Kecerdasan Emosional

KECERDASAN EMOSIONAL ADALAH KUNCI KESUKSESAN SESEORANG

Menurut Penelitian Daniel Goleman (2002) keberhasilan orang-orang sukses lebih banyak ditentukan oleh kecerdasan emosional yang mereka miliki yang mencapai 80 % sedangkan kecerdasan intelektual hanya berperan 20 % dalam kesuksesan mereka.

Apa yang menjadi ciri-ciri orang yang memiliki kecerdasan emosional ?

  1. Tidak merasa bersalah secara berlebihan.
  2. Tidak mudah marah.
  3. Tidak dengki, tidak irihati, tidakbenci dan tidak dendam kepada orang lain.
  4. Tidak menyombongkan diri.
  5. Tidak minder.
  6. Tidak mencemaskan akan sesuatu.
  7. Mampu memahami diri orang lain secara benar.
  8. Memiliki jati diri.
  9. Berkepribadian dewasa mental.
  10. Tidak mudah frustasi.
  11. Memiliki pandangan dan pedoman hidup yang jelas berdasarkan kitab suci agamanya.

Disini sangat kelihatan bahwa apa yang menjadi karakteristik kecerdasan emosional seseorang tak lepas dari nilai-nilai yang diajarkan oleh agama. Dalam konteks ini bisa dianalogikan bahwa orang-orang yang menerapkan nilai-nilai agamanya dalam kehidupannya sehari-hari akan memiliki kecerdasan emosional yang baik.

Max Weber (1864-1920), seorang profesor berkebangsaan Jerman dalam bukunya : Die protestantische ethik und der geits des kapitalismus, menerangkan bahwa penerapan etika protestan telah membawa keberhasilan pembangunan ekonomi kapitalis di Eropa dan Amerika. Yang mana etika protestan dapat diuraikan sebagai berikut :

  1. Pembagian kerja yang jelas, tegas dan ketat.
  2. Hirarki wewenang yang jelas dan pengambilan keputusan yang tepat.
  3. Prosedur seleksi harus secara formal.
  4. Pembuatan peraturan yang rinci dan dengan penerapannya yang ketat.
  5. Hubungan yang didasarkan atas hubungan inter personal.

Pada tahun 1958 Robert Bellah menelaah etika protestan dari Max Weber ini, di Jepang yang menganut agama TOKUGAWA dimana setelah pemboman Hirosima dan Nagasaki yang membuat segala aspek kehidupan di Jepang luluh lantah, namun dalam tempo 10 tahun lebih Jepang bisa bangkit kembali terutama dalam bidang perekonomian dan teknologi.

Robert Bellah mengatakan bahwa orang Jepang telah menerapkan nilai-nilai yang ada dalam agama tokugawa yang didalamnya mengandung unsur-unsur etika protestan seperti kejujuran, kedisplinan, bekerja keras, menghargai kinerja, menghargai waktu, mengadakan evaluasi secara terus menerus, menghargai nilai-nilai yang berlaku pada masyarakat.

Hal yang sama juga dikemukakan oleh Dr. A.A.A Prabu Mangkunegara, Msi ahli psikologi dosen Universitas Pajajaran Bandung serta beberapa universitas di Bandung dan Jakarta, mengatakan dalam bukunya Budaya Organisasi (2005) bahwa unsur-unsur etika protestan juga ada dalam kitab suci Al quran seperti bekerja keras, bekerja merupakan mukmin yang sukses serta tak mungkin berubah nasib suatu kaum tanpa mereka harus merubah sendiri nasibnya (Al quran 13:11).

Dengan demikian etika protestan yang berisi unsur-unsur kecerdasan emosional harus dijalankan bila menginginkan keberhasilan dalam beraktivitas (bekerja atau berorganisasi).

Jadi kecerdasan emosional dapat diperbaiki dengan menerapkan etika protestan (yang kebanyakan agama mengajarkannya) dalam kehidupan sehari-hari atau dengan kata lain orang yang melaksanakan ajaran agamanya (yang mengandung unsur-unsur etika protestan) akan memiliki kecerdasan emosional yang baik.

Mengapa kecerdasan emosional diperbaiki ?

