Mengapa Organisasi Nias hanya Seumur Jagung?

Keluarga adalah organisasi pertama (organisasi tertua) yang dibentuk oleh Tuhan di dalam dunia ini, yaitu Adam sebagai ketua dan Hawa sebagai wakil (penolong) dan anak-anaknya sebagai anggota. Tragis sekali, dalam keluarga itu terjadi percecokan karena alasan cemburu, irihati dan amarah. Kain membunuh adik kandungnya sendiri karena cemburu dan irihati. Membunuh karena didalam hatinya telah merancangkan pelampiasan kecemburuannya, yaitu “Mengapa HABEL sejahtera, dia ini dekat dengan Allah dan doanya selalu didengar oleh Allah, mengapa habel sejahtera?”.

Dalam jiwanya tertanam kebencian yang sangat luar biasa, alasannya karena iri hati dan cemburu. Membuahkan dosa yaitu kematian karena dibunuh, tindakan sadis dari anggota organisasi itu sendiri.

Menurut John W. Atkinson mengelompokkan tiga kebutuhan yang memicu motivasi intrinsik, yakni:

  1. Kebutuhan berprestasi (needs for achievement),

  2. Kebutuhan berkuasa (needs for power),

  3. Kebutuhan berafiliasi (needs for affiliation). 

Prestasi Habel sangat luar biasa, asap persembahannya langsung diterima oleh Tuhan, karena dia memberi  persembahan anak domba kambing yang terbaik. Hal itu menimbulkan iri hati Kain dan merasa terganggu sekali. Kain sebagai anak pertama merasa dirinya akan tersaingi untuk berkuasa nantinya (Needs for Power). Malu mengakui adiknya untuk berafiliasi, sebab dia adalah anak yang pertama (akan menerima warisan kekuasaan sang ayah kelak).

Demikianlah organisasi tertua (Keluarga) itu diguncang oleh kajadian pembunuhan pertama dalam sejarah manusia. Sehingga dalam kitab lainnya “Keutuhan Keluarga” dipetahankan mati-matian bahkan sampai sekarang. Mengapa? karena sumber motivasi itu melanda semua orang, tidak peduli apakah keluarga pendeta, ustad atau siapapun. Kita sadari bahwa organisasi tertua itu (keluarga) adalah bentukan tangan Tuhan sendiri; sebab Tuhan ingin mempersatukan manusia dalam kata FAMILY dalam bahasa Nias (SOROIYOMO atau FONGAMBATO).

Itulah alasannya mengapa perceraian ditolak secara nyata-nyata oleh kaum kristiani yang mengakui kedaulatan Tuhan, karena tidak mau menyakiti hati Tuhan, apapun masalahnya “keluarga harus dipertahankan agar tetap utuh”. Namun, bagi mereka yang memberikan toleransi (agama yang berperi kemanusiaan) maka “kesatuan keluarga” bukanlah sesuatu yang sakral. Pernikahan bisa saja ditoleransi menjadi peri kebutuhan manusia, bebas berpoligami makanya MUSA mengatakan “karena ketegaran hatimulah makanya perceraian dan poligami diizinkan”. Jadi Poligami dan perceraian bukan berasal dari Tuhan, tetapi dari nafsu manusia.

Saya ulang lagi Prinsip Siklus 3K (PS3K) yang sering saya sampaikan kepada para pengantin baru kalau ada kesempatan bicara dalam acara pernikahan:

Siklus K yang pertama yaitu Kobar-Kobar, berapi-api ingin bersatu, segera menikah sajalah, demikian juga sifat “masyarakat Nias di perantauan, rindu ingin bersatu, ingin bertemu karena kangen, biasanya dengan membentuk arisan dan apapun namanya, pokoknya bertemu”. Apinya berkobar-kobar dan membara, sangat indah dan semua pihak ingin berkorban memberi diri dan luar biasa kompaknya. Pilar Nias Barat telah melewati masa K pertama ini, luar biasa sampai semua orang mengangkat topi, hebat. Tetapi sudah siapkah kita masuk dalam siklus yang kedua?

Siklus K yang kedua adalah  Konflik, Pertengkaran karena benturan kepentingan, Ke-AKU-an timbul, kurang pengakuan, maunya saya saja yang berjasa. Keakuan timbul sekonyong-konyong karena ingin memenuhi kebutuhan ke AKUannya. Akibatnya pertengkaran, manufer politik ingin menggeser orang lain yang dianggap penghalang, cemburu dan iri hati seperti Kain membunuh Habel adeknya sendiri.  

