Posted by: Mustika Ranto Gulo on: 23 November 2007
Artikel dari Adolf Gulo (Nias, 14 Juni 2007, Jam 23.00 Wib)
Saya sependapat bahwa kecerdasan emosional terbukti berpengaruhi positif terhadap kinerja pada semua bagian organisasi dan sangat relevan bagi pekerjaan yang membutuhkan tingkat interaksi sosial yang tinggi.
Pada kesempatan ini saya tambahan mengenai TEORI MOTIVASI untuk menyempurnakan bagaimana seseorang memotivasi dirinya untuk menuju kesuksesan.
TEORI MOTIVASI
Motivasi adalah kekuatan yang memacu seseorang melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam suatu organisasi, motivasi anggota sangat penting karena tanpa keteguhan motivasi anggota maka upaya mencapai tujuan organisasi tersebut tidak akan berhasil dengan baik.
Ada empat hal yang harus dimaknai secara komprehensif berkaitan dengan motivasi dalam berorganisasi. Yakni, bahwa motivasi berisikan hal-hal yang bersifat positif, motivasi mengatur hubungan kerja, motivasi menentukan kinerja organisasi, dan motivasi tidak pernah boleh berhenti.
Jika seseorang anggota mendapat kepuasan dari fungsi dan perannya di dalam organisasi, bukan kepuasan akibat peningkatan status sosial atau keuntungan finansial, maka hal tersebut berarti yang bersangkutan memiliki motivasi intrinsik.
Sebaliknya, motivasi ekstrinsik berarti ada elemen lain di luar tugas pekerjaan sebagai faktor utama yang memotivasi seseorang anggota organisasi melaksanakan fungsi dan perannya di dalam organisasi, misalnya prestise atau besarnya kompensasi.
Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, saat ini pemahaman tentang motivasi tidak lagi terbatas pada pengertian tradisional di mana manajemen memotivasi anggota hanya melalui sistem insentif (anggota yang memberi keuntungan lebih besar kepada organisasi akan menerima insentif yang lebih besar). Model hubungan manusia kini mewarnai kaidah tradisional tersebut.
Kecenderungan saat ini adalah manajemen berupaya memotivasi anggota melalui pemenuhan kebutuhan sosial anggota sehingga anggota merasa penting dan berguna bagi organisasi.
Landy & Becker, berbekal model hubungan manusia tersebut, menyusun lima kategori teori motivasi, yaitu Teori Kebutuhan, Teori Penguatan, Teori Keadilan, Teori Harapan, dan Teori Penetapan Sasaran.
Teori Kebutuhan (Hierarchy of Needs):
Seseorang mempunyai motivasi jika belum mencapai tingkat kepuasan tertentu dalam kehidupannya.
Abraham Maslow merupakan penggagas teori kebutuhan yang paling populer. Teori Hirarki Kebutuhan-nya mengutarakan, motivasi manusia berdasarkan lima kebutuhan dengan urutan dari terendah sampai dengan tertinggi sebagai berikut: fisiologis -> keamanan -> sosial -> harga diri -> aktualisasi diri.
Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhanya tersebut secara bertahap. Apabila satu tahapan kebutuhan telah terpenuhi maka kebutuhan tersebut tidak lagi menjadi motivator.
John W. Atkinson mengelompokkan tiga kebutuhan yang memacu motivasi intrinsik, yakni kebutuhan berprestasi (needs for achievement), kebutuhan berkuasa (needs for power), dan kebutuhan berafiliasi (needs for affiliation).
Teori ERG:
Seseorang yang belum mampu mencapai tingkat kepuasan yang lebih tinggi akan kembali pada kebutuhan yang lebih rendah.
Clayton Alderfer mempopulerkan teori ini berdasarkan pada norma keberadaan (Existence), hubungan (Relatedness), dan pertumbuhan (Growth). Alderfer menyampaikan, penekanan teori ini adalah pada gerak yang fleksibel dari pemenuhan kebutuhan dari waktu ke waktu atau dari situasi ke situasi.
Teori Keadilan (Justice):
faktor utama motivasi kerja adalah evaluasi individual terhadap keadilan penghargaan yang diterima.
