Nias Barat Siapa Yang Punya ?

I LOVE YOU NIAS

  • Top Posts

  • KITA ADALAH HAMBA KEBENARAN

    Jadilah hamba kebenaran,Hamba tidak memiliki hak untuk membenarkan diri, Hamba tidak memiliki apa-apa di dunia ini, Hamba bukan ahli waris, Hamba pasti tidak memiliki harta yang melebihi kekayaan Tuannya. Hamba Kebenaran tidak melawan kebenaran, Hamba kebenaran pasti dihina dan dicaci karena berjuang demi kebenaran, Seorang Hamba lebih rendah dari tamu-tamu Tuannya, Hamba kebenaran adalah HAMBA TUHAN, Hamba tidak berkuasa atas dirinya, dan Hamba Kebenaran Tidak Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Salam, Mustika Ranto Gulo. Pemerhati Nias Barat
  • BERKOMUNIKASI DENGAN KUASA

    Baca Buku "BERKOMUNIKASI DENGAN KUASA" oleh Charles H. Craft. Kami referensikan buku ini karena mampu memberi inspirasi yang sangat nyata dalam berkomunikasi. Buku ini sangat berguna sebagai buku pedoman bagi para KOMUNIKATOR KRISTEN yang menerapkan metode Komunikator ala Tehologi Kristen. Saya yakin buku ini mampu bekuasa untuk mengantar anda kepada level kehidupan baru dalam rangka bagaimana anda berkomunikasi dengan baik.
  • PILAR NIAS BARAT

    SEJARAH PILAR NIAS BARAT Pada tanggal 5 Mei 2007, Segenap Masyarakat Nias asal Nias Barat berkumpul di Aula DPP Partai Golkar DKI Jakarta di Jalan Penggasaan Barat No 24 Jakarta Pusat dan menyatakan dengan tekad bulat untk mendirikan organisasi bernama "PILAR NIAS BARAT". Pada saat itu melakukan pemilihan pengurus DPP Pusat dengan hasil yang sangat demokratis adalah Ketua Umum Ir. Mustika Ranto Gulo, Sekretaris Umum Meiatasi Dolai, Bendahara Umum Otenieli Hia. Dalam Rapat tersebut diputuskan bahwa target 6 bulan pertama kerja Pengurus DPP dengan harapan dapat mencapai hasil adalah: 1. AD/ART dan Pengurusan Legalitas sebagai LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) 2. Membuka DPW dan DPC diseluruh Indonesia dan mengutamakan Wilayah Nias dan Sumatera Utara dan Jawa. 3. Melaksanakan Deklarasi Pilar Nias Barat (telah dilaksanakan tgl 26 Mei 2007) di Gedung Landmark Lantai 22 Tower A Jalan Sudirman No.1 Jakarta Pusat. 4. Melakukan kunjungan dan dengar pendapat kepada semua instansi pemerintah yang terkait dengan PEMEKARAN DAERAH. (5) Melakukan event SEMINAR tentang Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam menyikapi Pra Pemekaran Nias Barat. 6. Mengajukan Permohonan ke BI dan Bank Swasta agar membuka kantor bank cabang pembantu di Kecamatan Lolofitu Moi, Kecamatan Mandrehe dan Kecamatan Sirombu sebagai kantong-kantong ekonomi rakyat. 7. Mempersiapkan MUNAS pada awal tahun 2008 di Jakarta untuk meletakkan Garis-Garis Besar Haluan Organisasi Pilar Nias Barat. Berbagai program lainnya yang akan dikonsolidasikan terus kepada komponen masyarakat Nias di Jakarta termasuk kepada PANITIA BPP KANISBAR di Nias, SUMUT dan Jakarta. "SALAM SUKSES PILAR NIAS BARAT"
  • Kertas Putih Yang Tercoret Tanpa Arti

    Hidup ini bagaikan lembaran kertas putih yang polos dan tak beracat cela. Hari-hari kita satu menit ke depan sungguh tak terduga. Tidak ada seorangpun yang sanggup memahami masa depan sekalipun dia seorang peramal ulung. Kertas putih itu kita isi dengan sebuah lukisan yang sangat indah yaitu lukisan tentang kehidupan. Ada yang melukisnya dengan warna yang sederhana, bahkan ada yang menuangkan ribuan warna-warni, ada yang membiarkannya tanpa cretan apapun, banyak yang berdiam diri dan tidak berbuat apa-apa dalam hidupnya. Ada juga orang yang hanya menunggu uluran tangan sang pelukis lain, dia berharap agar orang lain yang menorehkan warna kehidupan dalam hidupnya, sangat tragis. Mengapa bukan kita sendiri yang menorehkan lukisan itu ? Bukakah kita berhak berbuat apa saja dalam hidup kita ? Apakah itu baik atau jahat, keputusan ada dalam tangan anda. Saran saya, jangan biarkan ada tangan lain yang memberi warna dalam hidup anda. Dan berikanlah yang terbaik dalam lukisan itu, yaitu kebajikan dan kemurahan, suka cita, kasih dan sebagainya yang dipandang baik dan mulia. Jagalah, kwalitas tinta dan tatalah warna-warninya yang bisa dipandang manis dan lemah lembut. Sungguh hari esok ada, dan semuanya terserah anda bagaimana melukisnya dengan indah. Kertas Putih yang tercoret tanpa arti, membuktikan bahwa kita tak berarti pula, kita telah menyia-nyiakan waktu begitu saja berlalu. Hari ini, telah kulukiskan dalam hidupku sesuatu yang baik dan mulia, aku akan buktikan. Amin. Ir. Mustika Ranto Gulo
  • MULAI DARI DIRI SENDIRI

    Bangsa yang makmur berasal dari keluarga yang makmur dan keluarga yang makmur berasal dari setiap individu yang makmur. Individu yang makmur berasal dari produktifitas dan efesiensi yang maksimum. Jika kita menghasilkan yang baik tentu efek baliknya terhadap keluarga dan bangsa. Jadilah entrepreuner yang sejati untuk meningkatkan produktifitas dan efesiensi hidup yang baik. Saya selalu mengusulkan agar SDM Nias selalu berpikir dan belajar menjadi enterpreuner. Maaf, tidak betujuan merendahkan prinsip dan pola hidup aman yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Nias saat ini yaitu ramai-ramai menjadi "PEGAWAI NEGERI". Padahal sumber daya alam yang dapat diolah sangat menjanjikan di daerah kita, sedangkan gaji PNS belum diperbaiki oleh pemerintah, masih dibawah rata-rata Pendapatan perkapita Regional Asia. Akibatnya sangatlah fatal, karena biaya hidup besar, akhirnya terjerumus dalam Lingkaran Setan yaitu mencari peluang dan kesempatan lain. Misalnya menghemat anggaran dilingkungannya agar dapat dinikmti (dikorupsi). Faktor utama yang membuat bangsa ini semakin terpuruk adalah cara dan pola hidup seperti ini. Coba, jika kita memilih untuk menjadi enterpreuner, maka cara-cara diatas dapat diminimalis bahkan tidak akan terjadi. SAran, mulailah dari diri anda sendiri untuk memulihkan bangsa ini. Pulihkan dirimu sejak dini sehingga keluargapun dapat dipulihkan juga, yang pada akhirnya membawa dampak bagi kemakmuran Nias dan bangsa kita. Oleh Ir. Mustika Ranto Gulo
  • Arship

  • Kategori Tulisan Adalah:

ORANG NIAS DALAM PRESPEKTIF BUDAYA PRIMITIF

Ditulis oleh niasbarat di/pada AMpSun, 20 Jan 2008 01:59:46 +000059Minggu 4, 2007

Saya sangat tersinggung sekali, ketika suatu waktu dalam acara seminar yang membahas “Hilangnya niat dan cinta Generasi muda terhadap budaya suku-suku di Indoensia”, seorang teman mengklaim kalau “Orang Nias itu congkak dan sangat sombong sekali”.

“Terlihat dari cara makan dan berbicara, itu hal-hal yang sangat sederhana. Kalau ada pesta Nias, harus ada hidangan adat yang khas, daging berlemak, jika hidangan dan menu tradisional itu tidak ada maka acara itu sangat menyedihkan. Ini adalah pembuktian pendahuluan dari saya” Ujarnya.

Saya berusaha menahan diri dan segera menyembunyikan sikap saya yang sempat berang dengan kata-kata itu. Setahun kemudian saya baca kembali buku harian saya itu dan akhirnya saya analisa alasan-alasan teman saya itu, saya pikir mungkin ada benarnya. Hana?