Menurut Joan Beck, kecerdasan intelektual atau IQ pada usia anak kurang dari 5 tahun sudah terpenuhi IQ 50 % dan di akhir remaja (kira-kira umur 20 tahun) hanya tinggal 20 % lagi dari IQ yang bisa ditingkatkan. Sedangkan kecerdasan emosional atau EQ BISA DITINGKATKAN SEPANJANG MASA.

Caranya bagaimana ?

Menurut Patricia Patton (2002) Cara mengelola emosi sebagai berikut:

  1. Belajar mengidentifikasikan apa yang biasa memicu emosi kita dan respon apa yang kita berikan dengan demikian kita mengetahui apa yang seharusnya dirubah.
  2. Belajar dari kesalahan sehingga mengetahui yang mana yang mau diperbaiki.
  3. Belajar membedakan segala hal yang terjadi di sekitar kita maka diketahui mana yang memmberikan pengaruh dan mana yang yang tak berpengaruh sehingga batin kita tenang.
  4. Belajar untuk mempertanggungjawabkan setiap tindakan kita.
  5. Belajar untuk mencari kebenaran.
  6. Belajar untuk memanfaatkan waktu secara maksimal.
  7. Belajar untuk menggunakan kekuatan sekaligus kerendahan hati dan tidak merendahkan orang lain.

Menurut Taufik Bahanudin (2001) cara mengelola emosi dengan:

  1. Melakukan tindakan yang bersifat humor yang menyegarkan.
  2. Mengarahkan kembali energi emosi yang bergolak.
  3. Berusaha mengambil isterahat atau penyenangan diri.

Sehingga terhadap orang lain tindakan kita :

  1. Jangan runtuhkan kerja anggota tim/teman/bawahan dengan mengabaikan prestasi mereka.
  2. Jangan menggunakan intimidasi untuk meningkatkan semangat teman/bawahan.
  3. Jangan gunakan konsultan dari luar untuk menjatuhkan teman/bawahan.
  4. Jangan berusaha memberikan pelayanan dengan mengabaikan cara orang lain (sok hebat atau ambil muka).
  5. Jangan ciptakan harapan yang tak realistis dengan orang lain.
  6. Jangan meminta melebihi dari apa yang anda bisa berikan kepada orang lain.
  7. Jangan memanipulasi atau memaksakan agar orang lain patuh.
  8. Jangan ingkar janji.

Bagaimana cara mengembangkan diri agar menjadi efektif ?

Menurut Jill Daan (2002) melakukan :

  1. Pengaturan diri, Mengontrol implus yang produktif, tenang, berpikir positif, tidak bingung menghadapi masalah, mengelola emosi yang menyusahkan, mengurangi rasa cemas, berpikir tenang dan fokus.
  2. Keaslian, jujur pada diri sendiri dan orang lain, percaya diri, berlaku etis, mengakui kekurangan, menerapkan nilai-nilai keluhuran dan mengantisipasi kesalahan yang sering terjadi.
  3. Kehandalan, menerima tanggung jawab dan menghargai prestasi/kinerja orang lain.
  4. Fleksibilitas, memahami dan adaptif terhadap perubahan.
  5. Memotivasi diri sendiri sehingga terus bersemangat.

Kira-kira seperti ini pemikiran yang dapat disumbangkan kepada teman-teman barangkali ada yang bisa memetik manfaatnya dan dengan segala kerendahan hati memohon kritik dan saran yang membangun dari pembaca karena dengan penuh kesadaran mengakui tulisan ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, semoga sukses selalu.

About these ads

27 pemikiran pada “Kecerdasan Emosional

  1. Salam pak Ketum Pilar, terima kasih semua perjuangan ya.

    Kita berharap sesuatu yg lebih baik kepada generasi kita … SDM kita harus lebih baik.

    HI4

  2. Sebelumnya mohon maaf kalau ada yang kenal dan saya tidak tahu harus panggil apa ? Hadia tana namagu, gaagu ma akhigu boro lo aboto sibai ba dodogu iraono hulo. Jadi u’andro waebolo dodomi fefu ira talifusogu.

    Untuk sdra Eldin Maruao salam kenal dan kalau mau hub silahkan lewat email : chepa_pk07@yahoo.com or tlp. 021-98688021, Hp. 0817 008 1009.

    Trim’s Tuhan memberkati.

