PENYESALAN SELALU DATANG TERLAMBAT, LALU HARUS BAGAIMANA?
Ditulis oleh niasbarat di/pada PMpThu, 10 Apr 2008 21:07:16 +000007Kamis 4, 2007
Artikel (Mustika Ranto Gulo),
PESAN KEPADA PEMIMPIN MASA DEPAN “PENYESALAN SELALU DATANG TERLAMBAT”.
Takut gagal dapat berakibat fatal, sebab kegagalan dapat memicu kita untuk mengambil langkah yang biasa disebut ‘takabur’, atau gelap mata. Sikap emosional ini merupakan tindakan yang bodoh karena bertindak tanpa memikirkan resiko-resikonya. Seharusnya orang yang bijaksana yang memiliki kharisma sebagai calon pemimpin (minimal sebagai pemimpin rumah tangga) seharusnya menimbang apa untung ruginya dari setiap keputusan yang kita ambil. Pertimbagkanlah resiko yang lebih besar sebagai efek dari tindakan ’takabur/brutal itu’.
Banyak pengalaman terhadap berbagai kasus, misalnya seorang aparat menembak istrinya karena cemburu buta lalu membunuh dirinya sendiri. Seorang pria melempar bom molotov kepada pacarnya karena cemburu buta juga. Seorang bawahan menembak kepala komandananya karena merasa gagal bersaing mencapai jabatan tertentu dalam hidupnya. Akhirnya mendatangkan bencana yang sangat disesali oleh semua pihak.
TAKUT GAGAL, ATAU TAKUT DIANGGAP GAGAL, MENCARI SENSASI SUPAYA TIDAK DITUDUH GAGAL
Penyesalan selalu datang terlambat, setelah kejadian itu, lalu disesali, semua orang geleng-geleng kepala; mengapa hal itu terjadi, pada hal orang itu seorang sarjana. Misalnya seorang tukang jagal di Nias menjagal satu keluarga (tetangganya sendiri) di Sifalaete - Gunungsitoli Nias, karena takut gagal. Ada juga yang tujuannya tadinya hanya menakut-nakuti saja, tetapi akhirnya serius dan akibatnya fatal.
Nah, belajar dari peristiwa - peristiwa ini, merupakan pelajaran berharga, kita bisa menarik pelajaran, bahwa orang yang tidak bisa menimbang-nimbang efek perbuatannya -’ceroboh’ adalah orang-orang yang tidak sanggup mengendalikan emosinya. Mereka takut gagal dalam persaingan hidup sebagai orang pintar yang bertindak bodoh.
BIAYA KEBODOHAN SANGAT MAHAL
Karena kebodohan seseorang harus menanggungnya selama 4 tahun dalam penjara, kasihan istri dan anaknya. Biaya kebodohan ini sangat mahal, oleh karena itu berhati-hatilah bertindak. Sebagai seorang yang lebih berpengalaman seharusnya memberi pelajaran kepada orang yang lebih muda untuk menyelamatkan masa depan mereka. Namun, dalam masyarakat kita justru kita temukan orang yang sama predikatnya dengan orang-orang seperti di atas, apalagi kalau mereka seorang sarjana tetapi bodoh dan lemah menganalisa masalah padahal mereka memiliki jabatan-jabatan sosial dan jabatan keagamaan.
SEHARUSNYA TAHAN DIRILAH
Tidak bisa menahan diri, mudah terhasut tanpa pertimbangan, mudah terbawa emosi tanpa memikirkan istri dan anaknya yang menanggung resiko akibat kebodohannya. Akhirnya penyesalan bercampur aduk dengan kebencian, dan mengandung dendam dan melahirkan kelaliman. Biasanya mereka bertobat setelah duduk dalam penjara untuk beristirahat beberapa waktu lamanya.
SANGAT DISAYANGKAN
Banyak kasus-kasus lain yang nyata dalam masyarakat kita, contoh, laporan seorang ‘oknum’ dibidang pendidikan yang membuat laporan pengaduan tentang ‘pencemaran nama baik dan fitnah’. Setelah diuji materinya oleh aparat, ternyata tidak memenuhi syarat sesuai tuntutan, kasihan karena tidak bisa dibuktikan sesuai dengan pasal 130 dan 131 KUHP yang berlaku di Republik Indonesia.
Lalu, bagaimana jadinya? Jika akhirnya orang ini terpaksa mendekam dibalik jeruji karena membuat laporan palsu (membohongi petugas) termasuk para saksi2 palsu juga, sesuai KUHP 316 dan 317? Tentu hal itu sangat disayangkan dan sangat disesali. Karena ditudungi oleh kebencian, gagal dalam berorganisasi, sehingga dendam, tidak sempat berpikir resiko apa yang terjadi. Apakah kita puas melihat mereka menanggung akibat kebodohan dan kecerobohan itu? Atau ini jalan menuju pertobatan dan pengalaman pahit yang patut menjadi “PELAJARAN” bagi generasi kita? Kita lihat nanti apa yang terjadi dalam liku-liku hidup ini, masih panjang perjalanan.
SOLUSI?
