Nias Barat Siapa Yang Punya ?

I LOVE YOU NIAS

  • Top Posts

  • KITA ADALAH HAMBA KEBENARAN

    Jadilah hamba kebenaran,Hamba tidak memiliki hak untuk membenarkan diri, Hamba tidak memiliki apa-apa di dunia ini, Hamba bukan ahli waris, Hamba pasti tidak memiliki harta yang melebihi kekayaan Tuannya. Hamba Kebenaran tidak melawan kebenaran, Hamba kebenaran pasti dihina dan dicaci karena berjuang demi kebenaran, Seorang Hamba lebih rendah dari tamu-tamu Tuannya, Hamba kebenaran adalah HAMBA TUHAN, Hamba tidak berkuasa atas dirinya, dan Hamba Kebenaran Tidak Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Salam, Mustika Ranto Gulo. Pemerhati Nias Barat
  • BERKOMUNIKASI DENGAN KUASA

    Baca Buku "BERKOMUNIKASI DENGAN KUASA" oleh Charles H. Craft. Kami referensikan buku ini karena mampu memberi inspirasi yang sangat nyata dalam berkomunikasi. Buku ini sangat berguna sebagai buku pedoman bagi para KOMUNIKATOR KRISTEN yang menerapkan metode Komunikator ala Tehologi Kristen. Saya yakin buku ini mampu bekuasa untuk mengantar anda kepada level kehidupan baru dalam rangka bagaimana anda berkomunikasi dengan baik.
  • PILAR NIAS BARAT

    SEJARAH PILAR NIAS BARAT Pada tanggal 5 Mei 2007, Segenap Masyarakat Nias asal Nias Barat berkumpul di Aula DPP Partai Golkar DKI Jakarta di Jalan Penggasaan Barat No 24 Jakarta Pusat dan menyatakan dengan tekad bulat untk mendirikan organisasi bernama "PILAR NIAS BARAT". Pada saat itu melakukan pemilihan pengurus DPP Pusat dengan hasil yang sangat demokratis adalah Ketua Umum Ir. Mustika Ranto Gulo, Sekretaris Umum Meiatasi Dolai, Bendahara Umum Otenieli Hia. Dalam Rapat tersebut diputuskan bahwa target 6 bulan pertama kerja Pengurus DPP dengan harapan dapat mencapai hasil adalah: 1. AD/ART dan Pengurusan Legalitas sebagai LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) 2. Membuka DPW dan DPC diseluruh Indonesia dan mengutamakan Wilayah Nias dan Sumatera Utara dan Jawa. 3. Melaksanakan Deklarasi Pilar Nias Barat (telah dilaksanakan tgl 26 Mei 2007) di Gedung Landmark Lantai 22 Tower A Jalan Sudirman No.1 Jakarta Pusat. 4. Melakukan kunjungan dan dengar pendapat kepada semua instansi pemerintah yang terkait dengan PEMEKARAN DAERAH. (5) Melakukan event SEMINAR tentang Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam menyikapi Pra Pemekaran Nias Barat. 6. Mengajukan Permohonan ke BI dan Bank Swasta agar membuka kantor bank cabang pembantu di Kecamatan Lolofitu Moi, Kecamatan Mandrehe dan Kecamatan Sirombu sebagai kantong-kantong ekonomi rakyat. 7. Mempersiapkan MUNAS pada awal tahun 2008 di Jakarta untuk meletakkan Garis-Garis Besar Haluan Organisasi Pilar Nias Barat. Berbagai program lainnya yang akan dikonsolidasikan terus kepada komponen masyarakat Nias di Jakarta termasuk kepada PANITIA BPP KANISBAR di Nias, SUMUT dan Jakarta. "SALAM SUKSES PILAR NIAS BARAT"
  • Kertas Putih Yang Tercoret Tanpa Arti

    Hidup ini bagaikan lembaran kertas putih yang polos dan tak beracat cela. Hari-hari kita satu menit ke depan sungguh tak terduga. Tidak ada seorangpun yang sanggup memahami masa depan sekalipun dia seorang peramal ulung. Kertas putih itu kita isi dengan sebuah lukisan yang sangat indah yaitu lukisan tentang kehidupan. Ada yang melukisnya dengan warna yang sederhana, bahkan ada yang menuangkan ribuan warna-warni, ada yang membiarkannya tanpa cretan apapun, banyak yang berdiam diri dan tidak berbuat apa-apa dalam hidupnya. Ada juga orang yang hanya menunggu uluran tangan sang pelukis lain, dia berharap agar orang lain yang menorehkan warna kehidupan dalam hidupnya, sangat tragis. Mengapa bukan kita sendiri yang menorehkan lukisan itu ? Bukakah kita berhak berbuat apa saja dalam hidup kita ? Apakah itu baik atau jahat, keputusan ada dalam tangan anda. Saran saya, jangan biarkan ada tangan lain yang memberi warna dalam hidup anda. Dan berikanlah yang terbaik dalam lukisan itu, yaitu kebajikan dan kemurahan, suka cita, kasih dan sebagainya yang dipandang baik dan mulia. Jagalah, kwalitas tinta dan tatalah warna-warninya yang bisa dipandang manis dan lemah lembut. Sungguh hari esok ada, dan semuanya terserah anda bagaimana melukisnya dengan indah. Kertas Putih yang tercoret tanpa arti, membuktikan bahwa kita tak berarti pula, kita telah menyia-nyiakan waktu begitu saja berlalu. Hari ini, telah kulukiskan dalam hidupku sesuatu yang baik dan mulia, aku akan buktikan. Amin. Ir. Mustika Ranto Gulo
  • MULAI DARI DIRI SENDIRI

    Bangsa yang makmur berasal dari keluarga yang makmur dan keluarga yang makmur berasal dari setiap individu yang makmur. Individu yang makmur berasal dari produktifitas dan efesiensi yang maksimum. Jika kita menghasilkan yang baik tentu efek baliknya terhadap keluarga dan bangsa. Jadilah entrepreuner yang sejati untuk meningkatkan produktifitas dan efesiensi hidup yang baik. Saya selalu mengusulkan agar SDM Nias selalu berpikir dan belajar menjadi enterpreuner. Maaf, tidak betujuan merendahkan prinsip dan pola hidup aman yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Nias saat ini yaitu ramai-ramai menjadi "PEGAWAI NEGERI". Padahal sumber daya alam yang dapat diolah sangat menjanjikan di daerah kita, sedangkan gaji PNS belum diperbaiki oleh pemerintah, masih dibawah rata-rata Pendapatan perkapita Regional Asia. Akibatnya sangatlah fatal, karena biaya hidup besar, akhirnya terjerumus dalam Lingkaran Setan yaitu mencari peluang dan kesempatan lain. Misalnya menghemat anggaran dilingkungannya agar dapat dinikmti (dikorupsi). Faktor utama yang membuat bangsa ini semakin terpuruk adalah cara dan pola hidup seperti ini. Coba, jika kita memilih untuk menjadi enterpreuner, maka cara-cara diatas dapat diminimalis bahkan tidak akan terjadi. SAran, mulailah dari diri anda sendiri untuk memulihkan bangsa ini. Pulihkan dirimu sejak dini sehingga keluargapun dapat dipulihkan juga, yang pada akhirnya membawa dampak bagi kemakmuran Nias dan bangsa kita. Oleh Ir. Mustika Ranto Gulo
  • Arship

  • Kategori Tulisan Adalah:

Sistem Adat Perkawinan Nias: Salah Satu Penyebab Kemiskinan?

