Budaya Nias Dan Transformasinya Akibat Faktor Kemajuan Pendidikan Masyarakat

Oleh Mustika Ranto Gulo (Januari, 19, 2008)

Perubahan di Nias sangat drastis, sejak terjadinya bencana gempa di sana, orang luar memasuki pulau Nias dan berinteraksi dengan orang Nias. Buah apakah yang bisa kita petik dari peristiwa itu sehingga pada akhirnya masyarakat dapat semangat kembali untuk berjuang untuk menyekolahkan anak-anak mereka kembali?

 

HANYA PENDIDIKAN YANG MAMPU MERUBAH KETERTINGGALAN NIAS BAIK DALAM SOSIAL BUDAYA MAUPUN DUNIA BISNIS”

Dulu, semasih saya kecil sekitar 1970-an, di sepanjang jalan yang saya lalui untuk pergi sekolah yaitu di Desa Siana’a, Hiliwalo’o Bogarawi dan Hiliwa’ele (dulu masuk Kecamatan Mandrehe Nias), setiap hari bertemu orang tua yang  masih memakai cawat (Nias=Saombõ). Cawat yaitu sejenis kain penutup kemaluan bagi pria dewasa yang terbuat dari sejenis kulit kayu yang ditenun secara tradisional dan dipakai sebagai ganti celana (cawat) yang hanya dililitkan melingkari pangkal paha dan pantat yang menutup aura sekitar kemaluan saja.

Itulah kenyataan kondisi Nias bagian dari bangsa Indonesia yang merdeka pada tahun 1945. Bayangkan saja, saya masih usia SD (Sekolah Dasar) pada waktu itu sudah mengerti bahwa pakaian cawat itu sepertinya tidak wajar dari sisi kesopanan dan kesehatan. Tetapi itu adalah tradisi dan budaya yang bisa saja dieksploitasi untuk di jual kepada bangsa-bangsa di dunia dengan mengatakan bahwa ada budaya primitif di Nias. Dengan demikian daerah itu menjadi bahan perhatian untuk tujuan mendapatkan kucuran dana bantuan untuk alasan sosial dan pendidikan misalnya. 

Anehnya (sekarang tahun 2008), ketika saya pulang dan melewati kampung-kampung kecil ke arah Soliga, dulu masuk Kecamatan Lolowa’u Nias Selatan. Ternyata masih ditemukan juga beberapa desa kecil, orang tua disana masih memakai cawat atau SAOMBÔ. Saya menjadi sedih dan heran mengapa masih ada “Tradisi yang primitive seperti itu”? Mungkin desa-desa itu sangat minim sekolah yang membuat mereka dapat menikmati informasi tentang dunia luar. Ribuan pertanyaan dalam hati saya dan masih belum terjawab. Mari kita diskusi tentang tradisi lainnya dan apa efeknya bagi masyarakat Nias.

Sekarang, pertanyaannya, apa korelasi kemajuan pendidikan dengan budaya Nias ? Jelas, ada yaitu dengan terbukanya mata generasi ke generasi, maka budaya tradisi di Nias yang dianggap menimbulkan multi effect yang negatif, tentu pasti ditinggalkan. Contohnya.  tradisi dalam proses pernikahan, yang menganggap bahwa anak perempuan akan menikah dengan seseorang yang sanggup membayar harga jujuran yang tinggi, ini sama dengan transaski jual beli. Dari transaksi itu keluarga perempuan baik keluarga inti maupun keluarga sekampung pasti mendapat bagian jujuran (commision Fee) yang harus dibayar oleh si pihak laki-laki. Biaya pesta perkawinan sangat mahal bahkan bisa membayarnya secara cicilan dengan bunga atau rente (molu’i So’ono). Sangat memprihatinkan, dan akibatnya adalah terjadinya transformasi budaya yang baru yaiotu “Pernikahan dengan suku lain” yang dianggap lebih efektif dan manusiawi. 

Inilah pemikiran saya tentang budaya dan antropologi Nias.
Tahun 1973, saya sudah masuk sekolah dasar (SD) di Lawelu sekarang Kecamatan Ulu Moro’õ. Sangat sulit dipercaya setelah sekian tahun Indonesia merdeka, percaya atau tidak dalam kelas (kelas satu) waktu itu, masih ditemukan murid yang tidak pakai alas kaki. Celana hanya seadanya saja, tidak ada baju seragam, celana tersebut terbuat dari bahan kain yang elastis dari bahan karet.  Tetapi efek dari sekolah itu sangat luar biasa, bahkan saya sangat buru-buru menyimpulkan bahwa jika tidak ada sekolah waktu itu (1970an) di Nias maka daerah itu menjadi daerah paling primitif di dunia.