Stoner, yang mengemukakan teori ini, berpendapat bahwa harus ada perbandingan yang memadai antara input – output. Menurutnya, seseorang anggota organisasi akan lebih memotivasi dirinya jika rasio input – output yang dimiliki sama dengan rasio input – output yang dimiliki anggota lain. Dengan demikian persepsi anggota organisasi terhadap keadilan peraturan organisasi (procedural juctice) dalam membagi imbalan menjadi sangat penting.
Teori Harapan (Hopes):
Seseorang menentukan tingkah lakunya berdasarkan berbagai alternatif dengan harapan memperoleh keuntungan dari setiap tindakan yang dipilihnya.
Menurut Gordon, teori ini terdiri atas tiga elemen dasar: harapan, instrumentalitas, dan valensi. Harapan mengacu pada persepsi individu bahwa usaha akan menghasilkan kinerja (seperti, produktivitas atau peningkatan penjualan). Instrumentalitas mengacu pada persepsi individu bahwa kinerja dapat berupa hasil yang positif atau negatif (misal, promosi, kenaikan gaji, kelelahan, atau kesunyian). Valensi mengacu pada nilai individu yang melekat pada kinerja yang dihasilkan.
Teori Penguatan (Reinforcement):
tingkah laku berkonsekuensi positif cenderung berulang; tingkah laku berkonsekuensi negatif cenderung tidak berulang.
B.F. Skinner, pengemuka teori ini menyampaikan bahwa tindakan seseorang pada masa lalu sangat mempengaruhi tindakan masa depan secara siklus dengan urutan sebagai berikut: rangsangan -> respon masa lalu -> konsekuensi -> respon masa depan. Manajemen biasanya memanfaatkan pendekatan ini untuk mengubah tingkah laku anggota organisasinya. Oleh karena itu lazim juga disebut teori modifikasi tingkah laku (behaviour modification) berdasarkan ide eksplorasi W. Clay Hamner.
Teori Penetapan Sasaran (Goal Setting):
seseorang secara individu akan termotivasi apabila mempunyai kemampuan atau keterampilan untuk mencapai sasaran tertentu.
Peter F. Drucker berpendapat, penetapan sasaran merupakan program yang terdiri atas tujuan yang spesifik dan ditentukan secara partisipatif untuk suatu periode yang jelas disertai dengan umpan balik mengenai kemajuan pencapaian tujuan. Fokus teori ini adalah pada proses penetapan sasaran yang dapat dibedakan atas sasaran spesifik (specificity), sasaran sulit (difficulty), dan sasaran diterima (acceptance). Penetapan sasaran tidak dilakukan secara sepihak oleh manajemen, melainkan penetapan sasaran melibatkan anggota organisasi dengan mengedepankan prinsip partisipasi agar memotivasi anggota untuk mencapai kinerja yang lebih tinggi.
Demikian sekilas tentang teori motivasi yang saya sharingkan pada forum kita ini, terima kasih…Ya’ahowu !
Shalom,
Adolf Gulo (Ama Lia)
Komplex KBN Gunungsitoli, Nias
HP.: 0813 9797 4948
Telp.: (0639) 22004
Pencerahan yang membawa pembelajaran umat.
Saya menikmati tulisan-tulisan yang bermanfaat di web kita ini.
Kalau boleh saya kategorikan pengetahuan yang dapat kita petik disini ada Pelajaran Agama (Pdt.Haeli Hia,STh, MA ,Ir.Mustuka Ranto, Bapak Otenieli Hia, Bapak Ir.Arifman Gulo,Bapak Doro Hia) Sosial kemasyarakatan dan pendidikan (Bapak Adolf Gulo,Bapak Mathias J.Daeli, Bapak Postinus Gulo,Sdr Mesi Gulo/Waruwu ? Bapak Abisaloni Gulo, Bapak Ebenezer Hia, Bapak Doro Hia) Ekonomi (Bapak Ir.Mustika Ranto Gulo, Bapak Doro Hia), Hukum dan otonomi daerah (Bapak Ir.Mustika Ranto Gulo, Bapak Yaredi Waruwu,Bapak Doro Hia), Kesehatan (Bapak Ir.Mustika Ranto, Bapak Doro Hia) ilmu kebatinan (Bapak Doro Hia dan Sdr Melisa Daeli)
Semoga banyak lagi penulis yang bisa sharingkan ilmunya buat kita
GBU
slamat dan sukses bagi kita yang mau berusaha.
