FILSAFAT NIAS : “Ilalang Di Tengah Tanaman Padi”

Rumput Ilalang Ditengah Tanaman Padi

sebagai pesan khusus kepada Pilar Nias Barat

Rumput ilalang sangat dibenci oleh petani karena sangat membahayakan dan merusak tanaman padi. Menanam padi secara musiman di ladang (area tanah keras) bukan sawah (area tanah datar yang berair) memiliki banyak kelemahan yaitu selalu mudah ditumbuhi oleh ilalang dan jenis tanaman rumput lainnya. Rumput ilalang tumbuh diantara padi dan sulit sekali dideteksi karena jenis daunnya hampir sama. Lebih hebatnya lagi, ilalang bisa menyesuaikan diri dengan tingkat kehijauan daun padi. Rumput ilalang sangat kuat dalam memperebutkan makanan dari tanah, justru ilalang kelihatan lebih subur dan kadang daunnya menghalangi daun padi. Rumput ilalang merusak padi dan membuatnya menjadi tidak menghasilkan buah yang maksimal. Cerita di atas mengungkap Filsafat Nias dalam pepatah yang jarang diungkapkan sekarang ini, yaitu:

“Hulo Mbua Go’o, Bagotalua Mbua Wakhe, Oroma Zowua Faya i’ohe angi, ba oroma Zowua sindruhu tola mubasi” 

Artinya, “Seperti buah ilalang di tengah buah tanaman padi, kelihatan buah kebohongan di bawa angin dan kelihatan buah kebenaran dapat dinikmati / dipanen”

Sekalipun rumput ilalang berusaha menyembunyikan diri dari komunitas tanaman padi, namun pada akhirnya mereka pasti tertangkap dari hasil kerja yang mereka buahi. Akhir dari semuanya itu adalah “BUAH” yang langsung kelihatan mana yang benar dan mana yang penuh dengan kefasikan.

Sekalipun rumput ilalang mengubah wajahnya, berusaha seakan-akan seperti padi yang baik hati, namun suatu hari dia tertangkap dalam “hasil kerja yang dibuahkannya”.

Apa misinya rumput ilalang?

Menumpang hidup, artinya rumput ilalang dimana-mana akan berusaha menumpang hidup dilahan yang baru disiapkan untuk Tanaman Padi. Misi yang pertama ini sudah ketahuan bahwa pemikirannya hanya bersifat “Short Term”. Sangat bersifat pendek dan sesaat. Sifat inilah yang sangat membahayakan organisasi dimanapun, ada orang-orang yang berpikir pendek memakai kata “Mumpung Ada Kesempatan”.

Akibatnya “ABOTO MBANUA” karena ilalang kelihatannya persis tanaman padi, mukanya sangat polos seakan-akan buahnya kelak sama dengan buahnya padi, semua orang dilingkungannya menganggap dia saudara, sahabat dan mitra yang baik. Hati sebagian tanaman padi menjadi condong kepadanya, karena belas kasihan namun akan diuji oleh waktu bahwa ketika tiba saatnya akan kelihatan siapa yang akan memberi hasil yang baik dan siapa yang hanya memberi buah kosong, ada penyesalan namun sudah terlambat.

Akibat lainnya “Jika petani sang pengelola ladang terlambat mendeteksi rumput ilalang dalam ladang itu, maka rumput ilalang sangat cepat sekali menyebar keseluruh areal ladang. Padipun menjadi kurus kering dan mati, hidupnya terancam akhirnya jika bertahan hidup sekalipun tentu tidak menghasilkan buah yang maksimal,  pasti hasilnya tidak sesuai dengan harapan“.

Apa yang harus kita lakukan ? :

“Cabut rumput ilalang sampai keakar-akarnya dan buang ke bara api untuk dibakar sampai jadi debu, jangan ada belas kasihan padanya, karena dia dilahirkan sebagai perusak, tak akan mungkin dia menghasilkan buah padi sampai kapan pun,  Rumput ilalang tetap menghasilkan buah ilalang. Dimanapun ilalang tumbuh dia adalah trouble maker, samoto banua dan pembuat penderitaan bagi tanaman padi”.