Transformasi pendidikan di desa kami waktu itu sangat nyata, yang dipicu oleh semangat dan gengsi orang tua, ditambah oleh dorongan dari Pimpinan Gereja masa itu. Bahwa jika anak tidak disekolahkan maka orang tua dianggap berdosa.  Tradisi bertani, budaya dan seni serta kehidupan social pun menjadi berubah drastis, karena semua masyarakat sedang konsentrasi menyekolahkan anaknya. Berlomba-lomba menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi. Demikian kuatnya perubahan tatanan social budaya di daerah saya yang lebih dikenal dengan LAWELU. Kesimpulan saya bahwa transformasi budaya Nias pada umunya telah diobrak-abrik oleh semangat menyekolahkan anak untuk menuju manusia yang memiliki ilmu pengetahuan.

Sekitar tahun 1977 sampai puncaknya 1983 an para senior kami yang sudah menamatkan SPG (Sekolah Pendidikan Guru) dan ada juga yang tamat D3 (Dulu Gelarnya BA) menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) tanpa testing, karena pemerintah sedang menggalang rencana Pembangunan (REPELITA) sesuai dengan instruksi presiden dimasa itu.  Dari kehidupan Nias yang primitif menjadi maju selangkah, dimana-mana semua anak-anak wajib sekolah. Orang tua berlomba-lomba untuk menyekolahkan anaknya sekalipun dengan fasilitas yang sederhana. Namun semangat orang tua pun tetap tinggi, hampir tidak ditemukan lagi anak diusia sekolah yang tinggal di kampung (dusun-desa) yang tidak sekolah.  

“Multi Effect PENDIDIKAN DI NIAS”  adalah efek ganda yang dirasakan oleh masyarakat baik terhadap kehidupan social budaya, maupun kehidupan poltik di Nias yang disebabkan oleh factor pendidikan terhadap masyarakat. Misalnya di Nias telah membuat daerah ini meninggalkan tradisi dan budaya-budaya yang dianggap sangat merugikan kehidupan sosial. Masyarakat sangat dibebani oleh budaya dan adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang.

MULTI EFFECT YANG PERTAMA ADALAH PESTA OWASA SUDAH TIDAK POPULER LAGI DITENGAH-TENGAH MASYARAKAT.

 Budaya Pesta Owasa di Nias adalah pesta yang sangat bergengsi dan menentukan posisi dalam hitungan posisi pimpinan dan status gengsi dalam adat-istiadat. Pesta Owasa dan motivasinya dianggap sangat tidak popular karena factor biaya yang tidak ekonomis dan merugikan masyarakat.  Apa itu Pesta Owasa? Owasa artinya pesta “PAMER KEKAYAAN” dengan cara MENJAMU seluruh penduduk dari berbagai lapisan masyarakat, tokoh-tokoh dari Negeri yang lain, para pimpinan-pimpinan suku, pimpinan sekuler baik agama maupun pemerintahan yang ada.  

Tujuannya adalah “MENGANGKAT DIRINYA MENJADI RAJA” dengan sebutan “TUHE NÔRI” artinya “Kepala Negeri”, atau minimal Gelar  “BALUGU” artinya “Yang Diagungkan”. Biaya pesta ini bias mencapai ratusan juta rupiah, dimana waktu itu sekitar tahun 1970-an sudah dianggap tidak efektif dan bahkan dianggap sebagai dosa. Lebih baik menyekolahkan anaknya sampai kepada perguruan tinggi di kota besar dan kelak menjadi penguasa, pengusaha dan orang yang berguna. Pesta Owasa, sudah tidak popiler ditengah masyarakat Nias lagi, karena gelar-gelar itupun sudah tidak dihormati karena pengetahuan tentang dunia luar bagi generasi muda sudah sangat terbuka. Pemerintah tidak mengakomodir budaya ini karena mungkin dinilai masuk dalam kategori budaya primitif. Makanya saya sangat heran ketika saya pulang ke Nias dan masih ada yang mau melakukan Pesta Owasa dengan motivasi yang sama.