Ditulis oleh niasbarat di/pada AMpTue, 24 Apr 2007 01:19:17 +000019Selasa 4, 2007

Sistem Adat Perkawinan Nias: Salah Satu Penyebab Kemiskinan Masyarakat Nias?

 Oleh Postinus Gulö

Pengantar
Böwö adalah sebutan mahar dalam sistem adat perkawinan di Nias. Tetapi Böwö ini telah melahirkan problem baru yang tidak selalu disadari oleh masyarakat Nias sendiri. Keganjilan penerapan Böwö ini juga dirasakan oleh mereka yang pernah tinggal (berkunjung) di Pulau Nias. Dan tidak heran jika kebanyakan orang dari luar Nias yang pernah ke Pulau Nias selalu memiliki kesan: mahar, jujuran (böwö, gogoila) perkawinan Nias mahal! Oleh karenanya ketika mereka mau (baca: akan) menikah dengan gadis Nias ada semacam ketakutan, keengganan, keragu-raguan. Dan, tentu hal ini adalah kesan buruk! Ada apa dengan sistem adat perkawinan Nias? Yang salah “sistemnya” atau “masyarakat Niasnya”?

Analisa:

  1. Apakah budaya ini masih kita pertahankan?

  2. Putra Nias Memilih menikah di Luar Daerah, Pernikahan Silang Antar Suku

  3. Putri Nias jadi Apa?

Selamat Menikmati Opini saudara Postius Gulo dari Bandung.

