Nias termiskin di Propinsi SUMUT!

Saudara,

Tidak ada salahnya kalau saya mengajak kita berkaca sebentar tentang diri kita dan Nias yang kita cintai. Bagaimana pandangan orang 6 tahun lalu? Saya mengajak kita untuk tersinggung, saya mengajak kita malu, saya mengajak kita rekatif, ayo action atas keadaan yang sebenarnya tentang siapa kita Ononiha. Bacalah artikel Ardhian Novianto (wartawan Kompas) pada tahun 2001 yang lalu, semua ada disini tentang kita. Apa kata orang tentang kita ? Mari kita berkaca lagi, apa yang sudah dicapai hingga sekarang dan jangan bangga dengan jumlah Ononiha yang sudah jadi DOKTOR, KOLONEL dan sebagainya. Hal itu merupakan kebanggan personal yang bersangkutan, bukan kebanggan komunitas, justru saya tanya bagaimana dengan anda sendiri.

Sedih, jika saudara baca artikel di bawah ini, terima kasih kepada Penulis ini, yang tentunya bertujuan agar ORANG NIAS menyadarinya. Majulah ONONIHA.

About these ads

6 pemikiran pada “Nias termiskin di Propinsi SUMUT!

  1. Salam Ya’ahowu, sekali lagi selamat atas berdirinya PILAR NIAS BARAT, bersatulah jangan seperti yang dulu-dulu lagi.

    saya ambil hati tentang tulisan ini sebenarnya saya sdh lama mau tulis, tapi saya lihat sedang heboh mengenai topic lain.
    sorry pak moderator saya kutip tulisan anda diberanda atas sbb
    “Tidak ada salahnya kalau saya mengajak kita berkaca sebentar tentang diri kita dan Nias yang kita cintai. Bagaimana pandangan orang 6 tahun lalu? Saya mengajak kita untuk tersinggung, saya mengajak kita malu, saya mengajak kita rekatif, ayo action atas keadaan yang sebenarnya tentang siapa kita Ononiha.”

    saya mengulangi lagi “ayo action atas keadaan yang sebenarnya tentang siapa kita Ono Niha”.

    Pemahaman saya lain, sebab sebenarnya anda bermaksud memberi motivasi dengan menunjukkan sebuah data masa lalu. Berita tahun 2001 tersebut di jadikan cambuk bagi kita, tetapi disisi lain mungkin agak negatif ketika anda membakar jiwa pembaca mengatakan ayo tersinggung dong. Saya memang salut cara anda memotivasi orang, tetapi tidak semua bisa mengerti bahwa anda sebenarnya ada dipihak kita (nias). Seakan-akan anda menyindir, mengolok-olok dan membenarkan tulisan tersebut.
    Baik analisa bapak M.J. Daeli, sudah tepat, tidak ada perbendaan yang tajam antara anda berdua. Saya masih muda, dan mohon maaf kalau saya panggil “anda”. Kata ini cukup simple untuk digunakan.
    Tuhan Memberkati
    Lewi Marshal Halawa.
    London (AISPI)

  2. Syalom Pak M.J. Daeli dan Pak Moderator,
    Analisa saya sejenak:
    1. Sdr Moderator menulis pada kalimat paling terakhir “majulah Ono Niha”, saya baru mengerti bahwa tujuan tulisan tersebut mengajak kita untuk bangkit melawan image orang2 di luar nias tersebut. Jadi, Bapak M.J. Daeli berharap agar jangan dijadikan teror bagi mereka yg berpikir lemah, nah sebenarnya tujuannya sama.
    2. Bagaimana Pandangan Orang 6 tahun yang lalu? ini tulisan pak Moderator, semoga tidak salah maksudnya untuk menunjukkan bahwa “lihatlah kami tidak sepert yg anda duga dulu 6 tahun yang lalu”. Cambuk yang dulu kita rasakan sekarang sudah kita nikmati dengan keberhasilan. “Maaf” saya tidak bisa buktikan secara ilmiah keberhasilan kita di Nias karena berita2nya selalu yg jelek2″. Jadi, Pak M.J. Daeli juga memiliki arah yang sama, bukan kita saja yang miskin, bahkan masih banyak daerah yang lebih parah. (contoh di Papua)
    3. sekarang tulisan itu sudah tidak berarti “Teror Mental” lagi, dulu mungkin iya, kita ditertawakan, tetapi dimasa jabatan ke dua Buapti Baeha ini, sudah lumayan dan dapat diperhitungkan. Maaf saya juga tidak ada data apakah itu hasil pembangunan NGO+BRR atau kepala daerah. tetapi intinya kita (NIAS) sudah bagus dinading dengan 2001 yang lalu.