Yaahowu Ono Niha, Saya salut Tulisan ini, TEORI MOTIVASI, wah ada ya orang Nias yang hebat dapat menulis seperti ini. Seandainya tulisan ini diteruskan sangat baik untuk digunakan memotivasi orang lain dalam bentuk training atau sejenisnya.
terima kasih
Eliakim Zagoto
Ya’ahowu !!!
I wish to try adds about the “Motivation Theory” as follows:
Motivation frequently is comprehended equal to with performance this thing arising from understanding to cognition interpreted as a strength pushing someone to do something to obtain result or purpose of expected. Though motivation and performance be different something. Performance is evaluating to behavior of someone, result of for example to know how well someone does to do the work. While motivating is one of element from performance measurement. Because of motivation was only some of size to assess performance, hence doesn’t mean that man is motivating is good would have performance well, and so do on the contrary some factors becoming the cause is existence of personality difference and ability.
Motivation can be in the form of motivation intrinsic and extrinsic. Motivation having the character of intrinsic is the work character of itself making someone to motivated, people gets satisfaction by doing the work not because of other excitement like status and or money or can also is told someone to do work which is the hobby. While motivating is extrinsic the elements outside work sticking in the work becomes primary factor making someone to motivate like status and or make-good.
The above is true comments from me, thanks.
Shalom,
ANG
Ya’ahowu !!!
Saya ingin menambahkan tentang “Teori Motivasi” sbb:
Motivasi sering kali dipahami sam dengan kinerja (performance) hal ini timbul karena pemahaman terhadap pengertian motivasi yang diartikan sebagai sesuatu kekuatan yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu agar memperoleh hasil atau tujuan yang diharapkan. Padahal motivasi dan kinerja (performance) adalah hal yang berbeda. Kinerja adalah evaluasi atas perilaku seseorang, hasilnya antara lain untuk mengetahui seberapa baik seseorang melakukan pekerjaannya. Sedangkan motivasi adalah salah satu elemen dari pengukuran kinerja. Dikarenakan motivasi adalah hanya sebagian dari ukuran untuk menilai kerja, maka tidak berarti bahwa orang yang bermotivasi baik akan berkinerja baik, demikian juga sebaliknya beberapa faktor yang menjadi penyebabnya adalah adanya perbedaan kepribadian dan kemampuan.
Motivasi dapat berupa motivasi intrinsic dan ekstrinsik. Motivasi yang bersifat intrinsic adalah manakala sifat pekerjaan itu sendiri yang membuat seseorang termotivasi, orang tersebut mendapat kepuasan dengan melakukan pekerjaan tersebut bukan karena rangsangan lain seperti status atau uang ataupun bisa juga dikatakan seseorang melakukan pekerjaan yang merupakan hobby. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah manakala elemen2 di luar pekerjaan yang melekat di pekerjaan tsb menjadi faktor utama yang membuat seseorang termotivasi seperti status atau kompensasi.
Demikian tanggapan dari saya, terima kasih.
ANG
JENDERAL KANCIL
Di sebuah rimba nan lebat terdapatlah sebuah kerajaan rimba yang dipimpin oleh seekor harimau putih. Sang harimau putih adalah raja tua yang sangat bijak, dia selalu adil dalam bertindak dan bijak dalam bertutur. Kerajaan rimbanya pun selalu makmur dan tentram.
Suatu ketika, datanglah sekelompok binatang dari hutan sebrang yang terbakar dan tandus berpindah dan bergabung menempati rimba sang raja. Sang raja harimau putihpun dengan tangan terbuka menerima mereka yang sedang kesusahan sebagai rakyatnya. Tanpa disadari adalah awal mula permasalahan yang dihadapi sebuah kerajaan rimba yang sedianya aman dan tentram.
Populasi pendatang semakin banyak, walau sama speciesnya namun beragam latar belakangnya. Ini menimbulkan banyak perubahan dalam tatanan dan cara berpikir masing-masing kelompok binatang, perlahan perubahan pola pikir ini menimbulkan kelompok-kelompok yang khusus, timbul kelompok Kera, Anjing, Kucing, tikus, serangga dan berbagai kelompok lainnya yang menganggap masing-masing lebih superior dan penting dibanding komunitas lain dalam kerajaan rimba sang raja harimau putih.
