Posted by: Mustika Ranto Gulo on: 6 November 2008
Jakarta, 06 November 2008
Artikel ini murni pemikiran saya yang sempat menerawang dalam rimba keprihatinan bangsa kita yang sedang menuju pesta demokrasi. Apakah identik dengan “Pesta Para Koruptor”? , mudah-mudahan masih ada yang memiliki kemurnian dan kesalehan politik. Mengapa saya tulis topik ini?
Karena saya prihatin terhadap bangsa kita yang masih menduduki peringkat 5 besar negara terkorup di asia, (datanya dari mana? tidak usah dipopulerkan, malu!). Para penjaja cinta dijalanan (maksud saya penjaja jabatan legislatif) di seluruh tanah air, sedang mengatur strategy bagaimana bisa duduk dan bagaimana mendapat sponsor dengan kucuran dana segar tentunya. Termasuk bagaimana nanti menggantinya!
Prosesnya di mulai sejak melirik posisi menjadi calon legislatif saja sudah keluar biaya pendahuluan, yaitu biaya melirik posisi, apa itu? Biaya pemolesan alis mata anda, biaya dasi dan jas yang harus anda pakai pada hari anda melirik posisi itu supaya tampil seakan-akan pejabat atau tokoh yang pintar dan serba bisa. Biaya ini biasa disebut ‘life style cost’. Biasanya gaya bicara calon koruptor ini juga sudah berubah, sering menyebut-nyebut nama pejabat lainnya sebagai backingnya.
Biaya berikutnya adalah ketika si caleg berhadapan dengan penjaga pintu pertama dalam partai yang akan dilirik. Saya tidak bisa melukiskan seberapa besar biaya yang harus anda keluarkan ketika mulai mengeluarkan KTP anda dan mengisi formulir isian disana.
Kemudian, dalam penantian yang tak menentu, anda pasti berhadapan dengan persaingan internal yaitu para caleg lainnya yang akan menyikut anda. Kalau kurang gesit nama anda akan menjadi urutan yang jauh, no 5, 6 , 7 atau nomor terakhir.
Si Mi’un (tokoh Pelesetan) menyatakan ‘ngga apa-apa, ngga apa-apa bang, minimal namaku sudah tertulis di daftar caleg kali ini, hmmmm…. siapa tahu, untung’. Saya hanya geli dan geleng-geleng kepala, saya bilang “Adu nasib nih pak Mi’un?” … dengan malu-malu si Mi’un jawab ‘yah, dari pada nganggur…. coba-coba aja!’. Si Mi’un pasti akan cari ganti biaya menjadi legislatif itu dalam waktu yang sesingkat-singkatnya hanya dalam jangka 5 tahun.
Sketsa ini yang membuat saya terdorong menulis artikel ini, mengapa? Karena kegagalan bangsa kita disebabkan oleh ‘BIAYA POLITIK YANG MAHAL SEKALI’. Dari mana semua biaya itu kalau bukan dari …’mana-mana juga’. Kalau itu murni jerih lelah anda misalnya dari hasil berkebun pisang dan menjual buah pisang itu dengan meneteskan keringat, disertai dengan doa-doa agar Tuhan mengirim pembeli pisang anda, saya yakin anda tak akan menghabisinya untuk “membeli suara nanti, agar supaya saudara mendapat 30 % suara dari DAPEM anda dan akhirnya anda duduk di kursi empuk”.
Si Caleg berkata “Biaya politik sangat mahal, itu biasa, tenang saja, gantinya nanti bisa kita dapatkan semua setelah duduk di DPR RI, DPRD hehehe…. mari kita rame-rame keroyok anggaran apa saja dan mengobo-ngobok anggaran orang miskin, karena mereka kaum yang lemah yang tak akan mungkin membuat laporan ke KPK”.
