NATAL DAN LATAR BELAKANG PERAYAAN 25 DESEMBER

Natal 25 Desember Kenapa Harus Dipersoalkan?

Keberatan di atas dapat dijawab dengan mengemukakan 2 fakta sebagai berikut:

Pertama, pengharapan Mesianis Yahudi, tampaknya yang dimaksudkan Lukas dengan padang gembala itu bukan padang gembala biasa. Tetapi menunjuk kepada Migdal Eder, “Menara Kawanan Domba” yang disebut dalam Targum Yonathan.

Latar belakang seperti dicatat dalam Kej 35: 16-22. Dalam Targum Yonathan, Migdal Eder atau “Menara Kawanan Domba”, tempat Bani Israel memasang kemahnya (Kejadian 35:21), disebut sebagai tempat Raja Mesiah akan menyatakan diriNya pada hari-hari akhir’ (Targum Yonathan, Bereshit / Kej 35:21).

Menurut literatur Yahudi: Mishnah, Shekinah 7, 4 domba-domba yang disebut dalam kaitan dengan Migdal Eder itu bukan domba-domba gembalaan biasa, tetapi domba-domba kurban Bait Allah, yang dijaga oleh gembala-gembala yang khusus menurut peraturan rabi-rabi Yahudi.

Karena itu, letak Migdal Eder menurut keterangan Mishnah berada di suatu jalan tertutup dalam perjalanan dari Betlehem menuju ke Yerusalem.

Nah, karena tempat itu memang tempat tertutup, mungkin dikelilingi benteng, sehingga ‘domba-domba di padang itu dibiarkan digembalakan, baik pada saat musim panas maupun musim hujan’ (Talmud, traktat: Bezah 40a, Tsepta Bezah 4:6).

Memang domba-domba pada umumnya yang digembalakan di padang terbuka paling lambat harus kembali dimasukkan dalam kandangnya pada waktu turun hujan pertama (yang kira-kira jatuh sekitar bulan November).

Kedua, memang biasanya pada bulan Tebeth/Desember curah hujan sangat besar. Orang-orang akan menggigil kedinginan bila berada di luar. Tetapi ternyata tidak selamanya pada bulan Tebeth selalu turun hujan, seperti di catat dalam Talmud: “Tahun yang baik pada bulan Tebeth”.

Desember-Januari tidak turun hujan (Ta’anit 6b). Catatan Talmud ini membuktikan bahwa masa istimewa itu memang pernah terjadi.

Orang Jawa menyebutnya, salah mangsa, ‘salah musim’. Sehubungan dengan itu, Talmud malah secara eksplisit mencatat bahwa pada musim dingin: alu henmid-bariyot (Domba-domba digembalakan di padang ).

Apakah ada catatan bahwa memang pernah terjadi fenomena salah mangsa ini di Palestina? Dr. Chaplin, dalam Palestinian Exploration, edisi Januari 1883, melaporkan bahwa rata-rata curah hujan pada pertengahan bulan musim dingin di Palestina mencapai 4.718 inci pada bulan Desember; 5.479 inci pada bulan Januari; dan 5.207 inci pada bulan Pebruari.

Jadi memang sangat dingin, tetapi ia mencatat, bahwa pernah terjadi pada tahun 1876 – 1877, didapati angka curah hujan yang sangat mengejutkan: 0.490 inci pada bulan Desember; 1.595 inci pada bulan Januari dan langsung meningkat 2 kali lebih dingin dari biasanya hingga 8.750 inci pada bulan Pebruari.

Terjadinya ‘salah musim’ pada zaman kelahiran Yesus, sangat mungkin, karena fenomena perbintangan yang muncul seperti di catat dalam Injil Matius.

Johannes Kepler, yang disebut sebagai bapa astronom Barat yang hidup pada abad ke 17, menerangkan Bintang Natal (The Christmas Star) atau Bintang Betlehem (The Betlehem’s Star) itu secara astronomik, sebagai konjungsi planet Jupiter dan Saturnus pada konstalasi Pisces.

Seorang Bapa Gereja zaman permulaan, Klemens dari Iskandariya (hidup sekitar tahun 120), menulis bahwa bintang yang dilihat orang saleh di sebelah timur itu adalah bintang Novae.

Bintang ini muncul pada waktu-waktu tertentu, kadang-kadang samar-samar, lalu sangat terang dan berangsur-angsur menghilang. Bintang ini juga disebut oleh ahli perbintangan Cina, bernama Ma Tuan Lien, yang dikumpulkan dalam sebuah ensiklopedia Cina kuno berjudul: Wen Hien Thung Kao.