  1. Orang Nias itu hebat, karena sekalipun tak punya apa-apa, tetap mampu melakukan pesta besar. Mengapa? Karena tradisi bahwa di Nias itu, sudah terbiasa melakukan pinjam meminjam. Luar biasa dan sangat hebat karena transaksi tersebut tanpa jaminan. Pinjam meminjam dalam bahasa Nias (Molu’i So’ono, Mondra’u Bawi, Fosusu Zulo-zulo, dan seterusnya). Dimana-mana terjadi transaksi pinjam meminjam, sehingga budaya kerjanya sangat memprihatinkan seperti “Manguri bawi. Artinya beternak babi (sebagai penghasilan utama di Nias) dengan cara memelihara induk babi (sigelo) milik pemilik modal dan memeliharanya sampai beranak. Dan sebagai imbalannya adalah harus membesarkan anak-anak babi tersebut untuk menyicil pinjaman tersebut. 
  2. Orang Nias itu hebat, karena sekalipun dalam kondisi seperti itu,namun masih bisa menjamu tamu-tamunya termasuk ipar (La’o), dan semua keluarga mertua. Itulah kata-kata (pesan adat) saat seorang pria mempersunting seorang wanita, pihak kelaurga pria berpesan begini “Heno ngahono mbowo No awai, bahiza la’o, oroisa nda satua sangi’ila huku, lamane Hono mbowo sa no tochai”. Wah, ini sangat licik sekali, artinya Sekalipun utang jujuran sudah lunas saat ini, namun utang itu sesungguhnya masih belum tuntas, sampai mati dan ke anak cucu, masih tetap saja berutang, yaitu utang yang tidak ada batasan nilainya termasuk utang budi kepada pihak keluarga inti dan keluarga besar si perempuan sampai keturunannya kelak.
  3. Orang Nias itu sombong, selalu ingin memamerkan dirinya, keberhailannya dan kekayaannya sehingga membuat orang lain menjadi cemburu dan iri hati. Buktinya apa? Roh Tradisi Pesta Owasa di Nias sudah mengakar, karena pesta Owasa itu adalah pesta membeli Nama Besar yaitu Gelar Balugu (yang diagungkan) dengan syarat harus bisa memberi makan ribuan orang dengan gratis, dan saat itu si Balugu Mamozi Ana’a atau Malu Ana’a artinya Melebur Emas simpanannya di depan orang-orang banyak / Masyarakat. Dan menyatakan dirinya bahwa mulai hari ini saya dipanggil Balugu, “semua orang harus memberi hormat saat si Balugu pergi kemana-mana dalam keadaan di tanduk diatas osang-osang”. Budaya Pesta Owasa, mungkin saja belum dilakukan di Jakarta dan kota besar lainnya di Indoensia, namun sifat dan roh tradisi itu telah tertanam dalam diri generasi kita. Orang Nias gemar melakukan pesta dirumahnya, jika ada sesuatu yang ingin diperlihatkan kepada masyarakat. Sageu nono mbawi mate ero alua acara (Acara Sikola Wangandro atau Arisan dll). Jadi, jika pesta atau acara dalam setahun 6 kali saja, maka anda tinggal hitung berapa anggaran ke sana. Akibatnya, orang-orang yang tidak sanggup melakukan hal yang sama, menjadi iri hati karena mereka tak pernah sanggup membalas acara tersebut dilakukan di rumahnya.

Saya tidak mengerti, bagaimana caranya untuk memberi pemahaman baru, bahwa budaya dan tradisi kumpul-kumpul ala Nias itu sebaiknya dikurangi. Tidak mesti setiap bertemu ada jamuan adat simbi mbawi. Bukan berarti tradisi itu ditinggalkan, namun sudah tidak efektif lagi jika dilakukan pada saat ini.

Semoga orang Nias dimana pun lepas dari budaya primitif itu dan menjadi bagian dari manusia seutuhnya selayaknya hidup yang hemat dan bisa menabung demi masa depan anak-anak dan hari tua kita.

Jangan heran kalau ada di Nias yang berhutang sejak menikah sampai hari tuanya belum lunas, hanya karena salah hitung seperti ini. Oips, bukan salah hitung, tetapi benar-benar tidak berhitung.

 

Salam Nias Yaahowu !

Mustika ranto Gulo

28 Tanggapan ke “ORANG NIAS DALAM PRESPEKTIF BUDAYA PRIMITIF”

  1. press Berkata:

    Maaf, tulisan ini sangat tidak etis dibahas dipublik, karena menyangkut harkat martbat suku bangsa Nias. Anda hanya memberi koreksikepada nenek moyang kita yg sudah tiada. Kalau tradisi itu masih ada, itu artinya berguna bagi kemanusiaan. Mungkin bagi anda tidak ada artinya.

    Jadi, jika masih berkenan, mhn di edit atau ditunda dulu tulisan itu sebelum menjadi bahan bacaan yang tidakl layak dan tidak mendidik. Koreksi dari tulisan itu bersifat metode penulisan dan juga latar belakang penulisan.

    selamat pagi 5.30.WIB (Jam situs ini salah)
    Press

  2. press Berkata:

    Yaahowu Pak Ranto, maaf sekali ini saya harus menyatakan tidak seuju atas tulisan anda ini, saya pasti beralasan. Sebelumnya saya bangga dgn tulisan lainnya di http://niasbarat.wordpress.com anda. Tetapi izinkan saya koreksi anda secara terbuka dan secara metologis:

    Budaya Nias sama dgn budaya suku lainnya, mungkin saja sudah ada sejak ribuan tahun yg lalu. Secara turun temurun Nenek moyang kita menurunkan tradisi itu, sampai ke kita hari ini. Bisa saja terjadi transformasi secara alami dan itu wajar. Nah, yang saya tidak setuju adalah, anda tidak konsisten untuk mengatakan mari kita lestarikan budaya Nias, malah sebaliknya berusaha untuk meninggalkan tradisi contoh Pesta Owasa yg anda maksud.

    Maaf sekali lagi, ini hanya masukan saja agar pembaca jangan menganggap bahwa Pesta Owasa itu tidak baik, dan membawa sengsara bagi orang Nias. belum ada suatu research tentang hal itu. Secara logika scientic, saya bisa menerima tulisan anda, namun dalam koridor opinion saja.

    Pesta Owasa dan beberapa tradisi yang ditinggalkan dan sdh tidak dilakukan lagi di nias (Jarang) karena faktor lain juga tidak mesti karena kebodohan atau karena pendidikan. tetapi faktor dari pengaruh budaya luar ternyata lebioh dominan.

    Mohon kalau bisa, masukan saya dapat diterima dan diluruskan, bahwa bukan dilupakan tetapi dilestarikan sekalipun itu tidak dilakukan lagi seperti ESENSI PESTA OWASA SESUNGGUHNYA.

    Salam Kompak
    Pressmuadi

  3. Gambabio Berkata:

    yahowu fefu, …saya lihat tanggapan pak pressmuadi berlebihan, tidak yg istimewa dgn artikel ranto itu, biasa saja.

    Jadi tak usah ditanggapi berlebihan, malah ranto bisa menganggap dirinya sudah menyentuh esensi seorang Budayawan Nias… hehehe!… terlalu dini bung!

    sudahlah mari bersatu dalam doa… doa selesai…amin!

  4. MHD Berkata:

    Syalom pak Gambabio dan abang Pressmuadi, sebagai kuli tinta saya bukan membela abang Ranto. Tulisan itu tidak ada merugikan orang nias sama sekali, bahkan kita terima kasih telah merumuskan apa yang menjadi kelemahan kita dal kultur Nias yang sesungguhnya. Orangyang menyadarinya pasti bertobat dan sukses di Jakarta dan kota lainnya, tetapi kalau masih berpikir primitif yah, jangan salahkan panulis ini donk.

    Mustika ranto Gulo, saya kenal baik dan tidak akan terpengaruh dengan tanggapan seperti ini, sebab dia memiliki cita-cita luhur. Tidak mudah untuk merasa bangga dengan puji-pujian ini. Saya juga mengoreksi beliau, tidak masalah baginya.

    Selamat melayani bang ranto!

  5. F Daeli Berkata:

    Saya bagikan tulisan ini, tak masalah tulisan pak ranto ini, justru baik bagi generasi kita, mengapa kita harus marah?. Baca artikel dibawah ini, kalau bisa jadi topik di di halaman depan.
    _____
    PENGEMBANGAN DAN PENGELOLAAN WARISAN BUDAYA
    Dr. Pudentia MPSS*

    Berbicara mengenai kebudayaan adalah berbicara mengenai sistem nilai yang terkandung dalam sebuah masyarakat. Bila batasan ini dikaitkan dengan keberadaan kebudayaan yang ada di Indonesia yang begitu beragam, maka kita dapat mempertanyakan kembali sejauh mana keragaman ini dapat dipertahankan dalam kerangka membangun “kebudayaan Indonesia”. Di pihak lain, kita pun dapat mempertanyakan sejauh mana “Indonesia” mampu menyatukan keragaman tersebut. Keragaman tersebut tidak saja terdapat secara internal, tetapi juga karena pengaruh-pengaruh yang membentuk suatu kebudayaan. Pengaruh-pengaruh tersebut membentuk lapis-lapis budaya yang sangat menarik yang seakan bercerita tentang sejarah dan segala hal-ihwal sebuah komunitas pemilik kebudayaan tertentu. Dalam kaitan ini kita pun dapat mengamati dinamika sosial masyarakat mewujudkan kebudayaannya, baik secara sadar maupun tidak.