    Analisa saya, kurang bagus, mohon maaf.
    Pesan: Kepada Saudara Moderator, cari topik yang bagus lagi untuk kita bahas, saya setuju pak M.J. Daeli senior saya.

    Yaahowu
    3.

  3. Yth Bapak M.J. Daeli
    Salam hormat kami kepada Bapak M.J. Daeli, yang mengkritisi tulisan tersebut di atas. Memang benar pak, tulisan itu sempat meneror kita pada tahun 2001 yang lalu, justru maksud dan tujuan kami adalah memperlihatkan betapa pesatnya kemajuan kita di tahun 2006 dan tahun 2007. Kami ingin memicu kesadaran untuk bangkit memperbaiki diri dan selanjutnya menjadi milik komunitas. Agar kita bangga menjadi apa adanya Nias saat ini, bangga dan tidak mau mengikuti begitu saja apa pandangan orang lain.
    Bila Berkenan Pak, kami harapkan satu topik dari bapak untuk kami angkat di media ini. Image ini kita harus lawan dengan thema mengangkat Nias seperti harapan kita di atas (Tulisan bisa rutin)
    Syalom

    Moderator
    08557878556
    021 68861905
    mgulo@yahoo.com

  4. Saya setuju Bapak M.J. Daeli, terima kasih Pak.
    1. Informasi tersebut kita jadikan cambuk untuk maju
    2. Selama ini kita bangga dengan sebutan ONO NIHA apapun adanya. Tulisan tersebut di atas memang menunjukkan siapa kita menurut pandangan orag-orang diluar Nias
    3. Sebutan Miskin “DIJADIKAN LAHAN OLEH PENGUASA UNTUK ALASAN MENDAPAT DANA”. Apapun namanya tetapi tujuannya adalah mengexploitasi ONO NIHA.
    4. Tulisan tersebut tahun 2001, sekarang telah melewati 2002, 2003, 2004, 2005, 2006 dan 2007. Sungguh tidak relevan lagi, namun kita harus simpan tulisan ini, saya setuju. 2007 sekarang diperkirakan pendapatan perkpita juga sudah naik, pertubuhan ekonomi 3 % (just information).
    Sekarang, bagaimana mengisinya dengan metode yang lebih canggih sehubungan dengan SDM kita yang sudah bagus!
    Para SDM Nias Barat, bersatulah dan Kita Harus Menang, Apakah PILAR NIAS BARAT ada hati kesana?

    Salam
    Ama Ivan

  5. Moderator Yth,

    Hendaknya artikel -artikel seperti ini disaring dari segala segi kegunaannya.

    Memang benar Nias ketinggalan pembangunannya dibandingkan dengan beberapa daerah lain di Indonesia. Bagi Ono Niha yang sadar, hal itu akan dijadikan cambuk untuk berjuang keras mengejar ketertinggalan dari daerah-daerah itu. Dan tidak salah kalau sanggup meninggalkannya.

    Akan tetapi, melihat kenyataan sebenarnya, masih banyak juga daerah lain di indonesia yang jauh lebih ketinggalan pembangunannya dibandingkan dengan Nias. Jadi ketertinggalan pembangunan di Nias tidak absolut. Ketertinggalan pembangunan di Nias bukan semata-mata karena sifat Ono Niha (baik sekali kalau hal ini dijadikan tema diskusi oleh Nias Barat WordPress.com).

    Kesimpulan :

    1. “Realitas ini” tidak perlu digembor-gemborkan. Tetapi berbuat sesuai kemampuan dengan jujjur.
    2. Bagi Ono Niha yang tidak sempat memikirkan secara mendalam, artikel-artikel seperti itu dapat : memperlemah semangat, merasa rendah diri, tidak PD (percya diri), memelas minta bantuan-minta dikasihani, berkembang sifat “ingin menerima dari memberi” yang seharusnya dihindari. Mudah-mudahan tidak ada yang seperti itu diantara Ono Niha.
    3.”Nias adalah daerah termiskin” ini sering digunakan oleh orang-orang tertentu hanya untuk pemanis dimulut – seakan-akan memperhatikan Nias, padahal sebenarnya ingin mengambil keuntungan peribadi atau kelompoknya dari keadaan Nias.
    4. Yang lebih tidak terhormat apabila hal itu digunakan untuk melakukan teror mental kepada “Ono Niha” dengan akibat seperti tersebut diatas.