Hal ini prinsip para petani yang baik dimanapun dimuka bumi ini, bahwa rumput ilalang tidak menguntungkan dan tidak diharapkan kelahiranya di dalam ladang yang telah disipkan untuk kehidupan dan peradaban manusia. Itulah arti dari apa yang saya sampaikan bahwa kita harus mengabdikan diri bagi kemanusiaan, mendatangkan kebaikan dan mampu mebedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Ketika kita memisahkan rumput ilalang dari tanaman padi harus benar-benar super hati-hati, supaya tanaman padi lainnya jangan ikut tercabut dan turut terbawa ke bara api yang mematikan itu. Namun segala sesuatu ada resikonya.

Saudara, kita membutuhkan profesionalisme yang tinggi meminimalis resiko apapun. Namun ada harga yang harus dibayar jika memang demikian keadaanya dilapangan, sekalipun beresiko besar bagi tanaman padi yang akan turut tercabut posisinya karena ketika Sang Ilalang dicabut dengan tangan yang kokoh, yang mengakibatkan tanaman padi dilingkungannya turut tercabut, “itu adalah resiko dan harga yang harus dibayar dalam menyelamatkan ladang padi yang lebih besar yang telah disiapkan untuk menghasilkan padi demi keluhuran manusia dan demi kebaikan kita bersama.

Saudara, saya tidak tahu siapa yang tersentuh dengan artikel ini, saya tidak bisa mengklaim bahwa sianu adalah ilalang dan yang lain adalah tanaman padi, itu adalah pilihan bagi kita semua. Pilihan ditangan saya dan saudara, yaitu memilih mulai hari ini kita akan menjadi apapun terserah saya dan saudara.

Mengabdilah bagi generasi kita ke depan, tidak usah terlalu muluk-muluk tetapi mulailah dari dalam keluarga yaitu dengan anak-anak kita, berikanlah yang terbaik demi masa depan mereka, berjuanglah mati-matian dan selamatkan masa depan mereka sehingga mereka tidak menjadi ilalang ditengah masyarakat kita dimasa yang akan datang. Amin

Penulis artikel : Ir. Mustika Ranto Gulo 

Ref. FT saya tidak berikan agar menjadi PR bagi kawan-kawan jika memakai artikel di atas sebagai bahan khotbah minggu depan.

Iklan

16 pemikiran pada “FILSAFAT NIAS : “Ilalang Di Tengah Tanaman Padi”

  1. Telad saya baca ini, dalam acara kemarin sebenarnya saya hanya pengamat saja. Tetapi terlihat kog, PNB dikelola profesional.

    Ilalang sudah dicabut dan dibuang ke dalam bara api, kini mereka menh\gjilang tanpa nama… hehehehe

    sukses pa Ketum… GBU

  2. Syalom Suadara,
    Hari ini saya update semua informasi dan baca komentar teman-teman. Ada beberapa hal yang unik dan patut kita syukuri adalah:
    1. Nias Barat akan menjadi kenyataan sekalipun waktunya tidak pasti.

    2. Blog niasbarat.wordpress.com ini selalu diganggu oleh seseorang dengan mengklaim sebagai miliknya dan merubah meminta principle untuk menghapusnya dari wordpress.com. Syukur namanya secara automatis terkirim ke email saya dan syukur pihak wordpress.com tidak meloloskan klaim orang tersebut.

    3. Para netters yang dikasihi oleh Tuhan, mari kita memberi manfaat kepada bangsa ini terutama untuk Nias Barat. Melalui informasi blog ini kita bisa menarik investor dan wisatawan asing ke Nias. Sehingga bisa menambah devisa pendapatan daerah.
    Mari kita pikirkan hal ini demi kemajuan Nias ke depan.

    Kiranya kasih Tuhan menyertai kita semua
    Amin

  3. Mibahe choda he, nasindruhu dania niawa’omi ba falucha ita ba luo safuria. Kita harus jadi saksi dalam keluarga kita masing2 baru bicara keluar. Kalau kita tidak bisa memberkati keluarga kita maka bagaimana kita bisa menjadi “PADI” di masyarakat. Keluarga kita saja mengendus kelaparan, dan sebagai suami malah nongkrong dan nagkring, kita ini masi belum menjadi “niha sipade”.

    Rendahkan lah dirimu, dan engkau akan dimuliakan. Itu hukum dalam kehidupan kristiani, bersosial dan berpolitik. Niha sipade, menganggap dirinya berada di atas langit, pada hal masih belum apa2.

    Semoga Tulisan ini (sedikit saya koreksi) bukan ilalang tetapi Lalang dan Gandum (bukan Padi) yah sama saja, karena di Nias memang nama terkenalnya demikian, gandum kan tidak ada.