    Dengan ungkapan lain, kita dapat menyatakan bahwa masyarakat Indonesia memiliki kekhasan masing-masing dalam memberi tanggapan terhadap lingkungan alam dan kehidupannya yang berbeda-beda tersebut yang tersebar di seluruh wilayah kepulauan Nusantara sekaligus juga memberi tanggapan terhadap setiap perubahan yang datang. Sebaliknya, perubahan itu sendiri dan konteks sosial yang terbentuk dari tanggapan masyarakat terhadap alam dan kehidupannya mempengaruhi pembentukan kebudayaan Indonesia. Menjadi Indonesia bukan sekedar menautkan puncak-puncak kebudayaan daerah, tetapi juga berinteraksi dengan kebudayaan dunia (“cultural heritage is not belongs to one country but it belongs to civilization / whole world”).

    Dalam konteks mikro, sejauh mana peluang keragaman budaya yang dimiliki Indonesia seperti yang telah disebutkan di atas dijadikan aset yang berharga (dan bukan sebagai ancaman) bagi daerah dan tentunya bagi Indonesia. Beberapa pengamatan akhir-akhir ini termasuk yang dilakukan Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) memperlihatkan hancurnya keadaban di Indonesia. Kecenderungan ke sektarianisme menjadi semakin nyata dan kemajemukan diabaikan. Prinsip-prinsip solidaritas dan keadilan cenderung tidak dijadikan dasar berpijak untuk membangun tata kehidupan yang damai dan sejahtera.

    Keragaman budaya rupanya belum sepenuhnya disadari sebagai kekayaan khasanah nasional yang dapat memberi nilai tambah, melainkan lebih sering dianggap sebagai rongrongan yang mengancam otoritas / keutuhan negara atau hegemoni tertentu. Seharusnya manusia Indonesia tidak gentar dengan keanekaragaman, karena jati diri Indonesia adalah kebinekaan yang meliputi bahasa, sastra, adat-istiadat, dan segala sesuatu yang hidup di dalam alam Indonesia, hewani atau nabati.

    Kenyataan tersebut seakan-akan manjadi kontradiktif dengan kenyataan lain yang menyangkut Otonomi Daerah (OTDA). Pluralisme yang dipahami sebatas wacana tersebut di atas dijadikan alasan utama untuk menerapkan OTDA yang menyangkut berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara di satu wilayah tertentu. Pengukuhan OTDA dipahami sebatas permintaan hak ekonomi dan kekuasaan dari “pusat” tanpa dilandasi pemahaman yang benar dan lengkap mengenai identitas budaya yang bersangkutan. Dalam situasi semacam ini muncul pula dalam skala daerah, marginalisasi budaya yang didukung kelompok kecil yang seringkali juga memiliki posisi yang lemah. Beberapa contoh dapat disebutkan di sini, misalnya Gayo di Aceh, Nias di Sumatera Utara, Mentawai di Sumatera Barat, Using di Jawa Timur, Bima di Nusa Tenggara Barat, dan Melayu di Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan Barat. Kasus semacam ini tidak saja terjadi pada marginalisasi etinis tertentu, tetapi juga pada kesenian tertentu di suatu wilayah, misalnya di daerah Ponorogo (Jawa Timur) kesenian yang bukan termasuk reog tidak mendapat perhatian utama dan di Flores, kesenian yang tidak menyertakan nyanyi-nyanyian / musik kurang diminati.

    Salah satu khasanah budaya yang signifikan untuk diketengahkan dalam contoh kasus kali ini adalah tradisi lisan. Dalam Seminar “Tradisi Lisan dalam Konteks Sosial Budaya Masa Kini” yang diselenggarakan ATL pada tanggal 2—5 Oktober 2003 yang lalu di Jakarta disimpulkan bahwa tradisi lisan merupakan khasanah budaya Nusantara yang intangiable yang hingga kini masih memiliki kekuatan dan peran besar di dalam membangun peradaban Indonesia. Tradisi lisan terbukti dapat dijadikan pintu masuk untuk melihat berbagai peristiwa budaya penting yang terjadi dalam sebuah komunitas masyarakat: peristiwa sosial budaya, perekonomian rakyat, strata sosial, sistem religi dan kepercayaan, sistem kognisi masyarakat, intrik-intrik perebutan kekuasaan atau pengukuhan kekuasaan, sistem ekologi, sistem pertahanan kekuasaan / negara, pewarisan tradisi / adat-istiadat, dan sebagainya.

    Di tengah-tengah arus globalisasi dan keramaian teknologi, tradisi lisan meskipun penting memang sering tidak terdengar. Seperti nyanyian burung pagi hari di batang-batang pohon di halaman rumah kita : terdengar tetapi tidak didengarkan, ada tetapi tidak ada karena tertutup oleh suara-suara mobil dan keriuhan teknologi industri.

    Apakah yang dapat dilakukan untuk mengelola warisan budaya tradisi lisan yang memang sangat khas, khususnya di Flores ini dengan memperhatikan potensi pengembangan di 4 wilayah penting: Flores Timur, Sikka, Ende, dan Nga’da ? Mengingat salah satu keutamaan aset budaya Flores adalah tradisi lisan, berdasarkan analisis atas potensi dan hal-hal positif yang dimiliki Flores dan dengan mempertimbangkan segala aspek kekurangan Flores, kita dapat membangun Pusat Interaksi Komunikasi Sosial Kemasyarakatan yang memungkinkan budaya Flores dengan segala aspek dan lapis budayanya memunculkan dirinya. Kegiatan yang dapat dilakukan terdiri atas 3 bagian besar, yaitu

    Kegiatan Pendukung Infrastruktur: legal apparatus, legal institutions, political will, paradigma berpikir / bersikap tentang pendekatan budaya, penyiapan lahan, gedung, fasilitas terkait, dan komunitas pelaku / pendukung.
    Kegiatan Pendampingan yang terdiri atas a). Preservasi, yaitu perlindungan warisan budaya tertentu tanpa mengganggu keadaan aslinya seperti apa adanya, Kegiatan ini biasanya dilakukan untuk cadangan warisan yang bersangkutan. Contoh kegiatan semacam ini adalah pemetaan atau survei atas tradisi budaya yang dimaksudkan. b). Konservasi (pemeliharaan) dilakukan untuk mencegah kepunahan. Contoh kegiatan semacam ini adalah melakukan berbagai penelitian, seminar /diskusi, dokumentasi, penulisan buku / tulisan, penerbitan rekaman-rekaman, dan publikasi tradisi tertentu dalam arti luas. c). Revitalisasi merupakan kegiatan pemulihan, pengungatan, dan pemberdayaan tradisi terutama di komunitasnya sendiri dan kemudian di luar komunitasnya. Contoh kegiatan yang dapat dilakukan adalah rekonstruksi, regenerasi pemain / pendukung tradisi, pembentukan komunitas pendukung, sosialisasi tradisi melalui jalur pendidikan (misal muatan lokal dan penyempurnaan kurikulum), dan pementasan / festival.
    Kegiatan Lintasbidang terkait dengan tradisi lisan, seperti kehumasan, film, media massa, permuseuman, penyelamatan dan penggalian arkeologi, pengembangan wisata budaya untuk kepentingan pariwisata, dan program belajar mengajar di sekolah yang dapat dilakukan bersama oleh berbagai lembaga, baik pemerintah maupun bukan pemerintah dari dalam maupun luar negeri dengan koordinasi yang baik, jelas, dan terarah dalam satu visi dan misi yang sama mengenai pusat kegiatan.
    Untuk menjalankan ketiga kelompok kegiatan besar tersebut di atas diperlukan sebuah sekretariat bersama yang diselenggarakan oleh pihak / tim kuat yang mampu mengkoordinasi tidak saja kegiatan-kegiatan yang akan berjalan tetapi juga manusia-manusia yang menjalankannya. Sekretariat bersama ini, selain harus memenuhi standar pelayanan juga harus terbuka dan mudah diakses oleh pihak mana pun yang berkepentingan. Sekretariat ini akan memudahkan pihak-pihak yang berkenaan melaksanakan programnya dan mencapai tujuannya. Ada paling tidak dua tujuan utama yang dapat dikemukakan di sini, yaitu pertama, menumbuhkan dan menguatkan identitas (budaya) nasional dan kedua, menumbuhkan potensi sosial ekonomi yang umumnya berkaitan dengan dunia bisnis dan pariwisata.
    .
    Kendala yang akan dihadapi Pusat budaya ini bukanlah mudah diatasi. Dalam contoh yang sederhana, misalnya menyiapkan sebuah pementasan / festival, perlu upaya pemahaman memperluas jangkauan resepsi penonton / khalayak luas di luar komunitas tradisi yang bersangkutan. Penting untuk menjembatani komunitas-komunitas yang berbeda-beda kepentingan dan latar belakang pengetahuannya untuk bersama “menikmati” sebuah pementasan yang sedang berlangsung .