  3. Hi, Erwin saya Eldin Maruao saya juga dari Hinako kalau bisa saya minta nomor telepon yang bisa di hubungi

  4. EQ dan Kesuksesan Kerja

    Daniel Goleman dalam bukunya “Emotional Intelligence: Why it Can Matter More than IQ” (Bantam, 1995) mengatakan bahwa untuk mencapai kesuksesan dalam pekerjaan dibutuhkan bukan hanya “cognitive intelligence” tetapi juga “emotional intellegence”. Emotional intellegence atau disingkat EQ adalah kemampuan untuk untuk mengendalikan hal-hal negatif seperti kemarahan dan keragu-raguan atau rasa kurang percaya diri dan juga kemampuan untuk memusatkan perhatian pada hal-hal positif seperti rasa percaya diri dan keharmonisan dengan orang-orang disekeliling. Dalam buku berikutnya, “Working With Emotional Intelligence”, Goleman menekankan perlunya emotional intelligence dalam dunia kerja, suatu bidang yag seringkali dianggap lebih banyak menggunakan “cara berpikir analitis” daripada melibatkan perasaan atau emosi. Menurutnya setiap orang dalam perusahaan atau organisasi dituntut untuk memiliki EQ yang tinggi. Selain itu Goleman berpendapat bahwa IQ bersifat relatif tetap, sementara EQ dapat berubah sehingga bisa dibentuk dan dipelajari.

    Pro dan Kontra
    Pendapat Goleman mendapatkan banyak tanggapan pro dan kontra di kalangan para Psikolog. Beberapa Psikolog memandang pendapat Goleman sangat penting bagi bagi pengembangan ketrampilan atau keahlian dalam suatu pekerjaan, sementara yang lain menganggap bahwa validitas EQ yang menunjang terbentuknya suatu ketrampilan dan keahlian belum terbukti. Ada juga yang tidak sependapat bahwa EQ dapat diajarkan. Bagi mereka hanya kemampuan kognitif dan ketrampilan teknis yang merupakan hal utama yang dapat membuat seseorang menjadi sukses dalam pekerjaan.

    John Mayer, seorang psikolog dari University of New Hampshire, mendefinisikan EQ secara lebih sederhana. Menurut Mayer, EQ adalah kemampuan untuk memahami emosi orang lain dan cara mengendalikan emosi diri sendiri. Sementara Goleman mendefinisikan EQ secara lebih luas, termasuk optimisme, kesadaran, motivasi, empati dan kompetensi dalam melakukan hubungan sosial. Bagi Mayer, traits (kecenderungan) tersebut lebih merupakan kecenderungan kepribadian. Hal tersebut juga didukung oleh Edward Gordon, yang mengatakan bahwa EQ lebih banyak berhubungan dengan kepribadian dan “mood” (suasana hati) yang tidak dapat diubah. Menurut Gordon, perbaikan kemampuan analisis dan kemampuan kognitif, adalah cara terbaik untuk meningkatkan kinerja para pekerja. Menanggapi kritikan tersebut, Goleman mengatakan bahwa kemampuan kognitif mengantarkan seseorang ke “pintu gerbang suatu perusahaan”, tetapi kemampuan emosional membantu seseorang untuk mengembangkan diri setelah diterima bekerja dalam sebuah perusahaan. EQ merupakan faktor yang sama pentingnya dengan kombinasi kemampuan teknis dan analisis untuk menghasilkan kinerja optimal. Semakin tinggi jabatan seseorang dalam suatu perusahaan, semakin crucial peran EQ.

    EQ dalam Dunia Kerja
    Secara khusus, para pemimpin perusahaan membutuhkan EQ tinggi karena mereka mewakili organisasi, berinteraksi dengan banyak orang baik di dalam maupun di luar organisasi dan berperan penting dalam membentuk moral dan disiplin para pekerja. Pemimpin yang memiliki empati akan dapat memahami kebutuhan para pegawainya dan dapat memberikan feedback yang konstruktif . Jenis pekerjaan juga berpengaruh terhadap jenis EQ. Menurut Goleman, untuk dapat sukses dibidang sales dituntut kemampuan berempati guna mengetahui “mood” pelanggan dan kemampuan interpersonal guna memutuskan kapan saat yang paling tepat untuk menawarkan suatu produk dan kapan harus diam. Di lain pihak, untuk dapat sukses menjadi seorang pelukis atau petenis professional individu dituntut untuk memiliki disiplin diri dan motivasi yang tinggi.