Saya hanya meniru kalimat si Mi’un di atas, ketika dia mulai menghitung dengan memakai kalkulator di HP tuanya itu, “kira-kira 1 Milyar lah untuk bisa duduk di DPRD tingkat I, bagaimana bang, bisa bantu? nanti saya ganti pada tahun pertama masa bhakti, bantu bang ya?”. Sekalipun si Mi’un pengangguran, namun dia berani mengadu nasib mewakili rakyat yang tidak jelas, siapa dan rakyat yang mana, dia pun ragu ketika saya tanya siapa yang bang Mi’un wakilkan. Sungguh menye4dihkan jika anda berani mempertaruhkan masa depan dengan meminjam uang agar bisa tercapai-cita-cita luhur (cita2 menurut versi si Mi’un) mewakili rakyat yang tak jelas. Untuk apa uang itu? yah, biaya gon-gini, spanduk, leaflet, kopi2, dan entertaiment orang-orang yang mengatur suara nanti, ‘… itu biasa bang’. Apakah sedemikian parahnya kah bangsa kita????
Kesalehan politik itu sudah tidak ada, lihat saja, sudah banyak yang merancang secara perorangan bahkan secara kolektif untuk membagi-bagi suara nantinya. Mereka sudah mulai pasang strategy untuk mempengaruhi para petugas pemilu (sejenis panitia) agar mereka bisa menyedok suara rakyat agar perolehan suara untuk dirinya mencapai quota untuk duduk.
Kemenangan murni seperti Obama di US itu, tak akan ada sebelum adanya ‘reformasi jilid 1000′ terjadi di Indonesia yang kita ciintai ini. Kapan lagi? Mulai sekarang untuk melewati proses yang baik dan siapakan segala sesuatu tanpa kontrak politik apapun, jika anda benar-benar murni memperjuangkan nasib bangsa ini.
Seharusnya bagaimana?
“Menjadi apapun di bangsa ini, itulah adalah pengabdian!”
PNS pun adalah abdi Negara, menjadi Presiden adalah abdi Negara yaitu untuk mengabdi bagi bangsa dan Negara Indonesia, menjadi DPR RI di senanyan, apalagi, itu adalah pengabdian murni yang sangat luar biasa. Wakil rakyat sebaiknya urat malunya lebih sensitif jika ketahun menerima suap untuk meloloskan perizinan penebangan hutan yang merusak 5 generasi berikutnya. Atau mengobok-obok anggaran dan kolusi dengan eksekutif.
Kalau tidak memiliki modal untuk menutup biaya pengabdian itu, janganlah berpura-pura seakan-akan anda seorang tokoh nasional yang diusung oleh 200 juta rakyat indonesia untuk duduk di DPR RI di Senayan sana. Orang ini (si caleg ini alias si Mi’un) tak akan dipilihlah, saya sarankan juga agar jangan memilih orang ini karena akan mencari ganti pinjaman dengan cara korupsi.
Sebaiknya berdoa, agar anda yang sudah terlanjur mendaftarkan diri menjadi CALEG dapat merubah visi dan misi anda bukan untuk menjadi genduk tetapi untuk menjadi kurus, karena pengabdian kepada rakyat membutuhkan tenaga ektra yang membuat anda kurus kering. Mari kita prihatin ini!
Bagaimana cara memutus mata rantai korupsi ini?
Sangat sulit sekali, bahkan banyak yang putus asa, sebab maling teriak maling, lalu siapa yang menangkap maling? akhirnya maling menangkap maling, maling mengadili maling, maling memenjarakan maling dan apa lagi yah? sedih sekali, sebab rasa takut terhadap hukuman akibat korupsi masih bisa dibeli. Kalau korupsinya 100 Milyar, biaya perkara cuma 500.000 rupiah, dan ganti rugi 250. juta rupiah. “Kalau begini hukumannya mah, siapapun akan berani untuk korupsi, itulah yang membuat si Mi’un berani berspekulasi”.
