Potongan Koran Bekas Bungkus Pisang Goreng
Ditulis oleh niasbarat di/pada PMpMon, 21 Apr 2008 22:19:25 +000019Senin 4, 2007
Cerita ini, sebuah fiksi saja, anda harus, baca sampai habis, baru anda mengerti.
Kertas koran yang usang bekas bungkusan pisang goreng si maman, diterpa angin sore itu, saya menangapnya ketika terangkut disela-sela kedua kakiku. Saya sudah lama tidak merokok, sehingga saat-saat seperti ini bagaikan penantin yang sangat membosankan. Jakarta, panas tapi asyik juga untuk membuang waktu menanti matahari terbenam sambil duduk di halte Dukuh Atas.
Kertas koran itu kubolak balik, hanya itu yang kupegang untuk menyibukkan diri dan aku menyimak kata-kata yang sudah buram karena terkena minyak goreng bekas pisang goreng si maman yang masih asyik berjualan di sudut jalan Sudirman yang rimbun itu.
Disisi atas potongan koran itu tertulis, “turut berduka cita atas…” terpotong dan dibawahnya gambar seorang pria yang sudah berumur dibawahnya tertulis “sebagai pimpinan perusahaan PT. (terpotong) dan selanjutnya tidak jelas.
Informasi itu tidak penting bagi saya, tidak peduli, saya tidak kenal, saya membacanya karena hanya itu yang saya dapatkan untuk dbaca. Aku berniat membuang potongan koran ini, tetapi aku sempat membolak-balik kembali. Tiba-tiba ada suara disebelahku “DIA MATI KARENATERLALU BAHAGIA”. Saya kaget, dan langsung mengangkat wajahku ke arah suara itu, saya tanya “SIAPA?”. Jawabnya “ITU KAN ARTIS TERKENAL DIMASANYA, ISTRI MUDANYA MEMBUNUHNYA, KARENA DIANGGAP BEBAN”. Tiba-tiba saya tertarik masuk dalam cerita itu dan tidak terasa senja berlalu, kini jam 19.15 saya lirik jam hanphone saya.
Saya heran orang lain mengenal foto itu tetapi saya mengapa tidak? Cerita tentang hidupnya sangat tragis, dibunuh oleh istri mudanya karena dianggap beban. Lalu, siapa yang mengirim ucapan turut berduka cita? Sejenak saya tertegun, dan mengangkat wajahku kembali ingin penjelasan lebih detail, bertanya lagi tentang orang disebelahku.
Tetapi tiba-tiba dia katakan “Aku juga dengar dari tetanggaku, tentang orang ini, saya sih nggak begitu jelas, coba lihat fotonya?”. Saya segera menyerahkan potongan koran itu, dan menanti jawaban. Saya benar-benar penasaran, dan mengikuti gerak-gerik wajahnya yang kadang mengerningkan wajahnya seakan-akan ada sesuatu cerita baru. Tiba-tiba orang ini berdiri dan pamitan “Maaf, bus saya sdh datang, kertas ini saya bawa, permisi”. Spontan saya berdiri dan meminta potongan koran itu kembali ke saya sambil mengejarnya ke arah bus. Saya paksa agar potongan kertas itu kembali ke saya, tanpa disengaja, saya tarik pundaknya dan dia terjatuh. Wah, kog bisa begini, kepalanya terbentur di aspal dan berdarah.
Spontan orang-orang berkerumun dan berteriak maling-maling, “…oh Tuhan, saya tidak bisa bendung masa yang menginjak-injaknya, ditendang dan diseret, ditinju dan dilempar batu”. Saya berniat membela, tapi tak sanggup. Untung polisi datang, dan memisahkan masa yang beringas, hampir saja dibakar hidup-hidup. Situasi sangat tegang dan saya masih mengikuti polisi yang membawanya ke Mobil Patroli.
Saya ingin bersaksi, bahwa orang ini bukan maling, itu hanya salah pengertian saja, saya ikuti polisi itu. “Pak, orang ini bukan maling, itu hanya salah pengertian saja pak”. Polisi itu berbalik dan berkata “APA? Kau ternyata komplotannya ya, sini kamu.!” Aku berontak dari tangan polisi itu, dan langung memborgol tangan saya ke tangannya sendiri.
Wah, kog bisa begini ya, dalam hati saya, tiba-tiba saa ditonjok dari belakang oleh salah seorang masa disitu. Lumayan sakit bahkan saya hampir jatuh, polisi membiarknnya. Setelah sampai di kantor Polisi, saya baru sadar bahwa handphone saya dan dompet saya pun sudah hilang.
Saya di BAP dan kawan itu juga di BAP, sambil menangis menahan rasa sakit karena mukanya habis babak belur, diulurkannya tangannya ke arah saya, “maaf, ini dompetmu, ….!” Sambil gemetar, dia berdiri merogoh celana dan duduk kembali “ini, hpmu, maaf ya”. Kagetnya ya Tuhan, dasar maling……! Polisipun melepaskanku, saya langsung pergi dengan bengong.. Tiba-tiba dia teriak “he, ini koran kamu, nah!”. Potongan koran itu masih dia pegang, dia lempar ke muka saya. (¿)
PMpThu, 24 Apr 2008 13:45:34 +000045Kamis 4, 2007 pada
Ceritanya bagus, saya suka alurnya namun masukan:
1. saya usul harus ada nama tokohnya yang jelas, ini usul. memang sih anda ngga kenal sama pelakukan, jadi kesaksian ini langsung anda ceritakan.
2. maknanya sangat dalam, berbagai penafsiran yang sangat mendidik tentunya, ringan ceritanya. Pengalaman sehari2, good.
kritik, contoh:
- ngapain duduk-duduk di sana (halte dukuh atas) anda akan menjadi sasaran empuk, pasti aja. Ini pelajaran bagi kita, agar jangan membuang waktu ditempat yg tidak pas, go back to home aja, dan kerjakan hal2 yang baik.
- Cerita ini tidak menyindir orang lain, baguslah! PENJAHAT berpura-pura menjadi orang baik, mereka sok tahu, lebih tahu dan sangat tahu bahkan mereka sdh tahu caranya bagimana anda dikerjain sampai habis. Manis mulutnya luar biasa, kadang mengurus yang bukan urusannya, memberi informasi berlebihan mengenai foto org yang meninggal di koran itu, padahal cuma mengalihkan perhatian anda kan? dia pasti salah mengenai cerita orang yg mat itu, seharusnya anda langsung curiga, … akhir cerita bagus menuju klimaks, karena sasarannya adalah dompet anda sendiri. Anda sempat membela kan? bahkan kalau usul lagi, saat membela minimal anda kena lemparan batu, jangan hanya tinju. Kaget, kan? good, mengapa? bayangkan HP ikut hilang tanpa disadari…bagus sekali, ini menunjukkan pelaku itu sudah lihai dalam pofesi itu.
- di akhir cerita saya usulkan untuk ditambah reaksi polisi yg BAP, apakah dia berpihak ke siapa? jgn2 ada kong kali kong dgn pelaku, namanya juga cerita, aku curiga begitu karena ketika brg anda dikembalikan polisi kog ngga ada reakasi. Tambahkan seikit.
- Metode penulisan cerita hampir saja sempurna, ini jujur, jgn tersinggung. Bagus kog, ada bakat luar biasa untuk anda. GBU