    Mengajarkan EQ
    Nilai mendasar yang mau dikembangkan dengan menampilkan EQ dalam dunia kerja adalah implikasinya terhadap penyelenggaraan pelatihan-pelatihan. Dengan memperhatikan bahwa EQ berperan aktif bagi kesuksesan seseorang dalam bekerja maka organisasi perlu melakukan pelatihan-pelatihan EQ. Pada area ini para psikolog dapat mengambil peran besar untuk membantu individu dalam membangun kompetensi emosional yang dibutuhkan oleh pekerjaannya. “EQ mempengaruhi semua aspek yang berhubungan dengan pekerjaan. Bahkan ketika anda bekerja seorang diri, keberhasilan anda akan sangat tergantung pada seberapa besar tingkat kedisiplinan dan motivasi anda sendiri”.

    Ya’ahowu,

    Erwin Marundruri, ST
    Email : chepa_pk07@yahoo.com
    _

  5. Yang benar Bos, masa Nias Barat mulai dari awal lagi, toleran amat ya ???

    Memang orang Nias Barat kalau sudah dibaik-baikin sama orang, mau ngalah ya ? Makanya dalam hal ini, perlu kesadaran yang tinggi biar jangan dikibulin.

  6. Setuju sekali respon “Maju tak gentar” Kalau ada yang tak bisa dikerjakan, ngomong dong, jangan diam-diam.

    Coba ditanyakan ke KOMISI II, BADAN LEGISLASI (BALES), BADAN MUSYAWARAH (BAMUS) apakah data-data dokumen mengenai Nias Barat ada disana atau dipegang oleh masing-masing anggota DPR RI yang ada disana ?

    Jawabannya : TIDAKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKK ADA !!!!!! sudah diambil kembali oleh TEAM FASILITASI utk menunggu lengkap dokumen KANIRA DAN KOTA GUNUNG SITOLI !!!!!!!

    Kami mohon Pengurus Pilar, tolong masukkan lagi dokumen Nias Barat yang ada, walaupun hanya fotocopy. Sekali lagi please…deh..Jangan taruh harapan sama mereka itu karena sia-sia belaka.

    Terima kasih

  7. Yaahowu saudara Nehesi Marunduri !!!!!!!!!!!!
    Hetalifuso haniha ndaugo sotoi Nehesi Marunduri ?????
    Niilagu hasamosa zotoi dao ba marunduri yaitu Kakek Letkol Nehesi Marunduri (alm)atau A.Flores Marunduri di Kupang NTT. hana obee komentarmo tapi atauo wangombakha toimo sinduhu……tdk jantan. he…he.he..he
    yaahowu

  8. Niwao no,Hulo tafuli fuli ita furi bagaboro…he…he…no tarugi kalasi ono, batafuli ita tou ba kalasi sara..he…bat…he…bat
    Mi’ombakhao khoma he.. na ambo fangera-ngera mi mazui ambo golomi wo’urusi khoda kabupate aekhula, ya’ami ira talifusoma ba BPP Kanisbar…wa’oya nasa niha PILAR same’e badodo ba sangododogo woperzuako.

  9. Saya sangat setuju respon # 15 KBT pak AJP, kalau Pilar mau berkorban, mau menelusuri sampai dimana proses pembentukan Kanisbar.

    Saya baca disini, banyak dokumen yang dibutuhkan DPR RI sebenarnya sudah ada, namun belum sampai ke tangan DPR RI ?

    Gimana kalau Pengurus Pilar menyodorkan lagi dokumen2 tersebut kepada Bapak2 yg ada di DPR RI.

    Terima kasih

  10. Kita pakai aja prinsipnya “Katak Buta Tuli” KBTnya pak AJP.
    Sudah ngerti apa yg dilakukan.
    Sudah jalanin terus, nanti anda lihat hasilnya. hehehe

  11. IRI HATI ADALAH SIFAT YANG MEMATIKAN KEMAJUAN KITA.
    Apa yang anda tulis ini, semoga membawa perubahan, karena kita sadari ini yang mwembuat kita gagal. Ada orang2 yg iri kepada Pilar Nias Barat, pada hal anda begitu terbuka.