Moderator

18 Tanggapan ke “Sistem Adat Perkawinan Nias: Salah Satu Penyebab Kemiskinan?”

  1. Moderator Berkata:

    Lanjutan Tulisan “Postinus Gulo”
    Arti Böwö
    Etimologi böwö adalah hadiah, pemberian yang
    cuma-cuma. Sama halnya kalau kita memiliki hajatan,
    entah karena ada tamu atau ada pesta keluarga, dsb.,
    lalu kita beri fegero kepada tetangga kita (makanan,
    baik nasi maupun lauk-pauk yang kita makan saat
    hajatan itu kita beri juga kepada tetangga kita secara
    cuma-cuma). Ini adalah aktualisasi kepekaan untuk
    selalu memperhitungkan orang lain di sekitar kita,
    juga untuk mempererat persaudaraan. Oleh karenanya tak
    heran jika masyarakat Nias menyebut orang yang ringan
    tangan sebagai niha soböwö sibai. Jadi, arti sejati
    böwö mengandung dimensi aktualisasi kasih sayang
    orangtua kepada anaknya: bukti perhatian orangtua
    kepada anaknya! Lantas kenapa böwö itu kayak
    dikomersialkan? Indikasi pengomersialan böwö
    sebenarnya gampang kita lihat. Misalnya, istilah böwö
    bergeser menjadi gogoila (goi-goila: ketentuan). Malah
    kata gogoila yang lebih familiar dikalangan tokoh adat
    Nias saat ini. Untuk mencapai “ketentuan” tentu
    ditempuh cara “musyawarah”(yang dimediasi oleh siso
    bahuhuo) dan sepengetahuan saya, dalam musyawah itu
    terjadi “tawar-menawar” berapa gogoila yang harus
    dibayar oleh pihak mempelai laki-laki. Jadi, böwö
    semakin direduksi maknanya: lebih dekat pada konotasi
    ekonomis (ibarat aktivitas jual-beli) dan bukan pada
    konotasi budaya. Dan saya percaya, jika pernyataan ini
    kita lemparkan ke orangtua kita atau ke “orang zaman
    dahulu”, pasti salah satu jawabannya adalah: da’ana
    hada Nono Niha (ini adalah adat Nias). Pernyataan
    semacam itu tentu mengokohkan dimensi statis budaya
    Nias juga mereduksi nilai-nilai sakral budaya Nias!
    Padahal seharusnya, budaya itu dinamis sesuai
    perkembangan zaman. Bahkan dalam pernyataan itu seolah
    adat yang terpenting dan bukan manusianya. Saudaraku,
    adat dibuat untuk manusia dan bukan manusia untuk
    adat. Ariflah menerapkan adat yang tidak membangun.
    Dulu böwö itu masih masuk akal. Mengapa? Karena sistem
    perekonomian Nias masih barter. Artinya böwö dihitung
    berdasarkan jumlah babi dan bukan uang. Sekarang kalau
    böwö itu di-uangkan, maka akan menjadi beban kehidupan
    berlapis generasi, karena babi tidak murah (misalnya,
    seekor babi yang diameternya 8 alisi harganya bisa
    mencapai Rp 900. 000 - Rp 1 Juta).
    Nah, kalau dalam gogoila (böwö) terdapat 25 ekor babi,
    coba Anda bayangkan berapa juta. Belum lagi beras, dan
    emas (balaki, firö famokai danga, misalnya). Padahal
    mencari uang di Nias sangat susah. Mata pencaharian
    mayoritas masyarakat Nias adalah bersawah/berladang
    dan menyadap karet (dari pohon havea). Seperti kita
    tahu bahwa sawah di Nias tidak seperti Di Pulau Jawa
    yang sawahnya dikelola dengan baik: ada irigasi,
    lengkap pestisida pembasmi hama padi. Setahu saya,
    rata-rata sawah di Nias tidak ada irigasi yang
    dibangun oleh pemerintah atau yang dibangun oleh
    swasta. Pengairan sawah di Nias cuma mengandalkan
    hujan! Sedangkan menyadap karet, juga ada masalah.
    Karet bisa diharapkan menjadi duit jika tidak ada
    hujan. Coba kita bayangkan jika musim hujan, mau makan
    apa masyarakat Nias? Singkatnya, mengumpulkan dan
    mencari uang di Nias yang puluhan juta, bisa
    bertahun-tahun.
    Kebiasaan masyarakat Nias jika pesta perkawinan banyak
    sekali yang harus di-folaya (dihormati dengan cara
    memberi babi). Selain itu, babi pun banyak yang harus
    disembelih dengan berbagai macam fungsional adatnya,
    misalnya: tiga ekor bawi wangowalu (babi pernikahan),
    seekor babi khusus untuk fabanuasa (babi yang
    disembelih untuk dibagikan ke warga kampung dari pihak
    mempelai perempuan) , seekor untuk kaum ibu-ibu (ö
    ndra’alawe) yang memberikan nasehat kepada kedua
    mempelai, seekor untuk solu’i (yang menghantar
    mempelai wanita ke rumah mempelai laki-laki), dan
    masih banyak lagi babi-babi yang disembelih.
    Selain yang disembelih, ada juga babi yang
    dipergunakan untuk “famolaya sitenga bö’ö”. Di sini
    saya sebut beberapa saja: sekurang-kurangnya seekor
    untuk “nga’ötö nuwu” (paman dari ibu mempelai
    perempuan), sekurang-kurangnya seekor sampai tiga ekor
    untuk “uwu” (paman mempelai perempuan), seekor untuk
    talifusö sia’a (anak sulung dari keluarga mempelai
    perempuan), seekor untuk “sirege” (saudara dari
    orangtua mempelai perempuan), seekor untuk
    “mbolo’mbolo” (masyakat kampung dari pihak mempelai
    perempuan, biasanya babi ini di-uang-kan dan uang itu
    dibagikan kepada masyarakat kampung), seekor untuk ono
    siakhi (saudara bungsu mempelai perempuan), seekor
    untuk balö ndela yang diberikan kepada siso bahuhuo,
    dsb (dan jika pas hari “H” perkawinan, ibu atau ayah
    atau paman, atau sirege dari pihak saudara perempuan
    menghadiri pesta perkawinan, maka mereka-mereka ini
    juga harus difolaya, biasanya seekor hingga tiga ekor
    babi). Dan masih ada pernik lain, yakni fame’e balaki
    atau ana’a (ritual memberi berlian atau emas), berupa
    famokai danga kepada nenek dan ibu mempelai perempuan;
    juga fame’e laeduru ana’a khö ni’owalu (pemberian
    cincin kepada mempelai perempuan, cincin itu
    diharuskan emas). Singkatnya, jika adat itu diterapkan
    pada zaman sekarang, maka Anda harus menyediakan uang
    puluhan hingga ratusan juta rupiah hanya untuk membeli
    babi dan emas belum lagi biaya pas hari “H”
    perkawiannya. Kalau kita melihat uraian di atas, böwö
    itu dibagi-bagi. Dan, kadangkala dalam pembagian
    semacam ini muncul berbagai macam perseteruan,
    permasalahan.
    Akibat Böwö yang Mahal
    a. Akibat Negatif
    Ada berbagai macam problem sosial dan juga ekonomi
    yang disebabkan oleh mahalnya böwö di Nias. Di bawah
    ini saya akan menguraikan beberapa argumen berdasarkan
    fakta yang memang saya dengar dan alami (terutama di
    Kecamatan Mandrehe).
    Pertama, akibat negatif dari böwö yang mahal adalah
    kemiskinan dan pemiskinan. Alasannya boleh dilihat
    dalam uraian akibat negatif berikutnya.
    Kedua, akibat mahalnya böwö, orangtua si anak bukan
    lagi bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan
    anaknya, tapi mereka bekerja untuk membayar utangnya,
    membayar böwö yang dibebankan kepadanya. Bahkan utang
    böwö yang belum sempat terbayarkan oleh orangtua si
    anak mesti si anak harus bersedia membayarnya.
    Mahalnya böwö semakin diperparah sejak masyarakat Nias
    mengenal uang, karena böwö juga diuangkan. Mempelai
    laki-laki yang tidak mampu mencukupi nilai böwö yang
    harus ia bayar, tidak ada pilihan lain baginya selain
    meminjam. Anda tahu yang namanya pinjaman pasti ada
    bunganya perbulan. Dan, lingkaran semacam inilah yang
    menyebabkan banyak keluarga Nias hanya bekerja untuk
    membayar bunga utangnya.
    Ketiga, mungkin kita pernah mendengar cerita Nono Niha
    yang berani melakukan pembunuhan hanya karena tidak
    dibayarkan kepadanya böwö yang sudah dijanjikan. Ini
    adalah akibat sosial yang sangat fatal dari böwö yang
    mahal. Hanya demi seekor babi atau berapalah itu, ia
    berani menghabiskan nyawa orang lain dan harus
    mendekam di penjara. Ini sungguh memilukan sekaligus
    memalukan.
    Keempat, akibat keempat ini masih ada kaitannya dengan
    akibat kedua di atas tadi. Kerapkali mempelai
    laki-laki jika menikah, apalagi dari keluarga yang
    pas-pasan (tidak mampu), terpaksa menjual tanahnya,
    menjual sawah-ladangnya, bahkan bila kepepet ia juga
    meminjam sejumlah uang atau menyusun kongsi (kalau di
    Mandrehe, pas acara femanga ladegö, pihak dari
    mempelai laki-laki mengajak semua pihak untuk
    membantunya dan pada saat itu babi mesti disembelih
    sebagai tanda pemberitahuan kepada orang-orang yang
    akan menolongnya/yang mau memberikan kongsi). Jangan
    salah, jika meminjam uang, bunga bukan main bung. Dan,
    itu tradisi buruk Nias selama ini. Masyarakat Nias
    seolah melingkarkan tali di lehernya sendiri. Atau
    seperti seorang yang menggali lobang, ia sendiri yang
    jatuh ke dalamnya. Coba kita bayangkan, tanah habis
    dijual, masih ngutang lagi. Lalu di mana keluarga baru
    ini mengadu nasib, mencari nafkah sehari-hari? Mungkin
    ada yang masih rendah hati : menjadi kuli kepada orang
    lain. Dan, hal ini adalah «perbudakan» yang disengaja,
    yang kita buat sendiri walaupun sebenarnya bisa kita
    hilangkan, bisa kita atasi dengan tidak menerapkan
    sistem böwö yang mahal.
    Kelima, jika orangtua masih berada dalam lingkaran
    «utang» sudah bisa dipastikan bahwa para orangtua
    tidak mungkin bisa menyekolahkan anaknya. Lantas kapan
    pola pikir Nias bisa ber-evolusi, berkembang, dinamis
    jika terjadi ke-vakum-an seperti ini, hanya karena
    böwö yang mahal itu. Melihat penerapan böwö yang tidak
    menguntungkan itu, sebaiknya para orangtua yang
    berasal dari Nias (apalagi mereka yang masih
    menerapkan böwö yang mahal) mesti menyadari apa tugas
    pokok jika sudah membentuk keluarga. Selain itu, mesti
    disadari: apa arti böwö yang sebenarnya. Saya rasa ada
    benarnya jika böwö adalah salah satu faktor utama
    kemiskinan di Nias secara turun-temurun. Boro-boro si
    orangtua menyekolahkan anaknya, utang böwönya saja