Korupsi, kata yang dibanggakan di beberapa tempat, karena tempat kerjanya adalah area basah yang sulit dijangkau hukum… hehehehe! Oleh karena itu hukuman kepada koruptor seharusnya, lebih berat, ini ide saya jangan dicopy paste ya, “…digantung selama sebulan dilampu merah Thamrin menuju Jalan Sudirman, namun tetap dikasih makan (disuapin oleh istri dan ank-anaknya kalau mau bapaknya tidak mati kelaparan) sehingga sikap jera terhadap korupsi ini benar-benar nyata.”.
Sekaligus saya usulkan ide ini kepada bapak Presiden terpilih nanti di tahun 2009 agar segera diundangkan dan disyahkan oleh DPR RI.
Kalau hal ini berhasil maka mereka yang sudah terlanjur berinventasi untuk menjadi apapun di Negeri ini, akan gigit jari sebab uang mereka tidak akan pernah bisa dikembalikan dari uapaya korupsi. Wah, ide gila ini kog berani banget ya saya menulis artikel ini, musuh kita bakal menjadi banyak. Oh, no problem.
Saran saya, silahkan maju saja, kalau itu anda yakini sebuah panggilan untuk mengabdi, bukan adu nasib, kasihan bangsa kita semakin terpuruk, karena kesalehan politik sudah tidak ada lagi.
Saya sudah bekerja selama 23 tahun sejak umur 19 tahun, tamat dari sekolah di kampung dan merantau di jakarta dengan modal hanya dengan keberanian. Lalu, tetap bertahan untuk hidup dengan membuka lapangan pekerjaan kecil dengan jumlah karyawan yang kecil dan menikmati bagianku sendiri yang diberikan Tuhan padaku. Aku tenang, dan Tuhan memberkatiku. Amin
Ir. Mustika Ranto Gulo
wah benar tuh.. emang korupsi dimulai saat musim kampanye tiba. jaman sekarang sih mahasiswa udah belajar korupsi…
Yes pak Ketum, makanya tak usah ikutan pak, posisi independen lebih enak dari pada ikut main dan kena lumpur dilapangan bola yang becek.
hehe, lucu saja membaca tulisan bapak yang buat greget di atas, bisa-bisa tersinggung abang-abang claeg pak. Pak Ketum, saya bukan pesimis pak, Mana mungkin bisa dihilangkan korupsi khsususnya di Nias. Buktinya, setiap org ingin duduk di jabatan basah dan ingin jadi penguasa dengan cara menyogok.
Noda pemekaran Nias akan terungkap sebentar lagi pak ketum, lihat sajalah nanti. Mereka sdh pakai uang kami untuk menyogok pak. Saya sdg kumpulkan bukti-buktinya pak. akan heboh sebentar lagi.
Maaf kelancangan saya pak ketum, mohon bapak jangan terlibat dengan orang-orang itu pak.
salam dalam kasihNya.
Amin
Buat Lestian Gulo,
Saya akan mendukung anda jika apa yang anda bicarakan diatas benar dan ada buktinya, kita harus usut sampai tuntas. Saya memang sudah cium bau busuk nya tapi aku tidak punya bukti kuat.
Orang KPK saya sudah saya hubungi dan beliau menyarankan untuk bersabar dan jika sudah ada pegangan tinggal saya antar ke kantor KPK.
Salam,
Silikon
Nama saya Lestina Gulo, bukan letian gulo, saya besar di tetesua dan saya tahu persis kehidupan di sirombu! Saya kuliah di IKIP Medan 1999, tamat 2003!
Sori kawan, telad saya baca komentarnya. Usul saya kepada para pejuang rakyat jangan tanggung-tanggung maju terus saja!