    Semoga tetap tobali Niha Sipade ita.
    Yahowu he

  4. Syalom Adik Kami Ama Yosua,
    Terima kasih atas Kutipan Firman Tuhan di atas sangat membangun dan pada akhirnya saya simpulkan bahwa pada saatnya nanti akan terlihat lalang (ilalang) dan Gandum (padi).

    Firman Tuhan ini telah merasuk sampai kedalam kultur Nias sehingga sering dikutip menjadi AMAEDOLA dan ternyata nara sumbernya adlah Tuhan Yesus.

    Mafkan karena jadwal ke Medan berubah, karena urusan lainnya sdh kelar sebelum berangkat. Next time, saya pasti call sebelumnya.

    Yaahowu

  5. Baca baik baik nats Alkitab ini yang tertulis dalam Matius pasal 13 ayat 24 – 30 : (24 Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya.
    13:25 Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi.
    13:26 Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu.
    13:27 Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu?
    13:28 Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu?
    13:29 Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu.
    13:30 Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.”)

    Orang yang bijak maka ialah yang mengerti perumpamaan Tuhan Yesus ini.
    Setiap pemimpin organisasi di tuntut menjadi bijaksana bukan bijak sini. Okey Tuhan memberkati.
    Ya’ahowu Bang Mustika Ranto kapan ke Medan?
    Dari
    A.Yosua Gulo

  6. Saya bangga sekali dengan ira bapagu daana diatas. Memang filsafat Nias beda dengan filsafat Barat. Filsafat barat lebih bersifat teoritis belaka. Sedangkan filsafat Ono Niha lebih pada laku nan buka teori. misalnya: faritia. faritia bagi orang barat hanya sekedar kerajinan tangan. sementara bagi kita orang timur khususnya Nias faritia erat kaitannya dengan spiritual. karena itu dianggap suci. Terimakasih enao ibee khomi waatua-tua nasa amada ba zorugo.

    Moderator niasbaru.wordpress.com
    Bandung

  7. Saya tambahkan, bahwa metode pemisahan siapa lawan dan siapa kawan, dalam dunia sekuler dan dunia rohani sama saja.

    Memang ada hal2 yang dipicu oleh persaingan ilalang dan padi sekalipun mereka dalam lahan yang sama. Namun, persaingan mereka tidak dapat dimenangkan oleh siapapun kecuali ada satu tangan yang menolong salah satu diantara mereka.

    Mengapa Padi Tidak dicabut dan dimatikan?
    Karena ada tangan yang kuasa atas ladang itu yg menghendaki padi tetap jaya sampai menghasilkan. Karena Sang Kuasa itu memiliki Visi dan Misi terhadap padi demi kesejahteraan manusia.

    Mengapa Ilalang dicabut dan dimatikan?
    Karena ilalang merugikan siapapun dan sangat disayangkan karena ilalang mencoba merubah penampilannya menjadi padi. Tetapi sampai kapan pun tetap saja ilalang yah, ilalang. Apa mungkin Ilalang bertobat menjadi Padi?

    itu saja
    saohagolo

  8. Salam Sukses kepada Penulis Artikel ini.

    Saya analisa, bahwa strategy memisahkan atau mendeteksi ilalang sejak dini sangat tepat. Nah, dalam perjuangan baik dalam bisnis maupun dalam politik membutuhkan kemampuan analisa memisahkan ilalang dari tanaman padi.

    Segera tempelkan brand di atas punggung para ilalang sehingga semua tanaman padi mengetahui siapa dia. Itulah strategy jitu menentukan parthner dan menentukan musuh.

    Dalam marketing dibutuhkan juga metode differential agar produk kita berbeda warnanya, karakternya dan sifatnya dengan produk saingan.

    Bagaimana implementasinya, (?) apakah team anda sudah tahu siapa ilalang di tengah tanaman padi? maaf, filsafat ini bukan hanya di kitab suci bisa ditemukan, dalam hukum pasar juga banyak pakar menulis buku tentang “MEMBEDAKAN IDENTITAS DIRI DARI PESAING” dan lain-lain.

    Miswar Daud Marundruri

  9. Sangat jitu komentar Pak Moderator, ide yang brilian dan religius abiz. Saya sangat senang sekarang ada kelegaan, hayo yang merasa ada sifat ilalang dalam hidup kita marilah buang ketempat jauh dan kita saling memaafkan.