    Dalam skala yang lebih luas, tidaklah cukup bila suatu lembaga (pihak pemerintah sekalipun) mencanangkan program preservasi cagar budaya Benteng Solor, misalnya, program tersebut secara serta merta terwujud dan diterima baik oleh masyarakatnya. Lembaga yang bersangkutan perlu memahami permasalahan-permasalahan internal agar tidak justru menciptakan potensi konflik karena penanganan yang kurang tepat. Kesadaran masyarakat untuk menghargai warisan budaya belum muncul, sehingga alih-alih mendukung program, masyarakat justru berpraduga negatif. Dalam hal lain, peran keluarga sebagai penerus tradisi, lembaga kemasyarakatan dan lembaga adat sebagai lembaga formal penjaga tradisi pun belum secara maksimal diberdayakan atau memberdayakan dirinya. Hal demikian ini dapat saja terjadi karena sistem dan model pengelolaan budaya belum ada dan belum ditangani secara berkesinambungan dan dilakukan oleh tenaga-tenaga profesional. Hal terakhir yang selalu secara klise dikemukakan tetapi benar adanya adalah terbatasnya dukungan dana melaksanakan program semacam ini.

    Mengingat kedua tujuan di atas, kendala macam apa pun sepantasnya dapat dihadapi bersama oleh pihak-pihak yang berkenaan. Dalam masa seperti sekarang, kedua tujuan dalam membangun masyarakat melalui program budaya tidak dapat dibebankan terutama kepada pihak pemerintah saja, tetapi juga pada sektor lembaga non-pemerintah dan lembaga di luar Indonesia. Dengan demikian pula, wawasan kebangsaan yang memandang permasalahan melampaui batas-batas negara, etnisitas, agama, dan sebagainya diperlukan untuk mencapai kedua tujuan tersebut. Dalam menyusun kebijakan, strategi, dan kegiatan, para lembaga terkait yang memiliki perhatian pada pengembangan dan pengelolaan warisan budaya Flores dapat mempertimbangkan berbagai aspek yang telah dikemukakan di atas.

    ——————
    *Makalah ini disajikan pada “Seminar Internasional Flores-Portugal”, Maumere, 31 Mei — 2 Juni 2005.
    ** Penulis adalah dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia dan Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL)

  6. Delusz Berkata:

    Kalau kata primitif memang tidak tepat, tapi kata gantinya “kebiasaan buruk” …kata ini tepat. Bicara soal antropologi Nias sangat berbeda dengan bicara soal filsafat kehidupan Nias.

    saya rembuk saran supaya kita bisa mengunjungi:
    http://www.geocities.com/z_iwan/jejaring_filsafat.html

    Sebagai bahan pertimbangan, kita jgn terlalu buru-buru mengklaim sebuah pikiran orang seperti tulisan ini langsung kita hukum salah.

    Analisa dulu, sebab tidak ada komentar atau statement seperti apa yang Bapak/Ibu Pressmuadi sampaikan.

    Salam Filsafat

  7. Marinus W. Berkata:

    Ya`ahowu Ira Satuama!

    Saya kira, kata “kebisaan buruk” dan kata “budaya primitif” adalah suatu ungkapan yang kurang tepat, salah bahkan meremehkan budaya Nias, orang Nias, dan tatanan hidup yang dianut oleh masyarakat Nias.
    Setiap masyarakat, suku, dan budaya peradaban punya kebiasaannya sendiri. Kebiasaan tersebut merupakan nilai-nilai luhur yang diturunkan oleh nenek moyang kita sejak dulu. Misalnya, budaya Orang Eskimo. Orang Eskimo di Utara sana, punya kebisaan di mana ketika orang tua berada dalam keadaan sakit, sekarat, dan sejenisnya, anak (Anak Muda/Putri) berkewajiban untuk membunuh orang tuanya yang sakit tersebut. Jika tidak melakukan demikian, ia dianggap durhaka, dan melawan kehendak Dewa/dewi. Tapi bila anak muda/putri bersangkutan melakukan demikian, ia dianggap “Anak yang berbakti kepada orang tua”. Dan budaya geli ini, sampai kini masih berlaku, karena memang luhur dan bernilai sangat tinggi bagi mereka. Di Nias seperti yang juga diungkapkan oleh Bapak saya Mustika Ranto Gulo memiliki hal yang sama. Namun bentuknya berbeda. Di Nias dikenal Istilah “Owasa” dengan segala bentuknya. Budaya dan kebiasaan ini tidaklah buruk atau primitif. Karena ia punya kekhasan dan nilai tersendiri yang tidak di punyai oleh suku-suku lain atau peradaban lain. Nenek moyang orang Nias membuat demikian (konsensus antara tetua adat) karena memang bernilai dan luhur untuk dilakukan. Dan bukan sesuatu yang buruk atau primitif seperti yang diungkapkan oleh Orang-orang Dewasa diatas.

    Saran saya: BELAJARLAH MENGHARGAI BUDAYA SENDIRI, JANGAN KARENA INGIN MENONJOL, INGIN LEBIH DARI YANG LAIN, LALU MEREMEHKAN BUDAYA SENDIRI. PADAHAL BUDAYA YANG KITA ANGGAP BURUK DAN PRIMITIF ITU, TELAH MEMBENTUK PRIBADI DAN POLA PIKIR KITA MAN…DAN SUDAH MENJADI KEWAJIBAN UNTUK MELESTARIKAN NILAI-NILAI LUHUR PARA NENEK MOYANG KITA TERSEBUT.

    Atau Anda ingin mengubah budaya Nias (pola pikir Nias) dengan budaya lain?

    Alamat:www.niasbaru.wordpess.com
    Bandung,Pariz Van Java

    Salam Budaya

  8. Hasrat Putra Daeli Berkata:

    Setahu saya setiap ada artikel, tulisan atau diskusi di niasbarat.com kebanyakan ditanggapi negatif dan lain-lain. wajar sajalah kalau banyak kaum intelek nias barat tidak pernah mampir di situs ini, memberikan komentarpun tidak. bahkan tidak sama sekali. atau mungkin yang kita diskusikan selama ini yang sebuah OMONG DOANG sehingga kaum intelektual Nias Barat tidak tertarik/tidak peduli dengan diskusi kita?.. Adakah DR. Fonali Lahagu, Yupiter Gulo, Era-Era Hia (Kandidat Doktor), Sorni Paskah Daeli (Kandidat Doktor sekarang sudah masuk PNS di depdagri), Faebuadodo Hia, Fakhili Gulo,dan mungkin banyak lagi yang belum saya sebutkan namanya. Justru yang sering muncul di diskusi kita selama ini Abang Ranto,Doro hia, MHD, Ang, postius gulo,dan lain-lain, dan kebanyakan yang kita diskusikan yang tidak bermanfaat bagi pembaca,hujatan dan cacian, saling menjelekan, dsb. Perlu kita sadar dan mengoreksi diri.

  9. B Gulo Berkata:

    Waduh……ada ada saja adek2 kita ini…!
    dianalisa dulu nak marinus, bahwa kata prespektif itu apa, lihat apa tujuan penulisan dari Ranto, yaitu agar kebiasaan yang buruk dan sering menjadi cacian orang (suku lain) kepada kita harus ditinggalkan, namanya juga perspektif, tidak jauh dari dugaan.

    Kog malah lari ‘tidak mengharagai budaya leluhur?’. contoh nih, pesta nias tidak meriah nalo lafaho mbawi, sejak dulu kala sampai kepada generasi kita sekarang masih melakukannya. Pada hal itu bukan syarat menjadi sukses sebuah pesta orang Nias. Keluarga yg tidak apat memberi makan tamunya dari masakan tradisional itu menjadi tidak begitu berharga. seakan-akan keluarga itu sudah nomor dua.

    itu maksudnya dek, kasihan pemahaman teman2 demua, terutama para calon DOKTOR tidak pernah buka internet dan gagap teknologi …mati saja deh.

    Saya setua ini9 masih bisa analisa tulisan para pakar, namun orang Nias tidak ada kelas pakar, apakah lahagu, fakhili, atau doktor-doktoran, yah, semua cuma cari gelar saja.

    Mari belajar menulis seperti postinus, ranto, ang, dll. Semangant mereka akan dituai nantinya oleh anak2 kita 25 tahun atau 100 tahun kemudian. sebab tulisan mereka menjadi abadi.

    trims
    Tuhan memberkati

  10. Marinus W. Berkata:

    Salam Kasih

    Koreksi: Saya sudah membaca secara menyeluruh tulisanya Ranto. Dan Saya berkesimpulan bahwa artikel ini tidak valid bahkan tidak benar, karena memang premis-premisnya juga tidak nyambung.