Siapa yang layak menjadi DPRD atau bupati? Pengangguran yang masih ngontrak rumah atau mereka yg sudah mapan. Pasti org yang mapan donk!
kalau kayak Pak hia yang ada fotonya di website pilar nias barat itu, saya ragu pak.
makanya lain kali kita seleksi, kacihan masyrakat kita nantinya. Pasti org yg tdk mapan godaan korupsinya gede banget, apalagi suka pinjam sna-sini dan tidak mau dikembalikan pinjamannya. Itu bukan contoh caleg yg bagus.
saya baru tahu kalau Pak ketum pilar itu, tdk sejalan dengan sdr kita eben dan loni. mereka memaki-maki org di website itu ‘dari situ kita sdh menilai mereka sangat kasar dan raja tega’
hati2 dgn pola pikir org sperti ini.
silikon yth, saya adalah sorg guru, wajar kalau menasihati sdr ita agar baik2 saja dan jgn maki2 org di dunia maya. Tuhan nanti balaskan, balasannya sangat tragis. sabar pak Ketum!
Lestina Gulo (Bukan Lestian)
Ya’ahowu !
Sebelumnya saya ingin ucapkan “salam kenal” kpd Ibu Lestina Gulõ.
Saya ingin mengomentari tulisan talifusõda Bp. Ama Maya Gulõ di atas. Memang biaya mesin politik itu lumayan mahal he…8x, dimana diperlukan suatu modal (dana) selain kualitas & kompetensi yang dimiliki masing2 individu yang relatif valuenya.
Political engine depend the condition & situation. Ibarat mesin mobil, maka bisa saja menggunakan engine size: kelas 1000 cc, 1300 cc, 1500 cc, 1800 cc, 2000 cc, 2400 cc, 2500 cc, 2700 cc bahkan lebih.
Demikian juga jika seseorang yang ingin membuka bisnis (perusahaan) baru, maka diperlukan modal selain visi misi, target dst dan pasti ada administrasinya yang salah satu persyaratan administrasinya adalah: SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan). Jika SIUP kecil diperlukan modal setor awal hingga Rp. 200 jt ; SIUP Menengah Rp. 200 – 500 jt ; dan SIUP besar di atas Rp. 500 jt.
Jika untuk bisnis maka modal setor-nya jelas termasuk target (goal) untuk pengembalian modalnya tsb dalam tempo se-singkat2-nya dan meraih laba se-tinggi2-nya dalam kurun waktu tertentu. Artinya prinsip ekonomi yang berlaku.
Para entepreneur & profesional selain menggunakan dananya sendiri, kadang tidak menggunakan dananya tetapi menggunakan dana dari investors. Tentunya investors tsb sdh ‘kenal & trust’ kpd entepreneur & profesional untuk menjalankan bisnis tertentu.
Menurut pandangan saya dengan kondisi yang terjadi saat ini, politik identik dengan bisnis alias serupa tapi tak sama. Jika seseorang berkampanye menghabiskan dana sampai puluhan juta atau ratusan juta bahkan sampai milyard, apakah dana yang telah dikeluarkan tsb hanya diabadikan sbg dana amal atau sosial?
Next question: jika memang motivasi utama dana tsb untuk dana amal atau sosial, mengapa dananya tidak diserahkan saja ke Panti Asuhan atau Rumah Ibadah dsb yang membutuhkan?
Mungkin lebih halus, etis dan elegan dikatakan secara umum… ‘ingin mengabdi’…bla…bla…bla…dst.
Jadi saran saya, jika ingin maju ke gelanggang politik dan bisnis, maka diperlukan suatu modal (tapi tidak mutlak arti modal dalam hal ini dana or uang). Seperti saya katakan di atas, bisa saja ada investors yang berani untuk menanamkan modalnya jika sudah kenal dan yang terpenting “trust” alias dapat dipercaya.
Terkait ‘kapeka’. Boleh tanya: siapa yang mengawasi ‘kapeka’? Apakah yakin ‘kapeka’ jujur 100%? Next question: andaikan saja ‘kapeka’ diberikan gaji/salary setara dengan gaji PNS, apakah ‘kapeka’ jujur 100% dalam melakukan pemeriksaan? Jawabannya relatif.
