Wanted: “SEORANG PELAKU, BUKAN PEMIKIR & PEMBICARA”

Sebuah iklan saya pasang dipapan pengumuman kampus saya, bertuliskan “Wanted : Seorang Pelaku, Bukan Pemikir dan Pembicara”. Saya hampir saja didenda oleh bidang akademis karena iklan ini. Banyak orang bertahan lama membaca bagian tulisan ini, karena tertarik dan cukup mengganggu pemikiran dosen dan para senior saya.

Apa yang janggal?

Menurut seorang dosen saya, dengan nada tinggi mengatakan bahwa ‘Anda Telah Menyindir Para Dosen’. Dengan berbagai argumen saya sampaikan bahwa saya selaku KETUA SENAT mencari seorang pelaku (executor sejati) memang kriteria itu sangat sulit dicari. Kriteria orang yang dicari mungkin saja tidak ada di kampus ini, karena apa?

Teman-teman saya mengatakan bahwa ‘Kriteria itu sulit, karena orang ini seharusnya  seorang pemikir juga dan ketika dia berpikir dia harus menyampaikan sebuah gagasannya melalui pembicaraan. Hemat saya, semuanya satu paket terdapat dalam setiap diri orang yang dicari tersebut.

Namun, setelah mereka membaca penjelasan kriteria orang yang dicari akhirnya dosen saya tarik nafas dalam-dalam, mengatakan bahwa iklan ini memiliki alasan untuk tidak mencari orang yang hanya memiliki kemampuan berpikir dan mampu bicara.

Kalimat berikutnya adalah “Kami sudah memiliki banyak Pemikir dan Orator, tetapi kami belum memiliki seorang Pelaku yang handal (Executor). Jangan melamar di bagian ini kalau anda hanya mampu bicara dan banyak berpikir, karena kamipun bisa melakukan hal itu.”

Setelah dua minggu pengumuman itu terpampang, akhirnya ditimpa oleh pengumuman lainnya, sayangnya satupun tidak ada yang datang ke kantor SENAT untuk melamar. Peristiwa ini terjadi 1987 yang lalu, true story. Setelah dua puluh tahun saya ingat peristiwanya dan saya tuliskan disini.

Hikmat yang saya dapatkan di dalamnya adalah:

  1. Semua orang mampu berpikir dan memiliki gagasan yang brilian, namun hanya 1:1000 yang mampu melakukannya sendiri tanpa bergantung kepada orang lain. Survey ini, sudah lama sekali, sumbernya tidak jelas, namun mungkin saja ada benarnya.
  2. Orator yang hebat, otomatis Pemikir yang hebat juga, namun dalam buku “Taking Mission Just To Do” Karl M. menyatakan bahwa Orang seperti ini bukan Pelaku atau “EXECUTOR”, tetapi orang ini sebaiknya menulis buku untuk menyatakan mimpi-mimpinya.
  3. Pelaku yang hebat, disebut sebagai “EXECUTOR”, pengambil keputusan untuk bertindak. Mampu melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain dengan kecepatan waku yang sangat tinggi, durasinya sulit dicapai orang lain. Namun orang ini bukanlah seorang pemimpin yang beribawa, orang ini low profile, dia hanya pelaku. Tetapi keberhasilan menempel dibahunya, kemanapun dia berada mampu bertahan hidup dalam tingklat kesulitan apapun.

Kriteria nomor 3 (tiga) diatas yang kita cari untuk organisasi manapun di Nias sekarang, karena semua orang sudah pintar bicara, memiliki gagasan yang brilian, sayangnya ketika gilirannya melakukan “How To Do”, bingung dan hanya membual saja. Jadi, jangan datang nimbrung dalam organisasi manapun kalau anda hanya banyak bicara, tetapi sebaiknya anda pelaku gagasan anda sendiri. Mengapa? karena terlalu banyak Pemikir dan Orator di antara kita.