    Pertanyaan:
    1. Apakah Owasa sesuatu yang buruk? dan kenapa orang Nias masih saja melakukannya?

    2. Apakah budaya Nias yang kita anut kini (owasa, dan pesta lain) bukan budaya leluhur orang Nias? kalau begitu asal muasal budaya tersebut dari mana? apakah turun begitu saja dari langit?

    Saya setuju sekali comment dari Hasrat Putra Daeli. Karena yang kita omongi memang semuanya tidak berbobot dan mendidik. Buktinya, orang-orang yang sering ngasih comment di situs ini pikirannya selalu subjektif dan ngejelek-jelekin yang lainlah…

    Tidak heran bila orang sekelas Bapak saya Dr.Fidelis Waruwu, seorang pembicara internasional tidak pernah nongkrong di situs ini. Karena itu, saran dari saya agar kita semua intropeksi diri. Ada apa dibalik itu semua?

  11. savar smendrova Berkata:

    aduh………jadi sedih nge-baca tulisan2 di atas..
    ada yang merasa lebih pintar..dan mengoreksi/meng-kritik orang lain habis-habisan.dan mulai memamerkan pengetahuannya.

    saya pribadi ngga terlalu kenal dengan bung ranto.tapi saya tahu orangnya yang mana.saya juga bisa nangkap isi tulisannya.
    saya percaya dia ngga anti pesta atau owasa karena memang itu peninggalan leluhur kita.
    hanya..bagaimana kalau pelaksanaan owasa atau pesta besar itu lebih di sederhanakan.
    zaman sekarang,rasanya kurang etis kalau kita pesta gila-gilaan,sementara di sekeliling kita,makan nasi + ikan asin saja susah.apalagi melakukan pesta gila-gilaan seperti yg sering terjadi di kota2 besar.pestanya sampai milyaran rupiah.mentang-mentang punya..lantas..pamer.sementara tetangganya kembang-kempis..mati ngga,hidup ngga..tidak ada tenggang rasa..merasa bahwa ini hanya sekali seumur hidup,lantas..semuanya harus semewah mungkin pd hari itu…
    negara ini begini,karena pola hidup pesta seperti itu..apa salahnya hidup sederhana,sekalipun mampu untuk pesta dan memberi makan 1 pulau nias.banyak kog cerita yang kita dengar….
    setelah pesta..keluarga tsb ngga bahagia..bisa jadi stress dengan utang karena pesta.
    saya lebih setuju,kita bukan tidak melakukan/atau tidak menghargai budaya nenek moyang..tapi mungkin bisa lebih disederhanakan.supaya itu tidak membawa kemiskinan.
    dan memang zaman sekarang,rasanya juga ngga perlu buat pesta hanya utk supaya dipanggil balugu…cukup Tuhan yang disembah,ditinggikan dan dijunjung tinggi.
    manusia,cenderung mencari pujian bagi dirinya..dan inilah yang disebut berhala.memberhalakan diri sendiri.dan Tuhan bilang..terkutuklah..orang yang mengandalkan dirinya sendiri.
    sekian aja..mari kita lestarikan budaya kita dengan semakin mengarahkannya atau mensejajarkan budaya kita dengan kebenaran Firman Tuhan.
    orang2 eskimo dengan budaya mereka membunuh orang tuanya sebelum meninggal pun adalah budaya yang salah.siapapun kita,dimana pun kita berada.kita tidak berhak menghilangkan nyawa orang.
    jadi tidak semua budaya itu benar.budaya harus berada dibawah kebenaran Firman Tuhan (bagi orag percaya).artinya budaya harus tunduk atas otoritas Firman Allah.jangan kayak suku lain dong..
    adatnya sampai dijunjung tinggi..tapi sungkan utk menjunjung Tuhan lebih tinggi.
    maju terus..berpikirlah lebih jauh…
    takut akan Tuhan permulaan pengetahuan.pengetahuan tanpa Tuhan adalah NOL.GBU all

  12. Ama Gambi moroi ba Nitawisole Berkata:

    Ada syair lagu Nias yang berbunyi sbb:

    La tahigo ita iraono furi
    La’e'esi ita bekhu nasi
    Hana wanotoroi Dano Niha
    Lo mano simaoso ba wangifi
    Fareso dododa hana!!!!!!!!!

    Kenafa setiap ada tofik pembicaraan selalu ujung-ujungnya ribut? apa memang kita ditakdirkan untuk ribut? Dikese-kese yaita ono niha dimana pun tidak pernah saya lihat ada solusinya yang ada hanya ribut-ribut-ribut-ribut-ribut

  13. Halilintar Berkata:

    saya setuju dengan komentar hasrat putra daeli, makanya kaum intelektual nias barat tidak pernah memberi komentar di situs ini, karena diskusi kita omong doang, tidak berbobot dan cenderang menjelek2an orang

  14. DoroHia Berkata:

    Hallo Pak Savar Smendrova,
    Pikiran Kita Sama, ini harus digaris bawahi, karena apa yng dipresentasikan oleh ranto adalah penilaian orang lain terhadap SUKU NIAS> Penilaian itu membuat dia tersinggung dan hampir meledak, setelah itu dia cari apa dan mengapa, bukan begitu dek Marinus ?

    Orang Nias Hebat, karena bisa ngutang, minjam dan dipercaya kerabatnya.

    Kemudian katanya Orang Nias Hebat, karena mendapat pinjaman tanpa anggunan, demi pesta dan harga diri seperti fala’osa, …hahaha Marinus, apa yang anda tahu? jangan2 anda belum bisa berbahasa Indoensia - Melayu yg benar, sehingga premis-premis penulisannya anda ragukan. Tidak usah sok, pakai istilah kalau tidak mengerti maknanya, penjelasan saya adalah alur cerita Ranto yang sampai detik ini saya belum kenal orangnya.

    Kemudian, alur pemikiran Ranto yang ketiga adalah orang Nias Sombong sebagai penyakit bawaan kali yeeee. bawaan dari kebiasaan membesarkan diri, membeli harga diri, membeli wibawa dan membeli keanggungan dengan cara pesta owasa.

    Terkutuk org yang menganggungkan dirinya sebab hanya Tuhan yg layak diagungkan, …ini sumber celaka… nenek moyang kita tidak mengenal Firman Tuhan, mereka dikutuk… dan terbawa kepada keturunannya…hingga Nias saat ini jatuh miskin berabad-abad lamanya.

    ada keyakinan bahwa misi Zending (Seperti Denninger) baca : “Keselamatan hadiah untuk Nias”. berusaha untuk menghentikan budaya kafir di Nias seperti Owasa. Sihingga sejak itu banyak warga para Pemuka Masyarakat, berhenti mengambil gelar balugu, bahkan acara FAMA DOGO OMO pun dilarang secara pelan-pelan dan halus sekali oleh para penginjil di Nias.

    Jadi, kalau adik kita yg baru lahir kemarin sore, belum baca tentang prespektif budaya Kafir (identik dengan Primitif) yang percaya kepada pelbegu, afokha maka wajar saja pendapat adik kita marinus sedemikian dangkalnya.

    Perlu banyak belajar antropologi, baru berikan komentar dek. Seperti Doktor-doktoran yang disampaikan oleh marga daely di atas, sudahlah dek, doktor saya bisa beli lima untuk anda.

    Betapa bodohnya seorang doktor menganggap dirinya doktor dan pembicara international menganggap pembicara international, jam terbangnya juga baru 2 jam. Sorry, kalau anda belum selevel itu, tetapi kalau anda tahu siapa saya, mungkin anda tak percaya DOROHIA dari Hogo Gara Zirombu … hehehe itu pun tidak mengandung kebanggan.

    Fidelis, Dodo, ere-era, abisaloni, haogomano, fonazaro, ebenezerias war, tuha dano, sozanolo, tuhe gafoa, tea-tea dan kiliwi semua sdh diwisuda tahun lalu menjadi DOKTOR. Apa itu yg anda banggakan? Kasihan mereka, menjadi malu karena anda sebut2 nama mereka di forum ini, seharusnya anda persatukan org Nias, malah memecah dan menuduh sangat tendensius.
    Para doktor itu malu, mereka masih belum bisa menulis apapun, jadi kita sabar menunggu, kapan mereka tampil mungkin setelah botakk kali ye.

    Sekali lagi ngak usah bangga dengan gelar anda sebab, gelar doktor itu sdh bergentayangan sekarang.

    marinus, dek banyak baca buk sedikitlah terutama filsafat dan antropolgies, supaya kita jgn ditertawakan org, apalagi pak ranto… hehehehe. Ira tua da’o he!