Bagaimana pun juga, kita masih memiliki rasa belas kasihan yang sangat dalam kepada saudara-saudara kita, karena memikirkan keluarganya yang akhirnya pasti menderita, karir dan masa depan mereka hancur. Sekalipun penyesalan selalu terlambat datang, belumlah terlambat karena masih ada waktu untuk kembali ke jalan yang baik. Jangan sampai ada penyesalan berikutnya … yang seharusnya tidak usah disesali lagi, jangan menjadi bebal. Pepatah Nias, “SILU SOTORA SIMBOLO AFASI, HASOWOHO ZILOMOI BAZISOKHI” artinya hanya orang yang tidak waras yang tidak mau diajak baikan, saling memaafkan. Bagi saudara-saudara yang memiliki masalah yang sama, cepat-cepat selesaikan sebelum semua terlambat untuk yang kedua kalinya.
SARAN THEOLOGIS
Saya saran, ini hanya berlaku kepada mereka yang sudah menerima pengampunan dari TUHAN YESUS, Yaitu:
“PANJANG SABAR DAN BESARLAH KEMURAHANNYA, DIALAH TUHAN DIATAS SEGALANYA, YANG LEBIH DULU MEMBERI NYAWANYA BAGI KITA YANG BERDOSA, SIAPAKAH KITA SEHINGGA TIDAK MENGAMPUNI SAUDARA KITA SENDIRI?” Kalmat ini telah menguatkan saya, mari melepaskan pengampunan.
Artinya kita sudah berhutang nyawa karena mendapat pengampunan dari Tuhan Yesus secara cuma-cuma, tujuannya supaya kita memberi pengampunan juga secara cuma-cuma kepada siapapun yang bersalah kepada kita. Itulah alasannya mengapa kita tidak memiliki hak untuk membalas kejahatan kepada orang yang menyakiti kita, sebab PEMBALASAN ADALAH HAK TUHAN.
PENGAMPUNAN MENGALAHKAN DENDAM
Melepaskan pengampunan tidaklah mudah, bayangkan cacian dan makian yang kita terima serta fitnah yang disebar keseluruh dunia melalui internet; secara manusiawi, siapa yang bisa mengampuni hal itu?
Sangat sulit sekali saudara untuk melakukan hal itu. Namun, PENGAMPUNAN MENGALAHKAN DENDAM, itu adalah seumpama salib yang harus kita dipikul selaku saksi Kristus. Kalimat ini: “Disini ada pengampunan”, saya bordir dikantong baju sebelah kananku, sebagai tanda bahwa kita tidak perlu membalas. HANYA ORANG YANG SUDAH DIMENANGKAN HATINYALAH YANG BISA MEMBERI PENGAMPUANAN.
MARI RAMAI-RAMAI MENGAMPUNI ORANG YANG BERSALAH KEPADA KITA (sesuai doa ‘BAPAK KAMI’ yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Amin.
PMpFri, 11 Apr 2008 16:30:09 +000030Jumat 4, 2007 pada
Salam sejahtera buat kita semua, Yahowu!
Redaksi, hayae mbua wangera-ngeragu!
Sejuk rasanya membaca tulisan ini, tidak seperti yang diberikan oleh dunia (baca:media) kini. kontennya menguatkan, informatif, mempersatukan, berkualitas. Saya kira, hal ini perlu dipertahankan, sehingga menjadi sumber pembelajaran bagi para pengunjungnya.
Apa yang diberikan media kini, ialah : “…perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah,kedengkian, … dan sebagainya” Gal. 5:19-21.
Kalau perlu, redaksi membuat tulisan sistematis dengan Visi & Misi, yang membawa : “…kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,kelemahlembutan, penguasaan diri, Gal. 5:22 sehingga NIAS yang satu tidak berkeping-keping.
Saya membaca tulisan-tulisan di website-website NIAS yang semangat atau rohnya menanamkan perbuatan daging di atas. Sehingga, jikalau tidak di imbangi dengan informasi yang menyejukkan dan benar akan membahayakan persatuan dan persaudaraan kita sesama orang Nias. Sebab, kemampuan pengunjung dalam mengelola informasi, berbeda-beda.
Jika perlu, diadakan semacam diskusi kritis, tentang dampak tulisan-tulisan (kese-kese) di website-website Nias ini. Menurut penglihatan saya yang terbatas, dampak negatifnya banyak. Antara lain : munculnya kecurigaan di antara ‘kita’, tersumbatnya komunikasi antar si ‘farisa-risa’, dan masih banyak dampak negatif lainnya. Jika redaksi punya akses ke teman-teman yang punya website-website sesama orang Nias, baik kalau di diskusikan, demi kemajuan NIAS seutuhnya.
Dampak lainnya, coba perhatikan mereka yang tadinya suka menyampaikan buah pikiran bagus di niasisland.com mis: Pdt. Juliman Harefa, Ibu Onie fa’u, Bapak kita Matias J. Daeli, Etis Nehe, Famataro Zai, dst., sudah tidak mau berkunjung lagi. kenapa ?