Pilar Nias Barat, sangat membutuhkan orang-orang yang handal dalam mengambil tindakan, “take action”. Mereka adalah executor kelas wahid, dan bicaranya bukan hanya pemicu saja. Banyak orang yang bersikap “MOTIVATOR” pemberi motivasi, hal ini pun tidak banyak gunanya, karena “MANUSIA TERMOTIVASI OLEH TUJUANNYA SENDIRI”. Kita (NIAS BARAT) mau jadi apa?

Mari, kita bergandeng tangan, mewujudkan Nias Barat yang benar-benar kokoh dan tangguh karena sumber daya manusianya juga tangguh. Kita bersatu untuk mewujudkan Kabupaten Nias Barat, yang dihadang oleh dua dokumen yang masih belum ada, yaitu persetujuan / rekomendasi dari Paripurna DPRD I SUMUT dan disertai dengan SURAT KEPUTUSAN GUBERNUR SUMUT, bahwa Nias Barat dapat dilanjutkan untuk diparipurnakan di DPR RI Jakarta.

Terima kasih teman-teman sepelayanan dan sepenanggungan,

HIDUP PILAR NIAS BARAT”. Ya’ahowu!

Moderator

Iklan

7 pemikiran pada “Wanted: “SEORANG PELAKU, BUKAN PEMIKIR & PEMBICARA”

  1. Yaahowu Pak Ranto

    Saya analisa sedikit tulisan ini sesuai dengan keadaan bangsa kita yg mencari figur pemimpin melalui PILPRESS 2009 ini. Tinggal beberapa hari lagi, saya kwatir kita salah pilih. saya searching di Google tentang “seorang Pelaku” dan saya temukan tulisan anda ini.

    saya bangga kita sesama Nias, saya tergerak mengomentari.

    Capres 1, banyak gagasan dan sdh pernah menjadi presiden, pelaku bisnis dan juga dalam birokrat, apalagi wakilnya yang sudah tidak diragukan lagi. Saya cenderung memilih pasangan ini.

    Capres 2. Ada kesan kurang seimbang dgn wakilnya, sekalipun aku penggemar berat namun ada sedikit keraguan, namun perlu dipertimbangkan untuk dipilih. Kita butuh perubahan jika mereka tidak mau melanjutkan…!

    capres 3. Bagus dan lihai pasangan ini, kalau bukan karena pesaing yang ketat dan fanatisme, lebih baik pasangan ini yang menang. Karena mereka kreatif, dan cukup handal dalam biro krasi dan bisnis.

    Bukan hanya Nato Saja mereka itu bukan? Apa yang baoak cari ? saya dengar Pemekaran sdh Ok, Selamat Pak!

    Buatkan saja polling di room ini pak.
    salam Kenal, Kami pendatang baru

    GBU

  2. Ya’ahowu !!!

    Saya mencoba menganalisa tulisan yang telah dipaparkan dengan baik & transparan oleh talifusõgu Ama Maya Gulõ selaku moderator untuk menghimbau kita semua mengkaji ulang tentang talenta masing2 SDM.

    Dalam suatu organisasi (kecil, sedang & besar) semua talenta yang dimiliki oleh masing2 SDM perlu diberdayakan menjadi suatu ‘energi positif’ dalam menjalankan kebijakan & strategi suatu organisasi untuk mencapai visi, misi & tujuan suatu organisasi.

    Ada yang sebagai pemikir (conceptor), pelaku (executor) dsb. Talenta conceptor umumnya dimiliki oleh kalangan level top management sedangkan sebagai pelaku (executor) yang berada di lapangan. Memang idealnya diharapkan sebagai conceptor sekaligus sebagai executor. Namun hal ini jarang terjadi pada terapan manajemen skala sedang & besar.
    Ilustrasinya seorang Jenderal jarang turun untuk berperang kecuali emergency, namun strategi kebijakan yang dilakukan oleh Jenderal sebagai conceptor berimplikasi terhadap output/result yang dilaksanakan executor di lapangan.