  15. Jill Berkata:

    Untuk Orang Nias, silahkan koreksi diri anda, atasan saya di kantor (Kepala Sekolah) adalah orang Nias, hm… ada benarnya cerita penulis disini tentang org Nias.
    Begini….saja, silahkan bandingkan ketika “Frans Seda mencela Kaumnya di Floress……. Moderator juga pantas dan syah2 saja memberi warning terhadap orang Nias dimana saja”.

    Kasihan ya!!!!

    FRANS SEDA: Orang Flores Sombong dan Primitif
    Dikutip dari : FLORES POS JAKARTA

    Jakarta, NTT Online – Frans Seda, salah satu toko perintis Kemerdekaan Indonesia asal Flores, mengakui Flores hingga sekarang belum maju (ekonomi-red) karena orang Flores masih memiliki sikap sombong dan primitif. Menurutnya, orang Flores tidak menghargai ilmu pengetahuan.

    Toko Partai Katolik ini, lebih lanjut, mengatakan selain sombong dan primitif, orang Flores itu feodal. Ia mencontohkan pada dirinya sendiri. Sebagai seorang anak kapiten di kampung Lekebai, ketika pergi sekolah Frans kecil dipanggul budak milik orangtuanya. Tradisi di masa lalu itu kemudian mempengaruhi sifat orang Flores yang sombong. Sementara itu, sikap primitif terbentuk dari kepercayaan dinamisme yang dianut dulu, yakni kepercayaan pada dewa-dewa (nitu).

    Frans juga sangat prihatin karena kesombongan juga ditampakkan oleh Gereja Katolik dan pemerintah daerah (Pemda), baik di Flores juga di NTT seluruhnya. ”Gereja dan Pemda harus bersatu padu dalam membangun Flores. Jangan berjalan sendiri-sendiri. Gereja mempunyai program memberantas kelaparan sementara Pemda mengurangi pengangguran. Mestinya keduanya bisa bersatu karena sama-sama memiliki niat memberantas kemiskinan,” paparnya.

    Frans menyatakan bangga dengan apa yang telah dilakukan di Maumere belum lama ini. Frans bersama mantan Gubernur NTT Ben Mboi dan Dirjen Bimas Katolik Stef Agus mendorong para uskup dan bupati untuk duduk bersama. “Baru kali ini dalam sejarah Republik, Uskup Maumere bertemu dengan bupati-bupati,” tukas Frans.

    Kepada Gereja Katolik, Frans berharap mau meninggalkan tabiat feudal. “Gereja kita di sana itu feudal sekali. Pastor-pastor tidak pernah mengunjungi orang, tidak menyapa orang,” kata Frans. Akibatnya, banyak orang Katolik di Flores yang pindah agama.

    Sedangkan untuk orang-orang Flores sendiri, dia berharap hendaknya mau meninggalkan tabiat sombong. “Orang Flores itu, biar lapar yang penting sombong. Ia baru sadar akan kesombongannya ketika harus makan. Mestinya Gereja juga harus mengajarkan sikap rendah hati tidak hanya terhadap Tuhan, tetapi juga terhadap manusia,” pinta Frans.

  16. Efendi Zebua,S.Si Berkata:

    Ya’ahowu fefu,

    Saya berusaha menangkap kesan positif dari tulisan ini, paling tidak tujuan penulis adalah berusaha menyadarkan kita bahwa warisan budaya kita tidak selamanya benar dan sesuai apabila diterapkan hingga sampai saat ini karena perubahan zaman.

    Contohnya : Owasa, fangowalu dgn bowo sebua, famosumange tome dengan simbi, dll.

    menurut hemat saya, di zaman leluhur kita, kebiasaan mereka atau gaya hidup mereka tsb syah-syah saja (tidak salah) karena :

    1.Zaman leluhur kita mereka punya ladang, sawah, kebun yang luas dan sangat subur, pelihara babi juga pertumbuhannya cepat karena pakannya yang melimpah dan jarang kena wabah penyakit. Kita masih ingat zaman dulu itu lumbung padi di setiap rumah banyak dan babi dari Nias sempat di eksport ke Singapore.

    2.Mereka hanya dibebani biaya hidup yang sangat tradisional. Tidak perlu memikirkan biaya sekolah anaknya karena waktu itu mungkin belum ada sekolah, tidak perlu memikirkan beli kendaraan karena waktu itu mungkin di Nias belum ada kendaraan bermotor, waktu itu beum ada alat-alat elektronik, belum ada restoran, belum ada tempat hiburan, bahkan beli pakaian juga tidak karena mungkin waktu itu belum ada yang jual pakaian di Nias.

    Dampak positif dari ke 2 point tsb di atas akhirnya terjadi “PENUMPUKAN HARTA” krn pemasukan banyak sementara pengeluaran sedikit. Buktinya mereka bisa punya topi emas (kofia), aya ana’a (rigi atau rofia ana’a ni fatali, berbagai macam jenis emas mereka punya, figa cap naga dsbnya). saya mau katakan leluhur kita itu dulu adalah orang-orang kaya.

    sehingga syah-syah saja mereka melakukan hal-hal yang dikritisi penulis (owasa, falowa sebua bowo, famosumange sitenga bo’o, famosumange tome, dll) itu menjadi suatu hal yang terbiasa dilakukan hingga menjadi budaya, alasannya mereka kaya raya dan bingung harta mereka buat apa? Kecuali yang mereka lakukan hal-hal tersebut di atas.

    Di zaman modern justru kebalikannya mereka punya tanah tinggal setapak karena tingginya pertumbuhan penduduk, tanah, sawah, kebonnya kurang subur sementara pos-pos pengeluaran begitu banyak akhirnya ya… miskin. ironisnya sudah miskin … ya melakukan pesta besar-besaran lagi. Ya, zaman sudah berubah.

    Tetapi saat ini, kalau memang benar-benar juga seseorang punya harta melakukan owasa, pesta besar, famosumange sitenga bo’o atau tome, ya bukan menjadi soal/masalah.Justru kita berterima kasih ada yang melestarikan dan memperkenalkannya kepada anak cucu kita owasa itu seperti apa? Kita tau di Jakarta ini juga biaya pesta nikah aja bisa sampai milyaran atau bahkan lebih, ya syah-syah saja karena mereka punya uang.

    Penulis Yth,
    Point-point tersebut di atas harus dibatasi, tidak selamanya jelek / buruk, wajar-wajar saja selama mereka sanggup.

    Pesta pernikahan juga di Nias saat ini besarnya jujuran mayoritas tergantung pada kemapuan pihak laki-lakinya, tidak seperti dulu lagi.

    Jadi formulasinya harus jelas “KALAU TIDAK SANGGUP JANGAN MEMAKSAKAN DIRI DAN KALAU SANGGUP JANGAN JUGA DIANGGAP KESOMBONGAN”

    Di Jakarta ini kalau ada arisan atau kebaktian labe’e zimbi jangan diartikan semata-mata kesombongan atau pemborosan, ya, bisa diartikan juga perjamuan kasih dan selama mereka sanggup.

    Itu saja komentar dari saya. saohagolo. ya’ahowu

    Efendi Zebua

  17. Iraono Daeli Berkata:

    yaia mano khoda khou doro hia. sebentar lagi nias akan dimekarkan dan yaugo akan menjadi wakil bupati…kau pintar sekali ngambil hati orang

  18. Postinus Gulö Berkata:

    Yth. Bapak Hasrat Putra Daeli. Terima kasih komentar Anda, yang keluar dari kecoplosan dan mungkin kejujuran, serta ketulusan hati sebagai wujud cinta Anda untuk kemajuan kaum intelektual Nias. Namun, dari komentar Anda saya merasa risi, sekaligus bertanya-tanya. Oleh karena itu, ada beberapa poin pemikiran saya mengomentari komentar Anda:

    1. Saya kurang tahu mengapa Bapak Hasrat Putra Daeli membandingkan saya (Postinus Gulö) dengan para doktor yang Anda sebutkan itu. Terus terang-ini keluar dari hati yang jujur bukan rendah diri-saya bukanlah siapa-siapa, masih anak ingusan, belum tahu banyak, oleh karena itu, saya lebih memposisikan diri sebagai pelajar, karena saya memang sedang belajar. Saya mungkin masih iraono soyo laluhakahe dibanding para intelektual Nias yang Anda sebut satu persatu itu.

    2. Saya juga bertanya-tanya, mengapa Bapak Hasrat Putra Daeli, justru sinis (atau benci) terhadap orang-orang yang suka menulis di Niasbarat.wordpress.com ini. Saya merasa ada apa yang terjadi dalam diri Bapak Hasrat Daeli, motif apa Bapak mengeluarkan komentar semacam itu? Motifnya: membangun? Sekedar menekan, sekedar menjelekkan, sekedar iseng? dst…dst…dst…

    3. Saya juga kurang mengerti mengapa Bapak hasrat Putra Daeli menyinggung saya (Postinus Gulö), padahal, dalam tulisan di atas, sama sekali tidak disinggung nama saya. Apakah Anda membenci saya? Kalau ya, apa dasarnya, faktanya apa. Bapak Hasrat Putra Daeli mengatakan bahwa saya (dan beberapa yang lain), sering mencaci maki: khusus saya: bunyi caci maki saya seperti apa, dan di mana? Tunjukkan?