    Bailah, jika ini terus-terusan maka tamatlah riwayat orang ini, segera buka DPC PILAR NIAS BARAT disetiap kecamatan di Nias Barat, biarlah mereka dianggkat sebagai musuh bebuyutan masyarakat.

    Egocentris, dimana orang ini belum matang dari semua aspek kehidupan, tetapi ingin menampilkan namanya, ingin cepat kaya dan ingin punya nama, sulit untuk mengakui orang lain, selalu ingin lebih dari siapapun. hal ini terjadi kepada anak2 Nias yang merantau, ingin menunjukkan kepada orang-orang dikampungnya bahwa dirinya sudah sukses, sudah makmur dan sebagainya. Jadi, jika ada orang lain yang tampil “lebih”, orang itu adalah musuh yang harus dibasmi. Tidak akan memberi waktu dan kesempatan kepada yang lain. Susah bersatu!

    Masih mungkin Bersatu?

    DoroHia

  12. Terima kasih Res #11 yg ngaku Top Nias, semoga anda sadar kata-kata anda diatas.

    dari sana ketahuan pola pikir anda “egosentris” kayaknya cuman anda yg “hebat” hehehe……kita lihat saja nanti sejauhmana kehebatan anda,

    Biasanya sih orang yg merasa hebat, tak ada apa-apanya tuh.

    Semoga anda sadar, dengan terlebih dahulu anda jangan tersinggung.

  13. Salam buat saudara yang bekerja utk mewujudkan Kab.Nias barat.

    Marilah kita memandang segala sesuatu dengan kecerdasan emosional, sehingga apapun saran orang lain kita terima dengan positif thinking.

    Salam sukses selalu

  14. Pak Fangaro, semoga anda jujur dan ikhlas atas saran anda.
    1. Jangan hanya tertawa dan menantikan orang lain jatuh dan nasib mereka tidak jelas juntrungannya karena berjuang, lalu anda tertawa.
    2. Siapa saja mereka yang potensial yang anda maksud, sebab saya lihat ono niha itu penampilannya ok, tapi otak belum memadai… itulah masalah kita…SDM.
    3. Terbuka pintu bagi siapapun demi Nias barat, kami harapkan bergandeng tanganlah dan jangan hanya NATO berikan yang terbaik, salut kepada rekan saya yang kemarin ke ged MPR sendirian…. hehehe pantas anda jadi ketua!
    Salam Sukses

  15. Ketemu lagi deh pak Adolf Gulo (Bapak Ama Lia) yang menguraikan maslah motivasi, luar biasa bapak menjelaskan teori motivasi.

    Keinginan seseorang melakukan sesuatu itulah yang kita kenal dengan motif. Untuk Pengurus Pilar anda tertantang sekarang, motivasi anda membentuk Pilar apa ?? apa seperti organisasi mbanuada yg lain ? hidup sebentar, habis itu tak tau kemana juntrungannya..hehe semoga nggak ya ?

    Sebab saya hanya warning saja sih, disana anda sudah melibatkan orang-orang yang menurut saya sangat potensial dan menguasai bidangnya, semoga nama mereka tidak hanya buat anda iklankan, kasihan mereka dan anda Pengurus Pilar ternyata tak bisa mengakomodasi mereka.

    Ini hanya mengingatkan saja, maaf sebelumnya.

    Selamat dan sukses buat Pengurus Pilar

  16. Salam Abang saya Yth. Adolf Gulo di Nias
    Saya bangga sekali kepada abang yang tulisannya begitu baik dan berkualitas. Selaku moderator saya akan angkat tulisan ini di branda depan semoga sukses.
    Saya dengar ada acara keluarga besar kita ya? semoga sukses Tuhan Memberkati. Salam untuk semua !

    Yaahowu
    mustika ranto gulo (AMA MAYA GULO)
    021 6886 1905
    0855 7878 556

  17. Terima kasih atas tulisan yang abang Abisaloni Gulo sharingkan kepada kita semua pada forum ini tentang KECERDASAN EMOSIONAL ADALAH KUNCI KESUKSESAN SESEORANG.

