonesia. Dengan demikian pula, wawasan kebangsaan yang memandang permasalahan melampaui batas-batas negara, etnisitas, agama, dan sebagainya diperlukan untuk mencapai kedua tujuan tersebut. Dalam menyusun kebijakan, strategi, dan kegiatan, para lembaga terkait yang memiliki perhatian pada pengembangan dan pengelolaan warisan budaya Flores dapat mempertimbangkan berbagai aspek yang telah dikemukakan di atas.

    ——————
    *Makalah ini disajikan pada “Seminar Internasional Flores-Portugal”, Maumere, 31 Mei — 2 Juni 2005.
    ** Penulis adalah dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia dan Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL)

  51. Syalom pak Gambabio dan abang Pressmuadi, sebagai kuli tinta saya bukan membela abang Ranto. Tulisan itu tidak ada merugikan orang nias sama sekali, bahkan kita terima kasih telah merumuskan apa yang menjadi kelemahan kita dal kultur Nias yang sesungguhnya. Orangyang menyadarinya pasti bertobat dan sukses di Jakarta dan kota lainnya, tetapi kalau masih berpikir primitif yah, jangan salahkan panulis ini donk.

    Mustika ranto Gulo, saya kenal baik dan tidak akan terpengaruh dengan tanggapan seperti ini, sebab dia memiliki cita-cita luhur. Tidak mudah untuk merasa bangga dengan puji-pujian ini. Saya juga mengoreksi beliau, tidak masalah baginya.

    Selamat melayani bang ranto!

  52. yahowu fefu, …saya lihat tanggapan pak pressmuadi berlebihan, tidak yg istimewa dgn artikel ranto itu, biasa saja.

    Jadi tak usah ditanggapi berlebihan, malah ranto bisa menganggap dirinya sudah menyentuh esensi seorang Budayawan Nias… hehehe!… terlalu dini bung!

    sudahlah mari bersatu dalam doa… doa selesai…amin!

  53. Yaahowu Pak Ranto, maaf sekali ini saya harus menyatakan tidak seuju atas tulisan anda ini, saya pasti beralasan. Sebelumnya saya bangga dgn tulisan lainnya di https://niasbarat.wordpress.com anda. Tetapi izinkan saya koreksi anda secara terbuka dan secara metologis:

    Budaya Nias sama dgn budaya suku lainnya, mungkin saja sudah ada sejak ribuan tahun yg lalu. Secara turun temurun Nenek moyang kita menurunkan tradisi itu, sampai ke kita hari ini. Bisa saja terjadi transformasi secara alami dan itu wajar. Nah, yang saya tidak setuju adalah, anda tidak konsisten untuk mengatakan mari kita lestarikan budaya Nias, malah sebaliknya berusaha untuk meninggalkan tradisi contoh Pesta Owasa yg anda maksud.

    Maaf sekali lagi, ini hanya masukan saja agar pembaca jangan menganggap bahwa Pesta Owasa itu tidak baik, dan membawa sengsara bagi orang Nias. belum ada suatu research tentang hal itu. Secara logika scientic, saya bisa menerima tulisan anda, namun dalam koridor opinion saja.

    Pesta Owasa dan beberapa tradisi yang ditinggalkan dan sdh tidak dilakukan lagi di nias (Jarang) karena faktor lain juga tidak mesti karena kebodohan atau karena pendidikan. tetapi faktor dari pengaruh budaya luar ternyata lebioh dominan.

    Mohon kalau bisa, masukan saya dapat diterima dan diluruskan, bahwa bukan dilupakan tetapi dilestarikan sekalipun itu tidak dilakukan lagi seperti ESENSI PESTA OWASA SESUNGGUHNYA.

    Salam Kompak
    Pressmuadi

  54. Maaf, tulisan ini sangat tidak etis dibahas dipublik, karena menyangkut harkat martbat suku bangsa Nias. Anda hanya memberi koreksikepada nenek moyang kita yg sudah tiada. Kalau tradisi itu masih ada, itu artinya berguna bagi kemanusiaan. Mungkin bagi anda tidak ada artinya.

    Jadi, jika masih berkenan, mhn di edit atau ditunda dulu tulisan itu sebelum menjadi bahan bacaan yang tidakl layak dan tidak mendidik. Koreksi dari tulisan itu bersifat metode penulisan dan juga latar belakang penulisan.

    selamat pagi 5.30.WIB (Jam situs ini salah)
    Press

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s