    Harapan supaya direnungakan : apakah ada kebenaran dari tulisan saya diatas ?

    HALO KHOU SIHAHALO NA O’ILA OHALO. TEHE KOU SI TETEHE NA O’ILA OTEHE.

    Ya’ahowu

    M. J. Daeli

  6. Kompas, Sabtu, 4 Agustus 2001
    Nias, Nusa Indah Andalan Sumatera yang Merana.
    NIAS sering diartikan sebagai akronim dari Nusa Indah Andalan Sumatera. Hal itu kembali diungkapkan Gubernur Sumatera Utara T Rizal Nurdin dalam pelantikan Bupati Nias Binahati B Baeha beberapa bulan yang lalu.

    Namun, akronim itu sampai saat ini masih menjadi obsesi semata. Senyatanya, Nias belum pernah sungguh-sungguh menjadi andalan Sumatera Utara, apalagi Sumatera. Bahkan, Nias sering dianggap sebagai tempat “pembuangan” oleh pejabat pemerintah sipil maupun militer. Maklumlah, selain terisolir Nias merupakan kabupaten termiskin di Sumatera Utara.

    Bagaimana tidak, dari Sibolga, pantai barat Sumatera Utara diperlukan waktu sepuluh jam perjalanan melalui laut untuk mencapai pelabuhan Gunungsitoli, gerbang laut Pulau Nias. Sedangkan penerbangan Medan-Gunungsitoli hanya dilayani perusahaan penerbangan swasta Smac setiap hari Rabu. Itu pun kalau jumlah penumpang tidak mencukupi, penerbangan selama kurang lebih satu jam ini sering dibatalkan. Begitu keluar dari pelabuhan Gunungsitoli, jalan aspal dengan lubang-lubang besar bak kubangan kerbau sudah menanti. Karena itu, jarak Gunungsitoli – Teluk Dalam yang hanya sekitar 120 kilometer harus ditempuh selama enam jam perjalanan dengan mobil. Menurut catatan Kompas, hanya 38,03 persen jalan beraspal di Nias yang bisa dilalui kendaraan roda empat, selebihnya sulit bahkan ada yang tidak bisa dilalui sama sekali.

    Terletak antara 0 derajat 12 menit-satu derajat 32 menit Lintang Utara dan antara 97 derajat-98 derajat Bujur Timur, Kabupaten Nias terdiri dari sebuah pulau besar, yaitu Pulau Nias, dan 131 pulau kecil. Dari 132 pulau tersebut, 95 pulau di antaranya tidak berpenghuni. Luas total Kabupaten Nias 5.625 kilometer persegi atau 7,82 persen luas Sumatera Utara.

    Keterisoliran Nias ini masih ditambah tantangan kondisi alam yang berat. Dengan 250 hari hujan setiap tahun, curah hujan di pulau yang dikenal dengan sebutan Zamrud di pantai Barat Sumatera Utara ini termasuk tinggi, 222 milimeter. Akibatnya, kondisi tanah sangat labil dan rawan longsor sehingga jalan-jalan dan jembatan cepat rusak.

    ***

    BEGITU terisolirnya kehidupan di Nusa Indah Andalan Sumatera ini, sampai beredar anekdot tentang “ulah” seorang pejabat militer supaya dipindahkan. Pejabat yang sudah bertahun-tahun ditempatkan di pulau terisolir ini, setiap kali ada atasan datang selalu minta diberikan oleh-oleh burung beo Nias. Sampai-sampai terkadang gajinya habis untuk membeli burung beo.

    Karena begitu ingin dipindahkan dari Nias, ia pun membeli beo dan melatihnya mengucapkan kata-kata makian. Jadi, ucapan apa pun akan dibalas oleh beo ini dengan kata makian yang diajarkan. Ketika kemudian datang lagi seorang atasannya dari Medan, dan seperti biasa minta dibelikan beo, diberikanlah beo yang sudah dilatih khusus ini.