    Saya aja sebagai orang yang sudah tua dan bangkotan memohon maaf kepada anak-anakku yang kukasihi, jika ada yang salah dalam sikap maupun omongan baik disengaja maupun tidak kepada anak-anakku kakek minta maaf ya.(Walau kita tidak pernah ketemu muka tapi hati dan pikiran kita sering bertemu di dunia maya ini).
    Dalam situasi seperti ini kita harus terbuka dan saling mengasihi nak, ada slogan ditempel di dinding salah satu ruangan berkata “KETERBUKAAN ADALAH AWLA DARI PEMULIHAN”.

  10. Terima Kasih atas semua respon yang hebat dan analitis serta kritis.

    Ilalang bukanlah seseorang tetapi sifat dan karakter, semoga penafsiran saya tidak salah. Karena Manusia Tetap dikasihi Oleh Tuhan. Semua Manusia berharga dimata Tuhan dan oleh karena itu Petani yang membakar si Ilalang, bukan berarti membunuh manusianya. Tetapi membunuh karakternya, tempramentalnya dan sifat culture minded, sifat primitifnya. Jadi Jiwa dan Tubuh serta Roh tetap milik Tuhan yang harus kita kasihani.

    Wajib menyampaikan berita suka cita bahwa di dalam Tuhan ada mujizat bahwa sejahat-jahatnya Saulus pun ada mujizat baginya menjadi Paulus.

    Trims u abang Ama Niso, Komentar Seniwati Wirawan, Kakek Ama Gambi dan Bapak Atau Ibu (Maaf kalau salah) Besti Zai, Komentar tanpa nama mencopy paste artikel sebelumnya.

    Pemikiran kita telah diuji semua untuk menang dari sifat ilalang, mari membawa suara perdamaian.

    “Siapapun di dunia ini tidak memiliki hak untuk tidak mengampuni sesamaya, sebab Tuhan Yesus telah lebih dulu mengampuni manusia (saya dan anda), siapalah kita?”

    Oleh karena itu dalam situasi Lebaran ini, pintu Maaf terbuka untuk saya dan untuk saudara, sekarang masalahnya kapan kita take action ?

    Salam hangat untuk Anak2 Tuhan dimana saja.

    Mustika Ranto Gulo

  11. Siplah kalau begitu, artikel diatas sangat luar biasa dan menjadi bahan pertimbangan yang harus diterapkan dalam hidup ini, artinya “KEHIDUPAN TANPA KOMPROMI”.
    Saya tersentuh dengan tegasnya petani yang harus memusnahkan ilalang yang mengganggu tanaman padi sang petani. Posisi dan tindakan sang petani memusnahkan dengan mencabut lalu membuang ke bara api rumput ilalang sudah “benar” karena menggangu tanaman padinya, namun dilain sisi masih banyak cara sang petani untuk mencegah ilalang tersebut dari tanaman padi sbb:
    1.Mengusir Ilalang tersebut dengan memakai obat semprot atau mantra he.he.he. (ini cara lunak)
    2.Tidak membeiarkan dari awal ilalng tersebut bareng tanaman padi.
    3.Mencabut ilalang tersebut tapi jangan dibakar atau dimusnahkan, tapi di berikan suatu tempat yang memang ilalang tersebut bisa tumbuh kembang tanpa mengganggu tanaman padi sang petani.
    4.Memisahkan ilalang dari tanaman padi, Sang petani mengelola rumput ilalang dan memupuknya serta mengasihinya untuk dijadikan tanaman hias demi kepentingan orang banyak siapatau warnanya bisa menyejukkan hati publik atau akar sampai daunnya dapat bermanfaat untuk obat atau gizi untuk sang petani.