    Kiranya talenta yang dimiliki masing2 SDM khususnya SDM Nias yang telah dicapai sampai saat ini perlu kita syukuri & lebih diberdayakan lagi menghadapi era globalisasi yang kita sedang hadapi bersama. Tuhan memberkati, Gbu.

    Shalom,
    ANG
    HP.: 0815 1424 8880

  3. Ya’ahowu !!!

    Saya mencoba menganalisa tulisan yang telah dipaparkan dengan baik & transparan oleh talifusõgu Ama Maya Gulõ selaku moderator untuk menghimbau kita semua mengkaji ulang tentang talenta masing2 SDM.

    Dalam suatu organisasi (kecil, sedang & besar) semua talenta yang dimiliki oleh masing2 SDM perlu diberdayakan menjadi suatu ‘energi positif’ dalam menjalankan kebijakan & strategi suatu organisasi untuk mencapai visi, misi & tujuan suatu organisasi.

    Ada yang sebagai pemikir (conceptor), pelaku (executor) dsb. Talenta conceptor umumnya dimiliki oleh kalangan level top management sedangkan sebagai pelaku (executor) yang berada di lapangan. Memang idealnya diharapkan sebagai conceptor sekaligus sebagai executor. Namun hal ini jarang terjadi pada terapan manajemen skala sedang & besar.
    Ilustrasinya seorang Jenderal jarang turun untuk berperang kecuali emergency, namun strategi kebijakan yang dilakukan oleh Jenderal sebagai conceptor berimplikasi terhadap output/result yang dilaksanakan executor di lapangan.

    Kiranya talenta yang dimiliki masing2 SDM khususnya SDM Nias yang telah dicapai sampai saat ini perlu kita syukuri & lebih diberdayakan lagi menghadapi era globalisasi yang kita sedang hadapi bersama. Tuhan memberkati, Gbu.

    Shalom,
    ANG

  4. Kalau nggak salah 1:1000 itu hampir tidak ada, berarti kesimpulannya adalah:

    1. Tidak ada orang yg sempurna yang sekaligus mampu sebagai Pemikir, Pembicara dan Pelaku.
    2. Tetapi saya yakin bahwa kriteria itu pasti ada, karena dalam kehidupan dehari-hari semua itu kita lakukan sekalipun dalam skala kecil.

    bagaimana bos?
    Nehesi

  5. Saya tidak memiliki misi apa-apa dengan tulisan di atas, Pak initial RD, mohon maaf kalau tulisan itu menyindir atau mengganggu teman2. Mohon, bantuannya, dibagian mana yang menyinggung ya pak.

    Pak Efendi Zebua, kita sudah sepakat dari awal bahwa ada waktunya nanti PNB mengumpulkan uang bantuan dari masyarakat secara terbuka. Untuk saat ini, masih belum bisa kta lakukan, tidak untuk saat ini.

    Pak Lius Ndruru, tidak selamanya perjuangan itu memakan korban, tentu peristiwa di Nias Selatan beda dengan di Nias Barat. Namun, yang penting warning bapak itu bagus bagi Nias Barat agar jangan sampai seperti kejadian di NISEL. Terima kasih ya.

    Bapak Ama Rambe, Jangan buru-buru marahin mereka yang cari muka, mereka tidak cari muka seperti komentar yg lain, tetapi mereka sdg berjuang pak. Berdoalah u Team Modar PNB ini. Supaya berhasil.

    Selamat berjuang,
    Mustika Ranto Gulo

  6. Halo Pak Ketua,

    Saya merasa tidak enak bangat dengan artikel ini, sepertinya meninggung banyak orang. Sekiranya dirubah sedikit redaksinya bagaimana?

    Saya terus terang agak takut membacanya, sempat saya ulang-ulang membacanya…sepertinya nggak enak banget ya.

    Yah, terserah, misi apa yang akan anda capai di dalamnya.
    thx
    RD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s