    Saya sependapat bahwa kecerdasan emosional terbukti berpengaruhi positif terhadap kinerja pada semua bagian organisasi dan sangat relevan bagi pekerjaan yang membutuhkan tingkat interaksi sosial yang tinggi.

    Pada kesempatan ini saya tambahan mengenai TEORI MOTIVASI untuk menyempurnakan bagaimana seseorang memotivasi dirinya untuk menuju kesuksesan.

    TEORI MOTIVASI
    Motivasi adalah kekuatan yang memacu seseorang melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam suatu organisasi, motivasi anggota sangat penting karena tanpa keteguhan motivasi anggota maka upaya mencapai tujuan organisasi tersebut tidak akan berhasil dengan baik.

    Ada empat hal yang harus dimaknai secara komprehensif berkaitan dengan motivasi dalam berorganisasi. Yakni, bahwa motivasi berisikan hal-hal yang bersifat positif, motivasi mengatur hubungan kerja, motivasi menentukan kinerja organisasi, dan motivasi tidak pernah boleh berhenti.

    Jika seseorang anggota mendapat kepuasan dari fungsi dan perannya di dalam organisasi, bukan kepuasan akibat peningkatan status sosial atau keuntungan finansial, maka hal tersebut berarti yang bersangkutan memiliki motivasi intrinsik.

    Sebaliknya, motivasi ekstrinsik berarti ada elemen lain di luar tugas pekerjaan sebagai faktor utama yang memotivasi seseorang anggota organisasi melaksanakan fungsi dan perannya di dalam organisasi, misalnya prestise atau besarnya kompensasi.

    Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, saat ini pemahaman tentang motivasi tidak lagi terbatas pada pengertian tradisional di mana manajemen memotivasi anggota hanya melalui sistem insentif (anggota yang memberi keuntungan lebih besar kepada organisasi akan menerima insentif yang lebih besar). Model hubungan manusia kini mewarnai kaidah tradisional tersebut.

    Kecenderungan saat ini adalah manajemen berupaya memotivasi anggota melalui pemenuhan kebutuhan sosial anggota sehingga anggota merasa penting dan berguna bagi organisasi.
    Landy & Becker, berbekal model hubungan manusia tersebut, menyusun lima kategori teori motivasi, yaitu Teori Kebutuhan, Teori Penguatan, Teori Keadilan, Teori Harapan, dan Teori Penetapan Sasaran.

    Teori Kebutuhan (Hierarchy of Needs):
    Seseorang mempunyai motivasi jika belum mencapai tingkat kepuasan tertentu dalam kehidupannya.

    Abraham Maslow merupakan penggagas teori kebutuhan yang paling populer. Teori Hirarki Kebutuhan-nya mengutarakan, motivasi manusia berdasarkan lima kebutuhan dengan urutan dari terendah sampai dengan tertinggi sebagai berikut: fisiologis -> keamanan -> sosial -> harga diri -> aktualisasi diri.
    Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhanya tersebut secara bertahap. Apabila satu tahapan kebutuhan telah terpenuhi maka kebutuhan tersebut tidak lagi menjadi motivator.
    John W. Atkinson mengelompokkan tiga kebutuhan yang memacu motivasi intrinsik, yakni kebutuhan berprestasi (needs for achievement), kebutuhan berkuasa (needs for power), dan kebutuhan berafiliasi (needs for affiliation).

    Teori ERG:
    Seseorang yang belum mampu mencapai tingkat kepuasan yang lebih tinggi akan kembali pada kebutuhan yang lebih rendah.

    Clayton Alderfer mempopulerkan teori ini berdasarkan pada norma keberadaan (Existence), hubungan (Relatedness), dan pertumbuhan (Growth). Alderfer menyampaikan, penekanan teori ini adalah pada gerak yang fleksibel dari pemenuhan kebutuhan dari waktu ke waktu atau dari situasi ke situasi.

    Teori Keadilan (Justice):
    faktor utama motivasi kerja adalah evaluasi individual terhadap keadilan penghargaan yang diterima.

    Stoner, yang mengemukakan teori ini, berpendapat bahwa harus ada perbandingan yang memadai antara input – output. Menurutnya, seseorang anggota organisasi akan lebih memotivasi dirinya jika rasio input – output yang dimiliki sama dengan rasio input – output yang dimiliki anggota lain. Dengan demikian persepsi anggota organisasi terhadap keadilan peraturan organisasi (procedural juctice) dalam membagi imbalan menjadi sangat penting.