 

MULTI EFFECT YANG KEDUA DAN KETIGA ADALAH TUGAS SAUDARA UNTUK MENULISNYA BAGI KITA DI FORUM INI. SAYA MENGUNDANG PEMIKIR DAN “AHLI WARIS” BUDAYA NIAS UNTUK MENULIS DI BAGIAN INI.

 

Selamat menulis pikiran anda dan kirim ke mgulo@yahoo.com

 

Mustika Ranto Gulo

 

 

 

 

About these ads

6 pemikiran pada “Budaya Nias Dan Transformasinya Akibat Faktor Kemajuan Pendidikan Masyarakat

  1. Pendidikan itu memang membuka cakrawala kita ke dunia luar, namun semuanya itu bisa difilter oleh iman kita. Sepanjang tradisi tidak bertentangan dengan iman kita saya rasa tidak ada masalah

  2. Yth Bapak Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru, Kalsel, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).

    Sangat setuju tulisan bapak yang telah membuat saya menerawang sejenak. memang betul, kita butuhkan banyak penelitian-penelitian tentang budaya dan sumber daya alam juga.

    sangat bangga dengan tulisan yang mampu membuat saya termotivasi kembali menulis tentang ‘True story’ di Nias. bagaimana Semangat Orang Tua dulu mau menyekolahkan anaknya sampai harta habis tak masalah.

    namun, sekarang sepintas semangat itu mundur atau stacknant, saya heran mengapa mereka lelah. Saya tidak tahu apakah dugaan saya benar, bahwa penyebab Orang Tua tidak semangat menyekolahkan anaknya karena :

    1. Life Style komsumtif, suka beli sesuatu untuk menyenangkan hati, mengejar gaya hidup, sehingga anak tdk mampu sekolah lagi

    2. Sarjana banyak yang menganggur, mereka putus asa untuk apa sekolah tinggi-tinggi tapi mereka toh akhirnya menggur.

    3. Motivator sudah berkurang, yang seharusnya secara terus menerus disuarakan agar anak harus sekolah minimal sarjana. Motivator ini bisa secara personal, organisasi misalnya Gereja, atau juga Pemerintah daerah setempat.

    4. Faktor masih ingin senang dengan apa adanya saja di desa, hidup ini memang sedemikian susahnya, tidak ada semangat hidup lagi.

    salam dari saya.

    Mustika Ranto Gulo

  3. saya mohon pada bapak2 ketua adat/para pemimpin nias suaya adat tersebut memang bukan tuk di rubah tetapi kalau bisa harus di stadartkan atas dasar Alkiab. permintaan saya mohon di paparkan gimana pandangan Alkitab tentang budaya kita itu di Nias? saya tunggu balasan, gimana caranya tuk dipaparkan mohon ditanya kepada para prof Teologi (Alkitan)/ para Pdt orang Nias mungkin mereka tau karena itu semua adalah tugas mereka. ini saya minta di gunakan untuk bahan refernsi bagi teman2/anak2 yang masih duduk di bangku perkuliahan theologi, atau yang berada di ladang missi/penginjilan. Trimakasih! Tuhan Yesus memberkati. Amin

  4. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at 2 Mei 2008)

    Strategi Pendidikan Milenium III
    (Tengkulak Ilmu: Rabunnya Intelektual Ilmiah)
    Oleh: Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. MANUSIA adalah binatang yang menggunakan peralatan. Tanpa peralatan, ia bukan apa-apa. Dengan peralatan, ia adalah segala-galanya (Thomas Carlyle).

    DALAM momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008, sangat tepat berbenah diri. Banyak kalangan menilai betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia dibanding bangsa lain. Ini ditandai dengan produktivitas kerja rendah sehingga ekonomi lemah, karena tidak efesien, efektif dan produktif dalam mengelola sumber daya alam yang meski begitu melimpah.

    Lalu, mengapa kualitas sumber daya manusia Indonesia rendah?

    KAPITAL manusia adalah kekayaan sebuah bangsa dan negara, sama halnya seperti pabrik, perumahan, mesin-mesin, dan modal fisik lainnya. Diakui dimensi teknologi, strategi, aliansi global dan inovasi merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi keuggulan kompetitif pada masa depan. Namun demikian, komponen itu masih bergantung pada kembampuan manusia (Gary S. Becker).