    belum lunas. Hal ini menjadi kendala bagi orang Nias
    sendiri untuk mencetak generasi penerus yang
    berpendidikan. Dan, jika demikian, jangan kaget jika
    berapa puluh tahun lagi Nias tidak akan mungkin
    membenahi kekurangan sumber daya manusianya.
    Keenam, apakah Anda bahagia jika memiliki utang ?
    pasti tidak. Bagaimana suasana hati Anda jika memiliki
    utang? Pasti tidak tenteram, apalagi kalau setiap
    minggu, bulan ditagih. Ini suatu ancaman. Jika
    demikian, orang yang memiliki utang, juga pasti selalu
    tenggelam dalam kegelapan, bukan lagi kebahagiaan
    (tenga fa’owua-wua dödö ni rasoira ero ma’ökhö bahiza
    fa’ogömi-gömi dödö). Ketidak-tenteraman hati seperti
    ini bisa merembes ke sasaran lain: suami-istri sering
    bertengkar, suami menyalahkan istrinya yang memang
    pihak penuntut böwö; orangtua dan anak saling
    bertengkar, berkelahi; orangtua sering memarahi
    anaknya. Maka jangan heran jika banyak keluarga di
    Nias yang “makanan” sehari-harinya adalah “broken
    home”, perseteruan. Lalu kapan sebuah keluarga
    mempraktekkan cinta sebagai suami-istri, jika
    situasinya seperti ini? Marilah kita menjawabnya
    sendiri-sendiri!
    Ketujuh, böwö identik dengan pemberian sejumlah harta
    benda, sejumlah uang, sejumlah babi yang harus
    ditanggung oleh pihak mempelai laki-laki. Nah, jika
    demikian, apa bedanya sistem böwö Nias ini dengan
    perdagangan perempuan dan perdagangan anak? Menurut
    saya, jika para orangtua memiliki motif bahwa böwö
    (gogoila) dijadikan sebagai modalnya, maka pada saat
    itu mereka termasuk dalam lingkaran perdagangan anak
    mereka sendiri. Dan hal ini bertentangan dengan hak
    azasi manusia! Tendensi perdagangan anak dalam system
    perkawinan Nias sebenarnya sudah mulai kelihatan.
    Misalnya, mempelai perempuan sering disebut sebagai
    böli gana’a (pengganti emas). Jadi seolah-olah
    perempuan itu sama dengan barang!
    b. Akibat Positif
    Pihak mempelai laki-laki, sebelum hari “H” perkawinan
    selalu mengumpulkan semua kerabatnya (seperti fadono,
    sirege, fabanuasa). Tentu dengan tujuan agar
    mereka-mereka ini bisa menolongnya, bahu-membahu
    menanggung böwö. Dari sisi ini ada juga beberapa hal
    positif.
    Pertama, kekerabatan, fambambatösa, fasitenga bö’ösa
    semakin terjalin, semakin harmoni. Dan, menurut
    kepercayaan Nias, semua “fadono” yang taat kepada
    matua nia (mertua) akan diberkati (tefahowu’ö) dan
    mendapat rezeki.
    Kedua, fadono selalu diingatkan akan kewajibannya. Hal
    ini bisa jadi menumbuhkan kesadaran akan “tanggung
    jawab” yang sejati dari para fadono. Dalam sistem adat
    perkawianan Nias, fasitengabö’ösa, fadonosa atau
    fambambatösa terjadi selama 3 generasi. Dalam sistem
    adat Nias (khususnya di Mandrehe) mempelai laki-laki
    memiliki kewajiban untuk selalau menjadi soko guru
    (tiang) bagi saudara mempelai perempuan (saudara dari
    istrinya yang dalam bahasa Nias disebut la’o).
    Misalnya, jika salah seorang saudara dari mempelai
    perempuan menikah, si mempelai laki-laki mesti
    membantunya. Di satu sisi ini baik. Tetapi di sisi
    lain, hal ini membebankan.
    Ketiga, dengan böwö yang mahal, setahu saya para
    orangtua di Nias tidak mudah cerai (tetapi
    jangan-jangan karena orang Nias sendiri memang tidak
    biasa bercerai).
    Melihat ambivalensi (negatif dan positif) böwö seperti
    yang terurai di atas, maka sebanarnya penerapan böwö
    yang mahal lebih banyak sisi buruknya, sisi
    negatifnya. Oleh karena itu, di bawah ini saya
    menguraikan bagaimana “problem solving”-nya.
    Problem Solving
    Pada bagian terakhir ini, saya juga mencoba mencari
    solusi yang perlu direfleksikan (baca:
    diinternalisasikan) oleh semua masyarakat Nias, niha
    khöda.
    Tesis Pertama, lalu bagaimana adat ini, apakah harus
    tetap diterapkan? Kalau menurut saya secara ritual
    adat Nias tidak boleh ditinggalkan begitu saja, karena
    ini warisan berharga dari leluhur Nias. Ritual dalam
    arti: penghormatan kepada paman, kepada saudara,
    kepada ibu mertua, kepada nenek, kepada penatua adat,
    dst.. Jadi, dimensi kultik dan etis budaya Nias tidak
    boleh ditinggalkan begitu saja, malah seharusnya kita
    dilestarikan.
    Namun yang perlu diperhatikan adalah bentuk
    penghormatan itu bukan dengan material, bukan dengan
    pemberian babi yang sekarang tergolong mahal di Nias
    (tetapi jika ada keluarga yang mampu dengan
    penghormatan secara material, silahkan saja yang
    penting jangan sampai pemberian itu adalah hasil
    pinjaman yang justru menjadi utang berlapis generasi).
    Bentuk penghormatan itu bisa melalui perhatian,
    menolong kerabat, mertua dikala mengalami situasi yang
    memang memerlukan bantuan tenaga manusia. Jadi,
    penghormatan itu lebih pada hal spiritual, afeksional,
    sosial dan bukan material-ekonomis. Dan, yang harus
    selalu dilestarikan oleh orang Nias adalah budaya,
    seperti: maena, tarian (tarian baluse, tari moyo,
    hoho, dst.), fame’e afo, ni’oköli’ö manu, dst. Sangat
    disayangkan, akhir-akhir ini justru tarian maena
    semakin hari semakin tidak dikenal lagi oleh generasi
    muda Nias. Padahal, tarian maena adalah salah satu
    tarian rakyat Nias yang kalau dilestarikan secara
    benar menjadi ciri khas dan kebanggaan Nias.
    Setiap orangtua pasti bahagia jika anaknya menjadi
    “orang”. Namun, jika para orangtua Nias belum
    menyadari bahwa böwö itu sangat membebankan maka saya
    kurang tahu sampai kapan masyarakat Nias akan
    menyadari bahwa pola pikir semacam itu justru
    menenggelamkan orang ke lembah kemiskinan. Pengalaman
    saya sendiri, kadang-kadang böwö itu diperebutkan
    antara pihak paman, talifuso, dan juga so’ono (dari
    pihak saudara dan juga orangtua mempelai perempuan).
    Ironisnya (masih terjadi) babi-babi yang mereka terima
    itu dijadikan sebagai modal. Ini komersial bung dan
    apa bedanya dengan “perdagangan anak”? ini bukan
    melebih-lebihkan, hal ini sungguh terjadi pada zaman
    dahulu kala (dan mungkin sampai sekarang, walaupun
    tidak sebanyak dulu).
    Tesis kedua, setiap orangtua yang berpendidikan
    mencoba menjadi pilar untuk mengubah tradisi Nias yang
    justru membebankan. Mula-mula para orangtua itu mesti
    melakukan penyuluhan kepada anaknya dan oleh karena
    itu juga jangan mereka terapkan böwö yang mahal kepada
    anak mereka sendiri. Tidak selamanya bahwa budaya itu
    positif dan manusiawi. Misalnya, budaya orang-orang
    Eskimo yang menyembelih orangtua mereka jika sudah
    tua. Menurut masyarakat Eskimo, tindakan mereka ini
    memiliki nilai yang tinggi: mencoba menyelamatkan
    orangtua mereka dari penyakit tua yang bisa membawa
    pada penderitaan. Bahkan tindakan itu adalah salah
    satu bentuk perwujudan penghormatan kepada orangtua.
    Budaya Mangayau di Kalimantan (tradisi memenggal
    kepala orang, dan ternyata hal ini terjadi di Nias
    pada zaman dahulu). Seperti kita tahu bahwa
    menghilangkan nyawa orang lain, bertentangan dengan
    hukum kodrat yang dikenal oleh orang Kristen, terutama
    dalam gagasan Santo Thomas Aquinas: Hukum kodrat
    adalah pemberian dari surga, anugrah tertinggi dari
    Allah yang tidak bisa diciptakan oleh manusia. Manusia
    lahir dan mati, itu adalah hak Allah.
    Tesis ketiga, tokoh agama harus terlibat dalam
    memberikan penyuluhan kepada masyarakat Nias yang
    masih menerapkan böwö yang mahal. Sebagai orang Nias,
    saya berterima kasih (juga salut) kepada Pastor
    Mathias Kuppens, OSC (misionaris Ordo Sanctae Crucis,
    berkewarganegaraan Belanda), yang cukup antusias untuk
    memberikan pemahaman kepada orang Nias (terutama di
    Kecamatan Sirombu dan Mandrehe) bahwa böwö yang mahal
    tidak membangun. Beliau adalah salah satu tokoh agama
    Katolik yang cukup berhasil “menekan” jumlah besarnya
    böwö dengan cara-cara yang persuasif. Namun,
    perjuangan beliau bukan tanpa hambatan. Ada beberapa
    orang Nias yang pernah melontarkan kata-kata pedas,
    mencoba menentang kebijakan Pastor Mathias, sang
    pencinta Nias itu. Tetapi Pastor Mathias menanggapi
    dengan tindakan yang diwarnai kerendahan hati: ia
    tidak pernah berprasangka negatif (tidak su’udzon)
    walau ia dicerca. Ini luar biasa!
    Tesis keempat, Dinas Pendidikan Kabupaten Nias dan
    Nias Selatan, seharusnya memikirkan bagaimana jika
    penyuluhan tentang böwö diajarkan di sekolah sebagai
    pelajaran “muatan lokal” atau semacam pelajaran “ektra
    kurikuler”. Menurut saya, böwö dan juga adat Nias yang
    lain perlu dijelaskan kepada generasi muda agar mereka
    kelak mengerti dampak ambivelensi adat Nias itu
    sendiri. Dan oleh karena itu, mereka kelak bisa
    menegasi hal-hal yang tidak membangun dari adat Nias
    itu sendiri; sehingga budaya Nias tidak mandeg pada
    ke-statis-an melainkan berkembang (dinamis). Dan,
    tugas ini tentu didelegasikan kepada para guru yang
    mengajar: mulai dari tingkat SD hingga perguruan
    tinggi.
    Semoga!
    Postinus Gulö adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat,
    Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung.
    Artikel ini (sebelum saya edit) terbit pertama sekali
    di NiasIsland.Com, 28 December 2006 dan atas izin saya
    sendiri artikel ini diterbitkan di situs Museum Pusaka
    Nias, pada tanggal 26 Januari 2007.