Sebenarnya KONFLIK itu biasa terjadi dimana saja, namun cara penyelesaiannya berbeda-beda, demikian organisasi-oraganisasi Nias dimana saja hanya seumur jagung. Saya kutip ungkapan Bapak Ir. Firman Nefos Daeli, MKeh, bahwa “setahu saya ratusan organisasi Nono Niha yang saya kenal, tidak pernah satupun yang eksis, akhirnya perpecahan”.

Mengapa? Karena dasarnya adalah Kepentingan. Padahal kepentingan adalah dasar kebersamaan dalam organisasi politik, tidaklah relevan untuk organisasi sosial kemasyarakatan yang mengabdi kepada kemanusiaan. Kepentingan membawa kepada ego maunya “AKU” saja dan orang lain jangan ada yang menandingi atau mengontrol AKU.

Konflik timbul baik dalam persahabatan maupun dalam organisasi, jika tidak ditangani dengan cara “saling merendahkan diri” akhirnya pun berantakan. Jangan karena kepentingan satu orang saja, menimbulkan perpecahan yang meluas bagaikan noda merusak susu sebelanga. 

Siklus K yang ketiga adalah Komitmen, biasanya jika konflik bisa dimanage maka ada kata kesepakatan baru yaitu komitmen. Jika dalam kesepakatan baru tidak menemui kata komit terhadap konflik maka bubarlah keluarga, bubarlah gereja dan bubarlah organisasi dimana-mana. Konflik dapat dikendalikan dengan memberi diri, menyatakan maaf dan mengakui kekeliruan yang sudah terjadi, menganggapnya masa lalu saja. Sekalipun “komitmen baru” tidak mudah, namun bisa dilakukan jika ego tidak ditempatkan diposisi yang terlalu tinggi sehingga sangat sulit dicapai. Kata maafnya berharga jutaan dollar, sangat susah untuk dibayar. Sehingga siklus K yang ketiga ini sulit dan jarang bisa dicapai.

Apabila K yang ketiga bisa direalisasikan maka siklus selanjutnya adalak kembali ke K pertama, berkobar-kobar kembali. Karena kita sangat senang bisa berdamai, berkumpul kembali seperti dalam suasana “hari Lebaran ini”. Namun, jangan lupa bahwa K kedua yaitu konflik selalu saja datang tanpa mengetok pintu rumah kita terlebih dahulu, konflik datang tanpa kabar pendahuluan.

Oleh karena itu inti dari semua ini adalah membutuhkan keahlian khusus yaitu  “How to Manage Conflict”, dan jangan menjadi inspirator conflict itu sendiri.

Mari kita bedah “4 Ke-AKU-an dasar”  sebagai sumber konflik:

  1. AKU butuh Pengakuan, Aku ini pintar,  Aku yang punya ide, orang lain bodoh, tolol, tidak tahu apa-apa dan oleh karena itu kalian harus menghormati dan mengakui AKU, (kalau tidak, berarti kalian tahu akibatnya). Sikap ini merusak banyak organisasi terutama dalam organisasi keagamaan seperti Gereja, organisaisi kemasyarakatan dan lain-lain. Egocentris tipe ini membawa kepada kehancuran, kebencian dan iri hati dan membuahkan berbagai-bagai masalah baru secara estafet, tanpa hentinya.

  2. AKU Butuh Hormat, saya ini levelnya tinggi, sanemba simbi mbawi, kalian harus tahu bahwa saya pernah bertemu presiden, tidak semua orang sama seperti saya, sebaiknya orang lain bekerja sama saya dan saya ini sejajar dengan sesepuh lainnya, jabatan saya biasanya pembina atau pengawas. oleh karena itu kalian harus dengar semua keinginan saya, kalau tidak ? kalian tahu nanti akibatnya.

  3. AKU butuh Uang, (Dollar Oriented istilahnya DO) kalau bisa uang kalian semua kumpulkan untuk saya supaya nama saya dikenal dimana-mana, masuk TV dan Masuk Koran national. Pemikiran saya mahal harganya, orang lain tidak bisa dan tidak bisa seperti itu, cuma saya yang punya kemampuan brilian, harganya pun brilian juga.