    Teori Harapan (Hopes):
    Seseorang menentukan tingkah lakunya berdasarkan berbagai alternatif dengan harapan memperoleh keuntungan dari setiap tindakan yang dipilihnya.

    Menurut Gordon, teori ini terdiri atas tiga elemen dasar: harapan, instrumentalitas, dan valensi. Harapan mengacu pada persepsi individu bahwa usaha akan menghasilkan kinerja (seperti, produktivitas atau peningkatan penjualan). Instrumentalitas mengacu pada persepsi individu bahwa kinerja dapat berupa hasil yang positif atau negatif (misal, promosi, kenaikan gaji, kelelahan, atau kesunyian). Valensi mengacu pada nilai individu yang melekat pada kinerja yang dihasilkan.

    Teori Penguatan (Reinforcement):
    tingkah laku berkonsekuensi positif cenderung berulang; tingkah laku berkonsekuensi negatif cenderung tidak berulang.

    B.F. Skinner, pengemuka teori ini menyampaikan bahwa tindakan seseorang pada masa lalu sangat mempengaruhi tindakan masa depan secara siklus dengan urutan sebagai berikut: rangsangan -> respon masa lalu -> konsekuensi -> respon masa depan. Manajemen biasanya memanfaatkan pendekatan ini untuk mengubah tingkah laku anggota organisasinya. Oleh karena itu lazim juga disebut teori modifikasi tingkah laku (behaviour modification) berdasarkan ide eksplorasi W. Clay Hamner.

    Teori Penetapan Sasaran (Goal Setting):
    seseorang secara individu akan termotivasi apabila mempunyai kemampuan atau keterampilan untuk mencapai sasaran tertentu.

    Peter F. Drucker berpendapat, penetapan sasaran merupakan program yang terdiri atas tujuan yang spesifik dan ditentukan secara partisipatif untuk suatu periode yang jelas disertai dengan umpan balik mengenai kemajuan pencapaian tujuan. Fokus teori ini adalah pada proses penetapan sasaran yang dapat dibedakan atas sasaran spesifik (specificity), sasaran sulit (difficulty), dan sasaran diterima (acceptance). Penetapan sasaran tidak dilakukan secara sepihak oleh manajemen, melainkan penetapan sasaran melibatkan anggota organisasi dengan mengedepankan prinsip partisipasi agar memotivasi anggota untuk mencapai kinerja yang lebih tinggi.

    Demikian sekilas tentang teori motivasi yang saya sharingkan pada forum kita ini, terima kasih…Ya’ahowu !

    Shalom,
    Adolf Gulo (Ama Lia)
    Komplex KBN Gunungsitoli, Nias
    HP.: 0813 9797 4948
    Telp.: (0639) 22004

  18. Orang yang ngotot atau memaksakan kehendaknya, itu sama dengan manusia yang tak mau menerima perubahan dan pasti orang yang emosinya tidak cerdas.

    Sangat merugikan bagi orang yang bahasa Nias ” Sabe’e hogo” atau “sidandofo”
    Dia tak akan menikmati hidupnya dengan bahagia selama karakter tersebut masih selalu dia pertahankan, kacian…deh lho. kata orang Jakarta.

  19. Yang baik dan budiman Mesa, Mesi dan Meli salam kenal,nama saya Mega berasal dari Mandehe Nias Barat, saya sedang kuliah di Semarang.

    Saya senang sekali kita bisa komunikasi melalui forum ini, sehingga dengan adanya sharing bisa kita saling menguatkan, apalagi kita di tanaj rantau ini.

    Mencerdaskan emosi adalah suatu metode yang sangat pesat penggunaannya oleh instasnsi pemerintah dan swasta guna meningkatkan kinerja pegawai mereka.

    Kalau dulu kita mengenal Penataran, sekarang banyak kantor-kantor mengirim pegawainya utk mengikuti kursus Kecerdasan Emosi dan Spritual dengan anggaran yg cukup tinggi.