  2. Mesi Berkata:

    Pak Moderator yth,

    waduh, saya artikan konotasi pertanyaan “Putri Nias jadi apa?” seakan-akan kehilangan harga. Bisa diganti “Bagaimana nasib Putri Kita dari Nias” kan lebih halus analisanya. Saya keberatan khan boleh ya?

    Mesi

  3. YAREDI WARUWU Berkata:

    To.Mr.Pontinus Gulö,
    Terimakasih karena anda telah menulis artikel
    ini.Saya sangat setuju dengan opinion saudara
    mengatakan bahwa “Sistem Adat Perkawinan Nias
    adalah salah satu penyebab kemiskinan.
    Semoga penjelasan saudara ini dapat disimak
    dan di mengerti dengan baik oleh bapak/Ibu
    semua dikemudian hari agar tidak terlaksana lagi
    seperti yang telah kita alami selama ini.
    Menurut saya putri Nias carekternya sangat
    baik dan bisa di andalkan baik dari segi
    kecantikan maupun mental.Saya sendiri lebih
    suka putri Nias di banding dengan putri- putri
    di luar daerah maupun di International.Bila sistem ini
    kita bisa terapkan kepada masyarakat mulai
    sekarang maka kemiskinanpun di Nias mulai
    teratasi secara pelan-pelan.Maka
    Nasib saudari-saudari kita dari Nias kedepan
    tetap jadi pahlawan.

    YAREDI WARUWU

  4. Postinus Gulö Berkata:

    Terima kasih saya ucapkan kepada tim redaksi Niasbarat.wordpress.com atas pemuatan opini saya ini. Ada sedikit kesalahan penulisan nama saya. Nama saya yang benar adalah Postinus Gulö.
    Terima kasih

  5. Fetero zai Berkata:

    Menurut saya,Budaya Nias harus tetap dipertahankan dengan menyesuaikan papada kondisi masa kini, Semua nama-nama yang dalam adat Nias ada, misalnya sinema nama, banua, sibaya dll tetap disebutkan, namun besarnya tidak seperti zaman dulu lagi, kalau umpamanya 8 alisi, mungkin tinggal hanya sepotong atau kira-kira 2 kg daging babi/sagoli mano, dan ini yang diterapkan dalam adat batak.
    Semua porsi-porsi yang menerima Sumange disebutkan tapi hanya sepotong daging saja.
    Hal ini perlu pengertian yang tinggi dan pemberlakuan secara simultan.