“Hmm, aku melihat benih-benih perpecahan setelah kedamaian dan kemakmuran meliputi kerajaanku selama berpuluh-puluh tahun.” Keluh sang harimau putih gundah.
“Rajaku yang bijak, sebaiknya kita terbuka dan segera mengadakan pembicaraan dengan seluruh elemen komunitas yang ada dalam masyarakat kita, dengan begini cepat atau lambat ini akan menimbulkan perpecahan kerajaan kita tuanku.” Kata Jendral Kancil, jendral penasehat sang raja.
“Dengan ijin dan restu Paduka, hamba akan memimpin pembicaraan itu dan Paduka bergerak di balik layar sebagai back upnya.” Usul Jendral Kancil.
“Usulan bagus, baiklah ini adalah tongkat komando tanda kekuasaan ku. Lakukanlah segera.” Sabda sang Raja.
Di suatu pagi yang cerah berkumpulah para pimpinan-pimpinan komunitas penghuni rimba. Ada 8 pimpinan dari 12 kelompok besar yang berpengaruh yang hadir yaitu, pimpinan Serangga, Unggas, Tikus, Kucing, Anjing, Kambing, Kuda , Kerbau, sementara itu pimpinan Buaya, Gajah, Reptil dan Beruang mereka tidak hadir. Mereka yang tidak hadir merasa mempunyai kekuatan untuk berdiri sendiri daripada harus bergantung dengan kelompok yang lain.
Kancil mulai memimpin rapat kelompok pimpinan rimba yang yang hanya dihadiri oleh 8 pimpinan kelompok berpengaruh. Walau tubuhnya kecil, Jendral Kancil dengan tegas menyerukan pentingnya persatuan dan kesatuan bagi kerajaan rimba yang dipimpin Sang Harimau Putih sambil mengacungkan tongkat mandat Sang Raja Harimau Putih pimpinan rimba.
Di tengah rapat, pimpinan anjing dan kucing dengan ponggahnya meninggalkan rapat seraya mengatakan “ini bukan urusan kami”. Tanpa bergeming dan terpengaruh situasi, Jendral Kancil tetap meneruskan memimpin rapat dengan tegas dan berapi-api hingga rapat selesai.
Rapatpun selesai dengan kesepakatan 6 pimpinan kelompok untuk mempertahankan kerajaan rimba dipimpin oleh sang raja rimba Harimau Putih. Tiba-tiba sang Harimau Putih keluar dari balik tempat rapat dan berdiri gagah diatas batu seraya berkata, “Terima kasih saudaraku, kita harus tetap bangun dan bersatu demi kesejahteraan semua binatang di rimba raya ini”. Semua pimpinan binatang yang hadirpun membungkukan kepala tanda hormat kepada sang raja rimba.
Malam itu juga Harimau Putih sang raja memerintahkan pasukan kerajaan untuk bersiap menangkap pimpinan Anjing dan Kucing yang meninggalkan rapat tanda tidak mendukung. Sang Jendral Kancil hadir tepat pada waktu sebelum perintah dijalankan dan segera berkata kepada sang raja,”Maaf Paduka Raja, bukankah kalau kita menunda sehari untuk persiapan yang lebih mantap untuk mengepung dan menangkap pimpinan Beruang untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya secara hukum akan lebih tepat.”
“Apa maksudmu Jendral ?” sahut sang Raja.
“Beruang adalah salah satu simbol kekuatan di kerajaan rimba ini, namun jumlahnya tidak terlalu banyak, jadi tidaklah terlalu sulit untuk menangkap pimpinannya.
“Menangkap pimpinan Beruang dan dengan tegas meminta petanggungjawabannya secara hukum kita, maka akan menunjukkan ketegasan sikap Paduka. Ini akan memberikan pelajaran sekaligus contoh bagi yang lain atas akibat tindakan dan sikap yang tidak benar yang telah dilakukan.” Tegas sang Jendral Kancil.
Sang raja mengangguk tanda setuju, jumlah pasukan ditambah dan dengan persiapan lengkap tepat saat fajar menyingsing, pasukan kerajaan sudah mengepung kelompok beruang yang masih asyik tidur. Tepat selangkah pimpinan Beruang beranjak selangkah keluar dari guanya, pasukan kerajaan telah dengan sigap menangkap dan menggiring beruang menghadap sang Raja Rimba.