    Dalam kehidupan kita sehari-hari cara no.4 diatas adalah paling layak dan dapat saya terima secara pribadi karena tidak semua ilalang(perusak/Penjahat/penjilat/pecundang) dianggap sampah atau orang yang harus kita bunuh, namun karakter manusia dapat diubahkan menjadi berkat bagi orang lain, mungkin dalam kehidupan nyata kita dapat kita simpulkan begini dan begitu, namun kalau kita sebagai orang percaya dan punya iman, kita hanya melakukan kewajiban kita menyadarkan atau memupuk ilalang tersebut dan biar “ROH KUDUS” yang bekerja untuk memupuk dan menumbuh kemabngkan sang ilalang “Tiada yang Mustahil bagi Tuhan” Rasul paulus aja yang menganiaya orang Kristen dapat diubahkan oleh Roh Kudus. Ingat bahwa kita sebagai orang percaya punya KASIH tanpa Batas.
    Namun dalan pemikiran saya bahwa apa yang kita perbuat sesuai kemapuan kita dan kita saling mengasihi orang yang memusuhi kita FT “Kasihanilah Musuhmu” kecuali ilalang tersebut tidak berhasil jinak atau tidak bisa diperbaiki dalam segala upaya dan KASIH.
    Ada pepatah orang tua kita dulu yang menurut saya ada benarnya kalau dilihat dari sisi sekuler mengatakan “SO DALU-DALU ZOWOHO, LOHADOI DALU-DALU ZITO’UA YA’IA” (Ada obat orang gila, namun tidak ada obat sifat dan karakter manusia), kalau mau jujur menurut saya segala sesuatu tidak ada yang buntu atau mustahil, asalkan kita menerapkan “KASIH” dan mengandalkan Tuhan dalam segala hal.

    Mungkin anak-anakku sudah bosan membaca khotbah kakek pagi ini.
    Salam perjuangan Nak,
    Ama Gambi moroi ba nitawisole

  12. Masukan lainnya, adalah “semakin anda dipuja-puja semakin dalam kebencian kepada anda”. Jadi bagaimana solusi, mending anda diam saja dan tidak berbuat apa-apa, agar org yang membenci anda senang.

    Saya heran situs bodrek itu, siapa yg mengelolanya, saya hanya curiga bahwa anda-anda juga yang buat (hehehe). Begini, dalam memange conlict, anda saya sarankan jangan melayani meraka. malah situs bodrex itu telah membuat nama anda di dunia e-commerce menjadi idola. hehehe, mereka tidak tah itu, salam

  13. Topik yg anda lempar ke pasar selalu laku keras, sebenarnya saya sangat sungkan berkomentar. dari awal saya ikuti pola anda, sangat bervariasi dan bolehlah.

    Artikel bapak, membuat jantung orang berdetak keras menuju ke otak dan memerintahkan untuk membuat respon menolak atau menerimanya. Saya alami itu sekarang, saya berpikir saya bukan ilalang tetapi tanaman padi, saya mulai memberikan respon yang baik pada diri saya. Jadi, makna dan tujuan anda sdh tercapai, supaya manusia menjadi manusia bukan ilalang.

    Jadi, kalau saya menulis karena motorik saya mengirim pesan ke otak untuk memberi komentar, bahwa situs anda memang berbeda dengan situs bodrex lainnya. Saya juga belajar tentang e-commerce dan penyakit dari teknologi ini adalah orang tinggal copy paste buah karya orang lain, seperti berita di situs bodrex lainnya kerjanya mengopy paste berita online lainnya. Tidak mmudah membina satu blog seperti ini, dulu saya sempat ikuti artikel2 bapak MJ Daeli (saya lupa blognya, sangat bagus, namun berhenti juga menulis kan).

    Sungguh kita tidak saling kenal, namun saya bisa prediksi anda siapa? Anda adalah potensi yang baik menjadi budayawan sejati, anda diperhitungkan kog, apapun alasannya. Sekalipun kebencian dan analisa orang yang minor terhadap anda, saya tahu dari karya anda bisa mendatangkan satu penilaian yang bagus. Bukan pujian dan agar anda senang sama saya.

    Ini penilaian objektif ada bukti dan bisa diukur, ada alasannya, banggalah, sekalipun anda belum bisa diterima oleh kelompok situs bodrex. Saya hanya berpikir bahwa kita sama-sama tanaman padi dan mereka ilalang, makanya ketika saya baca situs bodrek yang mengatai-ngatai anda saya tertawa saja.

    Majulah, sekalipun kami nantinya masih di Kab Nias-induk (fadoro Idano gawo) kami dukung Nias Barat, kalau Tuhan izinkan menjadi kabupaten.

    Maju terus, sulit mencari budayawan nias, tapi jgn tinggi hati ya

    Besti Zai
    PT. Kalbe Farma Jakarta

  14. Maaf saya tambahkan:

    Judul artikel saya adalah “Memisahkan ilalang dari tanaman Padi”, saya mengambil referensi dari tulisan Bapak Moderator. Namun kami tidak bisa mengambil kata2 atau filsafat Nias tersebut, maaf.