    4. Anda membenci orang-orang yang mencaci maki tetapi dalam komentar Anda ini, Anda juga justru mencaci maki, meremehkan orang lain. Ada apa dengan Anda? Pasti ada sesuatu yang salah dalam sistem pemikiran Anda?

    5. Banyak kaum intelektual yang egois, mereka hanya menikmati ilmu yang ia dapat, mereka tidak membagikannya kepada yang lain. Nah, dalam istilah filsafat orang-orang semacam ini adalah orang yang mengidap penyakit: masturbasi intelektual. Saya khususnya, berusaha untuk membagikan apa yang saya dapat kepada yang lain, dengan demikian saya terbiasa dikritik, dibangun dan disemangati. Melakukan itu jauh lebih baik ketimbang hanya memikirkan saja/berteori saja. Bertindak itu jauh lebih penting ketimbang hanya ngomong.

    6. Saya mempunyai prinsip: melakukan apa yang tidak dilakukan orang lain, akan mendapat apa yang tidak diperoleh orang lain. Dan, selama saya nimbrung di situs-situs Nias banyak hal yang saya dapat (positif-negatif). Itu semua pengalaman berharga buat saya. Karena dari sana saya semakin merenungkan: untuk apa saya bertindak, mengapa saya bertindak dan apa dampak tindakan saya.

    7. Saya jadi teringat pepatah Latin: Tibi Seris Tibi Mentis: menabur hal yang baik, akan menuai hal yang baik. Jika Bapak Hasrat Putra Daeli mau menuai yang baik, taburlah benih yang baik, jangan benih permusuhan, benih kebencian, benih kekanak-kanakan. Semoga!

    Semoga komentar saya ini mengetuk pikiran dan hati nurani Bapak Hasrat Putra Daeli. Dan, saya mengundang Bapak Hasrat Putra Daeli untuk bertukar pendapat dengan saya (mengapa Bapak menilai saya seperti yang tertera dalam komentar Bapak) via email: nei_khaden@yahoo.com
    Terima kasih, Ya’ahowu

    Postinus Gulö (moderator http://www.mandrehe.wordpress.com dan http://www.postinus.wordpress.com)

  19. Mustika Ranto Gulo Berkata:

    Syalom Saudara-saudara, Hari ini kita kehilangan saudari Ani Zebua (tangerang) tadi pagi dipanggil Tuhan kembali kesisinya, Kita berdoa bagi suami dan kel yang ditinggalkan semoga diberikan penghiburan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

    Selain itu, sedikit saya agak risih dan bertanya ada apa dengan situs kita ini dan mengapa banyak orang yg sangat mendukungnya dan dibalik itu ada yang rutin mencaci saya dengan topik atau judul tulisan apapun. Kalau ada salah saya yang tidak terlihat dan tidak saya sadari, saya minta maaf. Saya hanya membagi pengalaman dan pengetahuan yg sedehana tidak sehebat para pakar atau Doktor atau profisor.

    Saya himbau kepada saudaraku, mari kita saling mengasihi satu dgn yang lain, apalagi pertemuan kita ini di udara, dan tidak pernah bertemu muka. Saya rasa ada sesuatu yg kurang pas kalau kita mengklaim org yg tak berdosa dan tidak ada hubungannya dgn situs ini.

    Sedih rasanya, saya coba alihkan topik2 itu dgn bahan dan ide yang berhubungan dgn training Motivation Program dan saya sisihkan tulisan tentang budaya , tetap saja ada yg tidak berkenan.

    Kasihan sdrku Postinus Gulo, yg sangat terganggu dgn argumen / komentar adik kita hasrat Putra Daeli. Saya harap, kita saling mengertilah, bahwa dunia ini sangat luas …namun sangat sempit bagi org yang bergaul dgn baik. Jangan mengklaim org sebab itu akan membahayakan perjalanan kita ketika melewati krikil tajam. Org tidak simpatik lagi, karena kita tidak menghormati kelebihan orang lain, ini nasihat untuk bapak Hasrat Putra Daeli.

    Tidak selamanya kita berjalan di atas angin, suatu waktu kita akan tertegun memandang orang yang kita caci maki, mengulurkan tangan kepada kita disaat kita sedang terpelset dalam mengarungi hidup ini.

    semoga sampai disini saja, cara kita berpikir Nias Minded.
    Salam

  20. Pesan kepada Buala Naso Zebua Berkata:

    saya ini hanya sebagai kuli di Jakarta, tapi sebagai org Nias yang terhormat saya masih mengerti bagaimana berlaku sopan dan memiliki budi pekerti, saya sedih membaca komentar anda yang membuat semakin rusaknya nama baik kita di mata dunia.

    Komentar anda saya hapus tanpa izin pak moderator, cukuplah, mari kita perbaiki diri. Tidak usah baca blok ini kalau anda nggak suka, buat tulisan yang mencounternya secara ilmiah dan metodologis seperti tulisan Pak Ama Wirda Zebua dan lain-lainnya, kita menghormati kritik mereka dan masukan mereka. Bagaimana? apakah anda mampu membuka diri, mari kita bersatu hati menolong generasi kita kedepan…ini adalah misi blog ini dari Moderator.

    Redaksi

    Komentar baru pada tulisan Anda #311 “ORANG NIAS DALAM PRESPEKTIF
    BUDAYA PRIMITIF”
    Penulis : Bualanaso Zebua (IP: 124.81.153.10 , 124.81.153.10)
    E-mail : bualanaso@zebua.web.id
    URL :
    Siapa : http://ws.arin.net/cgi-bin/whois.pl?queryinput=124.81.153.10
    Komentar:
    Memang benar kalau blog niasbarat.wordpress.com tidak punya bobot dan
    tidak mendidik dikarenakan pemiliknya juga tidak berbobot. Kenapa
    demikian …. jawabnya karena pemiliknya masih kampungan.

  21. Mustika Ranto Gulo Berkata:

    Puji Tuhan, saya hari ini baru pulang dari Natal FKNO! Keanehan, adalah:
    saya bertemu dgn orang yang sering memprotes tulisan2 saya, namun dia salam saya dan mengatakan “Anda Hebat”. Saya kaget dan kerning saya menaik, melotot terheran2, seperti org tak berdosa, …dalam hati, saya pikir orang ini bermuka dua dan sangat memalukan. Namun, saya tetap berusaha bersikap biasa saja dan tersenyum dan memberkatinya dengan mengatakan “Syalom, Tuhan mengasihimu, apa kabar?”, katanya “Marase…”. Saya tertawa, hahaha ………… ternyata orang ini niha simarase sia’ai…hehehe ! Just Kidding

    OK Saudara saya
    DoroHia
    J1ll
    Latteriyan Alo’oa Hia,
    Savar Smendrova
    Effendi Zebua
    Postinus Gulo

    Salam Bahagia, dan Tetap jaya ONONIHA dimanapun berada, mari kita mengabdi kepada generasi muda … sang penerus kita, hal2 yang baik, tanpa melupakan siapa “nenek moyangnya - leluhurnya”.

    Ada yang patut kita banggakan dan yang juga tidak perlu dibanggakan apa yang sudah terjadi di masa lalu di Nias. Kita wariskan cerita sesungguhnya … supaya mereka sadar betapa indahnya Nias, namun disana juga ada jutaan kesulitan hidup, fenomena hidup.

    Tuhan menmberkati para penulis komentar, semoga pikiran mereka menjadi ujian bagi kita … kita harus bisa bedakan mana sampah dan mana emas. .. Ingat bahwa sampah masih bisa di daur ulang.

    Syalom

  22. Lattreiyan Alo'oa Hia Berkata:

    menanggapi komentar sdr. Hasrat daeli, ada benarnya juga. Dan mungkin itu yang dia rasakan selama ini, secara pribadi saya memaknainya positif, jadi sdr. Potinus Gulo tidak usah terganggu komentar seperti itu, karena dia tidak melukai perasaan individu, komentar itu hanya sebatas keheranannya melihat/membaca komentar2 teman-teman lainnya. Apalagi kalau saat ini sepertinya ada pembeda-bedakan diantara kita, dan itu adalah yang sangat membahayakan kita, mudah2an generasi muda Nias Barat tidak kena virusnya.