    Dalam ilmu matematika ada acuan dasar sederhana penilaian apa pun, yaitu posisi dan perubahan. Jadi, jika bicara kemajuan pendidikan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah berkaitan di mana posisinya dan seberapa besar perubahannya dibanding bangsa lain di bidangnya.

    Berkaitan dengan perubahan, ada dua cara posisi untuk unggul yaitu bertahan dengan keunggulan lokal dengan fungsi terbatas atau menyerang dengan keunggulan global dengan fungsi luas. Misal, menjadi ahli orang hutan Kalimantan yang endemik, atau menjadi ahli kera seluruh dunia. Jelas, sangat sulit menjadi unggul satu keahlian untuk global diakui secara global, sedang unggul keahlian untuk lokal diakui secara global pun – seperti tentang orang hutan Kalimantan (apalagi tentang gorila), didahului orang (bangsa) lain. Ini terjadi disemua bidang ilmu. Mengapa?

    Indonesia (juga negara terkebelakang lain) memang negara yang lebih kemudian merdeka dan berkembang, sehingga kemajuan pendidikan pun belakangan. Umumnya, keunggulan (sekolah) pendidikan di Indonesia hanya mengandalkan keunggulan lisensi, bukan produk inovasi sendiri. Contoh, sekolah (dan universitas) yang dianggap unggul di Kalimantan bila pengajarnya berasal menimba ilmu di sekolah (dan universitas) unggul di pulau Jawa (atau luar negeri). Sedang di Jawa, pengajarnya berasal menimba ilmu di luar negeri. Jika demikian, pendidikan (ilmu pengetahuan dan teknologi) Indonesia atau di daerah tidak akan pernah lebih unggul di banding pusat atau luar negeri. (Ada beberapa sekolah atau universitas yang membanggakan pengajarnya lulusan universitas bergengsi atau menonjolkan studi pustaka di Jawa dan luar negeri. Artinya, ini sekadar tengkulak atau makelar (broker) ilmu dan teknologi). Dan memang, selalu, beban lebih berat bagi apa dan siapa pun yang terkebelakang karena harus melebihi kecepatan lepas (velocity of escape), kemampuan kemajuan yang unggul di depan untuk menang. Perlu kemauan keras, kerja keras dan strategi tepat mengingat banyak hal terbatas.

    WALAUPUN Anda berada pada jalan yang benar, maka akan tergilas jika Anda cuma duduk di sana (Will Roger).

    Lalu, mengapa otak orang lain unggul? Ada contoh menarik, Sabtu 30 Juli 2005 lalu, Michael Brown dari California Institute of Technology mengumumkan “Keluarkan pena. Bersiaplah menulis ulang buku teks!”. Astronom Amerika Serikat ini, mengklaim menemukan planet ke-10 dalam sistem tata surya yang diberi nama 2003-UB313, planet terjauh dari matahari, berdiameter 3.000 kilometer atau satu setengah kali dari Pluto. Planet ini pertama kali terlihat lewat teleskop Samuel Oschin di Observatorium Polmar dan teleskop 8m Gemini di Mauna Kea pada 21 Oktober 2003, kemudian tak nampak hingga 8 Januari 2005, 15 bulan kemudian.

    Sebuah penemuan kemajuan ilmu pengetahuan luar biasa, yang sebenarnya biasa saja dan mungkin terjadi di Indonesia andai ilmuwannya memiliki alat teleskop serupa. Tanpa teleskop itu, ketika memandang langit mata kita rabun, sehingga yang terlihat hanya langit malam dengan kerlip bintang semata. Sejarah mencatat, ilmuwan penemu besar sering ada hubungan dengan kemampuannya merancang atau mencipta alat penelitian sendiri. Tycho Brahe membuat sekstan (busur derajat) pengamatan benda langit, Johannes Kepler dengan bola langit sebagai peta astronomi, Isaac Newton membuat teleskop refleksi pertama yang menjadi acuan teleskop sekarang, atau Robert Hooke merancang mikroskop sendiri. Dan, alat teknologi (hardware) pengamatan berjasa mendapatkan ilmu pengetahuan ini disebut radas, pasangan alat penelitian (software) pengetahuan sistematis disebut teori.

    ILMUWAN kuno kadang menekankan pentingnya seorang ilmuwan membuat alat penelitian sendiri. Merancang dan membuat sesuatu alat adalah sebuah cabang keahlian ilmiah (Peter B. Medawar).