  4. AKU butuh Posisi atau Jabatan, Aku ini bos, semua saran dan ide saya, harus dilaksanakan dan kalau tidak maka selamat tinggal. Keluarga pun jadi berantakan apalagi organisasi yang tidak ada ikatan atau agreement. Akhirnya Potensi SDM menjadi tidak maksimal karena butuh jabatan dan imbalan, selamat tinggal kalau saudara tidak sanggup memenuhinya. Keakuan ini sering mencelakakan organisasi, karena ditengah jalan sang pemimpin sering meninggalakannya dengan kata selamat tinggal.

Sebenarnya mudah mendeteksi orang yang keakuannya tinggi berdasarkan “mengapa melakukan ini dan itu” kalau teori kebutuhan menurut Abraham Maslow sebagai penggagas teori kebutuhan yang paling populer ada lima “Teori Hirarki Kebutuhan” yaitu : motivasi positif manusia berdasarkan lima kebutuhan dengan urutan dari terendah sampai dengan tertinggi sebagai berikut:

  1. fisiologis

  2. keamanan

  3. sosial

  4. harga diri

  5. aktualisasi diri.

Tetapi menurut saya, kalau 4 faktor keAKUan  tersebut di atas bisa dipenuhi, maka organisasi dan keluarga bisa dipertahankan menjadi utuh, tetapi jujur saja, siapa yang sanggup memenuhi egonya orang lain ? Jika kita tidak sanggup memenuhinya maka siap-siap oragnisasi, atau keluarga anda hanya seumur jagung. Besok bubar! inilah salah satu penyebab mengapa intelektual Nias yang berpotensi,  menolak bergabung dengan organisasi Nias dimanapun. Lihat saja, sifat kotor itu muncul ketika oraganisasi sudah terlihat baik dan berhasil, tiba-tiba iri hatinya ada dan rela membunuh untuk itu.  Mereka biasanya melakukan uji coba, biarkan mereka dulu yang memimpin, kalau mereka gagal, yah kita naik….atau lebih sadis lagi, kalau mereka berhasil kita goyang dan kalau sudah jatuh, kita ambil alih. Otak kotor ini harus dicuci dengan informasi yang baik dan segar, misalnya dalam seminar-seminar tentang karakter dan kepribadian, atau ikut seminar-seminar di gereja dan membicarakan Firman Tuhan. 

Saudara, perceraian, perpecahan dan pertengkaran adalah budaya Setan di Neraka, karena Tuhan sendiri tidak menghendaki ‘Perpecahan’ tersebut. Bukan berarti, manusia tidak berdialog dengan emosi yang jujur, tetapi bertengkar itu sifatnya negatif, itu sifatnya iblis. 

Pesan kami “Mengalahkan keakuan adalah sifat seorang Pemimpin Masa Depan, terutama untuk NIAS BARAT!”

Demikian organisasi dimanapun sebentar dihantui oleh perpecahan dan usianya hanya seumur jagung, sebentar saja bubar. Kepentingan menimbulkan irihati (seperti antara Habel & Kain) yang bisa terjadi dalam keluarga antara suami istri dan anak dengan anak. Akhirnya juga bubar, persatuan bubar ! karena para pelaku putus asa dan mengatakan “yah, saya capek, saya mundur, atau yah, hancurkan sajalah”. Mungkinkah konflik bisa diakhiri dengan kata DAMAI?

Berkaryalah selagi ada waktu, Yaahowu

Salam

Ir. Mustika Ranto Gulo

 

Iklan

8 pemikiran pada “Mengapa Organisasi Nias hanya Seumur Jagung?

  1. Apa maksudnya Dollar Oriented (DO) bukannya DO itu = Droup Out?

    Dollar Oriented cuma kiasan saja, untuk mengetok hati mereka yang pintar bicara saja namun sangat kritis dalam hal uang. “Cinta Uang adalah akar dari segala kejahatan”. Ada yang membunuh saudaranya karena uang, ada juga yang meminta imblan dari setiap tetesan keringatnya dengan sejumlah uang.

    Uang segala-galanya, namun kata pepatah mengatakan :

    Money can buy sex but can’t buy love
    Uang bisa membeli sex, namun tidak dapat membayar harga sebuah harga cinta kasih.
    Uang bisa membeli tempat tidur yang sangat mahaldi dunia, namun uang tidak sanggup membayar tidur nyenyak.
    Uang bisa membeli sebuah jabatan dan pengaruh, namun tidak bisa membayar harga sebuah integritas, harga diri.