Se ia dengan sambutan ketua umum HIMNI waktu MUNAS I PNB, bahwa ‘bukan zamannya kita berjalan sendiri-sendiri,…dst’ saling sikut, saling fitnah, saling menjatuhkan. Sebaliknya mari bergandengan tangan dalam segala hal, termasuk dalam media website ini.
SUARA KEPRIHATINAN.
Membaca komentar-komentar yang tidak membangun di ruang diskusi, pada website-website NIAS, memberikan signal bagi saya pribadi, keberadaan intelektua Nias sesungguhnya. Bagi saya mereka yang bisa berkomunikasi melalui internet ini, tenga niha mbanua, tetapi mereka yang berpendidikan dan calon pemimpin masa depan. Apa jadinya Nias kalau demikian ?
Jika Pak Yosafati, Pak Ranto, Pak Eben, dll, yang mencari solusi ini, lalu siapa lagi ?
Pemanasan global bukan rahasia lagi. mari kita sikapi juga dengan buah pikiran yang sejuk, membawa damai, sukacita, berkat bagi seluruh dunia.
Kiranya bermanfaat
Yahowu!
PMpMon, 14 Apr 2008 15:07:47 +000007Senin 4, 2007 pada
Kepada Sdr. Pdt Haeli Hia, STh
Puji Syukur kehadirat Tuhan, karena kasihNya telah memenuhi hati kita semua.
1. Tangan yang bersih menghasilkan karya terindah dan mulia. Tulisan ini berulang2 saya tuliskan supaya “KANDIDAT CENDEKIAWAN NIAS” mamu menciptakan goresan tentang budaya dan filsafat NIAS yang sangat tinggi nilainya itu. Namun bertolak belakang dengan karya teman2 kita d dunia cyber, sangat memprihatinkan. Tetapi masih ada yang memiliki hati nurani, mereka terus menerus mengabdi untuk menulis hal2 yang belum diungkapkan sebelumnya baik teknoogi maupun budaya kita.
2. Siap sedia membangun Nias, tidak tenggelam dalam pola pikir penghancur yang melawan kebenaran yang menghalangi kita membangun kesatuan dan persatuan. Sebaiknya kita bergandeng tangan berperang melawan ketertinggalan NIAS, kita tidak memiliki harta yang banyak untuk membangun Nias, namun hanya iman saja sebab perjuangan kita bukalah melawan komentar sdr2 kita sendiri dalam situs/website di cyber media.
Saya memegang FIRMAN TUHAN(II Korintus) 10:4 karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng.
10:5 Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,
10:6 dan kami siap sedia juga untuk menghukum setiap kedurhakaan, bila ketaatan kamu telah menjadi sempurna.
10:7. Tengoklah yang nyata di depan mata kamu! Kalau ada seorang benar-benar yakin, bahwa ia adalah milik Kristus, hendaklah ia berpikir di dalam hatinya, bahwa kami juga adalah milik Kristus sama seperti dia.
10:8 Bahkan, jikalau aku agak berlebih-lebihan bermegah atas kuasa, yang dikaruniakan Tuhan kepada kami untuk membangun dan bukan untuk meruntuhkan kamu, maka dalam hal itu aku tidak akan mendapat malu.
10:9 Tetapi aku tidak mau kelihatan seolah-olah aku menakut-nakuti kamu dengan surat-suratku.
10:10 Sebab, kata orang, surat-suratnya memang tegas dan keras, tetapi bila berhadapan muka sikapnya lemah dan perkataan-perkataannya tidak berarti.
10:11 Tetapi hendaklah orang-orang yang berkata demikian menginsafi, bahwa tindakan kami, bila berhadapan muka, sama seperti perkataan kami dalam surat-surat kami, bila tidak berhadapan muka.
10:12. Memang kami tidak berani menggolongkan diri kepada atau membandingkan diri dengan orang-orang tertentu yang memujikan diri sendiri. Mereka mengukur dirinya dengan ukuran mereka sendiri dan membandingkan dirinya dengan diri mereka sendiri. Alangkah bodohnya mereka!
10:13 Sebaliknya kami tidak mau bermegah melampaui batas, melainkan tetap di dalam batas-batas daerah kerja yang dipatok Allah bagi kami, yang meluas sampai kepada kamu juga.
10:14 Sebab dalam memberitakan Injil Kristus kami telah sampai kepada kamu, sehingga kami tidak melewati batas daerah kerja kami, seolah-olah kami belum sampai kepada kamu.
10:15 Kami tidak bermegah atas pekerjaan yang dilakukan oleh orang lain di daerah kerja yang tidak dipatok untuk kami. Tetapi kami berharap, bahwa apabila imanmu makin bertumbuh, kami akan mendapat penghormatan lebih besar lagi di antara kamu, jika dibandingkan dengan daerah kerja yang dipatok untuk kami.
10:16 Ya, kami hidup, supaya kami dapat memberitakan Injil di daerah-daerah yang lebih jauh dari pada daerah kamu dan tidak bermegah atas hasil-hasil yang dicapai orang lain di daerah kerja yang dipatok untuk mereka.
10:17 “Tetapi barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.”
AMIN