    Dengan demikian biaya yang dikeluarkan pihak laki-laki tidak terlalu tinggi.

    Terima kasih

  6. Postinus Gulö Berkata:

    Apa yang diusulkan Sdr. Fetero Zai sudah saya singgung dalam tulisan saya di atas. Jadi, saya sangat setuju dengan pendapat beliau. Terima kasih

  7. blasius baene Berkata:

    pertama-tama saya mengucapakan terima kasih banyak kepada saudara Postinus Gulo yang membuat artikel mengenai sistem adat perkawinan di nias sebagai salah satu penyebab kemiskinan di nias. saya setuju dengan apa yang saudara gagas karena bagaimanapun apa yang saudara gagas akan membuka wawasan bagi masyarakat nias paling tidak menyadari apa yang membuat masyarakat saat ini mengalami kemiskinan. hanya saya mohon kepada saudara Postinus Gulo untuk menunjukkan buku-buku referensi yang menunjang tulisan ini sebagai sebuah tulisan yang ilmiah. saya sendiri mengenal saudara Postinus Gulo. dia adalah teman seangkatan saya waktu di Seminari Menengah St. Petrus Aek Tolang Sibolga. dan kini suadara sedang kuliah di Bandung. saya sebagai teman lama, mendukung anda dengan tulisan ini. sebagai teman senagkatan, kalau boleh saya minta bantu kepada saudara Postinus untuk mencarikan pada saya buku-buku yangberbicara tentang sistem perkawinan di nias. karena, tahun depan saya berencana untuk mengangkat tema perkawinan di nias sebagai salah satu tema skripsi.
    saat ini saya sedang kuliah seperti saudara. saya kuliah Filsafat dan Teologi di STFT Widya sasana Malang-Jawa Timur. saya dari Kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD)
    untuk kontak dengan saya, ini email saya:
    Email: blasius_baene@yahoo.co.id
    alamat rumah: Seminari Tinggi SVD Surya wacana
    Jl. Terusan Rajabasa 6 Malang
    Malang-Jawa Timur 65146
    Telp. (0341) 564270

  8. Postinus Gulo Berkata:

    Salam Sdr Blasius Baene. Sejak 2002 (setelah lulus dari SMU St.Fransiskus Aek Tolang Sibolga)baru sekarang kita kontak walau via email. Betapa senang hati ini.

    Makasih komentar Anda mengenai tulisan saya tersebut di atas. Oiya, saya tadi siang sudah ngirim email ke Anda. silahkan dibuka. U’owai mano ami ba dao sisa (Efisien Dachi, Bosran Situmorang, Basani Situmeang)

    ya’ahowu

  9. Gustav Harefa Berkata:

    Saya sangat senang bisa bergabung dalam milis ini. Juga saya senang dengan topik di atas. Tapi bagi saya secara pribadi, saya tidak setuju kalau jujuran dianggap sebagai yang memiskinkan orang Nias. Maaf, saya hanya mau tanya berapa persen orang Nias miskin karena jujuran??. Jika dapat angka ini mungkin saya setuju. Justru bagi saya secara pribadi orang Nias miskin karena kemiskinan struktural, kemiskinan karena pendidikan dan karena orang Nias sendiri yang malas bekerja(dalam hal ini kemiskinan karena harga diri). Di daerah Sogae’adu tempat saya mlayani, banyak jujuran rendah. Kemarin ada yang hanya 3-5 juta, tetapi mereka tetap miskin. Bahkan ada yang hanya 2 juta tetapi kehidupan mereka tetap susah. Pertanyaan apakah karena jujuran mereka miskin?? Kemarin ada seorang mahasiswa PT di Gunungsitoli meneliti tentang Adat Perkawinan Sogae’adu memiskinkan masyarakat Sogae’adu. Tapi kenyataan bukan karena adat perkawinan mereka miskin, melainkan karena mereka memang malas. Mereka punya lahan luas tapi tidak bekerja. Anehnya justru mereka menyewakan lahan mereka.

    Bagi saya jujuran tidak salah, justru yang salah adalah pelaku dari perkawinan itu sendiri. Dalam arti membuat banyak hal yang tidak sesuai dengan aturan bowo dan orang Nias menjunjung tinggi harga diri. Kemarin ada teman saya menikah dengan seorang perempuan dari Sirombu. Dan dia habis sampai 90 juta (termasuk transport dsb). Apa itu karena jujuran?? Bukan..itu dihabiskan untuk pesta. Katanya biaya pestanya adalah 50 juta karena diundang semua orang dan banyak “simbi” diberikan kepada orang tertentu. Katanya “simbi” ada sampai 18. Karena mertuanya mengundang semua orang tertentu, dan jika tidak diberikan simbi kepada mereka, mereka akan tersinggung dan merasa tidak dihargai. Apa memang ada di jujuran pemberian simbi ini?? Jadi bagi saya bukan jujuran, tapi memang pelakunya yang minta dihargai dan dihormati. Orang Nias kan punya pemahaman dalam melakukan acara banyak orang itu yang baik, dan apapun akan dikorbankan.

    Bagi saya secara pribadi, Pertanyaan sekarang, apa orang Nias siap untuk tidak dihargai jika ada pesta??. Mis. maaf jika pejabat atau orang terpandang atau undangan khusus (termasuk Pendeta, Pastor)..hanya diberikan sekedar sebagai tanda dia sudah datang. Dan orang yang datang ke pesta tidak mengharapkan untuk menerima “fegero”?? Justru yang saya lihat orang Nias tidak dapat “fegero” marah. Dan jika melihat dirinya tidak dihargai mengamuk dan mengatakan “lo i’ila huku niha da’a! hadia sa’ae gogu andre, lo motoi”..Jika orang Nias siap, bagi saya bowo berjalan dan tidak akan memiskinkan.

    Kemarin di Jakarta saya mengikuti satu acara perkawinan orang Nias. Dua-duanya orang Nias dan bekerja di Jakarta. Saya dengar hanya biaya pesta adalah 50 juta (gedung, tanda mata kepada yang datang, undangan, sewa keybord dan penyanyi dsb). Gedungnya masih menengah dan yang datang juga lumayan banyak. Kenapa tidak dilakukan ditempat biasa saja dengan acara sederhana?? Pertanyaan apa di bowo ada biaya gedung, tanda mata, biaya undangan, biaya keyboard, penyanyi??. Itu di Jakarta lho, bukan di Nias. Kenapa mereka membayar begitu?? Tentu kembali kepada “prestise dan harga diri” tadi.

    Ditengah ketidaktahuan saya dalam hal jujuran, maaf ya jika pendapat saya berbeda dan salah.