    Namun, kesimpulan saya bahwa dalam perjuangan pun tanpa pengorbanan saudara, maka semua sia-sia. Bagaimana dengan kita di Nias Barat? Orang yang meyakinkan bahwa dia seorang pejuang, jangan memanfaatkan organisasi sebagai ladang uang. Malah sebaliknya, harus memberi sekalipun itu hanya sedikit dimata orang lain. Kalau tidak, maka tidak perlu capek untuk mengklaim diri sebagai pejuanglah. ok?

    Amaedola zatua fona:

    Itoro li, ba itoro boto (Artinya kalau gaya kita tinggi dan mulut besar dalam mengelola komunikasi dalam kemasyarakatan harus nyata dalam perbuatan juga. Kalau mulut besar ini bicara tinggi, yah harus bayar harganya dengan harta yang ada). Jika saudara hanya berkoar – koar dan memanfaatkan kondisi yang belum ada daya, semua OMDO.

    Ketika tiba giliran anda diminta untuk memberi, untuk membuktikan diripun anda lari tunggang langgang. Kalau di desa pedalaman, kita bisa tipu-tipu masyarakat kecil. Tetapi di perkotaan seperti Jakarta, Medan dll, anda tidak ada tempat, karena kita-kita saling tahulah dan anda akan terbentur.

    Sebaiknya anda mengerti ini:
    Pendidikan dasar pembentukan manusia adalah menyerap informasi sekalipun itu menyakitkan. Bagi mereka yang menjadi manusia pembelajaran seperti kata Andrian Harefa (Pengarang Buku) informasi dapat dicerna sekalipun itu sakit untuk diterima.
    Namun kalau menganggap bahwa koreki orang atas perilaku kita, dianggap sebagai pisau yang membunuh tentu reaksi kita berbeda;

    INILAH PENYEBAB ORGANISASI KITA HANYA SEUMUR JAGUNG:
    KEHILANGAN KEPERCAYAAN KEPADA MEREKA YANG MULUTNYA BESAR, SUKA MENGATUR TANPA DIBARENGI DENGAN PENGORBANAN MATERI, MALAH MEMANFAATKAN YANG SUDAH ADA. KALAU KITA TIDAK BERTOBAT DARI CARA INI MAKA ORGANISASI MANAPUN AKAN BUBAR.

    Pesan kami di atas agar dapat dipahami oleh kawan-kawan yang sudah melenceng dari nilai-nilai etika berorganisasi.
    Sebaiknya bersatu dan bersatulah, kembali ke jalan yang benar.
    trims.

  2. Yahowu Pak Res #2, saya rasa komentar anda penuh kebencian, saya baca sampai tiga kali tulisan Pak Moderator itu, saya tidak menemukan hubungannya dengan tulisan anda. Saya bertanya sekarang mengapa Ono niha begini ?

    Tuhan, tolonglah kami!, saran u moderator, agar hati2 menulis apapun pak, apalagi mengambil ref alkitab u bahan tulisan. Tidak semua org menerima Firman Tuhan pak. Ini saran, karena Res#2 sangat marah kelihatannya.

    Kalau bisa, pak Moderator tidak komentari lagi tulisan model res#2 itu pak. Biarkan saja, audiens yang menilai pak, … itulah suka duka kita karena masih primitif pak.

    salam
    DH

  3. Bung ANG Res#1, tidak bermaksud menyindir Abang hehehehe 20x, tetapi sekedar masukan dan pemikiran saya, bagaimana agar Organisasi Nias bisa utuh minimal 2 generasi, itu saja, bukan bermaksud memukul orang lain. Sebab orang lain tidak tahu permasalahan pribadi lepas pribadi, mungkin saja ada yang kebetulan mengalami masalah yang sama. Mohon maaf, jika menyinggung ya. thks.

    Untuk Bang Atulosa Waruwu Res#2, saya tidak kenal anda karena belum pernah bertemu dengan initial nama anda seperti ini. Namun, karena anda mengenal orang tua saya dan mengeritik kepemimpinan saya di Pilar Nias Barat, berarti anda adalah org yang sangat dekat dengan keluarga kami.