    Orientasi dari tulisan kami nantinya adalah “Differential Strategy”. yaitu Strategy pembedaan mana kawan mana lawan dan siapa yang baik dan siapa yang buruk.
    Starategy ini dikemukakan Tuhan Yesus untuk mendapat team yang hebat, namun sasarannya adalah musushNya, bukan manusia tetapi Roh2 jahat yang gentanyangan di Udara yang mempengaruhi oknum manusia menjadi bersifat ilalang.

    Jadi, mengambil ref ini dari sisi penguraian saja dengan meminjam kata2 bapak dalam cara pemaparannya.

    trims

    Seniati wirawan

  15. Luar biasa artikel ini, ada pertanyaan apakah relevansinya trhdp Pilar Nias Barat (judul anda tulis pesan untuk Pilar Nias Barat).

    Saya setuju kalau artikel ini ditulis secara universal berlaku untuk siapapun. Contoh saya sebagai penulis berita di humanitarian, mengambil artikel ini untuk dipaparkan dalam bulletin kami, namun sifatnya ternyata hanya untuk kalangan kecil yang bernama Pilar Nias Barat. Padahal tidak ada hubungannya dengan bulletin kami. Anda memaparkannya sangat tajam dan sayangnya memakai bahasa / pepatah Nias yang belum populer juga bagi bahasa suku di dunia.

    Ilalang, tidak termasuk tanaman yang dibudidayakan, biasanya untuk membunuh ilalang ada dua teknologi yg dipakai. Yaitu, menyiramnya dengan bahan kimi tertentu sehingga mati sampai keakar-akarnya dan kedua dengan menanam tumbuhan sejenis umbi-umbian yang dapat mengalahkan ilalang.

    Sebenarnya judul dan isinya dapat ditemukan dalam referensi Alkitab karena itu adalah perumapaan Tuhan Yesus. Anda mengambil ref dari pepatah Nias, apakah memang itu sudah menjadi filsafat Nias? saya rasa itu berlaku universal. Semoga masukan saya benar adanya dan bisa diterima.

    Trims

    Seniati Wirawan

  16. Ya’ahowu Bp. MRG (Bp. Ama Maya Gulõ),

    Sudah saya terima sms-nya. Artikel pak MRG di atas cukup baik namun perlu pemahaman dalam suatu siklus proses. ”Rumput ilalang sangat dibenci oleh petani karena sangat membahayakan dan merusak tanaman padi.” Pak MRG lebih concern kepada ‘output’, sedangkan saya lebih concern kepada ‘proses’.
    Menurut pemikiran saya, rumput ilalang jangan terlalu dibenci oleh petani, karena seperti judul salah satu lagu mengatakan “benci tapi rindu” he…8x.
    Memang benar rumput ilalang perlu kita bersihkan dari tanaman padi, namun tidak efisien dari sisi teknologi jika dibuang begitu saja setelah dibakar menjadi debu.

    Mohon maklum, saya kurang sependapat 100% bahwa rumput ilalang setelah dibakar menjadi debu lalu dibuang begitu saja yang tidak dipergunakan lagi oleh petani, dimana teori ini telah dipelajari dengan seksama oleh MRG yang katanya dari buku 48 hukum kekuasaan karangan Robert Greene. Apakah ada buku lain yang merupakan 88 hukum kekuasaan? he…88x.

    Sebaiknya petani yang piawai dan bijaksana menggunakan ilalang yang dibakar tadi dan dijadikan kembali sebagai pupuk kompos misalnya untuk bisa menyuburi tanaman sang petani tadi. Ini artinya siklus proses kehidupan yang saling bermanfaat dan efisiensi tepat guna di semua aspek.

    Di zaman globalisasi saat ini perlu dilakukan efisiensi tepat guna seperti rumput ilalang tadi yang sebenarnya bermanfaat juga sebagai pupuk setelah melalui proses. Demikian juga buangan limbah cair industri tidak selamanya dibuang ke sungai, akan tetapi beberapa industri mulai mengefisiensikan buangan air limbah-nya untuk dapat didaur ulang (direcycle) menjadi lebih bermanfaat sebagai air bersih dengan penerapan sistem proses teknologi tertentu.

    Demikian tanggapan saya, semoga menjadi lebih bermanfaat untuk direnungkan dan digumulkan oleh pak MRG, Gbu.

    Shalom,
    ANG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s