    Untuk sdr. Ranto, aku juga kemarin datang ke acara Natal FKNO sangat meriah dan penuh suka cita, tapi sayang sekali kita belum ketemu. Saya juga heran kepada anda, sekalipun ada orang yang selama ini menjelekan abang ranto, sebaiknya tidak usah menceritakan kepada kami, apalagi melalui forum ini karena akan berdampak negatif terhadap orang tersebut, tetapi marilah kita memaafkan seseorang itu dengan ikhlas dan bukan secara keterpaksaan. Jangan kita sama dari orang lain tetapi kita harus beda dari orang lain, (maaf saya bukan bermaksud menggurui saudara) tetapi kita tunjukan kedewasaan kita dalam berbagai hal, dan itu pekerjaan yang tidak sia-sia.

    Latteriyan Alo’oa Hia
    0815 33 92 711 or 990 19 777

  23. J1ll Berkata:

    Baiklah saya sedikit britahu, saya ada di forum Nias sebenarnya karena ibu saya dari Nias, kelahiran padang. Namun saya tetap wajah ambon… hehehe ikut ayah. Sebagai seorang guru SMP di Banten, saya sedikit sekali bergaul dengan kawan2 Nias, saya hampir tidak percaya diri. Dengan kulit hitam begini ..mana mau ada yang percaya darah saya mengalir darah leluhur Nias … hehehehe. Semoga saja …makanya di Natal Ono Niha saya bawa keluarga ..dan kami bahagia ..senang, apalagi bang edo yang hibur kita, sama-sama hitam, jadi saya semakin percaya bahwa saya hitam tapi tetap ada darah Nias.

    Saya ingin lebih banyak gaul dengan sdr.2 saya dari Nias, namun, sulit rasanya.
    Tabiat dan pola Nias yang sebenarnya bagaiman sih? sebagai pendatang baru di Jakarta (Tangerang Banten) saya ingin bertemu.

    Saya bangga karena bisa bertemu Pak Ranto tadi malam, yah, kesimpulan saya ….. saya anak kemarin donk bang, maaf saya bukan rendah diri, tapi umur kita berbeda jauh sekali.

    Sdr2ku Ono Niha, ternyata kalau kita sdh bertemu, kita menjadi akrab, dan ada rasa sungkan seperti org timur pada umumnya. Seandainya kita saling bertemu pada suatu waktu sangat bagus.

    Ini Hanya Saran, baiklah kita tidak usah lagi saling menjelek2kan di situs ini. Saya bangga kog, sekalipun masih ada juga yg suka protes. Baik2 saja, tak masalah asalkan jangan norak. Sepertinya ada masalah diluar yg tak ada hub nya dgn web ini, tetapi terbawa-bawa dalam setiap tulisan/artikel pak Ranto.

    Selain itu masukan kepada Pak Ranto, agar selalu menjawab komentar kawan2 dgn elegan dan jangan dibiarkan … didiamkan saja. GBU

    Trima kasih
    J1ll

  24. Mustika Ranto Gulo Berkata:

    Sdr. Latteriyan Alo’oa Hia, saya sedang online juga sekarang. Apa kabar, sayang kita tidak bertemu kemarin. Sorry, bukan masksudnya menceritakan siapa orangnya, tetapi menceritakan karakter kita pada umumnya. Kalau kita bertemu biasanya bersikap akrab seperti adik Kita Jillian Manuputti kemarin (ibunya Org Nias. Langsung akrab.)

    Kebiasaan kita yg perlu dikoreksi dari sisi rohani, yaitu kalau ditanya “apa Kabar?” kalau orang inggris jawabnya “Fine, Thank You, and how are too?”. Orang Nias Jawabnya bukan “baik, terima kasih..”. tetapi “Marase wo le’e, hulo mo’u-mo’u detegara, lo’auri balo mate”.
    Secara Rohani sebenarnya jawaban itu tidak membawa berkat, seharusnya begini “Puji Tuhan, baik-baik, kami dalam keadaan sehat, karena KASIH TUHAN, apa kabar juga?”. Orang arab menjawabnya begini ” Alhamdulilah… baik2 “.

    Nah, yang saya soroti adalah gaya karakter kita yg tidak sesuai dgn perbuatan seorang beriman kepada Tuhan. Kita tidak bersyukur dari apa yang sudah Tuhan lakukan kepada kita. Orang2 kharismatik, lebih antusias lagi, mereka selalu teriak “Haleluyah, Tuhan Baik setiap hari, Oh Haleluyah”. Jadi, sikap pesimistis Nias itu menunjukkan siapa kita dan karakter yang masih belum di upgrade selama berada di kota besar, dimana kita sdh membaur dengan ribuan macam-macam latar belakang manusia.. ratusan jenis suku2 bangsa.

    Jadi, sorry, pemikiran saya hanya itu semoga bisa di tebak lebih kearah Rohani saja. tidak bertendensi membalas orang yang dimaksud.

    Salam hangat untuk mitra Nias Barat Siapa Yang Punya bapak Latteriyan Alo’oa Hia, semoga dapat melanjutkan tulisan2 yg bagus agar dapat menjadi dokumentasi yg bisa dibaca oleh Next generation Nias kelak. Ya’ahowu

    GBU
    Ama Maya Gulo

  25. To Sdr aluivera Berkata:

    Aluivera | alui@yahoo.com | jakarta | IP: 118.137.192.6729 / Jan, 10:19

    Pilar Nias Barat yang menjadikanmu dikenal orang Nias Barat, maka bersyukurlah pada orang sirombu, kalau bukan orang sirombu (asli Ndaono Gaekhula) yang mencetuskan pilar nias barat maka tidak akan ada pilar. itulah kami, biarpun wilayahnya kecil pengaruhnya besar, bagaikan orang israel ditengah2 bangsa arab, tidak bisa ditembus kalau bukan dari dalam diri kami sendiri.

    Saya hapu komentar anda, karana tidak pada tempatnya. Orang lain sdh berhenti ‘cakap kotor’, malah anda memulai lagi.

    Saya terkesan dengan sebutan SIROMBU pada akhir kalimat anda. saya kurtip seperti di atas, hehehe…. ini kesombongan sejati Ndraono Zirombu, saya ini orang sirombu, apa artinya kita sok di jalanan, seperti preman (ada org tua yg sok preman, sekarang tersisih).

    sebelum di baca pak Ketum komentar anda mendingan saya hapu…. hehehehe.

    Redaksi

  26. Postinus Berkata:

    Ya’ahowu banuada, salam sejahtera.

    Dalam “The Merry Adventures of Robin Hood”, Robin Hood berpesan pada para pembaca:

    “ceritakanlah masalahmu dan bicaralah dengan terbuka, mengalirkan kata-kata senantiasa meringankan hati yang luka; seperti mengeluarkan debu yang menyumbat penggilingan”.

    Pesan Robin Hood di atas perlu kita terapkan dalam proses dialog yang selama ini cenderung terjadi benturan dan kesalahpahaman. Sudah waktunya kita berekonsiliasi melalui dialog dari hati ke hati.

    Postinus Gulö (moderator http://www.mandrehe.wordpress.com)

  27. Postinus Berkata:

    Pribadi yang ingin berkembang adalah pribadi yang berani mengambil risiko.Dan, risiko hanya terjadi jika kita berani melakukan sesuatu. Semoga blog ini menjadi ajang untuk menampilkan diri, melakukan yang lebih berharga walau penuh risiko.

  28. DR.oichoda nazara,Mpd Berkata:

    Terima kasih atas tuliasan mengnai ORANG NIAS DALAM PRESPEKTIF BUDAYA PRIMITIF” hanya saja menrut sya orang nias tetap berkewjiaban mnhargai budaya nya sendiri.meurut hemat saya pesta owasa tidak pasti menjadi penyebab ketertinggalan dan atau kemiskinan masyrakat nias.Ketertinggalan dan kemiskinan yg masih kita rasakan di Pulau nias lebih disebabkan kurangnya anak2 nias yg berada di pemerintahan pusat dan provinsi.selain itu kita kurang mampu mewjudkan Aoha nifahea zato artinya berastu untuk saling mengangkat/membangun sedangkan Pesta memberi makan orang diberbagai keeseempatan atau yg disebut owasa itu lebih saya artikan seebagai sifat kemurahan hati masyarakat Nias sejak nnek moyang kita untuk memberi sesuuuatu kpd yg lain Nah sebagai generasi Nias kita bisa kembangkan hal itu suka meemberi itu dalam bentuk yg lain misalnya dengan pikiran,tenaga,uang dan bisa sj makanan kepada sdr2 kita yg kekurangan di pulau nias.jadi buat sy owasa itu dan sikap menghormati siteenga bo’o itu cermin sikap mulia nenek moyang kita untuk suka memberi,suka menghormATI dan mau berkorban untuk orang lain.bukan kah itu anjuran Tuhan Kita Yeses Kristus?.kala bukan kita siapa lagi yg harus bangga tentang Nias ! Ya’ahowu.

Tinggalkan Balasan

XHTML: kamu dapat menggunakan tag-tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>