Jakarta, 24 Mei 2008
Melihat realita pembangunan infrastruktur di daerah Nias saat ini, sudah jauh lebih memadai dari pada tahun 2005. Sekarang posisi kita sebagai masyarakat adalah memanfaatkan infrastruktur tersebut untuk mempertahankan kelangsungan ekonomi rakyat Nias. Pembangunan Nias oleh BRR sekalipun disana-sini masih ada kekuarangan, namun kita harus bersyukur karena sudah ada perubahan drastis yang sangat nyata. Tinggal masalahnya apakah Pemerintah Daerah tanggap akan hal ini atau tidak. Bola ada ditangan rakyat Nias sekarang, jangan berleha-leha, mari kita tingkatkan semangat untuk belajar-dan belajar dan memproduksi lebih baik dari sebelumnya.
Masalah kita ada 3 saat ini, yaitu:
- Modal Kerja, yaitu modal kerja masyarakat tani yang sangat minim karena nilai komoditi sangat rendah. Bank yang mendanai usaha kecil masih belum ada, kecuali Koperasi Simpan Pinjam yang merajalela sekarang sebagian besar mengambil bunga tinggi yang bernuansa (berkedok) rentenir. Selain itu Modal kerja masih berupa ‘tenaga sendiri’ tanpa disertai teknologi yang memadai. Contoh, bibit yang diperoleh petani untuk menanam berbagai tanaman produksi disemaikan secara tradisional. Hasilnya pun tidak maksimal karena bergantung kepada alam, belum memakai teknologi pemupukan yang cangkih.
- Tenaga Ahli, yaitu kurangnya tenaga ahli kita yang menggeluti bidang pertanian karena pola pikir yang terpenjara untuk selalu ingin menjadi PNS. Jarang pemuda kita ingin kembali ke sawah, karena belum melihat hasil dan efek yang ditimbulkan oleh agro bisnis itu sendiri. Tenaga Ahli sangat diperlukan, oleh karena itu dibutuhkan lembaga pendidikan misalnya Universitas atau lembaga pendidikan yang menghasilkan generasi ditingkat Ahli Madya.
- Distribusi, yaitu daerah kita telah dipenjara oleh laut disekelilingnya. Distribusi hasil tani sangat sulit dicapai secara maksimal, karena hanya satu pintu gerbang distribusi Nias ke SUMATERA yaitu PELABUHAN SIBOLGA saja. Restribusi yang tinggi dikenakan kepada setiap pengiriman hasil tani rakyat sejak peristiwa gempa pebruari 2005 yang lalu. Mungkinkah hal ini dikarenakan kerja sama antar Pemkab Nias dan Kota Madya Sibolga yang kurang baik? Disertai sikap politik yang akan menghambat pertumbuhan ekonomi kita ke depan, termasuk isu terbentuknya Propinsi Tapanuli dimana Nias tidak ingin bergabung di dalamnya.
Masalah Nias masih banyak, namun tiga masalah pemicu ekonomi di atas merupakan masalah prioritas yang harus segera diselesaikan dengan baik dan cepat. Guna mengisi pembangunan ekonomi rakyat di Nias secara maksimal dengan jangka waktu yang relatif pendek.
Salam
Mustika Ranto Gulo