  10. Postinus Gulö Berkata:

    Yth. Bpk Pdt. Gustav Harefa

    Maaf bapak karena komentar bapak baru saya balas. Komentar bapak sangat bagus dan memang nyata, sesuai pengalaman bapak di lapangan. Saya rasa, apa yang bapak sampaikan sejalan dengan apa yang saya tulis dalam artikel di atas (jadi tidak bertentangan Pak). Di dalam artikel saya di atas saya mengatakan bahwa:
    1. Mengapa jujuran (böwö) dikomersialkan, dalam arti ibarat jual beli?
    2. Saya juga mengatakan bahwa yang memberatkan pihak laki-laki adalah karena banyaknya pengeluaran (misal:ö mbanua termasuk dome terhormat, ö zamasao).
    3. Saya juga menulis bahwa budaya Nias tetap harus dipelihara, tetapi bukan hanya dalam arti ekonomis (böwö yang mahal).
    4. Saya mengatakan dalam tulisan di atas, bahwa sistem perkawinan Nias (jadi, bukan hanya böwönya, tetapi sistem aplikasi: seperti yang bapak sampaikan bahwa yang mahal adalah biaya pesta karena gengsi), adalah salah satu penyebab kemiskinan (jadi, hanya salah satu, bukan penyebab segala-galanya).

    Terima kasih Pak atas komentar bapak. Dari komentar semacam ini, saya juga mendapat masukan, pun masyarakat Nias yang lain, bahwa kenyataan jujuran di Nias memang seperti ini. Ya’ahowu

    Postinus Gulö (Bandung)
    Moderator http://www.mandrehe.wordpress.com

  11. Antonius Dwi Wahyudi Berkata:

    Fr. Postinus Gulo,OSC

    Ya’ahowu.

    Secara keseluruhan saya sependapat dengan artikel, Frater. Hanya saja, adat dinilai dari sisi nilai jujuran saja saya rasa akan sangat mereduksi tujuan awal mula diadakannya acara adat tsb. Saya tampilkan sisi lain dari adat perkawinan Suku Nias, yaitu untuk menyatukan (yang akhirnya saya lihat sebagai tujuan awal mula diadakannya acara adat itu).Dari saya yang bermarga ‘ini’, disatukan/diterima menjadi marga ‘itu’. Atau saya yang dari suku ‘ini’, diterima/diakui menjadi suku ‘itu’. Artinya, ada tujuan luhur/ nilai sakral yang dapat kita lihat dari sisi tujuan awal mula diadakannya acara adat sebagaimana yang saya maksudkan. Tujuan inilah yang akhirnya saya lihat sebagai ’sukma’yang harus menjiwai tata cara adat perkawinan Nias sehingga adat tersebut tetap wajib/harus dipertahankan, dilaksanakan dan dijunjung tinggi sebagai khazanah budaya peninggalan leluhur.’sukma’ dari jiwa adat pernikahan inilah yang harus dipegang oleh setiap ono niha dari generasi ke generasi.

    Meletakkan ’sukma’ yang keliru dalam adat perkawinan Nias, akan menjadikan adat yang awal mulanya beradab,berubah menjadi adat yang biadab. ‘Sukma’ yang keliru, mengakibatkan pergeseran nilai dari adat yang beradab menjadi adat yang biadab. Pada saat kita pahami bahwa adat perkawinan Nias itu sebagai simbol gengsi dan harga diri,di situlah yang saya maksud bahwa kita telah menempatkan ’sukma’ yang keliru/tidak semestinya bagi adat perkawinan Nias.

    Menempatkan adat perkawinan Nias pada tempatnya, baik dalam pemahaman benar maupun dalam pelaksanaanya yang harus bijaksana,itu yang terpenting. Apa yang lebih berharga kalo dibandingkan nilai ‘menyatukan yang masih tercerai/ menerima dia yang jauh’. Besarnya jujuran? Tidak. Berapa pun besarnya jujuran tidaklah akan pernah mampu menggantikan nilai sebagaimana yang saya sebut (adat yang menyatukan).Artinya, bagi yang mampu ya silahkan,monggo kemawon, malah kleresan.Dan bagi yang kurang mampu tidakkah ada solusi alternatif sehingga dalam keterbatasannya ybs tetap diberi kesempatan untuk menjalankan tata cara adat yang sebagaimana ditentukan.Di sini yang saya maksud bahwa adat harus dijalankan secara bijaksana.

    Adat tetaplah adat, menjaga dan melestarikannya itu kewajiban. Tetapi ingat, adat dibuat untuk manusia dan manusia bukan untuk adat.Kepada kita disodorkan 1 pilihan saja, yaitu untuk tidak menjadikan adat yang beradab menjadi biadab sehingga selaras dengan Hukum Cinta Kasih, cinta kasih terutama kepada Tuhan dan kepada sesama.

    Terima Kasih

    Antonius Dwi Wahyudi
    ——————–
    Kebetulan kita satu alma mater, Frater. Istri saya dari Nias(Lolo Moyo, Tuhemberua).Sekarang saya tinggal di Padalarang-Bandung.Saya sumbang pemikiran sebenarnya berangkat dari rasa peduli saya terhadap Budaya Nias dan bukan dari pengetahuan saya yang mendalam tentang Nias. Saya orang Jawa, dan harus bertemu dengan istri yang dari Tuhemberua, yah..sedikit-demi sedikit saya harus belajar juga budaya leluhur istri saya.

    “ Tidak ada yang dapat memaksa saya menjadi bahagia dengan caranya (seperti ia membayangkan kebahagiaan itu bagi orang lain). Setiap orang boleh mencari kebahagiaannya dengan jalannya sendiri. Jalan yang akan membantunya hanya jika ia tidak menginjak kebebasan orang lain (artinya hak orang lain). Yaitu kebebasan untuk mendapatkan tujuan yang sama, kebebasan yang dapat tumbuh bersama dengan kebebasan setiap orang berdasarkan suatu hukum umum.” Immanuel Kant (1794)

  12. Postinus Gulö Berkata:

    Mas Antonius Dwi Wahyudi, terima kasih komentarnya. Saya sangat tercerahkan dan bahkan bersyukur karena Mas concern pada budaya Nias.

    Saya setuju pendapat Mas Dwi. Dan bahkan saya berpikir bahwa memang generasi zaman sekarang semakin tercerabut dari akar budayanya karena mereka terus diberondong budaya hipis-sinkretik. Kita juga tidak bisa menyalahkan mereka karena zaman memang seperti itu (?). walau demikian, seharusnya, kita juga menyadari bahwa ini jangan dibiarkan begitu. Itu sebabnya dalam tulisan di atas saya beri salah satu solusi: perlu diberi penyuluhan kepada generasi muda Nias (di sekolah) agar mereka memahami makna budaya Nias yang sebenarnya.