Saya optimis korupsi dapat diberantas ba Indoonesiaa “jika” gaji pokok PNS Tamatan SMA untuk golongan mulai 2A minimal Rp. 5 juta, tamatan S1 untuk golongan 3A minimal Rp. 8 jt untuk ukuran standar ekonomi tahun ini 2008.
Artinya jika seorang Kepala Dinas di daerah dengan berbagai tunjangannya dsb selayaknya dapat menerima gaji/income sampai Rp. 25 juta sebulan. Kalau Bupati mungkin perlu menerima gaji/income Rp. 50-100 juta/bulan. Kalau anggota DPR RI mungkin perlu gaji/income minimal Rp. 0.25 M per bulan he…8x, maklum sebagian dari gajinya tsb diperlukan untuk support dana2 untuk kepentingan partai dsb.
Demikian sekilas pandangan saya terkait dengan tulisan talifusõda Bp. Ama Maya Gulõ di atas. Kalau Bp. Ama Maya Gulõ pasti tidak melakukan korupsi, maklum…dana income-nya semakin melimpah dan aset/simpanan di bank & lain tempat meningkat terus he…8x all the best & Gbu.
Shalom,
A.NisoGulõ
+6281210130588
Saya setuju dengan Bapak ANG (Ama Niso Gulo)
Tapi Alangkah indahnya Negara ini jika ingin jadi pejabat tidak harus pake modal tapi pake otak.
Saya yakin kalau pemilihan jujur tanpa mengeluarkan dana pasti banyak anggota DPR/Pejabat pemerintah tidak melakukan Korupsi.
Kita kasih contoh saja, seorang Caleg anggota DPR Senayan membutuhkan dana 1-2 miliar untuk bisa duduk di kursi tersebut, jika anggota DPR yang melakukan itu 500 orang saja berarti sudah 1 Triliun dana dihabiskan, dan tentu 2 x lipat dari dana tersebut “HARUS KEMBALI KE KNATONG” masing masing anggota, bererti 4 tryliun dana terbuang sia-sia karena dikorupsi.
Yahowu Pak Gulo
Saya dengar wawancara Pak Gulo di BBC LONDON, disiarkan ke seluruh dunia, sebagian saya bangga dan sebagian ada pertanyaan?
Mengenai pemasokan sayur-mayur di Nias apa benar masih dari Sibolga Sumatera. ???? Mengapa Masy tidak bertani pak?
Mengenai BRR mengapa tidak ada tim audit independent secara fisik, shg Pak willy tidak seenak udelnya ngomong sekian persen tercapai.
Mengenai pemulihan psikis yang bapak Protes, apa ada yang sakit jiwa pak di Nias akibat gempa? Datanya mungkin sulit untuk diklaim bahwa hal itu sdh terjadi. Bagaimana?
Bagaimana pra Kab Nias Barat ke depan apakah kriteria Bupati nanti ditentukan oleh politikus di Nias atau Jakarta ikutan?
http://madogulo.wordpress.com/2008/12/17/wawancara-pak-ranto-gulo-di-radio-bbc-london/
Bagaimana planning kepemimpinan Nias ke depan? Terutama Nias Barat ?
YTH Pak ANG dan LESTINA GULO, John Tavolta dan Mado Gulo, trima kasih atas semua komentar saudara, wacana dan goresan anda saya sambut dengan semangat yang tinggi.
Saya termotivasi kembali untuk menuangkan pemikiran saya di situs kita ini karena tanggapan teman-teman sangat baik dan sukses selalu.
KITA BERHARAP DALAM PEMILU YANG AKAN DATANG FUNGSI BAWASLU DAN KPU/KPUD bisa tegas dan berkarya dengan hati yang tulus mengawasi jalannya PEMILU sehingga menjadi Bersih!!!!!
