Bagaikan Meniup Debu, Kena Mata Sendiri

Hulo niha sowuwusi aro Wulawa, ihawui horo nia bacha

Maksud Kiasan ini adalah “bagaikan meniup Terawang Asap, Kena Mata Sendiri” artinya seseorang yang mengoyakkan bajunya sendiri di depan umum, auranya sendiri terungkap. Kiasan atas perilaku seseorang yang mengungkap boroknya sendiri. Manusia seperti ini tidak memiliki rasa malu lagi, rela mempermalukan keluarga dan kelompoknya demi terwujudnya cita-citanya.

Teroris, memakai nama TUHAN sebagai alasan pembenaran dari perjuangannya, namun ketika diklarifikasi KETUHANAN yang maksud adalah ‘kepentingan dirinya sendiri’. Teriakan “bunuh!”, “hancurkan” dan “Bakar” atau “Ganjang” dan lain-lain sebagai tanda kemunafikan manusia. Seakan-akan kitalah yang membela TUHAN atau ALLAH, seakan-akan ALLAH sudah tidak mampu membela kebenaran dan nama baiknya. Manusia Tampil Bagaikan Tuhan (MATABATU), dan menyerukan kebenaran dari versinya sendiri.

Apa hubungannya Teroris dengan kiasan di atas? Bandingkan dengan pepatah Nias di atas dengan keadaan Ono Niha sebagai sebutan kepada SUKU NIAS yang memiliki kebiasaan meniup debu dipundaknya sendiri, akhirnya matanya jadi kabur dan tidak mampu melihat mana yang benar dan mana yang salah, pelitanya jadi rusak dan masa depannya jadi hampa. Karena tidak mengandung kesetia kawanan dalam berjuang. Masing-masing membuka borok – luka yang membusuk dalam tubuhnya sendiri, dan tercium bau bangkai.

Intinya adalah kebiasaan mempermalukan dirinya sendiri, karena tidak bisa menahan amarah, bahkan karena keinginan hatinya tidak tercapai, akhirnya memakai cara-cara teroris untuk mengancam lawannya. Bahasa Nias “HULO MUKAU NASU LONDRA, EBUA LI BALO MONDRA’U SA”. Artinya seperti anjing yang menggonggong sekalipun suaranya menggelegar, tapi tak punya nyali untuk menggigit – menangkap buruannya. Siapa manusia seperti ini, adalah mereka yang sudah putus asa dalam hidupnya, sudah tidak mendapat solusi apapun dalam hidupnya. Akhirnya dia menggonggong atau meneror lawannya dengan ancaman yang tak berbisa. Akhirnya hanya sebuah tertawaan yang menjadi imbalan bagi manusia seperti ini.

Kita dari SUKU NIAS, jangan suka membuka borok kita yang sangat “bau” di depan orang, bayangkan kita baru memiliki populasi 750.000 orang. Budaya kita masih jauh dibawah peradaban suku lainnya, yang sudah berabad-abad memiliki organisasi kemasyaraktan dan sosial yang hebat.

Pemikir dari Nias seharusnya seorang panutan dan mampu memberika arahan kepada perubahan sosial yang nyata, tidak berkedok pejuang tetapi tertangkap basah karena urusan perut yang sejengkal itu. Radius kepercayaan dirinya menjadi rendah dan tidak memiliki harga diri lagi.

Bila saudara dan saya sukses mengelola perkara kecil, niscaya anda akan sukses mengelola perkara besar, kalau kita baru layak mengelola 1 juta rupiah perbulan namun separuh dari itu menjadi asap karena dibakar oleh api rokok, yang bagaimana saudara mendapatklan kepercayaan lebih besar.

Unek-unek saya malam ini, sebagai tetesan tintan tengah malam, agar menjadi kenangan anak cucu kita ke depan.

Selamat berjuang bagi Anak-Anak Bangsa dari Nias Barat, Kapan Nias Barat terwujud?

Ir. Mustika Ranto Gulo

 

Iklan

2 pemikiran pada “Bagaikan Meniup Debu, Kena Mata Sendiri

  1. arti bahasa2 nias itu susah dimengerti pak, apakah ada kamus bahasa Nias ?

    saya mau beli, pak …kata2 filsafat itu dari mana asal-uslnya.
    Belajar budaya daerah Nias sangat kurindukan.

    Yaahowu Fefu,
    Jena S

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s