Jack Finegan, mengutip buku Montifiore, Novum Testamentum, vol 4 / 1960, menuliskan bahwa kedua bintang itu memang dijadikan acuan oleh orang-orang Majus.

‘Mungkin saja orang-orang Majus itu digerakkan oleh ramalan bintang dari konjungsi planet tahun 7 SM’, tulis Montifiore, ‘bahwa seorang Pemimpin akan datang di Timur.’ Jadi, kesimpulan itu didasarkan atas ‘ramalan’ konjungsi planet yang terjadi 2 tahun sebelum kelahiran Yesus.

Namun mereka baru berangkat ke Yerusalem dengan bimbingan cahaya bintang pada saat Yesus sudah dilahirkan, yang ditandai dengan penampakan bintang Novae pada waktu kelahirannya, kira-kira tahun 5 SM’.

Perlu dicatat, tarikh Masehi yang berlaku sekarang ternyata salah mengkalkulasi kelahiran Yesus 4 atau 5 tahun lebih maju.

Selanjutnya, menurut Lundmark, dalam Actes du Vile Congres International d’Historie des Science, penampakan bintang Novae itu bisa berlangsung selama 7 bulan, bahkan bisa lebih.

Dengan jangka waktu itu, tersedialah cukup waktu bagi orang-orang Majus untuk mengadakan perjalanan dari negeri mereka menuju Betlehem.

Sebab menurut catatan Alkitab, ‘..bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga berhenti di atas tempat, di mana Anak itu (Yesus) berada’ (Mat 2:9).

Ternyata konjungsi planet Jupiter dan Saturnus pada tahun 7 sebelum Masehi itu, cocok dengan temuan lempengan batu di menara kuno Zippar, di tepi sungai Eufrat.

Jadi, tempat lempengan itu juga sekaligus cocok dengan asal-usul orang-orang Babel kuno. Bunyi inkripsi lempengan tersebut dalam bahasa Babel kuno: Mullu-Baba U kaiwanu ina zippati. Artinya: ‘Jupiter dan Saturnus dalam konstalasi Pisces’.

Bukti-bukti archeologi lain juga dijumpai dalam sebuah papyrus dari tahun 42M yang juga mencatat konjungsi 2 planet itu. Sekarang papyrus ini disimpan di Berlin .

Lempengan Zippar tersebut, mungkin bisa dihubungkan dengan pengalaman orang Majus. Lempengan ini pertama ditemukan oleh P. Scanable pada tahun 1925. Menurut Scanable, di kota Zippar terdapat sekolah Astrologi yang terkenal pada zaman Babel Kuno.

Lebih menarik lagi, kita dapat melacak makna simbol astrologi Babel . Bintang-bintang itu, dalam astrologi Babel kadang-kadang diidentikkan dengan bangsa-bangsa tetangga mereka, selain di kaitkan dengan makna lain.

Dari hasil penelitian naskah-naskah kuno agama Babel, Pisces itu lambang the end times, ‘zaman akhir’, Jupiter sebagai planet terbesar, the royal planet in Babylonian astrology, melambangkan the Ruler, Raja atau Penguasa.

Sedangkan Saturnus melambangkan Palestina. Jadi, berdasarkan cara berpikir orang Babel , fenomena perbintangan itu dapat diartikan bahwa seorang Raja atau Penguasa telah datang pada zaman itu, tempatnya di negara Palestina.

Dan lagi, kalau dikalkulasi penanggalan tradisional gereja juga tidak terlalu jauh bergeser. Hal itu bila kita mengandalkan bahwa ‘bintang Betlehem’ itu adalah bintang Novae yang menampakkan diri pada bulan Pebruari tahun 5 – 4 sebelum Masehi.

Tahunya juga cocok dengan perkiraan kelahiran Yesus, tinggal perkiraan tanggal dan bulannya. Menurut para astronom, penampakan bintang itu bisa lebih dari 7 bulan. Dan menurut Injil Matius, orang Majus itu menjumpai bayi Yesus yang sudah dilahirkan sebelumnya.

Jadi, tidak mustahil Yesus dilahirkan pada bulan Desember atau Januari. Tetapi sekali lagi, sulit mengambil kesimpulan yang pasti, karena memang tidak ada data sejarah dari abad pertama yang memastikan kelahiran Yesus, termasuk di gereja Yerusalem zaman purba. Sumber Literatur Yahudi.

Sumber Tabloit Gloria Edisi 375, Minggu ke I November 2007

About these ads

3 pemikiran pada “NATAL DAN LATAR BELAKANG PERAYAAN 25 DESEMBER

  1. Ping-balik: Selamat Hari Natal | Dunia File Weblog ™

  2. Ping-balik: Merry Christmas | Web-Ro Media is fully the colour site

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s