    Budaya secara perse bertujuan memanusiawikan manusia, dan bukan sebaliknya. Budaya bertujuan untuk menjadikan manusia semakin beradab dan semakin peka akan budaya leluhur yang begitu berharga; bukan untuk menjebloskan manusia ke lembah utang-piutang.

    Mas Dwi hatur nuhun pisan komentarnya. salam Mas, Ya’ahowu.

  13. domi Berkata:

    saya mau tanya… menurut bapak apakah arti tanah bagi masyarakat nias???
    harap dibalas ya.. ya’ahowu

  14. danil Berkata:

    mauna bowo nie,klo leh harus diralat,dalam arti disesuaikan dgn ekonomi kita di nias,sehingga saudara kita di nias yg ekonomi na pas pasan bisa terbantu dalm hal mangowalu.tamks

  15. devi christine zedrato Berkata:

    To Fr Postinus Yth

    Saya pribadi setuju dgn apa yg bapak tuliskan (sebagian). saya sendiri, adalah putri nias(tinggal di luar Indonesia).Walupun Kurang faham dgn adat nias(Ibu saya orang asing). tp klu saya berjumpa dgn lelaki(dulu), dan tau bahwa saya orang nias. mereka akan mengatakan, bahwah sangat susah untuk berkeluarga dgn org nias. alasan nya…itu tadi. BOWO. Tp di sebalik itu semua, saya sangat bangga dgn apa yg adat nias beri pada saya. karena orang akan menjunjung tinggi budaya kita (nias). tp ahir nya…tidak ada orang nias yg datang meminang kami. dan kami berkahwin dgn orang asing. yg budaya nya sama sekali asing. Abang saya dgn orang australia, saya dgn inggris, adik dgn orang batak. secara tidak langsung..adat nias akan di lupakan dlm keluarga kami kelak. Abang saya pernah meminang orang nias, tp apa kata orang tua si perempuan? 150 juta untuk pesta. Emang nya duit itu kita cetak apa? apa jadi dgn anak nya? Ngk bakalan ada yg berani meminang. BOWO tadi itu harus di ubah. sesuaikan dgn Zaman sekarang. Tp menurut saya..ini bukan penyebab kemiskinan. penyebab kemiskinan..sifat PEMALAS orang NIAS sendiri. Saya beberapa kali mencoba membawa saudara(ORANG NIAS) untuk bekerja dgn saya, tp 2 atau 3 bulan mintak pulang. alasan nya ngk tahan di marah terus. tp klu saya perhatikan…mereka di marah karena mereka ngk becus buat kerja. Boss tidak ada…malah chating. siapa yg salah? pulang kampung, jadi pengangguran. padahal orang tua udah jual tanah untuk biaya bikin pasport. KEMALASAN lah sumber KEMISKINAN. MAJU LAH NIAS. Teruskan Perjuangan Mr. POSTINUS. Kami di rantau..senantiasa mendukung Bapak.

    SALAM PERANTAU.

  16. devi christine zedrato Berkata:

    To Fr Postinus,

    Mau nanya dikit ni Pak.
    Apa betul Asal mula orang NIAS itu dr Suku BATAK?
    Ada juga yg bilang dr MONGOLIA? Mana yg betul Pak? Tolong saya ya…Pak.
    Saya juga mau tau asal usul nenek moyang Kita (SUKU NIAS).

    SAOHAGOLO(TERIMAKASIH)
    (Betul Pak Tulisan nya?) Maaf kalau saya malah merusak bahasa kita

  17. Misran Berkata:

    Perkawinan,Bowo dan Kekerasan

    Saya memiliki hasil penelitian mengenai Kekerasan dan Pernikahan Dini di Nias, dalam penelitian tersebut kami menemukan berbagai hal yang bapak-bapak dan rekan-rekan diskusikan diatas. namun penelitian ini sendiri tidak sengaja menyinggung soal adat atau budaya yang selama ini menuntun masyarakat Nias dalam bermasyarakat membentuk sebuah pemerintahan. ketika kami menanyakan kenapa perempuan Nias memiliki beban kerja yang lebih banyak dalam keluarga, kenapa kesempatan bersekolah bagi perempuan lebih rendah, kenapa banyak kekerasan terhadap perempuan tidak dilaporkan atau diselesaikan dalam proses hukum. ternyata semua itu ada hubungannya dengan posisi perempuan dalam keluarga terutama ketika perempuan tersebut telah terikat tali perkawinan. Bowo yang makna sesungguhnya adalah penghargaan, penghormatan terhadap adat bergeser pemaknaannya menjadi “Boli Niha” (Harga orang)

    Masalah kedua adalah budaya virilokal : status perempuan yang sudah menikah wajib keluar dari rumah dan mengikut suami dirumah mertua. posisi perempuan di rumah mertua (orang tua laki-laki) menyebabkan posisi tawar perempuan sangat rendah akhirnya banyak terjadi eksploitasi termasuk dalam hal pekerjaan. jika jujuran masih belum terbayar (hutang) maka perempuan tersebut akan membayar dengan cara mengambil alih pekerjaan-pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan produktif yang selama ini dikelola oleh mertua perempuan.

    lebih lengkapnya hasil penelitian ini dapat diperoleh di kantor PKPA-Nias, Jln. Makam Pahlawan, Desa Mudik-Gunungsitoli.

    Yaahowu

  18. Postinus Berkata:

    Ya’ahowu Ibu devi christine zedrato. Terima kasih atas komentar Anda.

    1. Tulisan saya di atas adalah ungkapan pengalaman. Saya sebagai orang Nias mengalami apa yang saya tulis itu. Jadi, sisi objektivitas sekaligus sisi subjektivitasnya berkredibel. Bu, memang benar bahwa Sistem Perwakwinan Nias bukan satu-satunya penyebab kemiskinan Nias. Itu juga saya tulis dan tegaskan. Sistem Perkawinan Nias hanyalah salah satu saja. Dan, saya salut bu karena ibu langsung menyatakan dengan tegas dan berdasarkan pengalaman bahwa orang Nias adalah pemalas (walaupun tidak semua). Saya kira mentalitas inilah yang perlu kita ubah dan sadari.

    2. Soal asal-usul Nias hingga kini belum ada kebulatan pendapat. Beberapa ahli yang menulis tentang Nias mengatakan nenek moyang Nias berasal dari Mongolia-Cina tetapi ada juga yang mengatakan berasal dari Jawa. Jadi, generasi Nias perlu meneliti asal-usul Nias secara kredibel lgi.

    Ya’ahowu Bapak Misran. Hasil penelitian Bapak menjadi kekayaan bagi kita masyarakat Nias untuk lebih mendalami kearifan lokal Nias. Kekerasan dalam rumah tangga di Nias hingga kini masih “tertutup”. Semoga perangai kita, masyarakat Nias kian hari kian berubah dan kita ubah. Ya’ahowu.

Tinggalkan Balasan

XHTML: kamu dapat menggunakan tag-tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>