    Namun disana, mereka disuruh menjalankan ajaran agamanya, sambil mereka dibikin terharu dan menangis-nangis. Kayak di gereja Betel atau kharismatik atau pentakosta.

    Makanya bagi kita yg sudah memiliki etika protestan, tinggal menerapkan saja, jangan kita yg memiliki tapi orang lain yg mendapat manfaat.

    Saohagolo
    Mega
    Semarang

  20. Kalau bicara masalah kondisi perekonomian, sebelum kita mempelajari/menerapkan Firman Tuhanpasti akan menemui jalan buntu.

    Bukankah didalam Firman itu selain mengikuti hukum alam juga merupakan kontra hukum alam ? dan ini yang disebut Mukjizat.

    Saya sangat meyakini Firman itu dan saya juga menerima realita yang terjadi, oleh karena itu kita mengikuti aja pepatah klasik ORA ET LABORA, berdoa dan bekerja. Semoga Pilar Nias Barat tetap jaya.

  21. Terima kasih bapak dan ibu, ini semakin menarik tapi pertanyaannya adalah

    Apakah bisa seorang orang awam menjadi juara suatu perlombaan olah raga ?

    Tentu saja tak bisa bukan, karna dia akan kalah dengan rival2nya yg sudah memiliki pengetahuan basic, skill dll

    Demikian juga dalam penerapan Firman Tuhan/Iman tidak bisa atau agak susahlah bagi orang awam utk memiliki iman yg berkemenangan, tentu dia butuh proses penumbuhan Iman.

    Semua Firman Tuhan, saya yakini ya dan amin, tapi ada cara/koridor utk bisa membuahkan hasil.

    Barangkali faktor ekonomi salah satu yg harus ada cara memandang ulang sehingga dia bisa match utk bersinergi dalam kontek penerapan Firman Tuhan (barangkali ini yg dikeluhkan bapak Mesakhi Hia).

    Salam manis dari Melisa di Papua

  22. Salam Yaahowu teman-teman seluruh tanah air. Saya bersuka Cita WEB kita sudah bagus, dan sukses kepada bapak-bapak Penulis seperti Bapak Ir. Abisaloni Gulo, MM, Good luck for you sir.

    Mesakhi Hia Yth.
    Benar, salah satu faktor orang kehilangan akal sehat adalah faktor ekonomi. Namun, ada buku yang saya baca The Purpose Driven Life, tulisan Rick Warren, bahwa “FASILITAS DI DUNIA INI SARAT DENGAN BERKAT, TUHAN MENGATAKAN TAKLUKKANLAH BUMI”.

    Maaf pak moderator, email anda kepada saya, sangat bagus jika di bagi juga di sini. Taklukkanlah bumi artinya gunakan segala akal sehat untuk faith dan menang!!!!!!!

    Ekonomi kita di Nias bahkan di Jakarta masih belum memadai banget. Kita semua masih berjuang dan mempertahankan hidup. Justru dalam kesulitan kita menmukan kekuatan yang illahi. Jadi faktor kerihanian juga sangat menentukan orang menjadi seorang yang cerdas secara emosional. Cerdas secara sosial, cerdas mengelola financial.

    Sorry, solusi adalah TAKLUKKAN LAH BUMI (FIRMAN TUHAN) seperti email Pak RANTO… hehehe

    salam,

    Mesi

  23. Keadaannya sekarang sudah beda ya. Kalau perekonomian tidak seberat sekarang barangkali orang-orang bisa lebih bersukacita.

    Kondisi beratnya pergerakan ekonomi Indonesia, membuat akal sehat orang sulit berfungsi, lebih mudah emosi dan marah.

    Mungkin hal pencerdasan emosional berlaku efektif bagi mereka yang telah mapan secara ekonomi atau mereka yg telah memiliki dasar keimananan yang mantap, Mohon solusi dari teman-teman

  24. Pembelajaran yang bermanfaat diatas sangat perlu kita renungkan, kalau boleh saya tambahkan bahwa yang menentukan siapa kita orang yang cerdas emosinya atau orang yang emosinya negatif adalah ditentukan oleh pilihan kita sendiri.

    Kalau mau kita bertumbuh, kita laksanakan ajaran agama kita dengan benar. Dan kita harus mau menerima perubahan.

    Terima kasih
    Gerald Waruwu Bandung

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s