    Semoga saya tidak curiga kepada anda, saran saya:
    1. Mari berargumentasi selayaknya Ono Zalawa, dan tidak bernuansa eksplisit – primitif, egocentris dan fanatisme.
    2. Tulisan saya itu, untuk semua orang yang membacanya bukan untuk pribadi Abang Atulosa Waruwu, mohon maaf kalau itu menyinggung perasaan abang. Sepertinya anda adalah senior sekali, dan saya hormat makanya saya harus membalas komentar tersebut.
    3. Jangan diambil kehati kata2 itu, tujuannya adalah memberi motivasi kepada siapapun agar Organisasi Nias bisa bertahan minimal dua generasi. Karena kita terkenal tukang rindu kumpulkan orang dan sekaligus tukang rindu bubarin orang atau organisasi.

    Dari awal saya sdh bilang ke abang (semoga bukan anda), bahwa Menjadi Pimpinan Pilar Nias Barat, bukan segala-galanya, itu semua karena kita sama-sama rindu dan anda salah seorang juga menitipkan sebuah kepercayaan kepada saya. Tetapi lihatlah, jabatan itu diincar orang sekarang bang, kalau ada yang mau ambil posisi itu alangkah baiknya orang itu muncul nanti pada munas desember 2007.

    Kalau anda bermotivasi baik menyebutkan nama ayah saya dan masa lalu saya, terima kasih, tetapi kalau tidak, maka tentu anda tahu akibatnya kan?

    God Bless Us
    Ama Maya Gulo

  4. Pengelola website ini bernama Mustika Ranto Gulo dari UDA Medan Ya, anak almarhum Bapak Ama Asa Gulo moroi ba Hiliwaele Lawelu ya, saya kenal anda sejak di Medan.

    Saya menyarankan kepada anda, anda belum bisa sebagai ketua umum Pilar Nias Barat ! wawasan anda masih sempit, anda mengaku-ngaku Pendeta muda, padahal omonganmu bohong melulu. Jangan coba mengutip-ngutip FT untuk meyakinkan orang pada omonganmu.

    Kelihatannya kamu tidak mengakui potensi orang lain, anda mengira cuman anda yang hebat. Sadarlah bahwa apa yang anda ketahui, apa yang anda miliki belum apa-apa dibanding dengan yang dimiliki orang lain. Jangan selalu melihat ke bawah tapi sering-sering melihat keatas, biar kamu sadar bahwa masih banyak orang lain yang melebihi kamu.

    Saya tidak membenci kamu, cuman memberitahukan keadaan kamu yang sebenarnya. kalau kamu masih rasional, bisa kamu ambil hikmahnya. Tapi kalau anda masih sok dan sombong, silahkan teruskan kecongkakanmu itu.emang gua pikirin.

    Semoga kesadaran ada dibenak hati dan otakmu.

  5. Ya’ahowu!

    Wow…bukan main topik yang dipaparkan oleh Pak Ketum PNB Bp. Ama Maya Gulõ di siang hari ini. Mudah2an topik tsb tidak ditujukan kepada figur tertentu misalnya kepada saya he…8x, tetapi lebih menekankan kepada general public untuk lebih baik kualitas perilaku dibandingkan hari2 sebelumnya.

    Saya ingin menambahkan tentang topik di atas sebenarnya mencoba mengekspos tentang perilaku. Perilaku juga terkait dengan kepemimpinan (leadership) dimana sering terjadi adanya perubahan terhadap pengaruh lingkungan dalam konteks pendekatan system & kontingensi.

    Di era global saat ini seorang leader tidak hanya dituntut untuk mampu memenuhi target2, tujuan dst melalui proses yang tertentu & sistematis. Namun seorang leader perlu memiliki perilaku memperhatikan martabat kemanusiaan. Leader tidak lagi sekedar melakukan ‘engineering perilaku’ dan memerintah serta memaksakan kehendaknya, tetapi lebih kepada menunjukkan visi misi dan sbg motor penggerak menuju perubahan yang positif & bermanfaat bagi orang lain/masyarakat.

    Adapun ciri-ciri kedewasaan perilaku leader adalah: rendah hati, menghargai orang lain, sabar, penuh daya tahan, sanggup mengambil decision, humoris, bertanggung jawab, percaya pada diri sendiri, kepribadian yang utuh, seimbang, menerima diri sendiri, memiliki prinsip yang kuat, integritas, kejujuran dsb.
    Pesan untuk yang gandrung berkecimpung di bidang politik maka seorang perilaku leader di NisBar kelak harus memiliki mindset: “what do you do for the NisBar & please do the best for the NisBar”, Gbu.

    Shalom,
    ANG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s