    Begitulah, sesampainya di Medan, ketika atasannya tersebut mengucapkan selamat pagi atau kata apa pun, dibalas oleh beo terlatih ini dengan makian. Hari berikutnya langsung pejabat militer ini ditelepon dan dipindahkan dari Nias. Justru ini yang diharapkannya, tanpa menunggu surat pindah tugas keluar, hari itu juga ia berkemas. Takut kalau-kalau kepindahannya dibatalkan.

    Melihat keadaan Nias saat ini, tidak berlebihan kiranya cerita tersebut. Dari 657 desa di Nias, baru 31 persen yang menikmati aliran listrik. Sementara itu, sarana komunikasi pun sangat terbatas. Jangankan handphone, 15 dari 17 kecamatannya (sebelum dimekarkan menjadi 22 kecamatan) belum dilayani jaringan telepon. Akibatnya, untuk komunikasi pemerintah kabupaten ke kecamatan dan sebaliknya, atau antarkecamatan, harus menggunakan kurir, atau radiogram. Lebih parah lagi komunikasi ke tingkat desa. Untuk mengunjungi satu desa di wilayahnya, Camat Gomo Sadarman Bu’ulolo harus menempuh perjalanan tiga hari.

    Akibatnya, tidak mengherankan ketika terjadi bencana seperti banjir dan tanah longsor saat ini sangat sulit bantuan sampai ke lokasi.

    KETERPENCILAN Kabupaten Nias dari Sumatera Utara, serta keterpencilan kecamatan-kecamatan dari pusat Kota Gunungsitoli, menyulitkan pengawasan berbagai pelanggaran hukum, terutama perusakan hutan. “Menurut laporan penduduk, banjir ini erat kaitannya dengan penebangan hutan di hulu Sungai Masio akhir-akhir ini untuk penanaman pohon nilam,” ujar Gubernur Sumut T Rizal Nurdin, Jumat (3/8), sepulang mengunjungi lokasi bencana banjir dan tanah longsor di Nias.

    Hal serupa disoroti Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumut yang menyatakan ratusan hektar hutan di Pulau Nias eksploitasi. “Pulau Nias yang terpencil ini menjadi daerah yang bebas dieksploitasi hutannya, sementara rakyat dijadikan alat dan selalu dijadikan kambing hitam keserakahan segelintir orang,” kata Direktur Eksekutif Walhi Sumut Efendi Panjaitan.

    Oleh karena itu, Walhi Sumut minta segera dilakukan investigasi keterlibatan oknum instansi pemerintah dan pengusaha dalam penebangan hutan secara ilegal, serta dilakukan tindakan tegas sesuai hukum yang berlaku.

    Kondisi ekonomi masyarakat yang memprihatinkan menjadikannya mudah dipengaruhi untuk menebangi hutan demi kepentingan ekonomi sesaat. Keterisoliran daerah ini mengakibatkan produksi apa pun sulit dipasarkan. Menurut catatan Kompas, harga kelapa pada bulan Maret yang lalu jatuh sampai Rp 100 per butir. Lebih luar biasa lagi, harga yang dianggap terbaik yang pernah dinikmati adalah Rp 300 per butir.
    “Dengan harga seperti sekarang ini, banyak orang malas berkebun,” kata Hikayat Manao, tokoh masyarakat di Desa Bawamataluo. Padahal, Nias sebenarnya daerah yang subur dan kaya potensi. Dari hasil hutan dan perkebunan berupa karet, kopra, dan minyak nilam, sampai sawah yang subur. Belum lagi potensi pariwisata, baik wisata alam seperti pantai, sungai, dan hutan, wisata kebudayaan berupa desa dengan upacara adat lompat batu dan tari perang, sampai situs-situs purba tersedia.

    Namun, dengan keterpencilannya, segala potensi tersebut menjadi tidak ada gunanya karena tidak bisa dipasarkan. Rumah dengan atap daun rumbia banyak ditemui di berbagai desa.

    Sementara itu, berkaitan dengan pelaksanaan otonomi daerah, Rizal Nurdin khawatir Nias tidak akan mampu berkembang karena kemampuan dan sumber dana pembangunannya sangat terbatas. “Pemerintah pusat harus memberi perhatian khusus dan anggaran tersendiri untuk Nias,” katanya. Kalau tidak, Nias tidak akan pernah menjadi Nusa Indah Andalan Sumatera. (Ardhian Novianto)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s