Pagi hari itu seisi hutan tampak tegang, namun tidak sampai terjadi kekacauan. Tindakan kerajaan berlangsung cepat dan tegas. Sore itu juga pimpinan Reptil, Gajah, Anjing dan Kucing menghadap sang Raja Rimba dan meminta maaf serta menyatakan kesediaannya untuk mendukung sepenuhnya kesatuan kerajaan Rimba yang dipimpin Sang Raja Harimau Putih.
Ombak dan badaipun berhenti, Rimba raya menjadi tenang seperti sedia kala, semua binatang kembali bertegur sapa penuh keramahan, burungpun kembali bernyanyi riang dan kembalilah kehangatan persaudaraan, keamanan dan kesejahteraan kerajaan Rimba raya seperti sediakala.
Pembaca yang budiman,
Kucing dan Anjing memang kurang ajar, namun menangkap mereka hanya membuang waktu dan tenaga, karena mereka tidak menjadi simbol kekuatan.
Beruang adalah simbol kekuatan namun jumlahnya tidak banyak, menangkapnya relatif lebih mudah dan sekaligus memberikan efek yang telak bagi setiap pimpinan binatang yang tidak sepaham dengan keutuhan dan persatuan kerajaan rimba yang dipimpin oleh Raja Harimau Putih yang bijak.
Pertanggungjawaban Beruang sesuai dengan ketegasan hukum kerajaan Rimba menjadi contoh tindakan tegas sebagai akibat yang diterima oleh pembangkang. Ketegasan ini membuat barisan yang membangkang kembali merapatkan diri demi kesatuan Kerajaan Rimba.
Pesan moral strategi ini,
Perlu kalanya kita berpikir “out of the box” dalam framework makro.
Effektifitas dan effisiensi pada tindakan yang tepat dan tegas akan memberikan impact yang menyentuh seluruh aspek yang kita harapkan, tanpa harus mengalami pertentangan yang luas.
Kisah asli terjadi pada Dinasty Zhou era Cun Ciu, saat Qi berambisi mempersatukan China. Undangan untuk bersekutu hanya dihadiri Chen, Cai, Zhu dan Song. Negara bagian lain tidak hadir, sementara Song pun meninggalkan sekutu.
Guan Zhong, perdana mentri Qi menganjurkan raja Qi untuk menyerang Sui, negara kecil namun cukup solid. Serangan ini sekaligus menambaha aliansi Qi dan menjadi ancaman serius bagi Song.
Wei, Cao dan Song bergabung tanpa peperangan, 676 BC persatuan terbentuk dibawah kuasa Qi.
MAS OR MBAK SAYA SEDANG MENCARI TUGAS NIH. BISA DI BANTU DONK!!!!
SAYA DISURUH MENCARI TEORI MOTIVASI ABRAHAM
14 Juni 2007 pada 11:47 PM
Pada belum tidur ya? Ketahuan, ya!
Ok, saya kenal baik sdr Adolf Gulo (Ama Lia)
1. Motivasi yang tersembunyi itu negatif, ada motivasi karena mungkin imbalannya besar… konpensasinya lebih dari cukup. kata-kata itu sangat bagus, terutama dalam perjuangan kita Nias Barat. Karena apapun yang kita lakukan pasti di curigai bahwa orang itu pasti ada maunya dibalik usaha dan perjuangannya.
2. Yang terjadi pada kita adalah teori Peter F. Drucker yang berpendapat, penetapan sasaran merupakan program yang terdiri atas tujuan yang spesifik dan ditentukan secara partisipatif untuk suatu periode yang jelas disertai dengan umpan balik mengenai kemajuan pencapaian tujuan.
Sebab perjuangan Nias Barat bukan rahasia lagi, sekalipun lafamini-mini tai mao yaira Panitia BPP Kanisbar ba Jakarta. Tetapi akhirnya semua orang tahu, kwalitas dan sasaran serta tindakan yang sudah dilakukan. amburadul……..!
maju terus, satukan langkah
SMS tadi siang yang menyatakan kita berdoa secara serentak kami sambut baik.
Salam
Bobo hehehehe!