    Lalu, sampai di manakah perkembangan ilmu pengetahuan (dan teknologi) di negara lain? Untuk (ilmu) pengetahuan sosial, di milenium ketiga kesejajaran dan keterpaduannya dengan ilmu pengetahuan alam, hangat di berbagai belahan dunia. Di ujung tahun 2007 lalu, Gerhard Ertl, pemenang Nobel Kimia tahun itu, kembali mengemukakan bahwa ilmuwan harus menerobos batasan disiplin ilmu untuk menemukan pemecahan beberapa pertanyaan tantangan besar belum terjawab bagi ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan menyatu seiring waktu. Banyak ilmuwan peserta forum bergengsi itu menjelaskan tugas penting ke depan yang harus diselesaikan berkenaan masalah batas, batasan atau titik temu pada dua atau lebih disiplin ilmu. Kemudian sejalan itu, tanggal 28 – 30 Maret 2008 lalu, di Universitas Warwick, Warwick, Inggris, berlangsung British Sociological Association (BSA) Annual Conference 2008, dengan tema Social Worlds, Natural Worlds, mengangkat pula debat perseteruan terkini yaitu batas, hubungan dan paduan (ilmu) pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam dalam pengembangan teori (ilmu) sosial dan penelitian empiris, mencoba menjawab pertanyaan kompleks yang selalu mengemuka di abad ke 21 dalam memahami umat manusia. Berikutnya, tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008, di Universitas Melbourne dengan tema Re-imagining Sociology.

    Ini peluang momentum besar (yang hanya satu kali seumur dunia) bagi siapa pun, baik universitas atau bangsa Indonesia untuk berlomba memecahkan masalah membuktikan kemajuan, keunggulan dan kehormatan sumber daya manusianya di milenium ketiga ini. (Dari pengalaman, pandangan rendah bangsa lain terhadap Indonesia (dan pribadi), tergantung kualitas kita. Kenyataannya, ilmuwan besar di universitas besar di benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia pun, dengan rendah hati mau belajar (paradigma Total Qinimain Zain: The (R)Evolution of Social Science: The New Paradigm Scientific System of Science dengan saya) selama apa yang kita miliki lebih unggul dari mereka.

    SUMBER daya manusia harus didefinisikan bukan dengan apa yang sumber daya manusia lakukan, tetapi dengan apa yang sumber daya manusia hasilkan (David Ulrich).

    Akhirnya, di manakah tempat pendidikan terbaik belajar untuk unggul secara lokal dan global di banding bangsa lain? Di University of Reality di kehidupan sekitar! Dengan syarat (mencipta dan) memiliki alat teknologi (hardware) atau alat teori (software) hebat sendiri. Jika tidak, semua mata intelektual ilmiah rabun, karena belajar dan memahami kehidupan semesta dengan otak telanjang adalah sulit bahkan mustahil, sama halnya mencoba mengamati bintang di langit dan bakteri di tanah dengan mata telanjang tanpa teleskop dan mikroskop. Sekarang rebut peluang (terutama untuk akademisi), bangsa Indonesia dan dunia krisis kini membutuhkan Galileo Galilei, Francis Bacon, dan Rene Descartes muda. Jika tidak, akan hanya menjadi tengkulak ilmu, dan harapan memiliki (serta menjadi) sumberdaya manusia berkualitas lebih unggul daripada bangsa lain hanyalah mimpi. Selamanya.

    BODOH betapa pun seseorang akan mampu memandang kritis terhadap apa saja, asal memiliki peralatan sesuai tahapan pemahaman itu (Paulo Freire)

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru, Kalsel, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).

  5. Bukan hanya di daerah anda saja terjadi transformasi budaya karena faktor pendidikan pak moderator. Tetapi rumusan anda boleh juga sebagai pedoman seperti di Irian Jaya misalnya. Pertumbuhan pendidikan disana, telah merubah mereka dari pakai koteka menjadi pakai baju selayaknya kita di kota. Good luck!

    J1ll

  6. Salam kembali, sdh lama tak basuo.
    Benar, analisa Pak moderator, memang budaya Nias semakin terkikis karena faktor ilmu pengetahuan. generasi kita yang lahir tahun 1960an sudah tidak peduli lagi budaya yang menjadi beban berat bagi keluarga.

    saya setuju bahwa orang tua kita sudah sangat selektif untuk tidak membuang uang untuk pesta gensi tersebut.

    Salam Hormat
    Mesi
    Petulah Medan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s