MENGUBAH SUDUT PANDANG NEGATIF MENJADI POSITIF

Tulisan ini dikirim oleh Saudara Agustinus Daeli (Ama Haga) Sekretaris Umum Pilar Nias Barat. Saya tergugah dengan tulisan ini, saya baca dengan hati-hati, karena mengandung makna yang sangat dalam. Selamat menikmatinya semoga menjadi berkat bagi kita semua.

________________________________________________________________

REFRAMING.

Reframing yaitu, bagaimana kita “membingkai ulang” sudut padang kita sehingga sesuatu yang tadinya tampak negatif dapat menjadi positif. Berikut ini kisah nyata yang dapat membantu memahami cara mengubah sudut pandang kita terhadap segala sesuatu di lingkungan sekitar kita.

1.         Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makanan, kebersihan dan kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapi, bersih dan teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.

2.         Cuma ada satu masalah, ibu yang pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian.

3.         Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir dan menceritakan masalahnya. Setelah mendengar cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virgina Satir tersenyum & berkata kepada sang ibu : “Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan” Ibu itu kemudian menutup matanya.

4.         “Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak bernoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?” sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yang murung berubah cerah, ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.

5.         Virgia Satir melajutkan;  “Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka. Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi”.

6.         Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, napasnya mengandung isak, perasaannya terguncang, pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anakanya.

7.         “Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu & kotoran disana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, oran-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu”. Ibu itu mulai tersenym kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tersebut.

8.         “Sekarang bukalah mata ibu” lalu Ibu itu mumbuka matanya, “bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?”

9.         Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Aku tahu maksud anda” ujar sang ibu, ” Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif”. Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu keluarga yang dikasihinya ada di rumah.

Berikut ini beberapa contoh mengubah sudut pandang :

Saya BERSYUKUR ;

  1. Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan, karena itu artinya ia bersamaku bukan dengan orang lain.

  2. Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena itu artinya ia berada di rumah dan bukan di diskotik, kafe, atau di tempat mesum.

  3. Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan.

  4. Untuk tagihan pajak yang cukup besar, karena itu artinya saya bekerja dan digaji tinggi.

  5. Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan, karena itu artinya keluarga kami dikelilingi banyak teman.

  6. Untuk pakaiannya yang mulai kesempitan, karena itu artinya saya cukup makan.

  7. Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari, karena itu artinya saya masih mampu bekerja keras.

  8. Untuk semua kritik yang saya dengar tentang suatu organisasi, karena itu artinya masih ada kebebasan berpendapat.

  9. Untuk yang Telephone/miscall sampe tengah malam pakai privat number, karena itu artinya saya masih punya handphone.

  10. Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yang membangunkan saya, karena itu artinya saya masih bisa terbangun, masih hidup.

  11. Untuk semua masalah dan penderitaan hidup yang saya alami, karena itu artinya saya memiliki pengharapan hidup kekal yang penuh sukacita di surga.

Tuhan memberkati

AHD

Iklan

3 pemikiran pada “MENGUBAH SUDUT PANDANG NEGATIF MENJADI POSITIF

  1. Ya’ahowu!

    Artikel yang dipaparkan oleh Sekum PNB Bp.A.Haga Daeli (AHD)amat baik. Sukses luar biasa untuk adik Agus Daeli (AHD), Gbu.

    Ada falsafah kuno Jawa yang mengatakan: “mangan ora mangan asal ngumpul”. Namun apakah salah satu falsafah tsb masih konsisten dan valid di era globalisasi dengan paradigma dunia yang kian berubah?

    Seperti kita ketahui bahwa lingkungan persaingan abad ke-21 dengan globalisasi yang berkesinambungan dan perubahan teknologi yang cepat telah memberikan implikasi terhadap perubahan pola hidup manusia yang semakin berubah dan meningkat (enhanced).

    Tantangan yang akan kita hadapi di masa kini dan masa depan seiring dengan penerapan teknologi informasi (TI) yang berkembang pesat ke seluruh penjuru dunia secara transparan antara lain: tuntutan zaman, sumber daya manusia serta kompetensi leadership.

    Akhir kata saya tambahkan sedikit artikel di atas dengan rangkaian kata2 agar nuansanya semakin dinamis: “Tidak ada orang yang menderita karena terlalu banyak bekerja, namun banyak orang yang menderita karena terlalu banyak ambisi yang tidak tercapai”.

    Salam hangat menyongsong musim hujan & dingin untuk komentator No.1-2 he,,,8x. Ya’ahowu!

    Shalom,
    ANG

  2. Nak AHD, ini tulisan yang membangun dan menggugah hati saya.
    Artinya kita harus menilai sesuatu omongan atau keadaan yang negatif selalu buruk atau sial menjadi positif, tinggal bagaimana kita melihat dari berbagai sisi.
    Manusia dalam berpikir memang selalu besar negatifnya dari pada positifnya dan itu realita kehidupan kita sehari-hari. Ini disebabkan karena kita masih belum mengenal betul kasih Kristus dalam kehidupan kita yaitu “KASIH”-“RENDAH HATI”-“BERSYUKUR”. Sedangkan dalam kehidupan kita selalu memelihara Harga diri kita yang kelewat batas,kesombongan dan tidak menerima diri apa adanya atau bahasa Nias populer “NO TABASO GARATE SI LO NISURA” (Kita sudah membaca kertas yang belum ditulis apa-apa). Alur cerita diatas sangat menantang kita semua.
    Saya teringat membaca artikel dimana ada sehelai kertas HVS putih bersih jika ada setitik noda tinta di tengah kertas tersebut, pada umumnya kita menilai kertas itu cacat dan kotor, padahal 95% halaman kertas tersebut masih bersih dan berguna dan hanya 5% saja yang cacat. Disitulah kita bisa menilai bahwa dalam diri kita lebih besar pandangan negatifnya dari positifnya.

    Dari Kakek,
    Ama Gambi Moroi ba Nitawi Sole

  3. Saya berterima kasih atas tulisan ini, memandang kelemahan kita sebagai kekuatan, merubah energi negatif kita menjadi energi positif. Kalau Di Nias, energi negatifnya, yaitu FATIU TODO, kebencian terus menerus.

    Contoh IRI HATI TERUS MENERUS KEPADA SESAMA KITA. SEHINGGA KALAU SAYA PULANG KE KAMPUNG SAYA, …. SAYA SANGAT TAKUT MINUM DISEMBARANGAN RUMAH PENDUDUK. TIDAK SEDIKIT YG SUDAH MATI SEKETIKA KARENA DIRACUNI TANPA ALASAN YG JELAS.

    Sifat negatif ini kita rubah menjadi energi positif yaitu berjuang bersama-sama agar kita semua sukses dan tidak iri lagi kepada sesama kita. KITA2 yang ada di perantauan … seharusnya sifat itu kita buanglah.

    Saya bangga bertemu dengan pak moderator di Acara IMANI di taman mini, yang selama ini jadi buah bibir, dan saya berdoa agar semua pembicaraan kita atas perjuangan Nias Barat bisa sukses. Sekarang saya mengerti pak, betapa berat perjuangan pak. Saya ajak kita semua agar perbuatan negatif kita di rubah menjadi perbuatan positif.

    Terima kasih Pak AHG penulis artikel ini.
    wassalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s