______________
Biaya Politik
Sangat mahal dan tidak masuk akal jika dihitung secara “FEASIBILITY STUDY”, mengapa karena tidak jelas PAY BACKnya kapan kembali, BEP (Break Event Point) berapa, dan IRR (Interest rate Of Return) berapa. Dengan Harga – kurs dolar saat dan bunga uang yang belum stabil, maka BIAYA POLITIK sangat tidak etis dijadikan sebagai instrument untuk mendapatkan UANG!
Tahun 2009, saya prediksi orang gila akan bertambah minimal 20 % dari angka tertinggi pada Tahun 1988 dan tahun 1999 yang lalu. Kebangkrutan massal akan terjadi dilini kaum intelektual dan para pebisnis kelas menengah kebawah. Karena peluang untuk duduk sebagai Legislator hanya 30% dari total CALEG diseluruh Indonesia. Peluang untuk menjabat juga hanya 1/5 (seperlima) dari peluang yang ada. karena kandidat pemimpin disetiap daerah rata-rata 5 orang (pasang). Nah, siap-siaplah untuk gila atau pura-pura gila!
Mengapa?
Hitungan Bapak John Travolta Daeli di atas sangat pas, dan itu hampir memenuhi syarat untuk menjadi GILA. Karena anda akan diburu seperti penjahat untuk mengembalikan semua uang donasi yang anda pakai selama kampanye. Nah….”BAGAIMANA MENGEMBALIKAN DANA ITU KEPADA DONATUR ANDA, JIKA ANDA TIDAK JADI UNTUK DUDUK?”. Kalau pujn anda jadi duduk, tidak mudah untuk merancang korupsi secara personal sekarang, karena korupsi pasti terjadi secara kolektif! wah…..nanti kita bahas satu Judul saja tersendiri topik ini.
Mengenai “wawancara saya di BBC London” saya tidak dengar hasil siarannya, kapan. Benar saya diwawancara untuk topik BRR, kesimpulan saya BRR adalah MESIN UANG BAGAIKAN ATM selama 2005-2008 ini. Laporannya tidak ada yang bantah di kaum “ELITE” baik dipusat maupun di daerah Nias ataupun Aceh. Semua mengangguk-anggukan kepala tanda setuju kepada setiap LAPORAN BRR. “YES SIR” suara serentak bagaikan Nyayian yang menggema di seluruh Nusantara seakan-akan ada seorang Komandan Master Of Ceremony dalam koncer musik yang memerintah jawaban secara bersama-sama “YES SIR!”. hehehe!
Adr. Lestina Gulo, salam kenal juga sepertinya anda sangat memahami topik ini, semoga nama asli dan tuliskanlah semua ide anda bagaimana membangun Nias ke depan dengan seleksi ketat diantara anak-anak bangsa Nias, khususnya untuk Nias Barat!
Bapak atau Ibu Silikon “sudah mencium bau busuk di Nias, mengenai dana masyarakat yang diselewengkan”. Kalau boleh tahu diselewengkan kemana? ini adalah isu polemik baru yang harus dibuktikan nantinya!
salam ONO NIHA YAAHOWU
Mustika Ranto Gulo
Pak, di Nias ribuan spanduk digantung dari desa ke desa dari kota ke kota dan Nias menjadi berwarna – warni. Saya bangga pak, kayaknya Nias sudah menjadi pulau PELANGI satu-satunya di dunia.
Hebat kan?
EWar
Yaahowu
7 November 2008 pada 2:05 PM
Artikel-artikel di blog ini bagus-bagus. Coba lebih dipopulerkan lagi di Lintasberita.com akan lebih berguna buat pembaca di seluruh tanah air. Dan kami juga telah memiliki plugin untuk WordPress dengan installasi mudah.
Kami berharap bisa meningkatkan kerjasama dengan memasangkan WIDGET Lintas Berita di website Anda sehingga akan lebih mudah mempopulerkan artikel Anda untuk seluruh pembaca di seluruh nusantara dan menambah incoming traffic di website Anda. Salam!